Aku Jatuh Cinta pada Pria yang Membenciku - Bab 1
Pintu kaca tebal ruang rapat lantai lima kantor pusat menutup dengan desisan selip yang tajam, memutus seketika kebisingan luar lorong. Di dalam ruangan berpendingin udara yang suhunya disetel terlalu dingin itu, bau sangit kopi hitam yang mengepul dari cangkir beradu dengan aroma kertas cetak hangat yang baru saja keluar dari mesin.
Alena membungkuk cepat, jemarinya bergerak terburu-buru merapikan tumpukan dokumen proposal pemasaran di atas meja oval kayu mahoni. Namun, karena tergesa-gesa dan fokusnya terpecah, sudut lengannya menyenggol map tebal. Puluhan lembar kertas HVS putih tergelincir dari tepi meja dan meluncur berserakan di atas lantai karpet abu-abu.
“Kamu kalau kerja bisa lebih teliti dan lebih tenang sedikit nggak?”
Suara itu datang tepat dari arah pintu yang baru saja ditutup. Suara bariton yang berat, kaku, dingin, dan sarat akan nada menghakimi yang sudah sangat dihafal oleh Alena di luar kepala.
Alena menghentikan jemarinya yang hendak memungut kertas di lantai. Dia memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas kasar lewat hidung, lalu perlahan mendongak.
Di sana, berdiri Julian. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitam berpotongan tajam. Dia mengenakan kemeja putih berserat halus yang disetrika sangat rapi—begitu sempurnanya sampai-sampai tidak ada satu pun lipatan halus yang berani muncul di sana. Tatapan mata kelabunya yang tajam dan tak bersahabat terarah lurus pada Alena yang masih berlutut di lantai.
“Ini cuma ketumpuk salah urutan dan jatuh karena kesenggol, Julian. Nggak usah berlebihan dan mulai berkhotbah,” balas Alena seraya berdiri, menepuk-nepuk bagian depan rok kerjanya yang agak kusut, lalu membungkuk lagi untuk menyapu sisa kertas.
Julian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Pria itu justru mengambil dua langkah lebar mendekat ke meja. Dia melangkahi kertas-kertas di lantai tanpa menyentuhnya, menyambar sisa dokumen yang masih ada di atas meja, lalu membolak-baliknya dengan ketelitian yang selalu berhasil membuat urat leher Alena tegang.
“Urutan dokumen dan kerapian kerja itu mencerminkan isi kepala kamu, Alena,” potong Julian dingin. Matanya menyapu baris demi baris angka di atas kertas. “Halaman empat belas terbalik. Data grafik kuartal ketiga belum kamu sesuaikan dengan revisi anggaran yang dikirim divisi keuangan kemarin sore. Kalau dokumen ini sampai ke tangan klien jam sepuluh nanti, reputasi tim kita hancur cuma gara-gara kamu ceroboh.”
Alena mengepalkan kedua tangannya di samping pinggul. Pipinya mendadak terasa panas oleh rasa malu dan amarah yang bergolak seketika.
“Kalau mau kasih kritik atau masukan, nggak perlu pakai nada bicaramu yang seolah-olah aku ini orang paling bodoh di kantor ini,” desis Alena tajam, melangkah maju hingga jarak mereka hanya terpisah oleh lebar meja.
“Aku cuma bicara fakta,” sahut Julian kaku tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari kertas di tangannya. “Kalau kamu nggak ceroboh, aku juga nggak perlu membuang waktu untuk mengkritik.”
“Nada bicaramu itu selalu kayak melempar semua kesalahan penuh ke aku!” bentak Alena. Suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan di dadanya sejak pagi.
Julian akhirnya meletakkan dokumen itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan namun tegas. Dia mendongak, menatap mata Alena tanpa mengedip. “Karena memang kamu yang membuat masalahnya.”
“Aku benar-benar nggak ngerti kenapa kamu selalu punya masalah pribadi denganku,” kata Alena, tatapannya menyalang penuh kemarahan. “Setiap kali kita ditunjuk dalam satu proyek yang sama, kamu selalu cari celah buat menyudutkan aku di depan orang lain. Kamu benci banget sama aku, ya? Sebutin satu hal dari aku yang nggak bikin kamu benci!”
Julian terdiam. Ruang rapat itu mendadak hening total, hanya menyisakan dengung halus dari mesin pendingin udara di langit-langit. Tatapan mata Julian menajam, menyapu wajah Alena dari dahi hingga bibirnya yang merapat kencang.
“Karena kamu memang selalu membuat masalah,” kata Julian pelan, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terasa menyengat seperti jarum.
Tanpa membuang waktu lagi, Alena menyambar tas laptopnya, memeluk tumpukan kertas yang sebagian masih berantakan di tangannya, dan berjalan cepat menuju pintu. Saat melintasi Julian, dia sengaja menyenggol bahu tegap pria itu dengan keras sebelum menghempaskan pintu kaca ruang rapat hingga menimbulkan bunyi dentuman yang bergema di lorong.
Di luar ruangan, Tania yang sedang memegang cangkir kopinya hampir saja menumpahkan isinya. Sahabat dekat Alena itu meringis pelan melihat wajah Alena yang sudah tampak merah padam seperti gunung berapi yang siap meletus.
“Kalian ini kalau ketemu kenapa selalu perang dunia, sih?” tanya Tania setengah berbisik sambil melangkah cepat menyusui langkah lebar Alena menuju area kubikel kerja mereka.
“Karena pria itu memang manusia paling menyebalkan di muka bumi!” sembur Alena, melempar tas laptopnya ke atas meja kerja hingga menimbulkan suara gedebuk nyaring. “Manusia paling dingin, paling angkuh, paling kaku, dan paling nggak punya perasaan yang pernah aku kenal! Dia itu benci sama aku, Tan. Dia benar-benar benci dan nggak bisa lihat aku tenang sedikit aja!”
Tania menarik kursi berroda dari kubikel sebelah lalu duduk di samping meja Alena. Dia menatap sahabatnya itu dengan perpaduan rasa prihatin dan senyum geli yang ditahan.
“Tapi jujur ya, Al,” kata Tania sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. “Julian itu cuma kayak gitu kalau berhadapan sama kamu. Sama staf lain dia emang kaku dan irit bicara, tapi dia nggak pernah sampai adu mulut sengit atau kelihatan emosi kayak waktu ngomong sama kamu.”
“Ya karena cuma aku yang berani nentang mulut pedas dan sikap mengguruinya itu!” tembak Alena cepat. Dia duduk di kursinya lalu menyalakan monitor komputer dengan tekanan jari yang luar biasa keras pada tombol daya. “Awas aja kalau nanti siang dia coba-coba cari gara-gara lagi pas rapat divisi.”
Namun hingga jam kerja berakhir pukul lima sore, Julian sama sekali tidak muncul di area kubikel Alena. Alena memaksakan dirinya fokus menyelesaikan seluruh revisi proposal yang tadi pagi sempat dikritik habis-habisan oleh pria itu. Kepala Alena mulai terasa berat dan denyutan halus di pelipisnya makin terasa karena seharian dia menahan kejengkolan dan lupa meminum air putih.
Pukul delapan malam, Alena baru saja selesai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamarnya. Pakaian kerjanya bahkan belum sempat diganti karena rasa lelah yang begitu menumpuk. Tiba-tiba, ponsel pintar yang tergeletak di atas nakas bergetar nyaring.
Alena meraihnya dengan malas. Namun nama yang tertera di layar sentuh itu seketika membuat matanya meledak lebar.
Julian.
Dengan helaan napas panjang dan kening berkerut dalam, Alena menggeser ikon hijau pada layar. “Halo. Kalau kamu mau bahas revisi proposal pemasaran untuk besok, aku udah kirim fail terbarunya ke email kamu sepuluh menit yang lalu.”
Suara di seberang sambungan telepon tidak langsung membalas. Hanya terdengar helaan napas halus dan teratur di balik derau angin tipis.
“Kamu sudah sampai rumah?” tanya Julian dari seberang sana.
Alena mengerutkan dahi, menjauhkan ponsel dari telinganya beberapa sentimeter untuk memastikan dirinya tidak salah melihat nama kontak, lalu menempelkannya kembali ke telinga.
“Kenapa tanya gitu?” tanya Alena dengan nada penuh kecurigaan.
“Tadi kamu kelihatan nggak sehat waktu keluar dari ruang rapat pagi tadi,” jawab Julian. Suaranya masih terdengar datar dan kaku, tetapi ketajaman pedas yang biasanya menyertai bicaranya mendadak lenyap. “Muka kamu pucat.”
Alena mendadak membeku di atas tempat tidurnya. Kalimat sederhana itu memukul habis rasa kesal yang dipendamnya seharian, menggantikannya dengan rasa bingung yang amat sangat.
“Aku… aku cuma agak capek aja,” bisik Alena pelan, suaranya kehilangan taringnya.
“Sudah. Istirahat,” potong Julian cepat.
Klik.
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh pria itu. Alena menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan mulut sedikit terbuka. Bukankah pria itu sangat membencinya? Kenapa dia harus membuang waktu dan repot-repot menelpon malam-malam hanya untuk menanyakan hal seperti itu?
Dua hari kemudian, kepala divisi menugaskan Alena untuk meninjau secara langsung lokasi pameran UMKM di area pegunungan luar kota. Masalah utamanya bukan pada jarak tempuh dua jam perjalanan tersebut, melainkan sosok pria yang ditunjuk kantor untuk mendampinginya.
“Kenapa harus pergi sama dia, sih?” protes Alena ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil operasional kantor. Dia menunjuk Julian yang baru saja memasukkan tas dokumen tebal ke kursi penumpang belakang.
Julian menutup pintu belakang dengan ketukan mantap, lalu berjalan mengitari kap mobil dan mengambil posisi di kursi pengemudi persis di sebelah Alena.
“Aku juga nggak senang,” jawab Julian dingin tanpa sudi menoleh. Dia menarik sabuk pengaman, menguncinya dengan sekali klik, dan langsung menyalakan mesin mobil.
Perjalanan dua jam menuju lokasi dipenuhi oleh suasana canggung dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang tak henti-hentinya meletus. Mulai dari pilihan stasiun radio yang dianggap Julian terlalu bising dan mengganggu konsentrasi berkendara, hingga rute jalan alternatif yang dipilah Alena yang dinilai Julian sangat tidak efisien.
Namun di tengah semua omelan itu, Alena mulai menangkap beberapa perubahan aneh pada sikap Julian.
Saat mereka berhenti di sebuah rest area di pertengahan jalan, Julian keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika pria itu kembali sepuluh menit kemudian, sebuah kantong plastik berisi roti gandum hangat dan satu kotak susu kedelai kesukaan Alena dilemparkan pelan ke pangkuan wanita itu.
“Makan. Jangan sampai maag kamu kumat di lokasi pameran,” ujar Julian singkat sambil kembali menginjak pedal gas dan memindahkan gigi mobil.
Alena menatap kantong plastik di pangkuannya. “Aku kan nggak ada minta beliin.”
“Kalau kamu sakit di sana, aku yang bakal repot ngurusinnya,” balas Julian ketus.
Saat tiba di lokasi pameran yang dipadati pengunjung dan lantainya licin akibat sisa hujan semalam, Alena yang sedang sibuk mencatat detail stan di papan kertas tidak memperhatikan langkah kakinya. Tumit sepatu hak tingginya tersangkut di celah keramik luar yang retak. Tubuhnya langsung limbung dan hilang keseimbangan ke arah belakang.
“Aah!” jerit Alena refleks.
Sebelum tubuhnya sempat menghantam lantai beton yang dingin, sebuah lengan yang terasa sangat kokoh melingkar cepat di pinggangnya, menahan seluruh bobot tubuhnya dengan mantap. Alena mendongak dengan napas memburu. Wajah Julian hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Mata kelabu pria itu menatapnya tajam, napas hangatnya berhembus menempel di dahi Alena.
“Kamu kalau jalan bisa lihat ke depan nggak, sih?” bisik Julian. Tangannya tidak langsung melepaskan pinggang Alena, malah menahannya beberapa detik lebih lama untuk memastikan posisi berdiri wanita itu benar-benar stabil.
“A-aku nggak sengaja… tadi keramiknya retak,” gagap Alena. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tidak wajar, berpalu keras di dalam rongga dadanya.
Saat sore hari menjelang dan angin pegunungan yang menusuk tulang mulai bertiup kencang membawakan hawa dingin, Alena menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil menggigil halus. Dia lupa membawa jaket tebal dari rumah.
Tiba-tiba, sebuah beban yang hangat dan berat mendarat di atas bahunya. Jas hitam milik Julian sudah berpindah menutupi tubuh Alena, membawakan aroma parfum woody dan tembakau halus yang sangat khas milik pria itu.
“Pakai,” perintah Julian tanpa memandangnya. Pria itu kini hanya mengenakan kemeja putihnya yang lengan bajunya sudah digulung kaku hingga ke siku.
Alena memegang kerah jas tebal itu. “Kamu sendiri gimana? Nanti bisa kedinginan.”
“Jangan salah paham,” potong Julian cepat dengan nada ketus yang kembali dipasangnya. “Aku cuma nggak mau kamu bikin masalah baru dan malah kena flu esok hari.”
Alena menelan ludah pelan. Dia memperhatikan profil samping wajah Julian yang diterpa angin sore. Pria ini sangat aneh. Benar-benar sulit ditebak.
Pukul tujuh malam, perjalanan pulang mereka dihantam masalah besar. Hujan deras turun tanpa ampun, menyelimuti jalanan antarkota dengan jarak pandang yang sangat terbatas. Tiba-tiba, mesin mobil operasional yang mereka tumpangi batuk beberapa kali sebelum akhirnya mati total di tepi jalanan sepi yang dikelilingi pepohonan rindang.
“Kenapa mobilnya?” tanya Alena cemas sewaktu mobil meluncur pelan dan berhenti sempurna di bahu jalan.
“Mesinnya bermasalah,” gumam Julian setelah mencoba memutar kunci kontak beberapa kali tanpa hasil. Dia menghela napas panjang dan menatap keluar kaca. “Aku harus cek di luar.”
“Hujan deras banget, Julian! Kamu bisa basah kuyup!” cegah Alena sambil memegang kuat lengan kemeja Julian.
Julian menatap tangan Alena yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap mata wanita itu. “Kalau cuma diam di sini, kita nggak bakal bisa pulang malam ini.”
Pria itu melepaskan genggaman tangan Alena lalu nekat menerobos hujan deras tanpa payung. Alena memperhatikan dari dalam kaca mobil yang mulai berembun. Julian membuka kap mesin, berkutat dengan kabel dan komponen mesin di bawah guyuran air deras yang tak henti-hentinya menghantam tubuh tegapnya.
Setelah hampir lima belas menit berkutat dengan air hujan dan besi dingin, Julian kembali masuk ke dalam mobil. Rambut hitamnya basah kuyup, menempel di dahi dan pelipisnya. Kemeja putihnya kini basah menempel ketat di dada dan bahunya. Pria itu tampak menggigil pelan.
Alena yang melihat hal itu segera mengambil handuk kecil yang beruntung ada di dalam tas ranselnya. Tanpa berpikir panjang, dia mengulurkan tangan dan meletakkan handuk itu di atas kepala Julian, lalu menyapu sisa-sisa air di wajah, pipi, dan leher pria itu dengan kelembutan yang sangat tulus.
“Kamu bisa sakit kalau basah kuyup begini,” kata Alena pelan. Nadanya benar-benar tulus, tidak ada lagi sisa ketegangan atau amarah yang biasanya selalu mewarnai percakapan mereka.
Tangan Julian yang hendak menyalakan lampu darurat mendadak terhenti kaku di udara.
Pria itu berbalik perlahan, menatap Alena yang jaraknya sangat dekat dengannya. Matanya menelusuri wajah Alena yang tampak dipenuhi rasa khawatir yang nyata. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling kenal, tidak ada guratan kritik, ketajaman, atau benteng pertahanan di wajah Julian. Ruang sempit di dalam mobil itu mendadak diisi oleh keheningan yang amat intim di tengah suara gemuruh hujan deras di luar.
Julian menatap mata Alena dalam-dalam. Bibirnya bergerak perlahan, menyuarakan kalimat yang terucap sangat pelan namun bergema dahsyat di dalam dada Alena:
“Kamu ternyata bisa khawatir juga sama aku.”
Alena membeku di tempatnya. Tangannya yang masih memegang handuk di leher Julian mendadak kaku. Dan entah kenapa, tatapan mata pria itu serta kalimat sederhananya berhasil membuat jantung Alena berdebar begitu hebat hingga dadanya terasa sesak.
-BERSAMBUNG-