Aku Menikah dengan Pria yang Salah - Bab 2
Kehidupan bersama mereka berjalan dalam ritme yang aneh. Kirana tetap mempertahankan batas tegasnya, sementara Arga perlahan mulai mengisi sela-sela kosong di rumah itu.
“Ini apa?” Kirana menatap sebuah kotak bekal yang terletak di atas meja makan.
Arga yang sedang mengancingkan lengan kemejanya menoleh sekilas. “Nasi goreng tanpa bawang bombay. Kamu kemarin bilang alergi.”
Kirana mengerutkan kening. “Aku cuma pernah bilang sekali waktu kita makan siang bareng pengacara bulan lalu.”
“Aku ingat,” jawab Arga santai. “Dimakan. Jangan cuma minum kopi hitam setiap pagi. Asam lambungmu bisa kumat.”
“Arga, kamu nggak perlu…”
“Aku cuma masak lebih,” potong Arga cepat sebelum Kirana menyelesaikan kalimat protesnya. “Daripada dibuang.”
Kirana menatap kotak bekal itu tanpa kata. Perhatian-perhatian kecil seperti ini mulai sering terjadi. Keran wastafel yang bocor mendadak sudah diperbaiki. Mobil Kirana yang kehabisan bensin tiba-tiba sudah terisi penuh di pagi hari. Dan kemarin, saat hujan deras mengguyur kota, Arga tiba-tiba sudah berdiri di lobi kantornya membawakan payung tanpa dipinta.
Semua itu membuat Kirana merasa tidak nyaman. Benteng yang dia bangun terasa perlahan digerogoti oleh perhatian-perhatian sederhana Arga.
Sore itu, situasi memanas ketika sebuah bel pintu berbunyi. Kirana yang baru pulang kerja membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang berdiri di sana.
“Adrian?”
Pria bertubuh jangkung dengan setelan jas mahal itu tersenyum manis, memegang buket bunga mawar merah.
“Hai, Kirana. Aku cuma mau memastikan kabar wanita yang nekat menikah secara mendadak ini,” ujar Adrian tanpa basa-basi.
“Aku sudah menikah, Adrian. Tolong hargai itu,” tegas Kirana.
“Menikah?” Adrian terkehdap meremehkan. “Dengan pria yang bahkan tidak bisa membelikanmu cincin berlian yang layak? Ayolah, Kirana. Aku tahu ini cuma gertakanmu untuk Papa. Pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Kamu pasti akan kembali padaku.”
“Dia tidak akan kembali ke siapa pun.”
Suara berat Arga memotong percakapan dari arah belakang Kirana. Arga melangkah maju, memosisikan tubuhnya di sebelah Kirana. Tatapannya pada Adrian begitu dingin dan penuh intimidasi, sesuatu yang belum pernah Kirana lihat sebelumnya dari pria ramah itu.
Adrian meneliti penampilan Arga dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. “Ah, jadi ini sang suami formalitas?”
“Keluar dari rumah kami,” potong Arga tegas. Suaranya rendah tetapi menyiratkan ancaman yang tidak main-main.
“Arga, biar aku yang urus,” bisik Kirana, mencoba menenangkan.
“Tidak, Kirana. Pria ini mengganggumu,” jawab Arga tanpa mengalihkan pandangan dari Adrian. Tangannya secara refleks memegang pinggang Kirana, menariknya sedikit lebih rapat ke samping tubuhnya.
Adrian tersenyum sinis, menggelengkan kepala, lalu meletakkan bunga di atas meja teras sebelum berbalik pergi. “Kita lihat berapa lama main-mainmu ini bertahan, Kirana.”
Setelah mobil Adrian menghilang, Kirana segera menepis tangan Arga dari pinggangnya. Dia berbalik menatap Arga dengan napas sedikit memburu.
“Kamu kenapa sih?” tanya Kirana.
“Kenapa apanya?” Arga melipat tangan di dada, raut wajahnya mengeras.
“Kenapa kamu harus bersikap seperti itu sama Adrian? Kamu kelihatan marah sekali.”
“Aku cuma nggak suka dia datang ke rumah kita dan bicara seenaknya,” sahut Arga pendek, mengalihkan pandangan.
Kirana melangkah mendekat, mengamati perubahan ekspresi di wajah Arga. Ada kilat kekesalan dan kecemburuan yang sangat jelas di sana.
“Kamu cemburu?” tanya Kirana terang-terangan.
“Nggak.”
“Jelas-jelas kamu cemburu, Arga.”
“Aku cuma nggak suka ada pria lain yang menganggumu di rumahku!” suara Arga naik satu oktaf, memotong perkataan Kirana.
Kirana terkekeh pelan, sebuah senyuman tipis bercampur keheranan muncul di bibirnya.
“Kenapa?” Kirana menatap mata Arga lekat-lekat. “Bukankah kita cuma pasangan pura-pura? Kamu lupa kalau kita ini cuma suami istri palsu?”
Kata-kata itu menghantam Arga bagai pukulan telak. Pria itu terdiam seribu bahasa. Jawabannya tertahan di tenggorokan. Dia menatap Kirana, tetapi tidak sanggup membantah.
“Ingat batasanmu, Arga. Setelah satu tahun, kita bercerai seperti kesepakatan awal,” tambah Kirana dingin sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Arga berdiri mematung di teras yang mulai dingin. Lidahnya kelu. Pernyataan Kirana menyadarkannya pada kenyataan pahit: bagi Kirana, hubungan ini memang hanya baris-baris kalimat dalam kontrak yang memiliki tanggal kadaluwarsa.
Malam harinya, suasana apartemen terasa begitu hening dan mencekam. Arga berjalan melewati lorong menuju dapur untuk mengambil air minum.
Saat melewati pintu kamar utama yang tidak tertutup rapat, dia mendengar suara Kirana yang sedang berbicara di telepon. Arga terhenti.
“Iya, Pa. Kirana paham,” suara Kirana terdengar jelas dari dalam. “Papa nggak usah khawatir soal aset itu. Pernikahan ini cuma cara Kirana mempertahankan hak Kirana.”
Arga menghentikan langkahnya. Pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan bayangan Kirana yang membelakanginya.
“Lagipula ini cuma sementara,” lanjut Kirana dengan suara tenang tanpa beban. “Setelah satu tahun, aku akan menceraikan Arga. Semuanya akan kembali seperti semula. Dia dapat uangnya, aku dapat asetku.”
Arga berdiri di balik pintu. Wajahnya perlahan memucat, jemarinya mengepal erat hingga bukunya memutih.
Kalimat itu terngiang berulang kali di kepalanya. Setelah satu tahun, aku akan menceraikan Arga.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini dimulai, Arga merasa dadanya sesak luar biasa. Dia menyadari satu hal yang paling ditakutinya: dia telah melanggar aturan paling krusial dalam perjanjian mereka. Dia telah jatuh cinta, dan pikiran untuk kehilangan Kirana di akhir tahun membuat hatinya hancur seketika.
-BERSAMBUNG-