Aku Jatuh Cinta pada Pria yang Membenciku - Bab 3

  1. Home
  2. Aku Jatuh Cinta pada Pria yang Membenciku
  3. Bab 3 - Aku Tidak Pernah Membencimu
Prev
Novel Info

Keheningan yang melingkupi bagian dalam mobil Julian malam itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ketegangan kaku yang menyiksa, omelan pedas, ataupun aura permusuhan terselubung yang biasa menghiasi interaksi mereka. Yang tersisa hanyalah kehangatan emosional yang intens, menyelimuti kabin mobil yang terasa makin sempit di bawah sisa hujan gerimis yang menetes halus di kaca depan.

Julian mengantarkan Alena sampai tepat di depan pagar rumah wanita itu. Namun, ketika mesin mobil akhirnya dimatikan dan lampu utama redup, Alena tidak langsung bergerak turun. Jemari tangannya masih mencengkeram sabuk pengaman dengan erat. Dia menoleh sepenuhnya, menatap profil samping wajah Julian yang diterpa cahaya temaram lampu jalanan dari luar window.

“Aku mau penjelasan malam ini, Julian,” kata Alena tegas, tetapi suaranya diisi oleh getaran kelembutan yang sangat jelas. “Aku sudah capek terus-terusan menebak-nebak apa arti dari semua sikap, omelan, dan perlakuan kamu selama ini. Tadi malam kamu panik setengah mati nyari aku di jalanan sepi, kamu memelukku, kamu menatapku seolah-olah duniamu mau runtuh… tapi di kantor kamu selalu memperlakukan aku seperti musuh bebuyutan.”

Julian bersandar pada sandaran kursi pengemudi. Pria itu tidak langsung menjawab. Dia memandang lurus ke arah kaca depan yang dibasahi sisa-sisa air hujan, membiarkan keheningan menguasai ruangan selama beberapa menit yang terasa begitu panjang. Jemari Julian mengepal di atas lingkar kemudi, memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Dia menghembuskan napas panjang dan kasar lewat hidungnya, membuang pandangan ke luar jendela sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menoleh penuh menatap Alena.

“Kamu terlalu banyak berpikir, Alena,” sahut Julian mencoba menggunakan benteng pertahanan kaku lamanya. Namun kali ini, nada suaranya tidak lagi memiliki ketajaman, daya serang, atau kewibawaan dingin yang biasa dia agungkan.

“Jangan tunda atau ngeles lagi!” potong Alena cepat, tidak memberikan celah sedikit pun bagi pria itu untuk melarikan diri. “Kamu panik luar biasa waktu nungguin aku tadi. Kamu pegang tangan aku di bawah hujan dan nggak mau melepaskannya sama sekali. Jangan pernah coba-coba bilang kalau itu cuma respons profesional dari seorang teman atau rekan kerja kantor!”

Julian terdiam total. Rahangnya yang tegas berkerut halus sewaktu pria itu berusaha merangkai dan menata kata-kata terbaik yang selama ini terkunci rapat di dalam dadanya. Seluruh benteng pertahanan, harga diri, dan gengsi setinggi langit yang dibangunnya selama bertahun-tahun rasanya runtuh sepenuhnya malam ini di hadapan mata bening Alena.

“Aku nggak pernah membencimu, Alena,” aku Julian pelan. Kalimat itu keluar begitu jernih, mengikis habis sisa-sisa keraguan di udara.

Alena menahan napasnya seketika. Suara bariton Julian yang biasanya keras dan penuh nada menghakimi kini terdengar begitu polos, rapuh, dan sangat tulus.

“Justru sejak pertama kali kita ditugaskan dalam proyek yang sama tahun lalu…” lanjut Julian, matanya menatap Alena tanpa berkedip sedikit pun, “…kamu adalah satu-satunya orang yang paling cepat dan paling mudah mengganggu isi kepalaku.”

Alena mendengarkan setiap patah kata itu dengan seksama. Dadanya berdebar kencang saat melihat ketulusan yang dipancarkan dari sepasang mata kelabu pria di depannya.

“Masalah utamanya adalah… aku nggak pernah tahu bagaimana cara menunjukkan perhatian atau rasa peduli tanpa terdengar seperti mengkritik,” bisik Julian penuh kepasrahan. “Sejak kecil, aku dibiasakan untuk menuntut kesempurnaan pada diri sendiri dan orang-orang di sekitarku. Aku nggak terbiasa bersikap manis, bicara berbunga-bunga, atau mengekspresikan apa yang aku rasakan dengan lembut.”

Julian menghela napas panjang, menunduk menatap jemarinya sendiri sebelum kembali memandang Alena. “Setiap kali melihat kamu bekerja terlalu keras sampai lupa makan, setiap kali melihat kamu ceroboh dan mengambil risiko sendirian tanpa memikirkan keselamatan diri kamu… aku marah. Bukan marah karena aku benci sama kamu, Alena. Tapi aku marah karena aku takut sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, dan aku merasa nggak punya hak atau cara yang benar buat melindungi kamu.”

Air mata tipis mulai menggantung di sudut mata Alena. Segala rekaman kenangan tentang omelan pedas, teguran dingin, dan kritik tajam Julian selama berbulan-bulan ini berputar ulang di kepalanya—tetapi kini, seluruh kenangan pahit itu bertransformasi memiliki makna baru yang terasa sangat manis dan dalam.

“Tiap kali kamu pergi ke lokasi luar kota sendirian tanpa bilang-bilang…” Julian melanjutkan perkataannya dengan suara yang kian serak, “aku kesal setengah mati. Karena aku ingin selalu memastikan kamu aman. Dan setiap kali aku melihat kamu tertawa lepas dekat dengan pria lain… termasuk Bagas…”

Julian memutus kalimatnya sendiri. Dia membuang pandangannya ke samping, membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering.

Alena menatapnya rapat-rapat, memiringkan kepalanya sedikit untuk menangkap ekspresi Julian. “Kenapa kalau sama Mas Bagas?”

Julian kembali menoleh. Senyuman tipis—sebuah senyuman pasrah bercampur malu yang belum pernah Alena lihat sebelumnya—terukir halus di sudut bibir pria yang biasanya selalu cemberut itu.

“Karena aku cemburu,” kata Julian tanpa ada lagi rahasia yang disembunyikan. “Aku cemburu melihat kamu bisa tersenyum dan tertawa sebebas itu sama orang lain, sementara kalau di depanku kamu selalu memasang mode tempur dan penuh kewaspadaan.”

Alena terpaku. Rasa bahagia yang amat luar biasa membuncah hebat di dalam rongga dadanya, mengusir habis sisa-sisa rasa kesal yang tertahan selama bertahun-tahun.

“Sikap dingin dan galak aku selama ini…” aku Julian lagi dengan nada penyesalan yang jujur, “…sebenarnya cuma caraku buat menjaga jarak dari kamu. Aku takut sama perasaan ini, Alena. Perasaan ini tumbuh terlalu cepat dan terlalu besar sampai membuatku merasa tidak punya kendali atas diriku sendiri. Aku pikir kalau aku terus bersikap menyebalkan dan bikin kamu benci sama aku, kamu bakal menjauh, dan aku bisa kembali ke hidupku yang tenang dan terkontrol.”

Alena tersenyum manis, rasa geli bercampur haru menyelimuti seluruh jiwanya. “Terus? Rencana kamu itu berhasil?”

Julian menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum pasrah yang teramat tampan. “Nggak sama sekali. Rencanaku gagal total. Makin aku mencoba menjauh dan mengkritikmu, makin aku nggak bisa berpaling dari kamu.”

“Terus sekarang gimana?” goda Alena lagi, sengaja ingin mendengar pengakuan yang lebih jauh dari bibir pria kaku itu.

Julian meraih jemari tangan Alena yang tergeletak pasrah di atas pangkuannya. Jemari pria itu yang besar dan hangat menggenggam tangan Alena dengan sangat erat, lembut, dan protektif—seolah-olah menyatakan bahwa dia tidak akan pernah melepaskannya lagi.

“Aku malah jatuh cinta setengah mati sama kamu,” bisik Julian tegas, tanpa ada sedikit pun keraguan di dalam matanya.

Alena menatap tautan tangan mereka yang hangat, lalu mendongak menatap manik mata Julian yang kini dipenuhi rasa harap yang membuncah. Seluruh rasa takut, ragu, dan gengsi yang ada di dalam diri Alena ikut menguap sirna tanpa sisa.

“Jadi… selama ini kamu benar-benar tidak pernah membenciku sedikit pun?” tanya Alena, bibirnya melengkung membentuk senyuman menggoda yang ceria.

“Tidak pernah sekali pun dalam hidupku,” jawab Julian mantap. “Bahkan di saat aku paling galak mengkritik laporanmu, hatiku selalu berkata betapa mengagumkannya kamu.”

“Terus kenapa kita selalu adu mulut dan perang saraf setiap kali ketemu di kantor?”

Julian terkekeh pelan—sebuah suara renyah, hangat, dan lepas yang baru pertama kali mendobrak pendengaran Alena. Suara tawa yang terasa begitu merdu dan menggetarkan di telinganya.

“Karena kamu itu selalu berhasil membuatku kehilangan kesabaran dan kontrol diri dengan sikap spontanmu yang tidak terduga itu,” ujar Julian seraya mengusap lembut punggung tangan Alena dengan ibu jarinya.

Alena tertawa renyah, menepuk pelan lengan tegap Julian dengan tangannya yang bebas. “Berarti di mata kamu, aku ini masih cewek menyebalkan dan ceroboh?”

“Sangat,” sahut Julian cepat tanpa ragu. “Tapi menyebalkannya kamu itu yang selalu bikin hariku terasa berantakan, sepi, dan hampa kalau kamu nggak ada di sekitar aku.”

“Kamu juga pria paling menyebalkan dan paling gengsian yang pernah aku kenal,” balas Alena tidak mau kalah.

Julian mengangguk pelan menerima tuduhan itu. “Aku tahu. Aku memang buruk dalam hal ini.”

“Tapi…” Alena memiringkan kepalanya, menggenggam balik jemari Julian dengan erat dan mantap, “…aku juga sudah jatuh cinta sama pria paling menyebalkan ini.”

Mata kelabu Julian membelalak kaget mendengarkan pengakuan spontan yang keluar dari bibir Alena. Keheningan manis yang tiada taranya merayapi mereka berdua sebelum akhirnya Julian menarik lembut tubuh Alena mendekat, membawanya ke dalam pelukan hangat yang begitu protektif. Julian mendaratkan ciuman lembut di pelipis Alena, menghirup aroma harum rambut wanita itu dengan penuh rasa syukur.

“Terima kasih karena nggak menyerah menghadapi sikap burukku, Alena,” bisik Julian hangat di dekat telinga wanita itu.

—

Tiga bulan kemudian.

Atmosfer kerja di kantor pusat divisi pemasaran masih berjalan sibuk dan dinamis seperti biasa. Namun, ada perubahan besar yang sangat drastis dan menyedot perhatian seluruh staf kantor, terutama Tania dan Bagas yang selalu menjadi penonton setia dinamika hubungan dua manusia tersebut.

Alena sedang berdiri di depan mesin cetak besar di ujung lorong kantor, mencetak belasan eksemplar berkas presentasi untuk rapat evaluasi kuartal akhir. Karena terlalu terburu-buru merapikan hasil cetakan HVS yang tebal, beberapa lembar kertas terlepas dari genggamannya dan berserakan memenuhi lantai karpet abu-abu.

Alena tersenyum geli pada dirinya sendiri. Dia sengaja tidak langsung membungkuk untuk memungutnya, melainkan berdiri diam dan menunggu melirik sosok yang melangkah mendekat dari arah koridor utama.

Julian—yang kini mengenakan kemeja biru tua yang berpotongan sangat rapi—berhenti tepat di samping Alena. Pria itu melihat kertas-kertas yang berantakan di lantai, lalu mendongak menatap Alena yang sedang menatapnya dengan pandangan menantang penuh kejahilan.

“Julian, aku bikin masalah lagi nih,” goda Alena dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat. “Kertas proposalnya jatuh berserakan semua karena aku ceroboh.”

Julian menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, tetapi bukannya memasang wajah galak atau memberikan teguran pedas seperti dulu, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman hangat yang tidak lagi disembunyikan dari pandangan rekan-rekan kantor yang melintas.

Julian membungkuk dengan gerakan anggun, memungut setiap lembar kertas di lantai dengan ketelitian khasnya, merapikan tumpukan itu, lalu mengelompokkannya sesuai urutan halaman yang benar.

“Kamu memang nggak pernah berubah ya, selalu saja ceroboh kalau lagi terburu-buru,” komentar Julian seraya menyerahkan tumpukan kertas yang sudah rapi itu kembali ke dalam pelukan Alena.

Alena menerima tumpukan kertas tersebut, lalu mengambil satu langkah maju hingga jarak di antara tubuh mereka menjadi sangat rapat.

“Terus…” goda Alena seraya menatap manik mata pria itu, “…kamu masih mau bertahan dan pacaran sama cewek ceroboh dan menyebalkan kayak aku?”

Julian menatap dalam-dalam sepasang mata bening wanita di hadapannya. Pria kaku itu mengulurkan tangannya di depan umum, tanpa peduli pada tatapan ledek Tania dari kejauhan, lalu merapikan helai rambut Alena yang terlepas di samping telinganya dengan kelembutan yang amat hangat.

“Justru karena kamu nggak pernah berubah…” bisik Julian lembut dengan suara baritonnya yang dalam tepat di depan wajah Alena, “…aku selalu punya alasan untuk jatuh cinta lagi setiap hari.”

Alena tertawa bahagia, merasakan hangat yang mengalir penuh di dadanya. Pria yang selama bertahun-tahun dia kira sangat membencinya, pria yang selalu memicu perdebatan sengit di setiap rapat, ternyata adalah sosok yang diam-diam paling takut kehilangan dirinya dan paling tulus mencintainya.

Dan terkadang, dalam cerita kehidupan, orang yang paling sering beradu argumen dengan kita bukanlah orang yang benar-benar membenci kita. Bisa jadi, justru dialah satu-satunya orang yang paling peduli, paling protektif, dan paling takut kehilangan kita dari dunya.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta Perlahan, Dua Sifat Berlawanan, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita