Aku Menikah dengan Pria yang Salah - Bab 1
“Tiga bulan, Kirana. Kalau dalam tiga bulan kamu belum juga menikah dengan Adrian, seluruh hak pengelolaan aset keluarga atas namamu dicabut. Papa tidak main-main.”
Kirana memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Suara papanya di telepon masih terngiang jelas, menusuk hingga ke dasar kesabarannya. Menikah dengan Adrian—pria kaya pilihan keluarga yang penuh dengan pretensi—sama saja menyerahkan hidupnya untuk dikendalikan orang lain. Selama 27 tahun, Kirana selalu mengatur hidupnya sendiri. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merenggut kendali itu.
“Kamu sudah gila?”
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Arga. Pria berumur 29 tahun itu berdiri kaku di sudut lorong rumah sakit. Pakaian kerjanya sederhana—hanya kemeja polos yang sedikit kusut di bagian lengan. Wajahnya lelah, tetapi matanya menatap Kirana dengan ketegasan yang tak goyah.
“Aku serius, Arga,” kata Kirana. Suaranya tenang, penuh kalkulasi. “Aku butuh suami. Bukan kekasih, bukan pasangan hidup yang menuntut cinta. Aku cuma butuh seseorang di atas kertas untuk menyumpal mulut keluargaku selama satu tahun.”
“Dan kamu memilihku?” Arga terkehdap pelan, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan rasa tersinggung. “Kamu pikir karena aku butuh uang untuk biaya pengobatan ibuku, kamu bisa membeli statusku?”
“Ini bukan membeli, Arga. Ini kesepakatan bisnis,” potong Kirana cepat. Dia melangkah mendekat, menunjukkan dokumen penjaminan medis di tangannya. “Aku tahu biaya perawatan hemodialisis dan operasi ibumu sangat besar. Tabunganmu tidak akan cukup. Jika kamu setuju menikah denganku selama satu tahun, seluruh biaya rumah sakit Bu Ratna ditanggung penuh olehku. Tanpa syarat potongan.”
Arga mengepalkan tangannya di samping celana. Rahangnya mengetat.
“Aku bukan pria sewaan, Kirana.”
“Aku tahu. Makanya aku menawarkannya padamu,” balas Kirana tanpa kedipan. “Aku kenal kamu sejak kita masih mengurus proyek CSR dua tahun lalu. Kamu jujur, bertanggung jawab, dan yang paling penting… kamu tidak akan banyak menuntut. Aku butuh orang yang bisa dipercaya.”
Arga diam. Sorot matanya beralih ke pintu kamar rawat inap tempat ibunya terbaring lemah. Di dalam sana, Bu Ratna terlelap dengan selang yang menempel di tubuhnya. Tagihan rumah sakit terus menumpuk, dan Arga sudah berada di titik batas kemampuannya.
“Aturannya apa?” suara Arga akhirnya terdengar, lirih namun berat.
Kirana menarik napas lega, meski raut wajahnya tetap datar.
“Sederhana,” ujar Kirana. “Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun. Tidak boleh ada perasaan. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Setelah satu tahun, kita bercerai secara baik-baik. Dan ingat, jangan pernah menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan sungguhan.”
“Baik,” sahut Arga pendek. “Deal.”
Tiga minggu kemudian, pernikahan tertutup itu digelar. Tanpa pesta mewah, hanya dihadiri saksi dan keluarga terdekat.
Malam pertama di apartemen baru milik Kirana terasa sunyi dan canggung.
Kirana berdiri di pintu kamar utama, menatap Arga yang baru selesai memindahkan koper-kopernya ke kamar tamu.
“Jangan salah paham,” kata Kirana, memecah hening sambil menyilangkan tangan di dada. “Aku menikahimu karena aku membutuhkan suami.”
Arga menatapnya tenang. Tidak ada kilat kemarahan di matanya seperti saat di rumah sakit.
“Aku juga menikahimu karena membutuhkan uang,” jawab Arga datar.
Kirana mengangguk tipis. “Bagus kalau kita ada di pemikiran yang sama.”
Pintu kamar utama pun tertutup rapat.
Kirana mendudukkan diri di sofa ruang tengah, bermaksud menenangkan pikirannya dan menyelesaikan sisa pekerjaan di laptop. Namun, tubuhnya yang tertekan selama berminggu-minggu akhirnya menyerah. Rasanya lelah sekali. Matanya makin berat, hingga akhirnya Kirana tertidur lelap di sofa dengan posisi miring, memeluk lengannya sendiri yang kedinginan oleh terpaan pendingin ruangan.
Sekitar pukul dua dini hari, Arga keluar dari kamar tamu untuk mengambil air minum.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok Kirana yang meringkuk di sofa. Pendingin udara bertiup cukup kencang. Arga menatap wanita itu beberapa saat. Wajah Kirana saat tidur terlihat sangat berbeda—tidak ada tatapan dingin, tidak ada benteng pertahanan yang tegak berdiri. Dia hanya terlihat seperti wanita biasa yang kelelahan.
Arga menghela napas pelan. Dia berjalan ke kamar tamu, mengambil selimut tebal milik Kirana yang terlipat rapi, lalu kembali ke ruang tengah.
Dengan sangat perlahan, Arga membentangkan selimut itu di atas tubuh Kirana. Dia menarik ujungnya hingga menutupi bahu wanita itu. Gestur sederhana yang sama sekali tidak ada di dalam pasal dokumen kesepakatan mereka.
Saat Arga hendak menarik kembali tangannya, kelopak mata Kirana perlahan terbuka.
Kirana bergerak sedikit, mengucek matanya yang kabur, lalu mendongak. Dia mendapati Arga berdiri sangat dekat, menunduk menatapnya.
“Kenapa?” tanya Kirana, suaranya parau khas bangun tidur.
Arga mendadak salah tingkah. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah TV yang mati dan menarik tangannya cepat-cepat.
“Nggak apa-apa.”
“Terus kamu ngapain?”
“Cuma takut kamu mati kedinginan sebelum masa kontrak satu tahun kita selesai,” jawab Arga dengan nada sedatar mungkin, lalu berbalik pergi.
Kirana menatap punggung Arga yang menghilang di balik pintu kamar tamu, lalu memegang ujung selimut hangat yang menutupi tubuhnya.
Di dalam kamarnya, Arga bersandar di balik pintu yang tertutup rapat. Tangannya masih menyisa rasa hangat dari selimut itu. Arga memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dia sadar, sejak detik itu, perasaannya tidak lagi berada di jalur kesepakatan.
-BERSAMBUNG-