Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku - Bab 4

  1. Home
  2. Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku
  3. Bab 4 - Berhenti Mengatakan Kamu Tidak Mencintaiku
Prev
Next

Kata-kata Maira di sore itu—Aku lebih takut terluka karena kamu terus menyuruhku pergi—mengendap tebal dan memekakkan telinga Elvan. Kalimat itu seolah menjadi petir yang menghantam benteng pertahanan yang selama bertahun-tahun ia bangun rapat-rapat.
Namun, ketakutan Elvan akan keselamatan Maira masih terlalu mendominasi logikanya. Selama dua hari berikutnya, situasi terkait ancaman Arga semakin memuncak. Elvan memutuskan untuk mengambil langkah drastis dan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Ia bekerja sama dengan pihak kepolisian dan pengacara keluarga untuk menjebak Arga serta anak buahnya dalam operasi tangkap tangan.
Sayangnya, alih-alih melibatkan Maira atau memberinya kejelasan, Elvan kembali menutup diri. Pria itu sengaja tidak menjawab pesan Maira, mengabaikan panggilannya, dan menyewa dua orang pengawal pribadi untuk mengawasi area apartemen Maira dari jarak jauh tanpa persetujuan wanita itu.
Senin malam, sekitar pukul delapan, Maira yang baru saja pulang kantor dihadang oleh komandan satpam gedung apartemennya. Satpam tersebut memberitahukan bahwa ada dua pria berbadan tegap yang terus berdiri di area parkir sejak pagi, mengaku sebagai utusan Elvan untuk menjaga Maira.
Mendengar hal itu, kesabaran Maira benar-benar habis. Rasa lelah, marah, dan dipatahkan menghujam dadanya sekaligus. Elvan kembali mengambil keputusan sepihak. Pria itu kembali bertindak seolah-olah Maira adalah objek yang hanya perlu diatur dan dilindungi dari jauh.
Tanpa membuang waktu, Maira memesan taksi dan menuju rumah pribadi Elvan di kawasan Kebayoran Baru. Begitu sampai di depan pagar besi yang tinggi, Maira meminta penjaga gerbang membukakannya. Penjaga yang sudah mengenali Maira langsung membiarkannya masuk.
Maira melangkah lebar menuju area belakang rumah, tempat ia tahu Elvan sering menghabiskan waktu jika sedang tertekan.
Di sana, di tepi kolam renang bernuansa remang-remang, Elvan berdiri mematung. Pria itu masih mengenakan kemeja putih kerja yang sudah ditekuk lengannya, memegang segelas minuman hangat, dengan raut wajah yang amat letih.
“Sampai kapan kamu mau bersikap seperti pahlawan kesiangan, Elvan?” suara Maira memecah kesunyian malam.
Elvan terkejut, membalikkan badannya dengan cepat. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok Maira berdiri di sana dengan mata berkilat marah.
“Maira? Bagaimana bisa kamu ke sini?” tanya Elvan dengan nada panik yang spontan.
“Aku menyuruh penjaga gerbang membukakan pintu!” potong Maira cepat. Ia berjalan mendekat dengan langkah mantap, berhenti tepat dua jengkal di hadapan Elvan. “Kamu menyewa pengawal untuk awasi apartemenku? Kamu matiin HP kamu seharian? Kamu mau main sembunyi-sembunyian sampai kapan, Van?!”
Elvan menghela napas panjang, meletakkan gelasnya di atas meja taman. “Maira, dengarkan aku dulu. Malam ini kepolisian sedang bergerak mengepung lokasi Arga. Semua hampir selesai. Aku cuma mau memastikan kamu aman di apartemenmu tanpa terganggu.”
“Kamu selalu bilang sedang menjagaku!” teriak Maira, emosinya yang tertahan selama berhari-hari akhirnya meledak tanpa bendungan. “Memang! Kamu kirim makanan, kamu kirim pengawal, kamu pastikan aku nggak tersentuh bahaya fisik sedikit pun!”
Maira maju satu langkah, menunjuk dada Elvan dengan jari telunjuknya yang gemetar hebat.
“Tapi kamu nggak sadar kalau cara kamu menjaga aku justru membuat hatiku terluka paling parah! Kamu buat aku merasa seperti barang simpanan yang cuma perlu kamu amankan! Kamu buat aku merasa nggak berharga sebagai manusia yang punya perasaan!”
Elvan membeku. Setiap patah kata yang diucapkan Maira menghujam jantungnya tanpa ampun.
“Kamu selalu menyembunyikan diri di balik alasan ‘demi kebaikanku’,” lanjut Maira dengan suara bergetar, air mata hangat mengalir deras membasahi pipinya. “Tapi kenyataannya? Kamu cuma pengecut, Elvan! Kamu cuma menggunakan alasan melindungi aku untuk menyembunyikan ketakutanmu sendiri! Kamu takut gagal lagi seperti masa lalumu sama Kirana, jadi kamu milih untuk patahin hatiku duluan sebelum orang lain bisa melakukannya!”
Ruangan terbuka itu mendadak hening. Hanya terdengar suara gemericik air kolam dan napas Maira yang naik turun menahan isak tangis.
Elvan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya di samping tubuh mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Kata-kata Maira mengupas dirinya tanpa sisa. Maira benar. Selama ini ia menyelimuti ketakutan dan rasa bersalahnya sendiri dengan jubah kepahlawanan. Ia berakting seolah-olah sedang menjadi pelindung yang berkorban, padahal ia sedang menyiksa wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
“Aku…” suara Elvan terdengar sangat pelan, pecah, dan penuh kepedihan. “Aku cuma takut, Maira…”
“Kalau kamu takut, hadapi ketakutan itu bareng aku!” balasan Maira cepat dan tegas. “Bukan dengan cara mengusirku dari hidupmu!”
Elvan menatap Maira dengan mata yang memerah dan basah oleh genangan air mata. “Maira, kalau sampai terjadi sesuatu padamu karena aku—”
“Aku lebih baik menghadapi bahaya itu sama kamu daripada harus hidup tenang tapi dibuang sama kamu!” selak Maira pantang menyerah. “Tapi kalau kamu tetap milih untuk sembunyi di balik rasa takutmu… kalau kamu tetap mau dorong aku pergi… silakan. Tapi jangan pernah cari aku lagi setelah ini.”
Maira membalikkan badan dan melangkah pergi menembus kegelapan malam, meninggalkan Elvan yang berdiri terpaku di tepi kolam dalam keputusasaan yang meremas dadanya.
Keesokan harinya, Selasa siang, sebuah kabar besar datang. Operasi kepolisian berjalan sukses. Arga beserta seluruh kelompoknya berhasil ditangkap dalam operasi tangkap tangan terkait kasus pemerasan, pengancaman, dan tindak pidana berencana. Bahaya nyata yang selama bertahun-tahun membayangi hidup Elvan dan mengintai Maira kini benar-benar sirnah secara hukum.
Di kantor, suasana terasa lebih tenang. Sella duduk di kursi samping kubikel Maira, menyerahkan segelas teh chamomile hangat. Sahabatnya itu telah mendengarkan seluruh pertengkaran Maira dan Elvan kemarin malam.
“Maira,” panggil Sella dengan suara lembut sambil mengelus jemari Maira. “Kamu sudah melakukan semua yang kamu bisa. Kamu sudah jujur, kamu sudah bertahan, dan kamu sudah melawan ketakutan pria itu secara terang-terangan.”
Maira menatap cangkir tehnya dengan mata yang masih sedikit sembab. “Tapi dia masih belum bisa jujur sama perasaannya, Sel. Dia masih takut.”
“Kalau setelah semua ancaman ini selesai dia tetap nggak punya keberanian untuk bilang ‘aku mencintaimu’, kamu harus benar-benar lepaskan dia, Mai,” ujar Sella tegas namun penuh simpati. “Cinta itu nggak bisa berdiri cuma dari tindakan protektif satu pihak. Cinta butuh keberanian verbal untuk diakui dan dipertanggungjawabkan. Kalau dia beneran cinta sama kamu, dia harus berani menyatakannya di depan mukamu tanpa alasan apa pun lagi.”
Maira mengangguk pelan. Ucapan Sella benar. Ia sudah memberikan segalanya. Kini giliran Elvan yang harus menentukan takdir hubungan mereka.
Sore harinya, sekitar pukul lima lewat lima belas menit, suasana kantor sudah mulai sepi karena jam kerja telah berakhir.
Pintu ruang kerja Maira tiba-tiba terbuka. Elvan berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih yang rapi, celana bahan hitam, dan wajahnya tidak lagi tertutup bayang-bayang ketegangan seperti hari-hari sebelumnya. Beban hukum dan teror Arga telah diangkat dari pundaknya.
Maira mendongak dari layar komputernya. Ia tidak tersenyum, juga tidak menunjukkan rasa terkejut.
Elvan melangkah masuk ke dalam ruangan Maira. Ia memutar kunci pintu dari dalam dan menutup tirai jendela kaca, menyisakan pencahayaan dari lampu meja dan sinar temaram senja dari luar.
“Masalah Arga sudah selesai sepenuhnya,” kata Elvan memulai percakapan. Suaranya terdengar sangat tenang, namun ada getaran halus di balik intonasinya. “Dia dan anak buahnya sudah ditahan resmi. Tidak akan ada lagi ancaman untukmu. Dua pengawal di apartemenmu juga sudah aku tarik siang tadi.”
Maira menatap pria itu dengan raut wajah datar. “Baguslah. Terima kasih atas bantuannya selama ini, Mas Elvan.”
Panggilan formal ‘Mas Elvan’ yang keluar dari bibir Maira membuat dada Elvan berdenyut nyeri. Pria itu melangkah mendekati meja kerja Maira, berhenti tepat di depan wanita itu.
“Maira… aku mau bicara,” ucap Elvan pelan.
Maira menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Elvan lurus tanpa kedipan. “Kamu datang ke sini sebagai apa?”
Elvan tertegun. “Apa?”
“Aku tanya, kamu datang ke ruangan ini sebagai apa?” ulang Maira dengan nada dingin yang menusuk. “Sebagai Teman?”
Elvan terdiam, bibirnya terkatup rapat.
“Atau sebagai orang yang merasa punya tugas untuk menjagaku?” lanjut Maira dengan nada sinis yang tak disembunyikan.
“Maira, bukan begitu—”
“Lalu sebagai apa?!” potong Maira, berdiri dari kursinya. Ia menatap Elvan dengan ketegangan yang memuncak. “Aku sudah capek sama semua permainan kata-kata dan tindakan kontradiktif kamu, Elvan. Kamu selalu ada, tapi kamu selalu menolak diakui. Kamu cemburu, tapi kamu ngaku nggak cinta.”
Maira melipat kedua tangannya di dada, memberikan ultimatum terakhir yang akan menentukan akhir dari kisah mereka.
“Kalau hari ini kamu masih berdiri di sini dan bilang kalau kamu nggak cinta sama aku… kalau kamu masih mau beralasan cuma menganggap aku teman atau amanat ayahku… setelah ini, tolong keluar dari pintuku dan jangan pernah menjagaku lagi. Jangan pernah muncul di depan apartemenku, jangan pernah kirim sarapan, dan jangan pernah peduli lagi aku hidup atau mati.”
Kata-kata Maira meluncur begitu mantap, tanpa keraguan, dan tanpa air mata. Itu adalah garis batas tegas yang tidak bisa ditawar lagi.
Elvan terpukul hebat. Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa kehabisan oksigen. Ia menatap Maira yang berdiri kokoh di balik mejanya, menyadari sepenuhnya bahwa jika ia menguncupkan bibirnya atau kembali mengucapkan kata penyangkalan yang biasa, wanita di hadapannya ini akan benar-benar berjalan keluar dan menghilang dari hidupnya untuk selamanya.
Ketakutan akan masa lalu, trauma kehilangan Kirana, dan rasa bersalah yang selama ini membelenggu jiwanya mendadak terasa begitu kerdil dibandingkan dengan ketakutan luar biasa akan kehilangan Maira hari ini.
Untuk pertama kalinya sejak Maira mengenalnya, Elvan tidak menunduk. Pria itu tidak mengucapkan kata ‘aku cuma menjagamu’ atau ‘aku tidak punya perasaan’.
Elvan mengambil dua langkah besar mendekati Maira, mengikis seluruh jarak di antara mereka. Matanya menatap lurus ke dalam iris mata Maira dengan seluruh kejujuran, kerentanan, dan keputusasaan yang bersatu padu.
“Aku takut mengakuinya,” suara Elvan terdengar berat, serak, dan bergetar hebat di udara yang hening. “Aku takut mengakuinya karena sekali aku bilang aku mencintaimu… aku nggak akan pernah bisa melepaskanmu lagi. Aku bakal jadi pria paling posesif dan nggak akan biarkan siapa pun mengambilmu dari sisiku.”
Maira membeku di tempatnya. Air mata yang sudah ia tahan sekuat tenaga sejak tadi akhirnya menetes membasahi pipinya. Dada Maira bergemuruh hebat. Penantian panjangnya akan kejujuran Elvan akhirnya pecah di sore ini.
Namun, Maira tidak langsung menyambutnya dengan pelukan. Ia menyapu air matanya dengan kasar, menatap Elvan dengan senyum miris dan gelengan kepala pelan.
“Terlambat, Van.”
-BERSAMBUNG-
Komentar Pengarang: DUH! Maira bilang ‘Terlambat’?! Apakah Maira beneran sudah terlanjur sakit hati dan mau meninggalkan Mas Elvan begitu saja? Atau ini cuma gertakan terakhir buat Elvan? Jangan sampai terlewatkan puncak klimaks mereka di BAB 5 (TAMAT)!

Prev
Next
Tags:
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Cinta Perlahan, Cinta Rahasia, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita