Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku - Bab 3
Malam itu Maira tidak bisa tidur nyenyak sama sekali. Pesan dari Elvan terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Besok jangan pergi ke mana-mana sendirian. Ada seseorang yang sedang mencarimu. Pesan singkat itu tidak terdengar seperti cemburu atau protektif yang biasa, melainkan seperti sebuah peringatan akan bahaya nyata.
Rasa cemas dan penasaran membelit dada Maira hingga membuat napasnya terasa makin sesak. Ia memandangi ponselnya di atas nakas yang tetap hening hingga fajar menyingsing. Panggilan teleponnya sama sekali tak direspon.
Keesokan harinya, Sabtu pagi sekitar pukul delapan, Maira memutuskan untuk tidak berdiam diri. Tanpa membuang waktu, ia mengambil tas, memakai jaket, dan langsung menaiki taksi menuju apartemen Elvan di kawasan Jakarta Selatan. Maira memiliki kartu akses masuk yang pernah diberikan Elvan padanya tahun lalu untuk situasi darurat—sesuatu yang ironisnya kini sangat ia butuhkan.
Begitu keluar dari lift di lantai dua belas, Maira melangkah cepat menuju unit nomor 1204. Ia menempelkan kartu akses dan menekan enam digit pin yang masih ia ingat luar kepala.
BEEP.
Pintu terbuka dengan bunyi klik halus. Suasana di dalam apartemen bernuansa minimalis itu tampak remang-remang dan amat sunyi. Gorden tirai besar belum dibuka, membiarkan cahaya pagi hanya masuk samar-samar. Maira melangkah masuk dengan hati-hati, menutup pintu di belakangnya.
Ia menemukan Elvan sedang duduk di sofa ruang tamu. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam kemarin malam yang sudah kusut, lengan kemejanya digulung asal hingga siku. Penampilannya sangat kacau. Rambutnya berantakan, sementara di atas meja kopi tergeletak beberapa lembar dokumen serta gelas kopi hitam yang sudah dingin.
Elvan mendongak saat mendengar langkah kaki. Matanya merah, berurat halus, dan menyiratkan kelelahan fisik maupun mental yang luar biasa.
“Maira?” suara Elvan terdengar parau dan serak. “Kenapa kamu bisa ke sini?”
Maira berjalan mendekat, menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap Elvan dari atas ke bawah dengan raut wajah menuntut.
“Kamu pikir aku bisa tidur tenang setelah baca pesan kamu semalam?” suara Maira bergetar menahan amarah dan kekhawatiran. “Kamu telepon nggak diangkat, pesan nggak dibalas. Kamu mau bikin aku mati ketakutan?!”
Elvan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar, lalu menghela napas panjang yang terdengar berat.
“Aku minta maaf,” ucap Elvan pelan. “Semalam ada hal mendesak yang harus aku urus sampai subuh.”
“Jelasin ke aku sekarang, Van,” tuntut Maira tegas, mengabaikan jarak yang sebelumnya ingin ia ciptakan. “Siapa yang nyari aku? Ada masalah apa sebenarnya? Dan kenapa kamu selalu bertingkah seolah-olah hidupku dalam bahaya kalau nggak ada kamu?”
Elvan menatap Maira lama sekali. Tampak keraguan yang sangat besar bertarung di balik iris mata hitamnya. Pria itu mengepalkan tangannya di atas paha. Namun, melihat kegigihan dan ketakutan yang terpancar jelas dari mata Maira, Elvan tahu ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan ‘kebetulan’ atau ‘sekadar amanat’.
“Duduklah dulu, Maira,” bisik Elvan pelan.
Maira ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di ujung sofa. Ia menjaga jarak dari Elvan, namun matanya tetap menatap pria itu tanpa berkedip sedikit pun.
Elvan meraih sebuah amplop cokelat tebal dari atas meja kopi dan menggesernya ke arah Maira.
“Buka dan baca kalau kamu mau,” kata Elvan seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak.
Maira mengambil amplop itu, membuka segelnya, dan mengeluarkan tumpukan lembaran berkas serta foto-foto. Matanya membelalak saat melihat foto dirinya sendiri yang diambil dari jarak jauh—saat ia sedang menunggu taksi, berjalan ke minimarket, hingga saat duduk di ruang terbuka kantornya.
“Ini… apa?” Maira mendongak, wajahnya mendadak pucat pasi.
“Empat tahun lalu, sebelum aku kenal kamu, aku bekerja di perusahaan investasi milik keluargaku,” Elvan mulai bercerita, suaranya terdengar amat dalam dan dalam penderitaan. “Di sana, aku menemukan indikasi penggelapan dana besar-besaran yang dilakukan oleh salah satu pemegang saham utama—pria bernama Arga.”
Maira mendengarkan dengan seksama, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Elvan tanpa memotong.
“Aku mengumpulkan bukti dan melaporkan dia ke pihak berwajib,” lanjut Elvan, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. “Arga terbukti bersalah, dipenjara, dan seluruh kekayaannya disita. Tapi sebelum dieksekusi ke lembaga pemasyarakatan, dia bersumpah di depan mukaku. Dia bilang, dia bakal menghancurkan apa pun dan siapa pun yang paling berharga buat aku.”
Maira menelan ludah, dadanya bergemuruh. “Terus… apa hubungannya sama aku, Van?”
“Dua minggu lalu, Arga bebas bersyarat karena pengurangan masa tahanan,” Elvan mengalihkan pandangannya pada Maira. Ada kepedihan mendalam di sana. “Dan hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tahu tentang hidupku. Anak buahnya mulai mengintai area kantor kita, bahkan mencatat jadwal harianmu. Mereka tahu aku selalu memperhatikanmu, Maira. Mereka mencoba mendekatimu untuk cari celah menekanku.”
Maira membeku di tempatnya. Foto-foto di tangannya mendadak terasa amat berat. Seluruh puzzle aneh dalam perilaku Elvan selama beberapa bulan terakhir—kenapa pria itu selalu muncul saat hujan, kenapa pria itu selalu menunggu di parkiran, kenapa ia sangat marah saat Rendra mendekat—semuanya kini terpasang sempurna. Pria ini bukan sekadar posesif tanpa alasan. Pria ini sedang menjadi perisai bagi dirinya dari bahaya yang tak kasatmata.
“Jadi… selama ini kamu selalu ada di sekitar aku…” Maira menahan napasnya, “…bukan cuma karena cemburu? Tapi karena kamu mau ngelindungi aku dari dia?”
“Aku nggak bisa membiarkan kamu terseret dalam masalahku, Maira,” sahut Elvan pelan. Pria itu menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut erat. “Empat tahun lalu, aku punya kekasih. Namanya Kirana.”
Maira terpaku. Ini pertama kalinya Elvan menyebut nama wanita lain dari masa lalunya.
“Ketika kasus Arga mulai memanas,” Elvan melanjutkan dengan suara yang makin bergetar, “aku tidak menceritakan apa pun pada Kirana karena ingin menyelesaikannya sendiri. Tapi aku lalai. Anak buah Arga menerornya. Mereka mengejarnya di jalanan sampai Kirana mengalami kecelakaan hebat saat mencoba melarikan diri dari mereka. Dia… dia meninggal di tempat.”
Maira menutup mulutnya dengan telapak tangan, terkejut luar biasa. Ia merasakan simpati dan duka mendalam yang menyayat hatinya.
“Sejak hari itu, aku berjanji sama diriku sendiri,” Elvan mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Maira. “Aku nggak akan pernah membiarkan orang yang aku sayangi masuk ke dalam hidupku secara resmi. Cinta cuma bakal bikin orang yang aku sayangi jadi target. Cinta cuma bakal membawa bahaya dan luka. Itu alasan kenapa aku selalu bilang… aku nggak cinta sama kamu.”
Maira merasakan dadanya dihantam kepedihan yang luar biasa. Bukan hanya karena ancaman bahaya yang mengintainya, tapi karena menyadari betapa besarnya beban trauma dan rasa bersalah yang dipikul Elvan seorang diri selama bertahun-tahun. Pria ini mengurung perasaannya sendiri dalam penjara rasa takut demi keselamatan Maira.
“Jadi selama ini kamu menjauh… cuma karena takut?” tanya Maira dengan suara parau.
Elvan mengangguk pelan. “Aku takut, Maira. Aku takut kalau aku mengakuinya, aku bakal kehilangan kamu dengan cara yang sama seperti aku kehilangan Kirana. Aku lebih baik dibenci sama kamu, aku lebih baik kamu anggap pria jahat, asal kamu tetap aman dan bernapas.”
Maira menggelengkan kepalanya, air mata perlahan menetes membasahi pipinya. “Tapi kamu salah, Van. Kamu nggak pernah memberiku kesempatan untuk memilih. Kamu mengambil keputusan sendiri dan menyiksa kita berdua!”
“Ini demi keselamatanmu!” tegas Elvan, suaranya meninggi karena emosi.
“Keselamatan yang dibayar dengan rasa sakit hati tiap hari?” balas Maira menohok. “Kamu pikir aku bahagia dikasih perhatian tanpa kejelasan? Kamu pikir aku tenang setiap kali kamu dorong aku menjauh dan bilang kalau kamu nggak punya perasaan?!”
Elvan terdiam, tak sanggup membalas argumentasi Maira. Pria itu memalingkan wajahnya ke samping, menahan luapan emosi yang membakar dadanya.
Keesokan harinya, Minggu siang, Maira meminta Rendra untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang tenang. Maira bermaksud menceritakan semuanya secara jujur tanpa menutupi apa pun lagi. Ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Rendra atau memberi harapan palsu pada pria yang tulus itu.
Rendra mendengarkan penjelasan Maira dengan tenang. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, memandang Maira dengan senyuman tipis yang sarat akan pengertian.
“Jadi… pria yang selama ini ada di hati kamu itu memang Mas Elvan, ya?” tanya Rendra lembut setelah Maira selesai bercerita, meski Maira menyembunyikan detail teror Arga demi keamanan.
Maira menunduk merasa bersalah. “Maafkan aku, Rendra. Kamu pria yang sangat baik, jujur, dan terbuka. Tapi aku nggak bisa membohongi perasaanku sendiri. Hatiku sudah terlalu jauh tertambat di dia, walaupun situasinya rumit begini.”
Rendra tertawa kecil, menggelengkan kepala santai untuk mencairkan suasana.
“Nggak apa-apa, Mai. Justru aku kagum sama kejujuran kamu,” sahut Rendra tulus. “Jujur aja, waktu lihat gimana Mas Elvan menatap aku kemarin di kantor, aku sudah paham. Tatapan pria yang takut kehilangan wanita yang dia cintai itu nggak bisa dibohongi, sekeras apa pun dia coba sembunyikan.”
Rendra memajukan tubuhnya sedikit, menatap Maira dengan hangat. “Aku mundur, Mai. Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku tahu aku nggak akan pernah punya tempat di hati kamu selama ada dia. Selesaikan masalah kalian, ya? Kamu berhak bahagia.”
“Terima kasih banyak, Rendra. Kamu bener-bener pria yang luar biasa,” ucap Maira penuh rasa syukur dan lega. Rendra mundur dengan sangat elegan, tanpa meninggalkan rasa canggung sedikit pun di antara mereka.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Sore harinya sekitar pukul lima, ketika Maira baru saja berjalan keluar dari kedai kopi menuju tepi jalan untuk memesan taksi, sebuah mobil sedan hitam berlapis kaca gelap berhenti mendadak di dekatnya.
Seseorang di dalam mobil menurunkan kaca penumpang sedikit. Maira sempat melihat kilatan kamera ponsel yang mengarah tepat ke wajahnya sebelum mobil itu kembali menginjak gas dan melaju kencang meninggalkan asap knalpot.
Jantung Maira terhenti sejenak. Peringatan Elvan terngiang seketika. Maira merogoh tasnya dengan tangan yang gemetaran hebat dan langsung menekan tombol panggilan cepat ke nomor Elvan.
Hanya dalam hitungan detik, telepon diangkat.
“Maira? Kamu di mana?!” suara Elvan terdengar panik dan terengah-engah di ujung telepon.
“Van… ada mobil sedan hitam baru aja ambil fotoku di depan kedai kopi daerah Selatan,” lapor Maira dengan suara bergetar.
“Jangan bergerak dari sana! Masuk lagi ke dalam kedai, cari tempat ramai, dan tunggu aku! Aku sampai dalam lima menit!” perintah Elvan tegas sebelum memutus panggilan.
Tak sampai lima menit, SUV hitam milik Elvan mencicit mendadak di depan kedai. Elvan melompat keluar dari mobil dengan wajah sangat pucat dan panik. Pria itu berlari menembus pintu kedai, melangkah lebar mendekati Maira, dan langsung memegang kedua bahu wanita itu. Ia memeriksa kondisi Maira dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata liar.
“Kamu nggak apa-apa? Ada yang melukai kamu?! Ada yang megang kamu?!” tanya Elvan setengah berteriak, napasnya buru-buru.
“Aku nggak apa-apa, Van. Cuma ada mobil yang mengambil fotoku,” jawab Maira mencoba menenangkan Elvan meski dirinya sendiri masih syok.
Elvan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyala penuh kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
“Cukup. Ini sudah terlalu berbahaya,” kata Elvan dengan nada otoriter yang tak dapat diganggu gugat. “Mulai besok, aku bakal atur agar kamu dipindahkan sementara ke kantor cabang di Surabaya. Semua biaya apartemen dan kebutuhan di sana aku yang tanggung. Aku sudah menyuruh temanku pesan tiket pesawat malam ini.”
Maira menepis tangan Elvan dari bahunya. Wajahnya memerah bukan karena takut, tapi karena tidak terima dengan keputusan sepihak itu.
“Kamu mau menyuruh aku pergi lagi?” tanya Maira tidak percaya. “Kamu mau lari dan menyembunyikan aku lagi?”
“Ini demi keselamatanmu, Maira! Arga sudah makin nekat!” bentak Elvan, emosinya membumbung tinggi karena rasa takut yang teramat sangat akan keselamatan Maira.
“Aku nggak mau pergi!” tolak Maira keras, menyilangkan tangannya. “Kamu pikir setelah selama ini kamu menjagaku, sekarang aku bakal lari gitu aja dan biarkan kamu hadapi bahaya sendirian?!”
Elvan menatap Maira tajam, matanya memerah penuh rasa frustrasi. Pria itu mencengkeram lengan Maira pelan, menatap lurus ke dalam matanya.
“Aku serius, Maira!” seru Elvan, suaranya bergetar hebat menahan luapan emosi. “Kalau kamu tetap di sampingku, aku nggak bisa menjamin kamu nggak akan terluka!”
Maira menatap tepat ke dalam manik mata Elvan. Ia tidak mundur selangkah pun. Meskipun air matanya mulai menetes membasahi pipi, suaranya terdengar begitu kokoh, jujur, dan mantap menembus benteng ketakutan Elvan.
“Aku lebih takut terluka karena kamu terus menyuruhku pergi.”
-BERSAMBUNG-
Komentar Pengarang:
Maira benar-benar wanita yang luar biasa berani ya! Dia menolak lari dan memilih bertahan di samping Elvan meskipun ada ancaman bahaya. Apakah ucapan Maira ini akhirnya bisa meruntuhkan benteng ketakutan Elvan? Yuk, langsung klik Bab 4 untuk melihat kelanjutannya!