Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan - Bab 1
- Home
- Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan
- Bab 1 - Aku Merawat Ayah Sendirian, Tapi Kakakku yang Dapat Warisan
Aroma tanah basah dan sisa kelopak bunga kamboja masih menempel kuat di ujung gaun hitamku. Tanah pemakaman Ayah bahkan belum sepenuhnya memadat, tapi aroma perselisihan sudah mulai tercium di ruang tamu rumah tua ini.
Aku duduk kaku di kursi kayu jati yang sudah agak lapuk. Di seberangku, Darren—kakak kandungku satu-satunya—duduk tegak dengan kemeja hitam yang tergulung hingga siku. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menguburkan ayahnya tiga jam yang lalu.
“Bisa kita mulai sekarang?” Pak Gunawan, pengacara keluarga kami, membuka tas kulit cokelatnya. Suaranya memecah keheningan yang mencekam.
Tante Marlina, adik perempuan Ayah yang duduk di sampingku, menepuk bahuku pelan. “Sabar ya, Nad. Apapun isinya, ini keputusan almarhum Haryono.”
Aku tidak menjawab. Jujur, kepalaku masih menyengat oleh rasa duka. Lima tahun. Selama lima tahun terakhir, hidupku berputar di antara bau karbol rumah sakit, alarm pengingat obat pukul tiga pagi, dan derita Ayah yang digerogoti penyakit komplikasi. Aku melepaskan pekerjaanku sebagai staf administrasi di perusahaan swasta, merelakan masa mudanya berlalu, dan membuka usaha kue kecil-kecilan dari rumah agar bisa terus berada di samping Ayah.
Aku tidak pernah mengharapkan imbalan sepeser pun. Aku merawat Ayah karena aku mencintainya. Tapi aku hanya berharap, di akhir hidupnya, Ayah meninggalkan setitik pengakuan bahwa kehadiranku berarti.
Pak Gunawan mendeham, menyesuaikan kacamata minusnya, lalu mulai membaca lembaran kertas bermaterai di tangannya.
“Mengenai pembagian harta warisan almarhum Bapak Haryono Pratama… Sertifikat tanah dan bangunan usaha toko bangunan di pusat kota, beserta aset kendaraan operasional dan tabungan atas nama almarhum…” Pak Gunawan berhenti sejenak, menatapku lalu menatap Darren. “…sepenuhnya dihibahkan dan dibaliknamakan kepada anak pertama, Darren Pratama.”
Jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga.
Toko bangunan dan aset utamanya? Itu adalah seluruh kekayaan yang dimiliki Ayah.
“Lalu, bagaimana dengan rumah tinggal ini?” tanya Tante Marlina cepat, suaranya meninggi.
“Rumah tinggal beserta tanah tempat kediaman saat ini,” lanjut Pak Gunawan tenang, “diberikan kepada anak kedua, Nadia Arum.”
Hening. Sunyi yang sangat menyiksa menyergap ruangan.
Rumah tinggal ini adalah bangunan tua yang atap bocornya selalu kubenahi tiap musim hujan tiba. Nilai komersialnya tidak ada sepersepuluh dari tanah toko bangunan di pusat kota.
Tante Marlina langsung berdiri, wajahnya memerah. “Pak Gunawan, ini nggak salah? Nadia yang merawat Haryono selama lima tahun! Nadia yang mandiin, ganti pampers, bawa ke rumah sakit tiap minggu! Darren di mana? Darren cuma tinggal enak di luar kota, datang sesekali bawa uang seadanya! Kenapa Darren yang dapat hampir seluruh aset kekayaan Ayah?!”
Pak Gunawan menarik napas pendek. “Saya hanya membacakan dan menjalankan wasiat sah yang ditandatangani Almarhum Pak Haryono enam bulan lalu, Bu.”
Aku menatap Darren. Pria 35 tahun itu tidak berkutik. Tidak ada rasa terkejut di wajahnya.
“Kamu tahu soal ini?” suaraku terdengar sangat pelan, bergetar menahan sesuatu yang mendesak di dadaku.
Darren menatapku, matanya dingin namun menyimpan kegelisahan. “Aku juga baru tahu detail pastinya hari ini, Nad.”
“Tapi kamu dapat semuanya,” bisikku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes hangat di pipi. “Kamu dapat seluruh aset usaha Ayah. Dan aku… aku cuma dapat rumah tua yang makin lapuk ini?”
“Nad, ini keputusan Ayah—”
“Keputusan Ayah atau manipulasi kamu?!” suaraku meledak. Tante Marlina memegang bahuku, tapi aku mengibaskannya. Aku berdiri, menatap Darren dengan pandangan menghancurkan.
“Aku yang tinggal di rumah sakit sama Ayah, Ren! Aku yang berhenti kerja! Aku yang tiap malam bangun kalau Ayah menjerit kesakitan karena sesak napas! Kamu di mana saat Ayah butuh diantar kontrol? Kamu sibuk di kota lain dengan karier manajermu!”
Darren mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Wajahnya mengeras. “Nad, jaga bicaramu. Aku tetap mengirim uang tiap bulan untuk biaya makan dan obat Ayah!”
“Uang?!” Aku tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan rasa sakit. “Uang yang kamu kirim nggak sebanding dengan hidup yang aku korbankan! Aku nggak pernah minta Ayah membayarku karena sudah merawatnya. Tapi aku juga nggak pernah menyangka Ayah akan membuatku merasa seperti orang asing yang cuma menumpang di rumah sendiri!”
Darren diam. Mulutnya terkatup rapat, tidak mencoba membela diri. Sikap diamnya itu justru semakin menegaskan kecurigaanku. Dialah anak laki-laki kebanggaan. Dialah sang penerus keluarga. Sementara aku hanya anak perempuan yang tugasnya melayani hingga akhir.
“Keluar,” bisikku pada Darren.
“Nad…”
“Aku bilang keluar!” teriakku hysteris.
Pak Gunawan mengemas berkasnya dengan canggung dan berpamitan. Tante Marlina menemaniku sebentar, mengutuk ketidakadilan kakakku dan almarhum kakaknya, sebelum akhirnya berpamitan pulang karena hari mulai gelap.
Malam itu, rumah rasanya terlampau luas dan menyiksa. Bau obat Ayah masih tertinggal di kamar utamanya.
Dengan tangan gemetar, aku melangkah masuk ke kamar Ayah. Tempat tidur medisnya sudah kosong. Lemari pakaian kayu di pojok ruangan tampak melambai, memanggilku untuk membereskannya. Aku membuka pintu lemari, berniat merapikan pakaian-pakaian lama Ayah.
Namun, di rak paling bawah, di balik lipatan sarung-sarung tua, mataku menangkap sebuah map plastik berwarna cokelat kusam. Map itu terkunci dengan klip besi.
Penasaran, aku mengambil map itu dan membukanya di atas kasur. Di dalamnya terdapat tumpukan kertas kwitansi bertanggal beberapa tahun lalu, surat teguran bank, dan dokumen pembayaran utang toko bangunan yang nilainya sangat fantastis—ratusan juta rupiah.
Mataku terpaku pada lembar-lembar tanda terima pembayaran utang tersebut. Di sana, pada kolom pembayar, tercantum satu nama bertinta hitam tebal: Darren Pratama.
Jantungku berdegup kencang. Bukankah usaha toko bangunan Ayah dulu bangkrut karena ditipu mitra bisnisnya? Kenapa ada dokumen pelunasan utang atas nama Darren di sini?
Tepat di bagian paling bawah map, terdapat selembar kertas memo kecil yang sudah agak menguning. Itu tulisan tangan Ayah. Coretan khasnya yang tegas namun sedikit gemetar di ujung hurufnya.
Aku mengangkat kertas itu dan membacanya:
“Kalau Nadia menemukan dokumen ini, berarti Darren belum mengatakan semuanya kepadamu.”
Napas serasa tertahan di tenggorokan. Aku menatap kertas itu, lalu menatap pintu kamar yang terbuka gelap.
Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kakaknya selama bertahun-tahun ini?
-BERSAMBUNG-