Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku - Bab 5
- Home
- Dia Bilang Tidak Cinta, Tapi Selalu Menjagaku
- Bab 5 - Kali Ini Aku Tidak Akan Menyangkalnya
Kata “Terlambat, Van” yang keluar dari bibir Maira menggantung kaku di udara senja yang remang-remang. Kalimat pendek itu menghantam dada Elvan begitu telak, seolah-olah seluruh pijakan kakinya baru saja diruntuhkan tanpa sisa. Kepanikan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya merayap cepat, membakar logikanya, dan melumpuhkan pertahanan dirinya.
Maira mengambil tas tangannya di atas meja kerja, membalikkan badan, dan berniat melangkah melewati Elvan menuju pintu keluar.
Namun, sebelum wanita itu sempat mengambil dua langkah, Elvan bergerak cepat. Tangan lebarnya meraih pergelangan tangan Maira—tidak kasar, namun sangat erat dan hangat, seolah jika ia melepaskannya detik ini juga, seluruh dunianya akan hancur berkeping-keping.
“Maira, tolong… jangan pergi. Dengarkan aku dulu,” panggil Elvan, suaranya kini benar-benar memohon. Hilang sudah sosok pria dingin, tenang, dan selalu memegang kendali yang selama ini disandangnya.
Maira menghentikan langkahnya, namun ia tidak langsung membalikkan badan. “Mau dengar apa lagi, Van? Selama berbulan-bulan aku butuh keberanian kamu, kamu selalu sembunyi di balik kata ‘nggak cinta’. Kamu bikin aku merasa seperti orang bodoh yang berharap sendirian. Sekarang saat aku sudah capek dan mau menyerah, baru kamu mau bicara?”
Maira menarik napas panjang lalu memutar tubuhnya, menatap Elvan dengan mata bersinar oleh genangan air mata yang siap tumpah.
“Aku nggak butuh pria yang cuma berani menjagaku dari jauh, Elvan!” seru Maira dengan suara tercekat. “Aku nggak butuh pria yang melindungiku tapi menganggapku sebagai beban ketakutannya! Aku butuh seseorang yang berani berdiri di sampingku, menggenggam tanganku, dan bilang ke seluruh dunia kalau dia mencintaiku tanpa rasa takut!”
Elvan menatap wajah Maira yang dipenuhi rasa sakit dan penderitaan yang selama ini ia ciptakan sendiri. Perlahan, Elvan melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Maira, lalu dengan lembut membingkai kedua telapak tangan wanita itu di dalam genggamannya yang besar.
“Kamu benar,” aku Elvan tulus. Suaranya bergetar hebat, dan matanya berkaca-kaca menatap lurus ke dalam iris mata Maira. “Aku pengecut, Maira. Aku bersembunyi di balik rasa takutku sendiri, mengurung diri dalam trauma masa laluku, dan mengorbankan perasaanmu demi kenyamananku.”
Elvan menarik napas berat, merasakan degup jantungnya yang berdebar kencang secara maraton.
“Semua perhatian yang aku kasih, semua makanan yang aku kirim tiap pagi, semua rasa panik saat kamu sakit, dan semua rasa cemburu yang membakar dadaku pas lihat kamu sama Rendra… itu bukan sekadar kewajiban. Itu bukan amanat dari ayahmu,” lanjut Elvan dengan kejujuran yang mengalir tanpa henti.
“Terus apa, Van?” bisik Maira pelan, menahan napasnya.
“Itu semua karena aku mencintaimu,” ungkap Elvan tegas, tanpa ragu, tanpa embel-embel kalimat penyangkalan lagi. “Aku mencintaimu sampai rasanya mau gila setiap kali melihat kamu tersenyum sama pria lain. Aku mencintaimu sampai aku takut setengah mati kalau dunia ini mengambilmu dari sisiku.”
Maira menggigit bibir bawahnya. Isak tangis pelan akhirnya lolos dari tenggorokannya. Kata-kata yang selama bertahun-tahun ia impikan untuk didengar dari mulut Elvan kini terucap dengan begitu nyatanya.
“Lalu kenapa baru sekarang?” tanya Maira dengan suara pecah. “Kenapa kamu terus-terusan menyiksaku dan bilang kalau kamu nggak cinta?”
“Karena aku takut,” jawab Elvan jujur, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Maira. “Aku takut kalau aku mengaku, kamu akan menjadi orang yang paling bisa menghancurkanku. Aku takut kalau aku mencintaimu secara terbuka, aku bakal gagal menjagamu seperti di masa laluku. Tapi aku salah… dengan menyangkal perasaanku, aku justru hampir menghancurkan kita berdua.”
Maira menatap dalam-dalam ke iris mata hitam Elvan. Di sana tidak ada lagi benteng dingin atau rahasia yang disembunyikan. Yang tersisa hanyalah kepasrahan seorang pria yang akhirnya menyerahkan seluruh hatinya tanpa syarat.
Rasa hangat perlahan mengalir menyelimuti dada Maira, mengikis sisa-sisa rasa sakit hati dan keletihan yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Namun, Maira sengaja menyembunyikan kelegaannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Elvan dengan raut wajah penuh selidik.
“Dan ternyata?” pancing Maira pelan.
Elvan tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus dan lega yang sangat jarang ia perlihatkan. Pria itu mengulurkan tangannya, membelai pipi Maira dengan lembut, memusap sisa air mata yang membasahi kulit halus wanita itu.
“Dan ternyata… kamu juga satu-satunya orang yang ingin aku jaga seumur hidupku,” bisik Elvan halus. “Bukan sebagai pelindung rahasia, bukan sebagai teman dari ayahmu, tapi sebagai pria yang mencintaimu.”
Maira sengaja membiarkan keheningan menguasai mereka selama beberapa detik, menikmati wajah Elvan yang mendadak kembali tegang karena cemas menunggu responsnya.
“Jadi sekarang kamu cinta?” tanya Maira dengan nada menguji.
Elvan terkekeh pelan, rasa lega mulai merayapi dadanya. “Sangat. Sangat mencintaimu.”
“Nggak akan menyangkal lagi kalau ada yang nanya?” desak Maira lagi.
“Nggak akan pernah lagi,” jawab Elvan mantap. “Mulai hari ini, kalau ada yang tanya, aku bakal bilang kamu itu pacarku, calon istriku, dan wanita paling keras kepala yang berhasil meruntuhkan seluruh hidupku.”
Maira akhirnya tidak sanggup lagi menahan lengkungan senyumnya. Wajahnya berbinar penuh kebahagiaan. Tanpa mengucap kata lagi, Maira maju satu langkah dan langsung memeluk pinggang Elvan erat-erat, menyandarkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Elvan menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa syukur. Ia melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di tubuh Maira, memeluknya begitu erat seolah enggan membiarkan ada celah udara di antara mereka. Pria itu mengecup puncak kepala Maira berulang kali, menyesap aroma harum rambut wanita itu yang selalu menangkannya.
Seluruh beban berat, rasa takut, dan trauma masa lalu yang selama ini menghimpit dada Elvan rasanya menguap sepenuhnya di sore itu.
Tiga minggu kemudian.
Kehidupan Maira dan Elvan berubah total. Hubungan yang dulunya penuh dengan teka-teki dan rasa sakit kini berjalan sangat terbuka, manis, dan dipenuhi keceriaan. Elvan tidak lagi canggung atau menyembunyikan perasaannya di depan umum.
Siang itu di kantin kantor yang ramai, Sella duduk di samping Maira sambil menatap ke arah pintu masuk dengan senyum menggoda. Elvan berjalan mendekati meja mereka membawa dua cangkir kopi dan satu piring camilan.
“Nih, kopi kamu, Mai. Yang satu lagi buat Sella,” ucap Elvan ramah seraya meletakkan cangkir di meja. Pria itu lalu tanpa ragu duduk di samping Maira dan merangkul bahu wanita itu dengan alami.
Sella tertawa heboh, menepuk tangannya pelan. “Aduh, aduh! Tolong ya, mataku agak silau lihat pemandangan ini! Ini beneran Mas Elvan yang dulu bilangnya ‘cuma mau jaga amanat ayah’?”
Wajah Elvan sedikit memerah karena godaan Sella, namun ia tidak melepaskan rangkulannya di bahu Maira.
“Dulu aku memang bodoh, Sel,” aku Elvan santai sambil tersenyum. “Untung Maira nggak beneran pergi.”
“Ya jelas dong!” sahut Sella heboh. “Coba kalau Maira beneran gaet Rendra kemarin, Mas Elvan pasti udah nangis di pojokan ruangan!”
Maira tertawa lepas mendengar gurauan sahabatnya, sementara Elvan hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
Di sudut kantin yang lain, Rendra yang sedang berjalan membawa nampan makan siangnya tak sengaja berpapasan pandang dengan mereka. Rendra memberikan senyuman hangat dan menganggukkan kepala ramah ke arah Elvan dan Maira. Elvan membalas anggukan itu dengan tulus—tidak ada lagi rasa cemburu buta atau ketegangan di antara mereka. Rendra telah menjadi teman kerja yang baik bagi Maira, dan Elvan sangat menghargai hal itu.
Sore harinya, sekitar pukul lima lewat tiga puluh menit, gerimis kembali mengguyur kota Jakarta. Udara dingin merambat masuk menembus lobi gedung kantor.
Maira berdiri di tepi lobi, merapatkan cardigan rajut berwarna cream yang dikenakannya. Ia tidak lagi memegang ponselnya untuk memesan taksi daring atau merasa bingung bagaimana cara pulang.
Sebuah SUV hitam yang sangat familiar perlahan menepi tepat di depan pijakan kakinya. Pintu pengemudi terbuka, dan Elvan keluar mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan yang digulung rapi. Di tangannya, pria itu memegang sebuah payung besar berwarna merah burgundy—payung yang sama yang dulu pernah diberikan Elvan saat Maira menangis di dalam mobilnya.
Elvan berjalan mendekat, membentangkan payung di atas kepala Maira. Tanpa ragu, tangan kirinya melingkar di pinggang Maira, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dalam pelukannya agar tidak tersiram cipratan air hujan.
“Sudah siap pulang, Sayang?” tanya Elvan lembut, menatap Maira dengan pandangan mata yang begitu hangat.
Maira mendongak, menatap profil wajah tampan pria di sampingnya seraya tersenyum goda.
“Kamu masih mau menjagaku?” tanya Maira, mengulang pertanyaan lama mereka saat pertama kali hubungan ini dimulai.
Elvan menghentikan langkahnya sejenak tepat di samping pintu mobil yang sudah dibukakannya untuk Maira. Ia menatap Maira dalam-dalam, mengagumi wanita yang kini sepenuhnya menjadi miliknya.
“Sekarang bukan karena aku harus,” sahut Elvan penuh penegasan.
“Terus karena apa?” goda Maira lagi, memasang wajah polos.
Elvan menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi Maira. Sebuah tindakan manis yang membuat dada Maira berdesir hangat oleh rasa bahagia.
“Karena aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan selamanya,” bisik Elvan jujur tepat di depan wajah Maira.
Maira tersenyum manis, membalas tatapan Elvan dengan binar mata yang utuh. Ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan hati yang sarat akan cinta dan kepastian. Pria yang dulu selalu menyangkal perasaannya dengan kata ‘aku tidak mencintaimu’, kini telah menjadi pria yang paling jujur, berani, dan tanpa ragu menggenggam tangannya untuk melangkah bersama menuju masa depan.
-TAMAT-
Komentar Pengarang:
Terima kasih banyak sudah membaca kisah Maira dan Elvan sampai selesai! Semoga kisah cinta yang penuh perjuangan, keberanian, dan kejujuran ini bisa memberikan kesan manis di hati kalian semua. Jangan lupa bagikan cerita ini ke teman-teman kamu jika kamu menikmatinya ya! Sampai jumpa di karya berikutnya!