Aku Jatuh Cinta pada Pria yang Membenciku - Bab 2
- Home
- Aku Jatuh Cinta pada Pria yang Membenciku
- Bab 2 - Ternyata Kamu Tidak Seperti yang Kukira
Mobil derek baru tiba satu jam kemudian setelah hujan mulai mereda, dan mereka akhirnya sampai kembali di pusat kota saat hari sudah melintasi larut malam. Namun, kejadian singkat di dalam mobil di tengah guyuran hujan deras itu terus berputar-putar di kepala Alena seperti rekaman pita yang menolak untuk dihentikan.
Sejak hari pameran itu, cara Alena memandang sosok Julian berubah total.
Alena mulai lebih memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya selalu luput dari pandangannya karena tertutup oleh benteng rasa kesal. Di kantor, Julian memang tetap dikenal sebagai pria yang kaku, tegas, dan jarang mengumbar senyum. Namun, Alena mulai melihat fakta lain. Pria itu diam-diam mengganti galon air minum yang kosong di pantry saat petugas kebersihan sedang kerepotan, tanpa memamerkan aksinya atau meminta pujian dari siapa pun.
Suatu sore, seorang staf magang di divisi mereka membuat kesalahan fatal yang menghilangkan fail berkas penting milik klien utama. Semua orang di ruangan menduga Julian akan meledak marah dan memecat anak itu di tempat. Namun, Alena justru melihat pemandangan berbeda. Julian memanggil staf magang tersebut ke ruang kerjanya. Dari balik dinding kaca transparan yang agak buram, Julian memang tampak berbicara dengan wajah tegas, tetapi pria itu telaten mengajari anak magang tersebut cara merapikan ulang sistem basis data hingga larut malam—bahkan mengantarnya pulang sampai ke rumah karena hari sudah terlalu malam.
“Mungkin selama ini aku yang salah menilai dia,” gumam Alena pelan pada dirinya sendiri saat berdiri di depan mesin pembuat kopi di pantry.
“Bicarain siapa, nih?”
Alena meloncat kaget. Bagas—teman dekat Julian sekaligus manajer divisi pemasaran yang terkenal luwes—berdiri di sampingnya sambil melempar senyum santai.
“Nggak! Nggak bicarain siapa-siapa kok, Mas,” sangkal Alena cepat, membetulkan posisi cangkir kopinya yang hampir miring.
Bagas tertawa pelan, lalu menyandarkan bahunya ke dinding pantry. “Kalau yang kamu maksud itu Julian, kamu emang salah besar kalau menilai dia dari luarnya aja, Al.”
Alena menoleh curiga. “Maksud Mas Bagas apa?”
“Julian itu dari dulu emang kayak gitu. Lidahnya tajam, mukanya lempeng kaku kayak papan gilasan,” kekeh Bagas santai. “Tapi hatinya itu kelewat bertanggung jawab. Dia itu nggak suka dan gak tega lihat orang lain dalam masalah. Cuma masalahnya… cara dia bicara dan menyampaikan perhatiannya itu emang bikin orang pengen melempar sepatu ke mukanya.”
Alena tidak bisa menahan tawa kecilnya mendengarkan perumpamaan Bagas. “Itu benar banget, Mas.”
“Tapi percayalah sama aku,” lanjut Bagas dengan nada yang jauh lebih serius, matanya menatap Alena lurus-lurus. “Julian itu perhatian banget sama kamu, Al. Jauh lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan.”
Kata-kata Bagas membentang dan terus terngiang di pikiran Alena sepanjang hari. Namun meski begitu, sifat menyebalkan dan gengsi setinggi langit milik Julian tidak mendadak sirna begitu saja.
Hari Kamis berikutnya, Alena bermaksud mendatangi pabrik percetakan di daerah pinggiran kota untuk mengecek secara langsung bentuk fisik brosur promosi terbaru. Dia tidak memberitahu siapa pun di kantor karena menganggap ini hanyalah tugas kecil yang biasa dia lakukan sendiri.
Saat Alena baru saja selesai memeriksa lembar cetakan di depan kantor percetakan yang lokasinya agak sepi dan masuk ke dalam gang, sebuah mobil hitam berhenti secara kasar di pinggir jalan. Pintu mobil terbuka dan Julian keluar dari sana dengan langkah-langkah lebar dan terburu-buru. Wajahnya tampak sangat tegang dan gusar.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Alena melangkah menghampirinya dengan dahi berkerut bingung.
“Kamu kenapa pergi sendiri tanpa ijin dan tanpa bilang-bilang?” tembak Julian langsung tanpa salam pembuka, matanya liar meneliti area sekitar lokasi percetakan yang tampak sepi.
“Aku bisa sendiri, Julian! Ini cuma cek fisik brosur, urusan sepele yang biasa aku kerjain!” tegas Alena mulai merasa kesal.
“Itu masalahnya!” seru Julian, suaranya naik satu nada lebih tinggi dari biasanya.
Alena mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasa hangat yang baru beberapa hari tumbuh di hatinya mendadak diterpa kembali oleh rasa jengkel yang familier. “Kamu itu selalu menganggap aku nggak bisa melakukan apa-apa! Kamu selalu memandang rendah aku, seolah-olah aku ini anak kecil yang selalu butuh kamu omeli dan kamu awasi!”
Julian terdiam seketika. Kalimat tajam Alena seolah memukul dadanya secara fisik. Pria itu menghembuskan napas kasar melalui hidungnya, membuang pandangan ke arah jalanan sejenak sebelum kembali menatap mata Alena.
“Aku cuma takut sesuatu terjadi sama kamu,” kata Julian pelan.
Suara pria itu tidak lagi terdengar galak atau menggurui. Ada nada kecemasan yang teramat jujur di sana.
Alena membeku di tempatnya berdiri. “Kenapa… kenapa kamu harus takut?”
Julian tidak menjawab. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membelakangi Alena, lalu berjalan kembali menuju mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia meninggalkan Alena yang berdiri terpaku sendirian dengan sejuta pertanyaan yang makin menggelembung di dadanya.
Siang harinya di sebuah kafe tak jauh dari kantor, Alena menyeruput boba milk tea-nya dengan pandangan kosong menatap meja. Tania yang duduk di hadapannya memperhatikan ekspresi bingung sahabatnya itu dengan senyuman jahil yang mengembang sempurna.
“Kamu sebenarnya suka kan sama Julian?” tembak Tania tanpa basa-basi.
Alena tersedak bobanya hingga terbatuk-batuk kecil. “Nggak! Ngaco banget kamu!”
“Halah, kelihatan tahu,” ledek Tania sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. “Dari tadi kamu cerita soal dia sambil senyum-senyum sendiri. Pas cerita dia marah-marah di percetakan tadi pun, mata kamu tuh kelihatan binar-binar.”
“Karena aku ingat betapa menyebalkannya dia, Tan!” elak Alena dengan pipi yang mendadak merona merah.
“Kalau dia cuma menyebalkan, kenapa kamu kepikiran dia terus?” skakmat Tania tajam. “Kenapa kamu nggak abaikan aja dia kayak yang biasa kamu lakukan dulu?”
Alena bungkam total. Dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalas argumentasi tajam sahabatnya. Hatinya tahu jawaban yang sebenarnya, tetapi gengsinya masih berusaha menolak keras untuk mengakuinya.
Sementara itu, dinamika di kantor makin terasa rumit. Bagas beberapa kali sengaja mampir ke kubikel Alena untuk mengajak wanita itu mengobrol atau sekadar bercanda melepaskan stres. Karakter Bagas yang humoris, ramah, dan luwes membuat Alena bisa tertawa lepas di beberapa kesempatan.
Namun dari balik ruang kerjanya yang berdinding kaca transparan, Julian selalu memperhatikan setiap interaksi tersebut dengan pandangan tak suka.
Suatu sore saat Bagas baru saja meninggalkan meja Alena setelah memberikan sebungkus camilan impor, Julian keluar dari ruangannya dan melangkah cepat mendekati kubikel Alena. Pria itu berpura-pura membawa sebuah berkas tebal di tangannya, tetapi mata kelabunya terarah lurus pada bungkus makanan di meja Alena.
“Kalian makin dekat ya?” tanya Julian dengan nada datar.
Alena mendongak dari layar komputernya. Dia menyadari arah lirikan Julian pada camilan pemberian Bagas. Sebuah ide jahil mendadak melintas di benak Alena untuk menguji pria kaku di depannya ini.
Alena tersenyum manis, merapikan posisi duduknya. “Lumayan kok. Mas Bagas orangnya seru banget, ramah, terus nggak suka marah-marah atau ngomel tanpa alasan yang jelas.”
Alena sengaja menatap mata Julian dengan pandangan menantang. “Kenapa? Kamu cemburu?”
Julian langsung melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya mengeras kaku. “Nggak.”
“Yakin nggak cemburu?” goda Alena lagi sambil memiringkan kepalanya sedikit.
“Yakin,” jawab Julian cepat—terlalu cepat bahkan untuk ukuran orang yang mengaku tidak peduli.
Namun rahang pria itu menegang sangat keras, dan jemari tangannya yang meremas berkas kertas memperlihatkan betapa tidak nyamannya dia saat itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Julian meletakkan berkas itu dengan ketukan agak keras di meja Alena lalu berbalik pergi dengan langkah kaku.
Alena menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa bahagia yang hampir meledak. Bohong banget, batinnya kegirangan.
Malam harinya sekitar pukul sembilan malam, Alena dalam perjalanan pulang menaiki angkutan umum setelah menghadiri acara reuni sekolahnya. Tiba-tiba, ban mobil angkot yang ditumpanginya meletus keras di daerah jalanan antarkota yang sepi dan minim penerangan lampu jalan.
Alena terpaksa turun dan berdiri di atas trotoar yang gelap. Sialnya lagi, ponsel pintarnya mendadak mati total karena kehabisan daya baterai. Hujan gerimis mulai turun membasahi bumi, dan beberapa pria berpenampilan mencurigakan yang sedang nongkrong di pos ronda tak jauh dari sana mulai memperhatikan Alena sambil bersiul-siul menggoda.
Rasa takut yang mencekam seketika menyergap Alena. Dia berjalan cepat mencoba menjauhi tempat itu sambil terus menengok ketakutan ke belakang.
Tiba-tiba, suara derum mesin mobil yang melaju sangat kencang membelah keheningan malam. Sebuah mobil hitam mengerem mendadak tepat di samping trotoar tempat Alena berdiri, menimbulkan bunyi dercit ban yang keras.
Pintu pengemudi terbuka secara kasar. Julian keluar dari sana.
Pria itu tidak mengenakan jasnya. Kemeja kerjanya tergulung tidak beraturan, dan rambut hitamnya sedikit berantakan kena angin. Wajah Julian yang biasanya selalu tenang, dingin, dan terkontrol kini dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa hebat. Dia berlari menghampiri Alena, menyeberangi gerimis malam tanpa peduli pakaiannya basah.
“Kamu nggak apa-apa?!” seru Julian, suaranya bergetar hebat yang tak mampu dia tutupi. Kedua tangannya langsung mencengkeram kedua bahu Alena dengan erat, matanya meneliti seluruh tubuh Alena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sangat cepat dan cemas.
“Aku… aku nggak apa-apa, Julian,” jawab Alena terperanjat melihat reaksi pria itu yang begitu emosional.
“Kamu yakin?! Ada yang luka?! Ada yang ganggu atau jahatin kamu?!” tanya Julian bertubi-tubi tanpa jeda, matanya bergerak liar memindai area pos ronda di belakang mereka sebelum kembali menatap mata Alena. Napasnya memburu keras.
“Aku benar-benar nggak apa-apa,” bisik Alena lembut. Tangannya terulur menyentuh lengan Julian yang terasa gemetaran di bahunya. “Aku cuma takut karena HP aku mati.”
Julian memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas lega yang amat panjang seolah-olah sebuah beban hidup yang sangat berat baru saja diangkat dari dadanya. Tanpa peringatan, pria itu menarik Alena pelan ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya yang berdetak sangat kencang dan tak beraturan.
Alena bisa merasakan detak jantung Julian yang berpacu liar di balik kemejanya. Wajah kaku dan dingin yang selama ini selalu Julian tunjukkan sirna sepenuhnya malam ini, digantikan oleh kerentanan seorang pria yang benar-benar ketakutan kehilangan orang yang berharga baginya.
Alena pelan-pelan melepaskan diri dari pelukan erat itu, mendongak menatap Julian yang kini menunduk menatapnya dengan pandangan pasrah.
“Julian…” panggil Alena pelan.
“Apa?” sahut Julian, suaranya terdengar serak.
“Kalau kamu memang membenciku…” Alena menggantungkan kalimatnya sejenak.
Julian terdiam, tatapannya terkunci rapat pada manik mata Alena.
Alena melanjutkan peranya dengan keberanian yang terkumpul penuh di dadanya:
“Kenapa kamu kelihatan lebih takut kehilangan aku daripada aku sendiri?”
Julian tidak menjawab. Pria itu tetap bungkam di bawah guyuran gerimis malam yang makin lebat. Namun tangannya meluncur turun dari bahu Alena, lalu menggenggam jemari tangan wanita itu dengan sangat erat, hangat, dan protektif.
Dan kali ini… pria itu tidak melepaskannya lagi.
-BERSAMBUNG-