Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku - Bab 1

  1. Home
  2. Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku
  3. Bab 1 - Dia Bilang Aku Bukan Siapa-Siapa
Next

Malam sudah merambat turun ketika gerimis mulai mengguyur kawasan perkantoran Jakarta Selatan. Maira berdiri di bawah kanopi gedung kantornya, menggeser layarnya berulang kali dengan embusan napas pasrah. Aplikasi transportasi daring di ponselnya menunjukkan status pencarian yang tak kunjung berhasil. Pengemudi tidak ada yang bersedia mengambil pesanannya di tengah cuaca buruk begini.

Ia merapatkan mantel tipisnya, mencoba memijat tengkuk yang terasa kaku. Ponselnya tiba-tiba bergetar, menampilkan panggilan masuk dari nomor yang terkonfirmasi sangat familiar baginya.

“Kamu masih di depan gedung?” suara berat di ujung telepon langsung menyapa tanpa salam pembuka.

Maira mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, menyisir jalanan yang mulai tergenang air hujan.

“Kok tahu?” tanya Maira keheranan. “Aku bahkan belum nge-post apa-apa di medsos atau kirim pesan ke siapa pun.”

“Hujan deras. Jalanan macet total,” sahut suara itu tenang, mengabaikan pertanyaan Maira. “Tunggu dua menit. Mobilku sudah di depan.”

Sebelum Maira sempat memprotes, panggilan itu diputus sepihak. Sebuah SUV hitam yang sangat dia kenali perlahan menepi tepat di depan pijakan kakinya. Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan sosok pria dengan kemeja abu-abu yang lengan kemejanya sudah dilipat hingga siku.

Elvan. Pria itu menatapnya datar dari balik kemudi.

“Masuk, Maira. Nanti kamu basah,” ucapnya singkat.

Maira menghela napas, membuka pintu mobil, lalu segera duduk di kursi samping pengemudi. Udara hangat dari AC mobil langsung menyapa kulitnya yang dingin. Begitu pintu tertutup, Elvan menyodorkan sebuah handuk kecil kering dan secangkir teh chamomile hangat yang masih berasap di dalam tumbler.

“Minum,” kata Elvan seraya mulai menginjak pedal gas, membaur dengan kemacetan malam.

Maira memegang tumbler hangat itu, menatap profil samping Elvan yang fokus melirik kaca spion. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam, dan ekspresinya selalu sulit ditebak.

“Kamu ngikutin aku?” tanya Maira penasaran.

“Nggak,” jawab Elvan singkat.

“Terus kenapa bisa ada di sini? Kamu kan tadi rapat di daerah Pusat. Nggak sejalur sama sekali kalau mau pulang ke apartemenmu.”

“Aku kebetulan lewat,” dalih Elvan wajar, seolah alasan itu sangat masuk akal.

Maira mendengkus pelan. Kebetulan. Kata itu sudah terlalu sering diucapkan Elvan selama enam bulan terakhir. Kebetulan lewat saat ban mobil Maira bocor di tol, kebetulan memesan makanan lebih saat Maira lembur hingga lupa makan, dan kebetulan membawa obat maag saat Maira mendadak sakit perut di tempat kerja.

“Nggak ada orang yang ‘kebetulan lewat’ di daerah ini pas jam pulang kantor dan hujan deras, Van,” gumam Maira, menatap lurus ke kaca depan yang dibasahi air.

“Aku ada urusan tadi,” elak Elvan lagi, suaranya tetap tenang tanpa nada panik.

Keheningan melingkupi mereka selama beberapa menit, hanya tersisa suara usapan wiper dan rintik hujan yang menghantam kaca. Maira memutar-mutar tumbler di tangannya. Rasa penasaran yang selama ini mengendap di dadanya mendadak menuntut kejelasan.

“Van,” panggil Maira pelan.

“Ya?”

“Sebenarnya…” Maira menelan ludah, menatap wajah Elvan dari samping. “Kamu ada perasaan sama aku?”

Mobil terasa sedikit terguncang ketika Elvan secara mendadak menginjak rem sedikit lebih dalam dari biasanya, sebelum kembali menstabilkan laju kendaraan. Pria itu tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada deretan lampu belakang mobil di depan mereka.

“Kenapa tanya begitu?” suara Elvan terdengar lebih dingin dari sebelumnya.

“Karena tindakan kamu selalu aneh. Kamu selalu ada setiap kali aku butuh bantuan, tapi kamu nggak pernah mau kasih alasan yang jelas,” ujar Maira jujur. Perasaannya campur aduk antara takut dan penasaran.

Elvan menghela napas panjang. Ia menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berubah merah. Perlahan, ia menoleh, menatap Maira dengan manik mata hitamnya yang pekat.

