Aku Menikah dengan Pria yang Salah - Bab 3

  1. Home
  2. Aku Menikah dengan Pria yang Salah
  3. Bab 3 - Aku Tidak Mau Uangmu Lagi
Prev
Novel Info

Perubahan itu terjadi begitu cepat. Sejak malam itu, Arga berubah total.

Tidak ada lagi kotak bekal berisi makanan tanpa bawang bombay di meja makan. Tidak ada lagi telepon yang menanyakan keberadaan Kirana saat hujan turun. Tidak ada lagi sapaan ramah atau perhatian-perhatian kecil yang biasanya menghangatkan ruangan.

Arga kembali menjadi pria asing—dingin, tertutup, dan selalu menjaga jarak. Dia berangkat kerja sangat pagi sebelum Kirana bangun, dan baru pulang ketika Kirana dipastikan sudah berada di dalam kamarnya.

Seminggu berlalu, dan Kirana mulai merasa ada yang hilang. Rumah itu terasa hampa. Suasana hening yang dulu sangat dia inginkan, kini justru terasa menyesakkan.

Malam itu, Kirana sengaja menunggu di ruang tamu hingga pukul sebelas malam. Ketika mendengar suara pintu depan terbuka, Kirana langsung berdiri.

Arga terkejut melihat Kirana masih duduk di sana. Namun, wajahnya kembali datar seketika.

“Kamu belum tidur?” tanya Arga pendek, berniat langsung berjalan menuju kamar tamu.

“Kita perlu bicara,” potong Kirana tegas.

Arga menghentikan langkahnya tanpa berbalik. “Aku lelah, Kirana. Besok saja.”

“Nggak. Sekarang,” tegaskannya. Kirana melangkah menghampiri Arga, berdiri tepat di hadapan pria itu. “Kamu kenapa sih, Arga? Kenapa sikapmu berubah begini? Kamu mendiamkan aku seminggu ini. Kalau ada masalah dengan pembayaran rumah sakit ibumu, kamu tinggal bilang!”

Arga menghela napas panjang. Dia menatap Kirana, sorot matanya yang biasa hangat kini terlihat begitu lelah dan terluka.

“Ini bukan soal uang, Kirana.”

“Terus soal apa?” Kirana mengibaskan tangannya frustrasi. “Kalau kamu butuh tambahan dana untuk keperluan lain, katakan saja berapa! Aku bisa transfer besok pagi. Jangan membuat suasana rumah ini jadi makin aneh!”

Arga menatap Kirana dalam-dalam. Kata-kata Kirana yang mengukur segala hal dengan uang terasa menyayat hatinya.

“Aku nggak mau uangmu lagi,” kata Arga, suaranya pelan tetapi berbobot tajam.

Kirana melebarkan matanya, terkejut. “Apa?”

“Aku bilang, aku nggak mau uangmu lagi,” ulang Arga dengan nada yang lebih mantap. “Semua biaya pengobatan ibuku yang sudah kamu keluarkan selama tiga bulan ini… aku sudah mencatat semuanya. Aku akan mencicil dan mengembalikannya padamu sampai lunas.”

“Arga, kamu bicara apa sih?” Kirana tertawa canggung, mulai merasa panik tanpa alasan yang jelas. “Itu imbalan untuk pernikahan ini! Kita sudah sepakat!”

“Ya, kita sepakat. Tapi aku tidak bisa meneruskannya,” potong Arga cepat. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. “Biaya pengobatan ibuku memang alasan awal aku menerima tawaran gila ini. Aku butuh uang itu untuk menyambung hidup ibuku. Tapi sekarang… perasaanku sudah berubah.”

Jantung Kirana berdegup kencang. “Maksud kamu?”

“Aku mencintaimu, Kirana,” ucap Arga jujur, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

Kata-kata itu terlontar begitu saja di udara, membuat ruangan seketika hening total. Kirana membeku di tempatnya, menatap Arga dengan pandangan tak percaya.

“Tapi aku tahu posisi diri,” lanjut Arga, suaranya sedikit bergetar. “Aku ini cuma pria yang kamu ‘beli’ untuk menyelamatkan aset keluargamu. Pria yang kamu pakai sebagai tameng selama satu tahun. Dan aku sadar, aku tidak punya hak untuk mencintaimu.”

“Arga…”

“Aku tidak bisa terus-terusan tinggal di sini dan berpura-pura menjadi suamimu sementara hatiku terus berharap pernikahan ini nyata,” Arga menatap Kirana dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku tidak ingin menjadi suami yang dibayar, Kirana. Aku hanya ingin menjadi suami yang dipilih. Karena kamu tidak bisa memberikanku hal itu… besok aku akan angkat kaki dari rumah ini. Soal perjanjian dengan keluargamu, terserah kamu mau bilang apa.”

Arga berbalik dan masuk ke kamar tamu, meninggalkan Kirana yang berdiri terpaku di tengah ruangan.

Tubuh Kirana bergetar pelan. Pernyataan cinta Arga bukannya membuatnya lega, tetapi justru menghantam dada Kirana dengan rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa takut kehilangan Arga.

Kirana terduduk di sofa. Dia memegang dadanya yang terasa sesak. Selama ini dia berpikir dialah pemegang kendali. Dialah yang membeli Arga. Dialah yang menentukan kapan hubungan ini dimulai dan kapan harus berakhir.

Namun sekarang, melihat pintu kamar Arga tertutup, Kirana sadar akan satu hal yang selama ini dia sangkal: perhatian kecil Arga, sarapan pagi, payung di tengah hujan, dan rasa aman saat pria itu berdiri membelanya dari Adrian… semuanya telah masuk ke dalam hatinya. Dia tidak pernah memungut Arga; Argalah yang telah menyembuhkan kesepiannya.

Keesokan paginya, Arga keluar dari kamar tamu membawa satu koper kecil. Pria itu sudah mengenakan pakaian rapinya.

Saat dia berjalan menuju pintu keluar, Kirana sudah berdiri memotong jalannya. Wajah Kirana pucat, matanya sedikit sembap seperti orang yang tidak tidur seharian.

“Jangan pergi,” kata Kirana lirih.

Arga menatapnya tenang. “Jangan makin mempersulit keadaan, Kirana. Bukankah ini yang kamu mau? Kamu bilang sendiri ke papamu, setelah satu tahun kita akan bercerai. Aku cuma mempercepat prosesnya agar aku tidak semakin sakit hati.”

“Aku bohong!” potong Kirana cepat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menembus pipinya.

Arga tertegun melihat wanita yang selama ini terkenal sangat tangguh dan dingin itu kini menangis di hadapannya.

“Aku bohong pada Papaku,” bisik Kirana dengan suara tercekik. “Aku bilang begitu karena aku takut. Aku takut kalau aku mengakui perasaan ini, aku akan terlihat lemah. Aku takut bergantung pada orang lain lagi.”

Kirana melangkah mendekati Arga, menatap mata pria itu tanpa ada lagi benteng yang tersisa.

“Aku yang memintamu menikah denganku karena uang, Arga. Tapi sekarang… justru aku yang sangat takut kehilangan kamu. Aku tidak peduli lagi dengan aset keluarga atau ancaman Papa. Aku cuma tidak mau kamu pergi.”

Arga menatap Kirana lama. Koper di tangannya perlahan terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara terhempas pelan.

“Kalau sekarang…” Kirana menyapu air matanya, suaranya terdengar begitu tulus dan rapuh. “Kalau sekarang aku minta kamu tetap jadi suamiku, kamu masih mau?”

Arga menatap wajah Kirana yang memerah. Sebuah ukiran senyum tipis dan hangat perlahan muncul di bibir pria itu—senyuman hangat yang sangat dirindukan Kirana selama seminggu terakhir.

“Kalau kali ini bukan karena uang?” tanya Arga pelan.

Kirana menggelengkan kepalanya erat-erat, menatap Arga lurus.

“Karena aku,” jawab Kirana pasti. “Karena aku mencintaimu, Arga.”

Arga tidak menjawab lagi dengan kata-kata. Dia melangkah maju, merengkuh tubuh Kirana ke dalam pelukannya yang hangat dan erat. Kirana membalas pelukan itu seketika, menyembunyikan wajahnya di dada Arga sambil menghela napas lega yang panjang.

“Kalau begitu,” bisik Arga lembut di telinga Kirana, “aku mau.”

Di dalam dekapan Arga, Kirana tahu bahwa pernikahan yang dimulai dari transaksi dingin dan salah paham ini… akhirnya telah menemukan rumahnya yang sebenarnya.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Perlahan, Free Novel, Identitas Rahasia, Pernikahan, Pernikahan Terpaksa
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita