Summary
Maira selalu menganggap Elvan sebagai pria yang sulit dipahami. Setiap kali Maira mencoba mendekat, Elvan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apa pun. Bahkan ketika Maira bertanya secara langsung, jawabannya selalu sama—dia hanya menganggap Maira sebagai teman yang harus dijaga. Anehnya, tindakan Elvan justru bertolak belakang dengan ucapannya. Dia selalu muncul ketika Maira membutuhkan bantuan, diam-diam memastikan Maira sudah sampai rumah, mengingat hal-hal kecil yang bahkan Maira sendiri lupakan, dan menjadi orang pertama yang berdiri di sampingnya ketika ada masalah.
Maira awalnya menikmati perhatian itu tanpa terlalu memikirkannya. Sampai suatu hari, Elvan mulai bersikap berbeda ketika seorang pria lain mendekati Maira. Dia menjadi mudah cemburu, lebih protektif, dan bahkan marah ketika Maira mengambil keputusan yang menurutnya berbahaya. Maira akhirnya mempertanyakan hubungan mereka. Jika Elvan benar-benar tidak mencintainya, mengapa pria itu selalu bertindak seperti seseorang yang takut kehilangannya?
Masalah semakin rumit ketika Maira mengetahui bahwa Elvan sengaja menjaga jarak karena sebuah alasan dari masa lalunya. Elvan sebenarnya sudah lama memiliki perasaan, tetapi takut mengakuinya karena yakin cinta hanya akan membuat Maira terluka. Kini Maira harus memutuskan: terus menunggu pria yang menyangkal perasaannya, atau berhenti berharap sebelum dirinya semakin jatuh cinta.