“Maira, jangan salah paham,” ucap Elvan lambat dan tegas. “Aku nggak cinta sama kamu.”

Kata-kata itu terucap dengan begitu mudah dari bibir Elvan, meluncur tajam dan langsung menghujam dada Maira. Ada rasa nyeri tak kasatmata yang mendadak menjalar di relung hatinya. Maira berusaha keras mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat goyah.

“Aku bantu kamu karena kamu temanku. Ayahmu pernah titip pesan ke aku untuk perhatikan kamu selama di Jakarta. Cuma itu,” tambah Elvan, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke jalan saat lampu berubah hijau.

“Cuma itu?” bisik Maira pelan, lebih pada dirinya sendiri.

“Ya. Cuma itu.”

Maira mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mencoba tersenyum tipis meski rasanya hambar. “Oke. Baguslah kalau jelas.”

Sisa perjalanan diisi oleh keheningan yang menyiksa. Maira memilih menatap keluar jendela, memperhatikan pendar lampu kota yang mengabur oleh titik-titik air. Ketika mobil akhirnya berhenti di depan lobi apartemen Maira, Maira segera meraih tasnya.

“Terima kasih tumpangannya,” ucap Maira tanpa menatap mata Elvan.

“Maira, tunggu,” panggil Elvan saat tangan Maira memegang gagang pintu.

Pria itu meraih kursi belakang, mengambil sebuah payung lipat berwarna merah burgundy, lalu menyerahkannya pada Maira.

“Bawa ini. Nanti malam diprediksi hujan sampai pagi. Jangan nekat menerobos air,” kata Elvan halus.

Maira menatap payung itu, lalu menatap Elvan. Kenapa? Jika pria ini benar-benar tidak memiliki perasaan padanya, kenapa harus sangat perhatian hingga hal sekecil ini? Kenapa harus membuat Maira terus tenggelam dalam harapan palsu?

Maira mengambil payung itu tanpa bersuara, lalu turun dari mobil tanpa mengucap sepatah kata pun.

Keesokan harinya di kantor, Maira duduk di kubikelnya dengan tatapan kosong. Di atas mejanya sudah tergeletak segelas iced americano favoritnya dan sebuah kantong kertas berisi croissant cokelat hangat.

“Dari siapa tuh?” suara Sella menyentak Maira dari lamunannya. Sahabatnya itu berdiri di samping meja sambil menyipitkan mata curiga.

“Biasa. Elvan,” jawab Maira lesu. “Tadi pagi pas aku baru sampai parkiran, dia menyuruh kurir anterin ini.”

Sella menghela napas berat, lalu menarik kursi di dekat Maira dan duduk di sana. “Maira, dengar ya. Aku sudah bilang berulang kali, kamu jangan gampang terbawa perasaan. Pria seperti Elvan itu berbahaya.”

“Dia bilang kemarin malam…” Maira menggantungkan kalimatnya, menatap gelas kopinya yang berembun. “Dia bilang dia nggak cinta sama aku. Dia cuma anggap aku teman yang harus dijaga karena amanat.”

“Nah! Kan!” Sella menepuk tangannya pelan. “Dia sendiri yang ngomong! Jangan terus-terusan mengartikan perhatian kecil dia sebagai cinta, Mai. Kalau dia beneran cinta, dia bakal minta kamu jadi pacarnya, bukan cuma jadi pengawal bayangan yang kerjaannya kasih sarapan sama payung.”

Maira mengangguk pelan. Logikanya membenarkan ucapan Sella, tapi hatinya menolak bekerja sama. Mengapa rasanya sakit sekali saat mendengar penegasan itu langsung dari mulut Elvan?

“Lagipula,” lanjut Sella dengan nada suara yang berubah cerah, “kamu harus buka mata. Di kantor ini ada pria yang jelas-jelas tertarik sama kamu dan nggak pakai kode-kode aneh.”

Maira mengernyit. “Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan Rendra? Anak tim marketing yang baru pindah itu. Dia terang-terangan nanyain kamu ke aku kemarin.”

Belum sempat Maira membalas ucapan Sella, seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja biru muda yang rapi berjalan mendekati meja Maira. Wajahnya ramah dengan senyum hangat yang selalu menghiasi bibirnya.

“Hai, Maira. Hai, Sella,” sapa Rendra ceria.

“Nah, panjang umur,” goda Sella sambil berdiri. “Aku ke toilet dulu ya. Kalian ngobrol aja.” Sella mengedipkan mata pada Maira sebelum berlalu pergi.

Maira tersenyum canggung pada Rendra. “Hai, Ren. Ada apa? Ada dokumen proyek yang perlu ditandatangani?”

“Nggak kok,” jawab Rendra santai, menyandarkan sikunya di pembatas kubikel. “Cuma mau nanya, nanti malam kamu ada acara nggak? Ada restoran pasta baru buka di daerah Senopati. Mau coba bareng?”

Maira ragu sejenak. Pikiran tentang Elvan yang terus menyiksanya sejak semalam kembali melintas. Mungkin Sella benar, ia harus mulai membuka diri dan berhenti berharap pada pria yang jelas-jelas menolaknya.

“Boleh,” jawab Maira akhirnya dengan senyuman yang lebih tulus. “Aku free nanti malam.”

“Serius? Asyik,” wajah Rendra tampak berbinar gembira. “Nanti jam lima aku jemput di kubikel kamu ya.”

“Oke, Ren.”

Saat Rendra baru saja hendak berbalik menuju mejanya, sesosok tubuh tinggi tegap menghentikan langkahnya. Elvan berdiri di lorong antar-kubikel dengan map tebal di tangannya. Pria itu mengenakan jas hitam formal, tampak baru saja keluar dari ruang rapat eksekutif.

Pandangan Elvan tertuju lurus pada Rendra, lalu beralih pada Maira. Matanya mengeras, dan garis bibirnya menajam secara instan. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa dingin dan kaku.

“Ada masalah di proyek baru, Elvan?” tanya Rendra ramah, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak muncul.

Elvan tidak menjawab pertanyaan Rendra. Pria itu justru melangkah mendekati meja Maira, mengabaikan keberadaan Rendra sepenuhnya.

“Nanti malam ada janji?” tanya Elvan pendek pada Maira. Suaranya terdengar amat tenang, namun ada nada tertahan di dalamnya.

“Iya. Aku mau makan malam sama Rendra,” jawab Maira jujur, mencoba menatap mata Elvan tanpa rasa takut.

Elvan melirik Rendra sebentar, tatapannya dingin dan penuh intensitas yang membuat Rendra mengernyit bingung.

“Maira mau pulang sama aku nanti malam,” kata Elvan tiba-tiba pada Rendra.

Maira melotot kaget. “Apa-apaan sih, Van?”

Rendra mengangkat kedua tangannya sedikit, mencoba bersikap sopan. “Maaf, Mas Elvan. Tapi Maira barusan setuju untuk pergi bareng aku. Lagipula, ini kan di luar jam kerja.”

Elvan melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Rendra. Tingginya yang hampir seratus delapan puluh lima sentimeter memberikan dominasi alami yang menekan.

“Nggak perlu,” kata Elvan dingin, suaranya pelan tapi penuh penekanan. “Aku yang antar dia pulang. Kamu bisa cari teman makan malam yang lain.”

Maira berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena malu sekaligus emosi dengan sikap otoriter Elvan yang tiba-tiba.

“Elvan! Kamu kenapa sih?” bentak Maira pelan, tidak ingin menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Maira memandang Rendra apologetis. “Ren, maaf ya. Nanti aku kabari lagi.”

Rendra menatap Maira dengan cemas, lalu melirik Elvan yang masih berdiri bak tembok kokoh. “Kamu nggak apa-apa, Mai?”

“Aku nggak apa-apa, Ren. Maaf banget ya,” ulang Maira.

Dengan enggan, Rendra akhirnya mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka. Begitu Rendra menjauh, Maira membalikkan badan, menatap Elvan dengan rasa frustrasi yang memuncak.

“Kenapa kamu harus melakukan itu?” tanya Maira dengan napas naik turun. “Kamu bikin Rendra risih! Kamu bikin aku malu!”

Elvan mengalihkan pandangannya pada Maira. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi emosi membara yang jarang sekali diperlihatkannya.

“Karena aku nggak suka dia terlalu dekat sama kamu,” jawab Elvan jujur, tanpa jeda, tanpa ragu.

Maira terdiam terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang secara maraton. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang baru kemarin malam menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apa pun.

Maira menatap mata Elvan dalam-dalam, mencari kebohongan atau candaan di sana, namun yang ditemukannya hanya keseriusan yang pekat.

Maira maju satu langkah, menatap tepat ke iris mata pria di hadapannya.

“Kalau kamu nggak cinta sama aku, kenapa kamu cemburu?”

Elvan membeku. Bibirnya terkatup rapat, dan untuk pertama kalinya sejak Maira mengenalnya, pria serba bisa dan selalu tenang itu terlihat sangat kebingungan mencari kata-kata.

-BERSAMBUNG-

Komentar Pengarang:
Duh, Mas Elvan ini sebenernya mau jual mahal atau memang gengsi setinggi langit sih? Kalau menurut kalian, Elvan beneran cemburu atau cuma posesif aja? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya, dan jangan lupa lanjut baca Bab 2!

Next
Tags:
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita