Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan - Bab 2

  1. Home
  2. Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan
  3. Bab 2 - Ternyata Kakakku Juga Berkorban Diam-Diam
Prev
Next

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar terbit, aku sudah berdiri di depan pintu rumah kontrakan Darren di batas kota. Tangan kananku menggenggam erat map cokelat berisi dokumen utang yang kutemukan semalam.

Ketika pintu terbuka, Darren muncul dengan mata merah dan wajah lelah. Ia tidak terkejut melihatku berdiri di sana.

“Kita perlu bicara,” kataku tanpa basa-basi, langsung menerobos masuk ke dalam rumahnya yang sempit dan berantakan.

Darren menutup pintu pelan. “Aku tahu kamu bakal datang.”

Aku melemparkan map cokelat itu ke atas meja tamu. Dokumen-dokumen di dalamnya tersingkap. “Jelaskan sama aku, Ren. Apa maksud dokumen pembayaran utang ini? Kenapa nama kamu yang ada di tanda terima pelunasan utang toko bangunan Ayah dari lima tahun lalu?”

Darren menatap map itu cukup lama sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia duduk di kursi plastik di hadapanku.

“Waktu bisnis toko bangunan Ayah kena tipu lima tahun lalu, Ayah bukan cuma kehilangan modal, Nad. Ayah dikejar-kejar penagih utang. Rumah ini dan toko bangunan hampir disita,” kata Darren, suaranya terdengar sangat lelah. “Ayah hampir serangan jantung waktu itu.”

Aku terpaku. “Kenapa… kenapa aku nggak tahu sama sekali?”

“Karena kamu waktu itu baru lulus kuliah dan baru mulai kerja!” Darren menatap mataku tajam. “Ayah melarang keras aku cerita sama kamu. Ayah nggak mau masa depanmu hancur cuma karena nanggung utang keluarga.”

“Lalu kamu?” suaraku mulai bergetar.

“Aku mengambil pinjaman bank atas namaku sendiri. Aku menjual mobilku, merelakan tabungan rencanaku, dan mengambil pekerjaan sampingan proyek konstruksi di luar kota sampai pagi,” Darren memotong cepat. “Uang yang aku kirim tiap bulan ke rumah itu bukan cuma buat biaya obat Ayah, Nad. Tapi buat mencicil pinjaman bank yang kupakai buat melunasi utang-utang Ayah agar rumah tua kita nggak disita orang!”

Pikiranku mendadak buntu. Selama bertahun-tahun, aku membenci Darren karena merasa dia melarikan diri ke kota lain dan jarang pulang, membiarkan aku memikul beban merawat Ayah sendirian. Aku menganggapnya anak egois yang hanya mementingkan karier.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” cecarku, air mata mulai menggenangi pelupuk mata. “Kenapa kamu biarkan aku membenci kamu bertahun-tahun, Ren?!”

“Karena kamu sudah punya beban yang sangat berat di rumah!” bentak Darren, suara pria itu akhirnya pecah. Matanya berkaca-kaca. “Kamu mengurus Ayah fisik dan mental tiap hari, Nad! Kalau aku cerita soal utang ratusan juta ini, kamu pasti bakal maksain diri ikut cari uang dan makin hancur! Aku cuma berusaha membagi beban keluarga ini sesuai kemampuanku! Kamu jaga Ayah, aku jaga aset keluarga dari kejaran penyita!”

Aku memegangi dadaku yang terasa sangat sesak. “Tapi kenapa Ayah buat surat wasiat seperti itu? Kenapa Ayah bikin kita saling membenci setelah dia pergi?!”

Darren menggeleng pelan. “Aku nggak pernah minta warisan itu, Nad. Demi Allah, aku nggak pernah minta.”

Untuk memastikannya, siang itu juga kami berdua datang kembali ke kantor Pak Gunawan. Pengacara paruh baya itu menyambut kami dengan wajah prihatin.

“Pak Gunawan, tolong jelaskan pembagian warisan ini secara jujur,” paksaku begitu kami duduk di ruang kerjanya.

Pak Gunawan menghela napas, lalu mengambil satu berkas berkode merah dari laci mejanya.

“Nadia, kamu harus tahu keadaan finansial Almarhum Pak Haryono yang sebenarnya,” kata Pak Gunawan tenang. “Aset toko bangunan yang dihibahkan kepada Darren… sebenarnya masih terikat agunan sisa utang usaha yang cukup besar di bank. Jika Darren menerima aset itu, Darren secara hukum juga wajib mengambil alih seluruh beban utang dan biaya pelunasan yang melekat padanya.”

Aku tercengang. “Maksud Bapak…”

“Aset toko bangunan itu bernilai, tapi juga membawa beban utang ratusan juta yang harus diteruskan pembayarannya oleh Darren,” jelas Pak Gunawan. “Sementara rumah tinggal yang diberikan kepadamu… Pak Haryono sudah memastikan bahwa rumah itu sepenuhnya bersih dari segala jenis agunan dan utang. Rumah itu murni milikmu tanpa ada kewajiban finansial apa pun.”

Aku menoleh ke arah Darren. Kakakku hanya menunduk, meremas jemarinya sendiri.

Pak Gunawan kemudian meraih sebuah amplop cokelat tebal bersegel lilin dari dalam berkas tersebut. Di bagian depan amplop itu, tertulis garis tangan Ayah yang sangat kukenal:

Untuk Nadia. Buka setelah kamu berhenti menyalahkan kakakmu.

Tanganku gemetar hebat saat Pak Gunawan menyerahkan amplop itu kepadaku.

“Pak Haryono menitipkan ini khusus untukmu,” kata Pak Gunawan pelan. “Beliau tahu kamu akan sakit hati.”

Darren menyentuh bahuku pelan. Suaranya terdengar lembut, menghilangkan sisa-sisa ketegangan di antara kami. “Kalau kamu masih marah sama aku, nggak apa-apa, Nad. Tapi jangan marah sama Ayah karena sesuatu yang belum kamu pahami.”

Dengan jari gemetar, aku merobek segel amplop tersebut. Di dalamnya terdapat selembar kertas surat yang agak tebal. Aku membukanya, meresapi aroma minyak kayu putih khas Ayah yang masih tertinggal samar di kertas itu.

Aku mulai membaca kalimat pertama tulisan tangan Ayah:

“Nadia, anakku tercinta… Ayah tahu kamu pasti akan kecewa dan merasa pengorbananmu merawat Ayah selama ini tidak dihargai ketika surat wasiat ini dibacakan. Tapi ada satu hal yang belum pernah Ayah katakan kepadamu…”

Napas retak keluar dari tenggorokanku. Aku berhenti membaca seketika saat air mataku menetes deras, membasahi tinta tulisan Ayah di atas kertas.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Drama Keluarga, Free Novel, Konflik Keluarga, Saudara Kandung, Warisan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita