Anakku Memanggil Perempuan Lain "Ibu" - Bab 2
Alya tidak menunggu besok. Malam itu juga, setelah menitipkan Raka yang tertidur lelap karena kelelahan menangis ke tetangga sebelah rumahnya, Alya mendatangi rumah kontrakan Adrian. Ia menggedor pintu kayu itu tanpa mempedulikan tetangga sekitar yang mungkin merasa terganggu.
Pintu terbuka. Adrian berdiri di sana, mengenakan kaus polos longgar dan celana kain. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada siang tadi di sekolah. Matanya tampak cekung dengan lingkar hitam yang menebal di bawahnya.
“Mana penjelasan kamu?” tuntut Alya langsung tanpa basa-basi begitu pintu terbuka separuh. “Jangan cuma diam, Adrian! Katakan padaku, rencana busuk apa yang sedang kamu dan perempuan itu susun di belakangku?!”
Adrian menghela napas panjang, lalu bergeser memberi jalan. “Masuklah. Jangan teriak-teriak di luar.”
Alya melangkah masuk dengan dada membusung penuh emosi. Rumah Adrian tampak rapi, namun terasa terlalu sepi dan dingin. Di atas meja tamu, Alya melihat sebuah cangkir teh yang masih berasap dan sebuah tas tangan wanita yang sangat ia kenal.
Dari arah dapur, Selena keluar membawa nampan berisi air hangat. Wanita itu menghentikan langkahnya, menatap Alya dengan pandangan penuh rasa bersalah namun tetap tenang.
“Mbak Alya…” sapa Selena pelan.
“Kenapa kamu ada di sini?!” semprot Alya seketika. “Kalian benar-benar sudah tinggal bersama? Di belakangku?!”
“Mbak Alya, tolong dengarkan penjelasan Mas Adrian dulu,” ujar Selena lembut, meletakkan nampan di meja lalu berdiri bersedekah tangan di samping Adrian. “Saya berada di sini bukan untuk menggantikan posisi Mbak Alya sebagai ibu Raka. Demi Allah, saya tidak pernah punya niat sedikit pun untuk merebut Raka dari Mbak.”
Alya tertawa sumbang, sebuah tawa pahit yang memecah kesunyian malam. “Tidak punya niat? Lalu kenapa anakku takut kehilangan kamu?! Kenapa anakku bilang, kalau dia tidak panggil kamu ‘Ibu’, kamu tidak akan mau tinggal dan menjaga dia?! Jawab aku, Selena! Kebohongan apa yang sudah kamu cuci ke otak anak tujuh tahun?!”
Selena menunduk rapat. Bibirnya bergetar, namun ia memilih bungkam dan menatap Adrian dengan tatapan memohon.
“Jawab aku, Adrian!” bentak Alya berbalik menatap mantan suaminya. “Kenapa kamu membiarkan anakku ketakutan seperti itu?! Apa yang kamu katakan pada Raka sampai dia berpikir kamu dan Selena akan membawanya pergi dari aku?!”
Adrian memegang keningnya yang tampak berkerut dalam. “Aku tidak pernah berniat membawa Raka pergi dari kamu, Alya. Hak asuh Raka tetap milik kamu. Aku tidak pernah meragukan hal itu.”
“Lalu kenapa Selena harus ada di antara kita?! Kenapa Raka begitu melekat padanya?!” Alya maju satu langkah, menatap tepat di manik mata Adrian. “Aku ini ibunya! Enam tahun aku tidak pernah absen sehari pun dalam hidup Raka. Mengapa tiba-tiba muncul perempuan lain yang membuatnya takut kehilangan?! Ada apa sebenarnya?!”
Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa detik yang sangat menyiksa. Adrian memejamkan mata erat-erat, mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh sebelum akhirnya perlahan membukanya kembali.
“Aku… mungkin tidak akan selalu ada untuk Raka, Alya,” suara Adrian bergetar tipis. Sangat tipis, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Alya berdiri.
Alya mengerutkan dahi, kemarahannya mendadak tertahan oleh rasa bingung. “Maksud kamu apa? Kamu mau pindah luar kota? Kamu mau lepas tanggung jawab dari Raka?”
“Bukan itu…” Adrian menggeleng pelan. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Tatapannya tertuju pada meja kecil di sudut ruangan tamu, tepat di dekat televisi.
Alya mengikuti arah pandang Adrian. Di atas meja kayu itu, tersusun rapi beberapa botol obat berukuran besar, kotak-kotak pil dengan label resep rumah sakit, serta selembar map medis tebal berwarna merah yang setengah terbuka.
Langkah Alya terasa begitu otomatis saat mendekati meja tersebut. Tangannya yang dingin meraih map merah itu. Dengan jemari gemetar, ia membuka lembaran pertama. Laporan hasil rekam medis, pemeriksaan sitologi, dan jadwal kemoterapi rutin dari rumah sakit kanker ternama di kota mereka. Nama yang tertera di sana sangat jelas: Adrian Pratama.
Map itu hampir terlepas dari genggaman Alya. Matanya membelalak lebar, memandang kertas-kertas itu lalu beralih menatap Adrian dengan raut tak percaya.
“Ini… ini apa, Adrian?” suara Alya mendadak kehilangan kekuatannya, berubah menjadi bisikan patah-patah. “Kamu… kamu sakit?”
Adrian menunduk dalam, menolak menatap mata Alya. “Kanker limfoma stadium tiga. Sudah jalan pengobatan dan kemoterapi selama empat bulan terakhir.”
Alya membeku di tempatnya berdiri. Dunia di sekitarnya seolah mendadak kehilangan warna dan suara. Semua kemarahan, kecemburuan, dan amarah yang membakar dadanya sejak siang tadi lenyap seketika, digantikan oleh kehampaan yang luar biasa dingin.
