Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan - Bab 3
- Home
- Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan
- Bab 3 - Ternyata Ayah Tidak Pernah Memilih Siapa Pun
Tanganku gemetar semakin hebat saat melanjutkan bacaan lembaran surat di genggamanku. Di sampingku, Darren tetap diam, memberikan ruang bagiku untuk meresapi setiap baris kalimat yang ditinggalkan almarhum Ayah.
“Nadia, Ayah tahu kamu pasti merasa Ayah pilih kasih. Kamu pasti berpikir Ayah lebih menyayangi Darren karena dia anak laki-laki. Tapi ketahuilah, Nak, tidak ada satu detik pun dalam hidup Ayah yang tidak bersyukur memiliki anak seperti kamu.
Selama lima tahun ini, matamu memperlihatkan kelelahan yang luar biasa, tapi tanganmu tidak pernah berhenti menyuapi Ayah, memandikan Ayah, dan memeluk Ayah saat rasa sakit itu datang. Kamu memberikan masa mudamu untuk Ayah.
Tapi Ayah juga melihat kakakmu, Darren. Dia bekerja siang dan malam di luar kota, menanggung beban utang usaha Ayah yang hampir menghancurkan keluarga kita, tanpa pernah mengeluh kepadamu agar kamu fokus merawat Ayah. Kalian berdua telah berkorban dengan cara yang berbeda, cara yang sama-sama berharga di mata Ayah.
Ayah memberikan aset toko bangunan beserta sisa utangnya kepada Darren karena Darren yang mengerti cara mengelolanya dan dia yang selama ini menanggung beban finansialnya. Ayah tidak ingin meletakkan beban utang sepeser pun di pundakmu, Nadia.
Ayah memberikan rumah tinggal kita kepadamu karena rumah itu adalah tempat di mana kamu dan Ayah menghabiskan waktu bersama. Rumah itu adalah tempat berlindungmu yang aman, yang sudah bersih dari semua beban utang. Ayah ingin kamu punya tempat kembali tanpa takut diusir oleh siapa pun.
Ayah tidak ingin warisan membuat kalian menjadi musuh setelah Ayah tidak ada. Jangan saling menghitung siapa yang lebih banyak berkorban. Karena bagi Ayah, kalian berdua adalah sayap yang membuat Ayah bertahan hidup sampai hari ini.”
Isak tangisku pecah seketika di ruang kerja Pak Gunawan. Surat itu kuremas pelan di dada. Rasa bersangka buruk, amarah, dan perasaan tak dihargai yang selama ini membakar dadaku luluh lesap berganti rasa penyesalan yang mendalam.
Aku menoleh ke arah Darren. Pria berbadan tegap itu ternyata sudah meneteskan air mata diam-diam.
“Ren…” suaraku tercekat di tenggorokan. “Maafin aku… Aku sudah jahat sama kamu. Aku pikir… aku pikir kamu cuma mau menguasai harta Ayah.”
Darren menggeleng cepat. Ia bergeser dan langsung memeluk bahuku erat. “Nggak, Nad. Aku yang harusnya minta maaf. Aku terlalu gengsi buat cerita soal beban utang itu dari awal. Aku pikir aku bisa nanggung semuanya sendiri tanpa bikin kamu bingung, tapi aku malah bikin kamu merasa sendirian.”
“Aku egois, Ren,” bisikku di balik dada kakakku. “Aku merasa paling menderita cuma karena aku yang ada di samping Ayah tiap hari.”
“Kamu nggak egois, Nad. Kamu anak yang paling berbakti. Ayah tahu itu, aku pun tahu itu,” jawab Darren, mengusap punggungku hangat.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kesalahpahaman dan jarak, kami menangis bersama sebagai kakak dan adik.
Tiga bulan kemudian.
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca ruang tamu rumah tua kami. Bau aroma bolu pandan yang baru matang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Rumah tua ini tidak lagi suram. Aku telah menata ulang bagian teras dan ruang depan menjadi tempat usaha kue kecilku yang baru, yang kuberi nama “Dapur Arum”. Pesanan mulai berdatangan dari tetangga dan pelanggan daring.
Suara deru mobil terdengar berhenti di halaman. Tak lama kemudian, Darren melangkah masuk membawa dua kantong besar bahan kue dan sekotak perkakas.
“Pesanan tepung dan menteganya sudah datang, Bu Pengusaha,” goda Darren sambil meletakkan belanjaan di atas meja dapur.
Aku tertawa kecil sambil menyerahkan segelas teh hangat padanya. “Makasih ya, Ren. Gimana pekerjaan di toko bangunan Ayah?”
“Pelan-pelan utang banknya mulai berkurang,” ujar Darren setelah menyesap tehnya. “Asetnya mulai stabil. Tapi yang paling penting, rumah ini tetap milikmu sepenuhnya.”
Aku menatap Darren serius, lalu menggeleng. “Rumah ini milik kita berdua, Ren. Kalau kamu capek di kontrakan atau butuh tempat istirahat, datanglah sesering mungkin. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
Darren tersenyum hangat, matanya menyiratkan kelegaannya yang mendalam. “Pasti, Nad.”
Kami berdua berjalan ke ruang tamu. Di dinding utama, tergantung sebuah bingkai foto besar almarhum Ayah yang sedang tersenyum lebar. Di bawah foto tersebut, aku menempatkan sebuah meja kayu kecil dengan dua buah kursi jati yang berhadapan.
Satu kursi untukku. Satu kursi untuk Darren.
Aku memandang foto Ayah dengan perasaan tenang yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Ternyata Ayah tidak pernah memilih siapa yang lebih dicintainya. Kami saja yang terlalu sibuk menghitung pengorbanan masing-masing hingga lupa bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah diukur dari seberapa banyak harta yang ditinggalkan, melainkan bagaimana harta itu menjaga kedamaian anak-anaknya.
-TAMAT-