Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku - Bab 2
Pertanyaan Maira menggantung di udara seperti kabut tebal yang enggan beranjak. Elvan berdiri mematung di depan kubikel Maira. Matanya menatap Maira tajam, tetapi tak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya. Tenggorokannya seolah terkunci rapat.
“Kenapa diam, Van?” pancing Maira lagi, suara pelannya kini menuntut penegasan. “Jawab aku. Kalau aku cuma sekadar anak dari teman ayahmu yang harus kamu jaga, kenapa kamu harus peduli aku mau makan malam sama siapa?”
Elvan menarik napas panjang, mencoba menguasai kontrol dirinya yang sempat goyah. Ia mengalihkan pandangan dari mata Maira, menatap map tebal yang digenggamnya hingga jemarinya memutih.
“Aku cuma nggak mau kamu dimanfaatkan orang asing,” jawab Elvan akhirnya. Suaranya kembali datar, meski ada getaran tipis yang berusaha ia sembunyikan. “Rendra itu baru pindah dua bulan ke kantor ini. Kamu belum kenal dia sepenuhnya.”
Maira tertawa hambar, menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Alasan yang bagus, Elvan. Selalu punya jawaban aman, ya?”
“Aku bicara fakta, Maira.”
“Terserah kamu,” potong Maira cepat. Ia kembali duduk di kursinya, mengabaikan Elvan sepenuhnya dan berpura-pura sibuk menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka. “Tolong tinggalkan aku. Aku mau kerja.”
Elvan berdiri di sana selama beberapa detik lagi, menatap puncak kepala Maira dengan tatapan rumit yang sulit diartikan. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, pria itu membalikkan badan dan melangkah pergi dengan jejak langkah yang berat.
Hari-hari berikutnya justru menjadi siksaan tersendiri bagi Maira. Ia bertekad untuk bersikap acuh tak acuh dan membatasi interaksi dengan Elvan. Namun, pria itu seolah memiliki ribuan cara untuk menembus benteng pertahanan yang coba didirikannya.
Dua hari setelah kejadian di kantor, Maira mendadak demam tinggi. Badannya menggigil dan kepala serasa dihantam beban berat, membuatnya tidak sanggup bangun untuk bekerja. Ia hanya sempat mengirim pesan ke grup kantor bahwa dirinya izin sakit.
Pukul tujuh malam, bel pintu apartemennya berbunyi. Maira menyeret kakinya yang lemas, membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, lalu membuka pintu.
Elvan berdiri di sana. Kemeja kerjanya sudah tidak berikat pinggang rapi, kancing teratasnya terbuka, dan wajahnya menyiratkan rasa cemas yang jelas. Di tangannya ada satu kantong plastik besar berisi mangkuk bubur ayam hangat dari kedai langganan Maira, kantong buah-buahan, serta obat-obatan dari apotek.
“Kamu… kenapa ke sini?” suara Maira terdengar parau.
Elvan tidak menjawab. Tanpa meminta izin, ia melangkah masuk, menyenggol pelan bahu Maira agar wanita itu mundur, lalu menutup pintu apartemen.
“Kenapa nggak jawab teleponku dari siang?” tanya Elvan tegas sambil meletakkan bawaannya di atas meja dapur.
“Aku tidur. Pusing banget,” sahut Maira, menyandarkan tubuhnya di pinggiran sofa. “Lagipula, aku nggak minta kamu ke sini, Van.”
Elvan mengabaikan nada ketus Maira. Pria itu berjalan ke dapur, mengambil mangkuk, dan menuangkan bubur ayam yang masih berasap. Ia juga menyiapkan segelas air hangat dan menata obat-obatan di sampingnya.
“Makan dulu, baru minum obat,” kata Elvan seraya membawa mangkuk itu ke meja depan sofa.
“Aku nggak nafsu makan.”
Elvan menatapnya, lalu mendudukkan diri di samping Maira. Kursi sofa sedikit ambles oleh bobot tubuhnya. Pria itu meraih sendok, mengambil sedikit bubur, lalu meniupnya perlahan sebelum menyodorkannya ke depan bibir Maira.
Maira terpaku. Matanya menatap sendok di tangan Elvan, lalu beralih menatap wajah pria itu yang berada begitu dekat darinya. Ia bisa mencium aroma parfum kayu yang hangat bercampur bau hujan yang menempel di jaket Elvan.
“Van, stop,” bisik Maira pelan. “Kamu nggak perlu melakukan ini.”
“Buka mulutmu, Maira. Jangan keras kepala kalau lagi sakit,” sahut Elvan halus, namun ada ketegasan yang tak bisa dibantah.
“Kenapa kamu selalu begini?” Maira merasakan matanya memanas. “Kenapa kamu selalu datang dan bikin aku bingung? Kalau kamu nggak punya perasaan apa-apa, biarkan aku urus diriku sendiri!”
Elvan menghentikan tangannya di udara. Matanya menatap Maira dengan pandangan yang sulit dibaca.
“Aku cuma memastikan kamu makan dan minum obat,” kata Elvan pelan. “Sekarang makan.”
Karena tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat, Maira akhirnya membuka mulut dan menerima suapan itu. Momen itu berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Elvan terus menyuapinya hingga bubur di mangkuk habis separuh, lalu menyodorkan obat dan air hangat.
Setelah Maira meminum obatnya, Elvan menyuruh wanita itu kembali ke kamar tidur. Pria itu mengambil kain kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu duduk di kursi samping tempat tidur Maira untuk mengompres dahinya.
“Kamu nggak pulang?” tanya Maira dengan suara makin melemah karena pengaruh obat flu.
“Aku pulang setelah demammu turun,” jawab Elvan singkat. Tangannya mengusap rambut Maira yang lengket oleh keringat dingin, menyingkirkannya dari dahi wanita itu dengan gerakan yang sangat lembut.
“Kamu jahat, Van…” gumam Maira samar, matanya mulai terasa berat. “Kamu bikin aku makin susah buat lupain kamu…”
Elvan membeku mendengar bisikan itu. Jarinya terhenti di dahi Maira. Pria itu menatap wajah polos Maira yang tertidur lelap beberapa saat kemudian. Elvan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengepalkan tangannya sendiri di atas pangkuan.
“Maafkan aku, Maira,” bisik Elvan pada ruangan yang sepi. “Tapi ini satu-satunya cara.”
Satu minggu kemudian, Maira sudah sembuh total dan kembali bekerja. Sikap Elvan di kantor justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Setelah malam di mana ia merawat Maira, Elvan berubah menjadi sangat dingin.
Pria itu melewati kubikel Maira tanpa menyapa, menyerahkan dokumen rapat hanya melalui sekretarisnya, dan jika tak sengaja berpapasan di lorong lift, pandangannya lurus ke depan seolah Maira adalah sosok transparan.
Perubahan drastis itu membakar emosi Maira. Pria ini dengan enaknya masuk ke hidupnya saat ia lemah, lalu berpura-pura tidak mengenalinya saat di kantor.
Hari Jumat sore, Maira mendapat pesan dari Rendra yang mengajak makan malam di sebuah restoran terbuka dengan pertunjukan musik akustik. Maira yang sudah lelah dipermainkan oleh ketidakpastian Elvan langsung menyetujuinya.
Menjelang jam pulang kantor, Maira melangkah mantap menuju ruangan kerja Elvan di lantai atas. Tanpa mengetuk pintu, ia memutar gagang pintu dan masuk.
Elvan yang sedang memeriksa berkas di balik meja kerjanya yang luas mendongak. Alisnya terangkat tipis.
“Maira? Ada apa? Nggak ketuk pintu dulu?” tanya Elvan santai, lalu meletakkan pulpennya.
“Kamu mau apa sebenarnya, Van?” tanya Maira tanpa basa-basi. Ia berdiri di depan meja Elvan dengan tangan mengepal di sisi tubuh.
“Mau apa bagaimana?”
“Jangan pura-pura bodoh!” suara Maira naik satu oktaf. “Kemarin waktu aku sakit kamu datang, kamu rawat aku sampai malam, kamu usap rambutku. Tapi di kantor kamu akting seolah-olah kita nggak saling kenal! Kamu mau buat aku gila?”
Elvan bersandar pada kursi kerjanya, menatap Maira dengan pandangan tenang yang dipaksakan. “Aku cuma bantu temanku yang lagi sakit. Lagipula di kantor kita harus profesional, Maira.”
Maira tertawa miris. “Profesional? Kamu sebut sikap posesif kamu ke Rendra kemarin itu profesional? Kamu sebut merawatku di apartemen malam-malam itu profesional?”
“Maira, tenanglah—”
“Aku nggak bisa tenang!” potong Maira cepat. “Kamu bilang kamu nggak cinta. Tapi kamu juga nggak pernah membiarkan aku lepas! Setiap kali aku mencoba menjauh, kamu datang kasih perhatian. Tapi setelah itu kamu dorong aku lagi!”
Elvan terdiam. Garis rahangnya mengeras.
“Aku cuma menjagamu,” kata Elvan pendek.
“Kenapa?!” desak Maira, matanya berkaca-kaca karena frustrasi yang memuncak. “Kasih aku satu alasan yang masuk akal kenapa seorang pria yang mengaku nggak punya perasaan harus menjagaku sejauh ini?!”
Elvan memejamkan mata sejenak. Ada pergulatan batin yang sangat hebat di balik wajah tenangnya. “Aku… punya alasan sendiri.”
“Alasan apa?!”
“Aku nggak bisa cerita sekarang.”
“Kalau begitu berhenti bersikap seolah kamu peduli!” bentak Maira. Air mata frustrasinya akhirnya menetes. “Kamu egois, Elvan. Kamu nggak mau kasih aku status, kamu nggak mau buka hati kamu, tapi kamu juga nggak biarkan pria lain mendekatiku!”
