Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya - Bab 5
Suasana pagi di lantai empat divisi pemasaran Maheswari Tower dibuka dengan aroma kopi yang menyengat dan hiruk-piruk persiapan peluncuran kampanye digital. Hari itu adalah tenggat waktu krusial. Lima ribu sampel produk kosmetik gelombang pertama harus diberangkatkan ke lima hub logistik regional sebelum pukul dua belas siang.
Alena berdiri di tengah area kerja dengan berkas pemantauan di tangannya. Senyum manisnya dipaksakan sehalus mungkin, menutup rapat kelelahan dan ganjalan emosi yang menumpuk sejak kemarin sore.
“Mas Dito, bagaimana konfirmasi dari vendor kemasan mikro di Bandung?” tanya Alena, suaranya lugas memecah dengung pendingin udara.
Dito yang sedang sibuk mengetik dengan dua jari langsung mendongak kaget. Ia buru-buru berdiri tegak. “S… Sudah aman, Bu Alena! Kurir khusus mereka sudah memberangkatkan paket kloter pertama pukul tujuh pagi tadi. Estimasi sampai di hub utama jam sebelas!”
“Bagus,” Alena mengangguk singkat. Matanya beralih ke kubikel sebelah. “Raka, bagaimana dengan integrasi data penerima sampel di platform online?”
Raka berdiri dari kursinya tanpa ketergesa-gesaan. Wajahnya tenang, ekspresinya dipasang sangat formal. “Semua data penerima lima ribu sampel sudah tervalidasi oleh sistem, Bu Alena. Kode voucer unik juga sudah dikirimkan via pesan otomatis ke masing-masing kreator mikro.”
Alena menatap Raka sejenak, mencari celah kehangatan yang dulu selalu menyapa matanya. Namun, yang ada hanya tatapan profesional seorang bawahan kepada atasannya.
“Terima kasih, Raka. Penangananmu sangat cepat,” tutur Alena pelan, menahan kebas di dadanya.
“Sudah menjadi bagian dari tanggung jawab saya, Bu,” jawab Raka singkat sebelum kembali duduk dan menatap layar komputernya.
“Raka, ikut saya ke ruang rapat kecil sebentar,” potong Alena tiba-tiba. “Ada perincian kontrak distribusi logistik lokal yang perlu kita periksa berdua.”
Raka sempat terdiam sejenak. Tangannya yang memegang tetikus membeku sekilas, namun ia mengangguk kaku. “Baik, Bu Alena. Saya bawakan dokumennya.”
—
Di dalam ruang rapat kecil berkaca buram, keheningan langsung menyergap saat pintu bergeser menutup. Suara bising dari luar mendadak diredam kedap.
Raka meletakkan map tebal di atas meja kayu. “Ini berkas kerja sama dengan lima hub logistik regional, Bu. Semua klausul ganti rugi jika terjadi keterlambatan pengiriman sudah saya masukkan.”
Alena tidak langsung melihat berkas itu. Ia berdiri di seberang meja, menyilangkan jemarinya rapat-rapat.
“Raka…” panggil Alena dengan nada bicara yang tak lagi bernuansa atasan. “Bisa kita bicara lima menit saja? Bukan sebagai Wakil Direktur Utama, bukan sebagai bawahan.”
Raka menundukkan pandangannya ke arah meja. “Ibu mau bicara soal apa lagi? Semua pekerjaan berjalan sesuai jadwal.”
“Soal kita, Raka,” potong Alena cepat. “Soal dinding tebal yang kamu bangun di antara kita sejak kemarin.”
Raka menghela napas panjang, mengusap tengkuknya dengan raut wajah lelah. “Bu Alena… tidak ada yang perlu dibahas lagi. Kita sudah sepakat untuk profesional di kantor ini.”
“Aku tidak pernah menyepakati hal itu!” tegas Alena, melangkah satu tapak mendekati meja. “Aku paham kamu marah karena aku tidak jujur di awal. Aku paham harga dirimu tersinggung. Tapi apakah sikap dinginmu ini tidak terlalu berlebihan, Raka? Kamu bahkan tidak mau menatap mataku saat bicara!”
Raka mendongak. Matanya memancarkan gejolak rasa sakit yang terpendam. “Berlebihan, Bu? Bagi Ibu mungkin ini hal kecil, cuma masalah kejujuran yang meleset sedikit. Tapi buat saya? Ini soal posisi saya di tempat ini!”
“Posisi apa maksudmu?” desak Alena.
“Semua orang di lantai ini mulai berbisik-bisik, Bu!” sentak Raka dengan suara tertahan. “Mereka bilang saya beruntung bisa dekat sama Ibu di hari pertama. Dito tadi pagi menyindir saya, bilang kalau proposal saya diterima cuma karena Ibu punya rasa kasihan sama saya! Ibu pikir saya nyaman dengar semua itu?!”
Alena tertegun. “Dito bilang begitu padamu?”
“Bukan cuma Dito, Bu! Semua orang di kantor ini selalu melihat hal dari sudut pandang intrik dan cari muka!” seru Raka, napasnya berembus kencang. “Saya merintis karier di perusahaan ini dari bawah dengan keringat saya sendiri. Saya tidak mau semua hasil kerja keras saya bertahun-tahun dihapuskan cuma karena orang-orang mengira saya memanfaatkan kebaikan seorang putri pemilik Maheswari Group!”
“Tapi aku tahu kapasitasmu, Raka!” pangkas Alena, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak pernah memandang idemu bagus karena rasa kasihan! Idemu memang tajam, solutif, dan jauh lebih masuk akal dibanding proposal Dito yang cuma buang-buang anggaran!”
“Tapi orang lain tidak akan melihatnya begitu, Alena!” panggil Raka tanpa sadar menyebut namanya langsung. Raka membeku sejenak, menyadari kekhilafannya, lalu memalingkan wajah. “Maaf… Bu Alena.”
Panggilan nama itu—meski terucap di tengah emosi—membuat dada Alena berdesir halus.
“Panggil aku Alena…” bisik Alena lirih. “Tolong… di ruangan ini saja, panggil aku Alena.”
Belum sempat Raka menjawab, pintu ruang rapat mendadak digedor keras dari luar.
*Brak! Brak!*
Pak Hendra mendorong pintu dengan raut wajah panik luar biasa. Peluh dingin membasahi pelipisnya.
“Bu Alena! Raka! Celaka!” seru Pak Hendra dengan suara melengking gugup.
Alena langsung menegakkan tubuhnya, kembali ke mode pimpinan. “Ada apa, Pak Hendra? Kenapa panik seperti itu?”
“Sistem server integrasi logistik kita kena *glitch* mendadak, Bu!” jawab Pak Hendra panik. “Empat ribu alamat pengiriman sampel untuk wilayah Surabaya dan Makassar tertukar kodenya di database pusat! Kalau tidak diperbaiki dalam waktu tiga puluh menit, seluruh sampel akan terkirim ke alamat yang salah!”
Mata Raka membelalak. “Apa?! Bagaimana bisa kodenya tertukar? Bukannya sistem validasinya sudah dikunci tadi pagi?!”
“Saya tidak tahu, Raka!” balas Pak Hendra menggebu-gebu. “Bagian IT bilang ada lonjakan lalu lintas data otomatis yang bikin skripnya galat! Kalau ini gagal, peluncuran kampanye nanti malam batal total!”
“Tenang semuanya. Jangan panik,” potong Alena tegas, suaranya tenang mengendalikan situasi. “Raka, kamu paham alur pemrograman basis datanya, kan?”
“Paham, Bu. Saya tahu struktur tabelnya,” sahut Raka cepat.
“Pak Hendra, kumpulkan Dito dan Siska di meja IT sekarang,” perintah Alena. “Kita selesaikan ini dalam waktu dua puluh menit.”
—
Area kerja IT di lantai tiga mendadak menjadi pusat ketegangan. Tiga teknisi IT sibuk mengetik barisan kode di monitor besar, sementara Dito berdiri mengacak-acak rambutnya frustrasi.
“Aduh! Bagaimana ini?!” ratap Dito panik. “Bisa hancur nama divisi kita di depan direksi! Ini pasti gara-gara sistem logistik lokal yang diusulkan Raka!”
“Jaga mulutmu, Dito!” tegur Raka tajam seraya menarik kursi di sebelah teknisi utama. “Masalahnya ada di sinkronisasi API basis data pusat, bukan di hub logistik lokal!”
“Sudah, jangan saling menyalahkan!” potong Alena keras, berdiri tepat di belakang kursi Raka. Aura otoritasnya memancar kuat hingga Dito langsung bungkam seketika. “Raka, berapa lama kamu butuh waktu buat override skrip kodenya secara manual?”
Raka menatap layar komputernya yang dipenuhi barisan kode error berwarna merah. “Kalau harus mengurutkan empat ribu baris data satu per satu, kita butuh waktu tiga jam. Tapi kalau kita pakai fungsi pemetaan ulang berbasis kueri condong berdasarkan indeks wilayah… saya bisa selesaikan dalam empat belas menit.”
“Kerjakan sekarang,” tegas Alena, meletakkan tangannya di sandaran kursi Raka. “Aku yang pegang kendali komunikasi dengan pihak hub logistik untuk menahan keberangkatan armada mereka.”
“Baik, Bu Alena!” sahut Raka mantap.
Jemari Raka langsung menari di atas papan ketik dengan kecepatan luar biasa. Suara ketukan tombol bertubi-tubi mengisi keheningan ruangan yang mencekat. Di sebelahnya, Alena menempelkan ponsel ke telinganya, berbicara dengan nada dingin dan penuh wibawa kepada para kepala bagian gudang pusat.
“Saya Alena Maheswari. Tahan seluruh armada truk di pintu keluar hub Surabaya dan Makassar sekarang juga,” perintah Alena tanpa bisa dibantah dari seberang telepon. “Penyesuaian manifes data akhir sedang diproses dalam sepuluh menit. Tidak ada satu pun paket yang boleh keluar sebelum instruksi saya.”
Dito dan Pak Hendra menelan ludah menyaksikan ketegasan Alena. Sifat manis dan lembut yang biasanya ditunjukkan Alena di kubikel kini berganti penuh dengan karisma seorang pimpinan tertinggi yang tak tergoyahkan.
“Tiga menit lagi…” gumam Raka dengan peluh menetes di dahinya. Matanya bergerak cepat memindai barisan logika kode di monitor.
Alena membungkukkan badannya sedikit, mendekatkan wajahnya ke dekat bahu Raka. “Kamu pasti bisa, Raka. Aku percaya sama kamu.”
Bisikan halus Alena tepat di samping telinganya membuat Raka merasakan aliran energi aneh yang membakar semangatnya. Jemarinya makin kencang menekan papan ketik.
“Satu baris lagi… dan… *ENTER*!” seru Raka.
Layar monitor yang tadinya dipenuhi peringatan merah mendadak berubah menjadi hijau terang. Indikator pemetaan status menunjukkan angka seratus persen tervalidasi.
“Sistem berhasil di-refresh! Data alamat empat ribu sampel sudah kembali normal dan tersinkronisasi!” teriak teknisi IT kegirangan.
Pak Hendra menghela napas lega seraya memegangi dadanya. “Puji Tuhan! Selamat! Kita selamat!”
Dito terduduk lemas di sofa dengan wajah pucat, tak sanggup berkata-kata lagi.
Alena menyunggingkan senyum lega yang sangat lepas. Tanpa sadar, dipicu oleh rasa gembira yang meluap, ia menggenggam erat bahu Raka. “Kerja yang sangat luar biasa, Raka! Kamu berhasil!”
Raka mendongak, menatap mata Alena yang berbinar terang tepat di atas wajahnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Raka bisa merasakan embusan napas lega Alena. Untuk sejenak, benteng dingin yang ia bangun seolah runtuh diterjang oleh getaran kekaguman dan kerinduan yang nyata.
“Kita berhasil, Alena…” bisik Raka polos, lupa menggunakan sebutan formalnya.
Alena tersenyum manis, membalas tatapan itu tanpa melepaskan genggamannya. “Iya. Kita berhasil.”
—
Pukul delapan malam, acara peluncuran kampanye digital secara virtual berjalan dengan sukses besar. Tagar produk kosmetik terbaru Maheswari Group menduduki urutan pertama tren media sosial. Lebih dari sepuluh ribu konversi penjualan tercatat dalam waktu tiga jam pertama.
Suasana lantai empat divisi pemasaran mendadak berubah menjadi pesta perayaan kecil-kecilan. Pak Hendra memesan puluhan kotak pizza dan minuman bersoda untuk seluruh staf yang bertahan lembur.
“Luar biasa! Target Kuartal Tiga kita tembus dalam satu malam!” seru Pak Hendra seraya mengangkat kaleng sodanya. “Terima kasih untuk kerja keras semuanya! Khususnya Bu Alena dan Raka!”
Seluruh staf bertepuk tangan riuh. Dito bahkan ikut bertepuk tangan pelan sambil menyunggingkan senyum canggung dari sudut ruangan.
Alena berdiri di dekat jendela besar, memegang cangkir kertas berisi air mineral. Matanya memperhatikan Raka yang sedang dikerumuni oleh beberapa staf muda yang memujinya atas aksi cepatnya menyelamatkan sistem tadi siang.
Raka tampak tersenyum tipis, menanggapi pujian teman-temannya dengan rendah hati. Namun, pandangan mata pria itu beberapa kali terlempar ke arah Alena yang berdiri sendirian di dekat jendela.
Setelah kerumunan staf mulai terurai untuk mengambil pizza, Raka melangkah perlahan mendekati Alena. Ia membawa sebuah cangkir kertas berisi teh hangat.
“Bu Alena…” sapa Raka pelan, berdiri di sampingnya dengan jarak setengah meter.
Alena menoleh, menyunggingkan senyum lembut. “Kerja bagus malam ini, Raka. Kamu pahlawan sesungguhnya untuk divisi ini.”
Raka menatap uap teh hangat yang membumbung dari cangkirnya. “Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak akan bisa fokus kalau Ibu tadi tidak memegang kendali komunikasi dengan pihak gudang.”
“Kita tim yang hebat, kan?” bisik Alena pelan, matanya menatap Raka penuh kehangatan.
Raka menghela napas halus. Sikap tenangnya malam ini terasa lebih hangat dibanding dua hari lalu. “Soal perkataan saya di ruang rapat tadi siang… saya minta maaf, Bu Alena.”
Alena mengerutkan alisnya. “Minta maaf untuk apa?”
“Saya terlalu terbawa emosi,” aku Raka tulus, akhirnya menatap mata Alena secara langsung. “Saya terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang lain sampai saya mengabaikan ketulusan Ibu. Tadi siang… waktu situasi krisis, Ibu benar-benar percaya sama kemampuan saya tanpa ragu sedikit pun.”
“Aku selalu percaya sama kamu, Raka,” sahut Alena mantap. “Sejak hari pertama kamu tersenyum dan menawarkan bantuan di koridor itu, aku tahu kamu pria yang jujur dan punya integritas.”
Raka tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang dilihat Alena setelah tiga hari yang menyiksa.
“Tapi batas itu tetap ada, kan, Alena?” tanya Raka pelan, suaranya terdengar pasrah namun dewasa. “Realitas bahwa kamu adalah pimpinan tertinggi di perusahaan ini tidak akan pernah berubah.”
“Batas itu cuma ada kalau kamu yang membuatnya, Raka,” balas Alena cepat. “Aku tidak pernah menaruh jarak di antara kita. Posisi Maheswari Group ini adalah tanggung jawab pekerjaanku, tapi hatiku… aku yang menentukan sendiri untuk siapa.”
Raka tertegun mendengar kalimat terus terang itu. Jantungnya berdegup kencang menahan getaran hebat di dadanya.
“Beri saya waktu, Alena,” tutur Raka pelan, matanya menatap Alena dalam-dalam. “Beri saya waktu untuk membuktikan pada diri saya sendiri… dan pada semua orang di gedung ini… bahwa saya pantas berdiri di sampingmu, bukan karena kasihan atau kebetulan, tapi karena kapasitas saya sebagai seorang pria.”
Alena merasakan kehangatan yang luar biasa merayapi dadanya. Senyumnya terkembang sangat indah, memancarkan pesona yang membuat Raka terpana sejenak.
“Aku akan tunggu, Raka,” janji Alena mantap. “Berapa pun lamanya, aku akan tunggu.”
Malam itu, di bawah temaram lampu kantor dan gemerlap lampu kota Jakarta di balik jendela kaca lantai empat, tembok pemisah di antara mereka belum sepenuhnya runtuh. Namun, fondasi baru yang jauh lebih kokoh telah terbangun—sebuah janji tak terucap antara dua insan yang saling menghargai batas, namun menolak untuk menyerah pada jarak.
BERSAMBUNG
—
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Apakah Raka sanggup membuktikan kapasitasnya dan berdiri sejajar di samping Alena?
Bagaimana kelanjutan kisah mereka saat pelantikan resmi Alena digelar minggu depan?
Tulis pendapat kalian di kolom komentar dan jangan lupa ketik “LANJUT” untuk bab berikutnya!
#RuanganCerita