Anakku Memanggil Perempuan Lain "Ibu" - Bab 3
Malam yang dingin itu menjadi saksi bisu dari terburainya seluruh kebenaran yang selama ini tersimpan rapi di balik dinding kesombongan dan rasa saling curiga.
Di ruang tamu yang sederhana itu, Alya masih memangku Raka yang akhirnya tertidur lelap akibat kelelahan menangis. Tangannya tak berhenti mengusap kepala putranya yang bernapas teratur. Di hadapannya, Adrian duduk bersandar pada sofa dengan wajah pucat, sementara Selena duduk tenang di kursi sampingnya.
“Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendirian, Adrian?” suara Alya memecah keheningan, tak ada lagi nada bentakan atau amarah murka, yang tersisa hanyalah nada kelelahan dan kepedihan yang dalam. “Enam tahun lalu kita berpisah karena kita merasa tidak lagi cocok dan selalu bertengkar soal ekonomi. Tapi Raka adalah anak kita berdua. Kenapa kamu menyembunyikan penyakit sebesar ini dari aku?”
Adrian menunduk lesu. “Aku takut, Alya. Aku takut kamu berpikir aku sedang mencari perhatian, atau lebih buruk lagi, kamu takut Raka akan terbebani mentalnya melihat ayahnya yang sakit-sakitan. Dulu aku gagal menjadi suami yang baik untuk kamu karena masalah finasialku… aku cuma tidak mau gagal lagi menjadi sosok ayah yang kuat di mata Raka.”
Alya menggeleng pelan, air matanya menetes menimpa pipi Raka. “Kamu salah, Adrian. Kamu sangat salah. Kamu boleh tidak mencintaiku lagi, kita boleh sudah bukan suami-istri lagi. Tapi kamu tidak berhak membuat keputusan sepihak soal masa depan anak kita tanpa melibatkanku! Aku ini ibunya!”
“Aku minta maaf, Alya…” bisik Adrian tulus. Suaranya bergetar berat. “Aku sungguh meminta maaf. Aku terlalu panik memikirkan kemungkinan terburuk hingga keputusanku justru melukai kamu dan membuat Raka bingung.”
Selena ikut menggeser duduknya sedikit mendekat, menatap Alya dengan pandangan penuh rasa hormat. “Mbak Alya… saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Seharusnya saya mendorong Mas Adrian untuk jujur sejak awal pada Mbak Alya. Saya membiarkan Raka memanggil saya ‘Ibu’ beberapa hari ini karena saya kasihan melihat anak sekecil ini menanggung rasa takut kehilangan ayahnya. Saya sama sekali tidak bermaksud mengambil hak atau posisi Mbak Alya.”
Alya menatap Selena dalam-dalam. Sifat protektif dan kecemburuannya sebagai seorang ibu kandung perlahan luruh saat melihat kejujuran di mata wanita di hadapannya itu.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Selena,” ujar Alya pelan namun tegas. “Aku yang harusnya berterima kasih. Di saat mantan suamiku terpuruk dan butuh bantuan untuk menjaga Raka, kamu ada di sana untuk anakku. Aku hanya… aku hanya terlalu takut kehilangan tempat di hati Raka.”
“Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Mbak Alya,” balas Selena mantap dengan senyuman hangat. “Cinta seorang ibu kandung itu tidak ada tandingannya. Raka sangat mencintai Mbak Alya. Setiap kali dia bersama saya, yang dia ceritakan selalu tentang betapa hebatnya Masakan Mamanya, betapa cantiknya Mamanya. Dia memanggil saya ‘Ibu’ murni karena rasa takutnya yang polos, bukan karena dia melupakan Mbak.”
Kata-kata Selena seolah menjadi penawar dingin yang menyiram luka di hati Alya. Rasa bersalah yang besar kini berganti hinggap di dadanya. Selama ini ia terlalu sibuk membentengi dirinya sendiri dengan prasangka buruk, menganggap semua orang berniat jahat padanya, hingga ia lupa mendengarkan apa yang sebenarnya dirasakan oleh putra kecilnya.
Keesokan harinya, matahari pagi menyinari teras rumah kontrakan Alya dengan hangat. Alya duduk berdua bersama Raka di bangku kayu teras sambil memangku segelas teh hangat dan susu cokelat untuk Raka.
Alya merapikan poni Raka yang mulai panjang, lalu menatap mata bulat putranya dengan penuh kehangatan.
“Raka sayang…” panggil Alya lembut.
“Iya, Ma?”
“Mama mau minta maaf ya soal kemarin sore di sekolah dan di rumah. Mama sempat teriak-teriak dan bikin Raka takut.”
Raka menggeleng pelan, lalu memeluk pinggang Alya. “Raka yang minta maaf, Ma… Raka bikin Mama sedih ya karena panggil Tante Selena ‘Ibu’?”
Alya tersenyum manis, mengusap punggung kecil itu. “Raka dengarkan Mama baik-baik, ya. Raka tidak perlu merasa bingung atau takut lagi. Raka tidak harus memilih antara harus menyayangi Mama atau menyayangi Tante Selena. Dan yang paling penting… Ayah tidak akan pergi ke mana-mana. Ayah sedang berobat supaya Ayah bisa sembuh.”
Mata Raka mendadak berbinar indah. “Beneran, Ma? Ayah nggak bakal pergi jauh?”
“Beneran, Sayang. Mama, Ayah, Tante Selena, kita semua bakal nemenin Raka dan jagain Raka bersama-sama,” janji Alya penuh ketulusan. “Jadi, Raka tidak perlu takut lagi, ya?”
Raka mengangguk mantap dengan ukiran senyum cerianya yang sudah lama tidak terlihat. Anak itu lalu tampak berpikir sejenak, menopang dagunya dengan tangan mungilnya.
“Kalau begitu… Raka boleh panggil Tante Selena dengan sebutan ‘Tante’ lagi aja?” tanya Raka polos.
Alya tertawa kecil, suara tawa yang terasa begitu ringan setelah sekian lama hilang dari hidupnya. “Terserah Raka. Yang penting Raka nyaman.”
“Iya! Nanti Raka panggil Tante Selena ‘Tante Selena’ lagi. Soalna Mama kan cuma satu, yaitu Mama Alya!” ujar Raka bangga sambil membusungkan dadanya.
Alya merengkuh Raka ke dalam pelukannya, menahan haru yang membuncah di dalam dadanya.
Enam bulan kemudian.
Atmosfer di depan gerbang Sekolah Dasar Harapan Bangsa terasa cerah sore itu. Alya berdiri menanti di depan gerbang, tidak lagi menggunakan motor matik tuanya, melainkan berdiri santai di samping Adrian. Wajah Adrian kini tampak jauh lebih segar dan berisi; warna kulitnya kembali membaik setelah menyelesaikan rangkaian kemoterapi terakhirnya dengan hasil yang sangat positif. Kankernya dinyatakan memasuki fase remisi.
Di sisi lain Adrian, berdiri Selena yang mengenakan pakaian gurunya, tersenyum ramah menyapa beberapa wali murid lain. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi prasangka buruk atau rasa cemburu di antara mereka. Mereka telah belajar membangun bentuk komunikasi baru sebagai sebuah tim demi kebahagiaan Raka.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring.
“Mama! Ayah!”
Suara teriak nyaring yang sangat dikenal itu membahana. Raka berlari keluar dari gerbang sekolah dengan tas dinosaurusnya yang bergoyang-goyang. Pangeran kecil itu berlari kencang, lalu melompat tepat ke dalam pelukan Alya.
Alya mengangkat tubuh Raka, mencium kedua pipinya dengan penuh rasa syukur. “Anak Mama yang ganteng! Gimana sekolahnya hari ini?”
“Seru banget, Ma! Raka dapet nilai seratus untuk pelajaran matematika!” pamer Raka riang.
Setelah turun dari dekapan Alya, Raka beralih memeluk kaki ayahnya, lalu menoleh dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Selena.
“Tante Selena! Lihat nih, Raka dapet nilai seratus!” seru Raka gembira.
Selena tertawa renyah, mengacak rambut Raka dengan kasih sayang. “Wah, hebat banget anak Tante! Nanti belajar lagi yang rajin, ya.”
Alya menyaksikan momen itu dengan ukiran senyuman paling tulus yang pernah ia miliki. Ada kedamaian yang teramat sangat merayapi relung hatinya.
Alya akhirnya memahami sebuah kebenaran berharga tentang menjadi seorang ibu. Ia tidak pernah benar-benar kehilangan tempatnya di hati sang anak. Rasa takutnya selama ini hanyalah ilusi dari ketakutan egois bahwa kasih sayang anaknya harus terbagi.
Padahal, kasih sayang seorang anak bukanlah seperti sebuah kursi tunggal yang hanya bisa diduduki oleh satu orang. Hati seorang anak adalah samudera yang luas, yang selalu memiliki ruang cukup untuk siapa saja yang tulus mencintainya. Dan kehadiran orang lain yang menyayangi anaknya tidak akan pernah mengikis kadar cinta sang anak pada ibu kandungnya.
Alya menggenggam erat jemari mungil Raka di sebelah kanannya, sementara tangan kirinya merangkul bahu Adrian yang tersenyum padanya.
Ia tidak lagi takut pada kehadiran wanita lain di sisi anaknya. Karena Alya tahu pasti, tak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi seorang ibu yang mencintai anaknya dengan sepenuh jiwa.
-TAMAT-