“Kenapa…” Alya menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. “Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku? Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini?!”
“Untuk apa aku cerita?” balas Adrian dengan senyum tipis yang penuh penderitaan. “Kita sudah bercerai enam tahun lalu, Alya. Kamu punya hidup kamu sendiri, kamu sibuk bekerja keras demi Raka. Kalau aku kasih tahu kamu, kamu cuma bakal kepikiran, stres, dan ujung-ujungnya kita cuma bakal bertengkar lagi seperti dulu.”
“Tapi kamu ayah dari anakku, Adrian!” jerit Alya dengan air mata yang menetes tanpa bisa ditahan lagi. “Bagaimana bisa kamu menutupi hal seperti ini dari aku?!”
“Karena aku takut!” bentak Adrian, untuk pertama kalinya emosinya pecah. Air mata membendung di mata pria yang selalu berusaha tampil kuat itu. “Aku takut, Alya! Dokter bilang vonis dan respons tubuhku terhadap kemoterapi tidak begitu bagus. Aku takut jika suatu hari nanti kondisiku mendadak drop atau… atau aku tidak bangun lagi, Raka bakal shock berat karena melihat ayahnya sekarat tanpa ada persiapan!”
Alya menutup mulutnya dengan kedua tangan, terisak pelan.
Adrian menatap Selena yang berdiri di sampingnya. “Aku minta tolong sama Selena. Selena ini sepupu dekat teman baikku, dia seorang guru SD yang paham psikologi anak. Aku minta Selena untuk sering menemani Raka, bermain sama Raka, membuat Raka merasa nyaman dan terlindungi… supaya kalau hari buruk itu datang, Raka tidak merasa ditinggalkan sendirian. Raka punya figur dewasa lain yang dia percayai.”
Selena melangkah mendekati Alya, suaranya terdengar sangat lembut dan tulus. “Mbak Alya… saya tidak pernah sedikit pun berniat menggeser Mbak. Saya menerima permintaan Mas Adrian murni karena saya kasihan melihat kondisi Mas Adrian dan rasa sayangnya yang begitu besar pada Raka. Saya menyayangi Raka seperti murid dan keponakan saya sendiri. Soal panggilan ‘Ibu’…”
Selena menggantung kalimatnya, menatap Adrian dengan raut serba salah.
“Kenapa Raka panggil kamu Ibu?” tanya Alya pada Selena, dadanya naik turun menahan guncangan emosi. “Kenapa anakku bilang dia takut kamu pergi kalau dia tidak panggil kamu Ibu?”
“Itu… karena salah paham,” ujar Adrian lirih, mengambil alih pembicaraan. “Dua minggu lalu, saat fisikku sangat lemah setelah sesi kemoterapi, aku sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit. Waktu itu Selena yang menjaga Raka di luar kamar. Saat aku sadar, aku merasa takut sekali… Aku sempat bicara pada Raka saat Selena sedang keluar…”
Adrian memejamkan mata, air matanya menetes melewati pipinya yang tirus.
“Aku bilang sama Raka… ‘Raka, kalau suatu hari nanti Ayah harus pergi jauh dan tidak bisa menemani Raka lagi, Tante Selena yang akan tetap menjaga dan menyayangi Raka. Jadi Raka harus nurut sama Tante Selena, ya?'”
Alya menahan napasnya.
“Raka anak yang sangat peka dan cerdas, tapi dia masih tujuh tahun, Alya,” lanjut Adrian dengan suara serak yang memilukan. “Dia mengartikan kata-kataku secara harfiah. Dia pikir… kalau dia memanggil Selena dengan sebutan ‘Ibu’, Selena akan terikat padanya dan tidak akan pernah pergi meninggalkan dia seperti aku yang mungkin akan pergi…”
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu depan yang ternyata tidak terkunci rapat mendadak terdorong dari luar.
Sesosok tubuh kecil berdiri di sana. Raka. Anak itu ternyata terbangun dari tidurnya, mendapati ibunya tidak ada, dan memberanikan diri menyusul ke rumah ayahnya yang jaraknya hanya beberapa blok. Anak kecil itu berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sudah basah oleh air mata dan napas yang terengah-engah.
“Mama… Ayah…” bisik Raka pelan.
Anak itu melangkah masuk dengan ragu-ragu, menatap ketiga orang dewasa yang semuanya sedang menatapnya dengan air mata yang berlinang. Raka berlari, lalu berlutut dan memeluk kaki Alya dengan erat.
“Mama jangan marah sama Ayah… jangan marah sama Tante Selena…” tangis Raka pecah, suara kecilnya terdengar begitu memilukan di tengah malam yang sepi. “Raka yang minta Tante Selena tinggal… Raka yang panggil Tante Selena ‘Ibu’…”
Alya ikut berlutut, merengkuh tubuh kecil putranya ke dalam pelukan yang sangat erat. Tangannya mengusap punggung Raka yang berguncang hebat. “Kenapa, Nak? Katakan sama Mama… kenapa Raka lakukan itu?”
Raka mendongak, menatap mata Alya dengan kepolosan dan rasa takut yang teramat mendalam.
“Karena… karena Ayah bilang kalau Ayah pergi jauh…” Raka terisak terbata-bata, “…cuma Ibu Selena yang bisa jagain Raka. Raka nggak mau Ayah pergi… Raka juga nggak mau Tante Selena pergi… Raka cuma mau semua orang ada sama Raka…”
Alya memeluk Raka semakin erat, membenamkan wajahnya di leher putranya saat air matanya mengalir deras tanpa henti. Ia mendongak, menatap Adrian yang berdiri tak berdaya dengan wajah penuh penyesalan. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Alya sadar bahwa selama ini ia telah salah memahami semua yang terjadi.