Anakku Memanggil Perempuan Lain "Ibu" - Bab 1
Siang itu udara terasa membakar, tetapi dada Alya jauh lebih membakar. Ia memarkir motor matiknya tepat di depan gerbang Sekolah Dasar Harapan Bangsa. Tangannya yang kasar akibat belasan jam bergelut dengan wadah katering dan minyak panas mengusap peluh di dahi. Rasa lelah yang menumpuk seolah menguap begitu bel pulang sekolah berbunyi nyaring.
Alya tersenyum. Di tengah kerumunan anak-anak berseragam putih-merah yang berhamburan keluar, ia langsung mengenali tas punggung biru bergambar dinosaurus itu. Raka. Putra tunggalnya yang baru berusia tujuh tahun, alasan utamanya untuk tetap bernapas dan berjuang selama enam tahun terakhir setelah kehidupan pernikahannya hancur berkeping-keping.
“Raka!” panggil Alya melambaikan tangan, suaranya sedikit serak.
Alya melangkah maju, siap merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat yang selalu menjadi penawar lelahnya setiap sore. Namun, langkahnya terhenti secara mendadak.
Raka tidak berlari ke arahnya. Anak laki-laki itu justru memutar arah, berlari kecil menuju sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Dari pintu penumpang, muncul seorang wanita bergaun pastel anggun dengan rambut terurai rapi.
“Ibu! Aku kangen!” teriak Raka riang, melompat kecil lalu menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan wanita itu.
Jantung Alya seperti terhenti detik itu juga. Tenggorokannya mendadak menyempit, menahan aliran udara yang seolah menghilang begitu saja. Ibu? Suara itu bergema berulang kali di dalam kepalanya, memecahkan gendang telinganya dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
Alya membeku di tempatnya berdiri. Tubuhnya gemetar hebat saat menyaksikan wanita itu tersenyum lembut, mengelus rambut Raka, dan mencium kedua pipi anak kandungnya. Wanita itu adalah Selena. Alya mengenalnya dengan sangat baik. Selena adalah guru sekaligus wanita yang beberapa kali terlihat bersama mantan suaminya, Adrian, belakangan ini.
Alya memaksa kakinya bergerak. Setiap langkah terasa amat berat, seolah menyusuri beling yang tajam. Ia mencoba memaksakan sebuah ukiran senyum di bibirnya yang pucat, mencoba berpikir logis bahwa ia mungkin hanya salah mendengar.
“Raka…” panggil Alya, suaranya terdengar sangat rapuh dan samar di antara riuk pikuk gerbang sekolah.
Raka menoleh. Bukannya melompat kegirangan dan berpindah mengejar ibunya seperti biasa, anak kecil itu justru reflek menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik gaun Selena. Tangannya meremas erat jemari lentik wanita itu.
“Mama…” kata Raka pelan.
Sebelum Alya sempat mendekat, Raka mendongak menatap Alya dengan mata bulatnya yang polos, lalu mengucapkannya kalimat yang menusuk tepat di ulu hati Alya.
“Mama jangan marah sama Ibu Selena, ya?”
Alya terhuyung sembrono. “Raka… kamu panggil dia apa?”
“Alya.”
Suara berat yang sangat familier memotong. Adrian keluar dari pintu pengemudi sedan hitam itu. Pria itu mengenakan kemeja kerja yang tergulung hingga siku, penampilannya selalu tampak rapi dan terkontrol. Ia berjalan mendekat dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Alya menatap mantan suaminya itu dengan tatapan penuh luka dan amarah yang meledak-ledak. “Sejak kapan anakku memanggil perempuan lain Ibu, Adrian?!”
“Alya, kecilkan suaramu. Ini di depan sekolah Raka,” tegur Adrian dingin, matanya melirik ke arah para orang tua murid yang mulai menoleh curiga.
“Aku tidak peduli!” jerit Alya, air mata kekecewaan mulai merebak di sudut matanya. Ia menunjuk Selena dengan jari yang gemetar. “Siapa dia? Kenapa Raka memanggil dia Ibu?! Enam tahun, Adrian! Enam tahun aku banting tulang bangun jam tiga pagi, masak ratusan porsi katering demi membesarkan Raka seorang diri! Dan sekarang kamu ajarkan anakku untuk panggil perempuan ini Ibu?!”
Selena melangkah maju dengan wajah bersalah dan memohon. “Mbak Alya, tolong tenang dulu. Ini tidak seperti yang Mbak Alya pikirkan—”
“Jangan panggil aku Mbak!” potong Alya tajam, matanya menyalang penuh kebencian. “Kamu tidak berhak bicara sama aku! Kamu mencoba merebut anakku?!”
“Alya, cukup!” bentak Adrian tegas, melangkah menutupi tubuh Selena. “Jangan buat keributan di sini. Selena tidak ada hubungannya dengan masalah kita.”
“Lalu apa maksudnya ini?” Alya menatap Adrian, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang pecah. “Kamu sudah punya keluarga baru? Kamu bawa perempuan ini untuk geser posisi aku sebagai ibu dari anakku sendiri?”
“Semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan,” jawab Adrian pelan. Namun, nada suaranya terdengar begitu lelah dan datar, tanpa ada niat mendalam untuk memberikan penjelasan lebih rinci saat itu.
Sikap diam dan menghindar dari Adrian justru membakar habis sisa kesabaran Alya. Kediaman pria itu adalah pembenaran atas rasa takut terbesarnya selama ini: ia sedang disingkirkan.
Alya meraih pergelangan tangan Raka secara mendadak. “Kita pulang sekarang, Raka.”
“Tapi, Ma…” Raka meringis pelan, matanya menatap Selena dengan raut ketakutan yang mendalam.
“Pulang!” tegas Alya tanpa bisa dibantah. Ia menarik Raka menuju motor matiknya, menyeberangi jalan tanpa peduli lagi pada panggilan Adrian dan tatapan bersalah dari Selena.
Suasana rumah kontrakan kecil Alya terasa amat mencekam sore itu. Suara dengung kipas angin tua menjadi satu-satunya latar belakang di dalam ruangan tamu yang sempit. Alya duduk berlutut di depan Raka yang menunduk dalam-dalam di atas sofa kain yang sudah mulai mengelupas.
Alya memegang kedua bahu kecil putranya. Tangannya masih gemetaran. Rasa sakit, cemburu, dan pengkhianatan meleleh bersama air mata yang membasahi pipinya.
“Raka… tatap Mama, Nak,” bisik Alya liris, suaranya serak.
Raka perlahan mendongak. Matanya yang jernih tampak sembap dan ketakutan.
“Raka sayang sama Mama, kan?” tanya Alya, mencari kepastian atas dunia yang rasanya baru saja runtuh. “Mama yang melahirkan Raka. Mama yang rawat Raka dari bayi. Mama yang selalu ada waktu Raka sakit… Raka tahu itu, kan?”
Raka mengangguk pelan. “Raka sayang banget sama Mama.”
“Terus kenapa…” Alya mengusap air matanya secara kasar. “Kenapa Raka panggil Tante Selena dengan sebutan ‘Ibu’? Siapa yang suruh Raka panggil dia begitu? Ayah yang suruh?”
Raka menggeleng cepat, air matanya mulai menetes membasahi pipi tembamnya. “Bukan… bukan Ayah…”
“Lalu kenapa, Raka?! Kenapa?!” nada suara Alya tanpa sadar meninggi, didorong oleh rasa keputusasaan yang teramat sangat. “Mama ini ibu kamu! Cuma Mama! Kenapa kamu harus kasih panggilan itu ke perempuan lain?!”
Raka terisak keras. Tubuh kecilnya berguncang hebat. Anak itu terlihat begitu terguncang dan bingung menghadapi tekanan hebat dari ibunya sendiri.
“Karena… karena Ayah bilang…” Raka mengusap matanya dengan lengan bajunya, suaranya terbata-bata oleh tangisan yang pecah.
Alya menahan napasnya, menatap dalam-dalam pada manik mata putranya. “Ayah bilang apa, Nak? Katakan sama Mama. Ayah bilang apa?”
Raka makin menunduk, meremas celana pendeknya dengan amat erat seolah menyimpan ketakutan yang teramat besar.
“Kalau… kalau Raka nggak panggil dia Ibu…” Raka terbatuk pelan di tengah tangisnya. “…Tante Selena nggak akan mau tinggal sama Raka. Tante Selena nggak mau jaga Raka lagi…”
Pernyataan polos namun menyayat hati itu menghantam dada Alya seperti pukulan godam. Kepala Alya mendadak pening. Pikiran buruk langsung bersliweran liar di dalam benaknya. Jadi Adrian benar-benar berencana membawa Raka tinggal bersamanya dan Selena? Mereka berniat membentuk keluarga baru dan membuangku begitu saja?
Rasa takut kehilangan Raka mengalahkan seluruh rasionalitas yang Alya miliki saat itu. Ia merogoh kantong celananya, mengambil ponselnya yang retak dengan tangan gemetar, lalu menekan tombol panggilan cepat ke nomor mantan suaminya.
Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum suara Adrian terdengar di seberang sana.
“Alya, soal di sekolah tadi—”
“Apa maksud anak kita, Adrian?!” potong Alya histeris, suaranya melengking memenuhi ruangan kontrakan yang sempit. “Kenapa Raka bilang dia harus panggil Selena ‘Ibu’ supaya Selena mau tinggal sama dia?! Kamu berniat merebut hak asuh Raka dari aku?! Kamu mau bawa Raka tinggal sama perempuan itu?!”
Hening sejenak di ujung telepon. Tidak ada caci maki. Tidak ada sanggahan marah dari Adrian. Yang terdengar hanyalah hembusan napas berat dan panjang dari pria yang pernah berjanji untuk melindunginya itu.
“Alya…” suara Adrian terdengar amat serak, dalam, dan dipenuhi oleh beban berat yang seolah-olah siap meruntuhkan ketenangannya selama ini. “Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”