Elvan menghela napas berat, lalu berdiri dari kursinya. “Maira, dengar. Rendra itu bukan pria yang tepat—”
“Tahu dari mana kamu?!” tembak Maira melangkah lebih dekat ke meja. “Setidaknya Rendra berani bilang kalau dia suka sama aku! Dia nggak penakut seperti kamu yang cuma bisa sembunyi di balik kata ‘menjaga’!”
Kalimat itu menampar Elvan tepat di wajahnya. Pria itu mengepalkan tangannya di atas meja. “Maira, jaga ucapanmu.”
“Kenapa? Tersinggung?” Maira menyapu air matanya dengan kasar. “Malam ini aku bakal pergi makan malam sama Rendra. Dan aku nggak butuh izin dari kamu.”
Raut wajah Elvan langsung berubah tegang. Matanya berkilat marah. “Maira, jangan pergi.”
“Kamu nggak punya hak melarangku,” tegak Maira menatap lurus ke iris mata Elvan.
“Aku tahu,” sahut Elvan, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan.
“Kalau begitu berhenti bersikap seperti pacarku,” ujar Maira dengan nada dingin yang belum pernah ia gunakan sebelumnya pada Elvan. “Mulai detik ini, aku bakal jaga jarak dari kamu. Jangan datang ke apartemenku lagi, jangan kirim sarapan lagi, dan jangan campuri urusanku lagi.”
Kalimat ultimatum itu meluncur tegas dari bibir Maira. Tanpa menunggu balasan dari Elvan, Maira membalikkan badan, memutar gagang pintu, dan berjalan keluar dengan langkah cepat, meninggalkan Elvan yang terpaku di balik mejanya.
Elvan berdiri membeku. Jemarinya yang menekan permukaan meja gemetar pelan. Ia ingin sekali berlari mengejar Maira, menahan tangannya di lorong, dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Namun ketakutan dalam dirinya menahannya bak rantai besi yang mengikat kaki.
Malam harinya, pukul delapan malam.
Maira duduk di sebuah meja sudut di kafe area Jakarta Selatan bersama Rendra. Suasana kafe cukup ramai dengan lampu-lampu gantung yang hangat dan alunan lagu akustik yang riang. Rendra sedang menceritakan pengalaman konyolnya saat pertama kali bekerja di Jakarta, membuat Maira beberapa kali tertawa pelan.
Namun, di balik tawa itu, pikiran Maira sama sekali tidak berada di sana. Bayangan wajah Elvan yang terpukul saat ia tinggalkan tadi sore terus berputar di kepalanya, menimbulkan rasa sesak yang tak kunjung hilang.
“Mai? Kamu dengar aku nggak?” tanya Rendra ramah, melambaikan tangannya di depan wajah Maira.
Maira tersentak kecil. “Ah, maaf, Ren. Apa tadi?”
Rendra tersenyum maklum. “Kamu kelihatan banyak pikiran dari tadi. Makananmu juga cuma diacak-acak.”
“Maaf ya, Ren. Aku cuma agak lelah karena pekerjaan minggu ini,” alibi Maira merasa bersalah.
“Nggak apa-apa. Kalau kamu mau pulang lebih awal, aku bisa antar sekarang,” tawar Rendra tulus.
Saat Maira baru saja hendak mengangguk, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar pendek. Layar ponsel menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
Dari: Elvan.
Maira mengerutkan dahi. Ia menggeser layar dan membaca pesan singkat tersebut:
Besok jangan pergi ke mana-mana sendirian. Ada seseorang yang sedang mencarimu.
Dada Maira mendadak berdegup kencang secara maraton. Pesan itu terasa amat berbeda dari pesan-pesan Elvan sebelumnya. Tidak ada nada kecemburuan atau perintah otoriter di sana, melainkan sebuah peringatan dingin yang menyiratkan bahaya nyata.
Tanpa membuang waktu, Maira langsung menekan tombol panggil pada nama Elvan. Ia mengangkat ponselnya ke telinga.
Ponsel di seberang sana berdering.
Tttt… tttt… tttt…
Satu kali panggilan tak diangkat. Maira mencoba menekan tombol panggil sekali lagi dengan jari yang perlahan mulai gemetar.
Panggilan yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi.
Suara mesin otomatis itu menyambutnya. Maira mencoba menghubungi nomor Elvan untuk ketiga kalinya, namun hasilnya tetap sama. Teleponnya dialihkan.
“Mai? Ada apa? Wajah kamu kok mendadak pucat begitu?” tanya Rendra cemas, menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah Maira.
Maira menurunkan ponsel dari telinganya. Ia menatap layar ponsel yang kembali gelap dengan rasa cemas yang mendadak membungkus seluruh dadanya. Peringatan Elvan terasa sangat serius, dan fakta bahwa pria itu kini tidak bisa dihubungi membuat ketakutan besar mulai merayapi hatinya.
-BERSAMBUNG-
Komentar Pengarang:
Waduh! Maksud pesan dari Mas Elvan itu apa ya? Siapa orang yang lagi nyari Maira? Apakah ini alasan sebenarnya kenapa Elvan selalu protektif? Tulis tebakan kalian di kolom komentar dan langsung lanjut baca Bab 3 ya!