Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya - Bab 4

  1. Home
  2. Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya
  3. Bab 4 - Jarak yang Makin Melebarkan Senyap
Prev
Next

Pagi itu, suasana di lantai empat divisi pemasaran Maheswari Tower terasa sangat berbeda dari biasanya. Dinding penyekat kubikel yang tadinya dipenuhi canda tawa santai dan suara keluhan pekerjaan kini diselimuti ketegangan yang kaku.

Alena melangkah masuk dari pintu kaca dengan pakaian yang sedikit berbeda dari minggu lalu. Meski tetap tampil sederhana tanpa perhiasan mencolok, blazer warna biru dongker buatan penjahit langganan keluarganya membalut tubuhnya dengan sangat pas. Langkah kakinya tenang, memancarkan aura kepemimpinan yang tak bisa lagi ia tutupi.

Saat Alena melintasi lorong, beberapa karyawan senior langsung berdiri tegap dari kursi mereka.

“Selamat pagi, Bu Alena,” sapa Pak Hendra buru-buru sambil menundukkan kepala sangat dalam.

“Pagi, Pak Hendra. Tolong santai saja, tidak perlu berdiri seperti itu,” sahut Alena dengan senyum ramah, mencoba mencairkan suasana.

Dito Wirawan yang duduk tidak jauh dari sana seketika meloncat dari kursinya. Muka pria itu masih menyisakan rona pucat kecemasan. Tangannya memegang dua buah map tebal dengan jemari yang tremor tipis.

“S… Selamat pagi, Bu Alena!” seru Dito dengan suara melengking panik. “Draf revisi proyek omnichannel sudah saya lengkapi sesuai arahan Ibu kemarin sore! Mau saya antarkan ke lantai atas sekarang, Bu?”

Alena menghentikan langkahnya di depan kubikel Dito. Ia menatap pria itu dengan pandangan tenang tanpa rasa dendam. “Terima kasih, Mas Dito. Letakkan saja di meja saya di sebelah Raka. Hari ini saya akan tetap berkantor di lantai ini untuk memantau persiapan eksekusi proyek.”

“B… Baik, Bu! Segera saya siapkan kopi hangat untuk Ibu! Ibu mau kopi jenis apa? Arabika? Robusta? Atau mau diseduhkan dari kafe ternama di lantai dasar?” tawar Dito beruntun, berusaha setengah mati untuk mengambil hati sang putri pemilik perusahaan.

“Tidak usah, Mas Dito. Air putih saja cukup. Terima kasih,” tolak Alena halus.

Alena lalu berjalan menuju kubikel kerjanya. Di sana, Raka Pradipta sudah duduk menghadap layar monitor. Kemeja putih polosnya tergulung hingga siku, matanya terfokus pada barisan angka di lembar kerja tanpa memalingkan wajah sedikit pun saat Alena mendekat.

“Selamat pagi, Raka,” sapa Alena lembut seraya menarik kursi kerjanya.

Raka membeku sejenak. Jemarinya yang menari di atas papan ketik terhenti, lalu ia berdiri secara formal dari kursinya dan membungkuk kecil.

“Selamat pagi, Bu Alena,” jawab Raka dengan nada suara yang sangat datar, formal, dan tanpa emosi.

Alena menghela napas pelan. Hatinya mencubit perih melihat perubahan sikap Raka yang begitu drastis. “Raka, aku kan sudah bilang kemarin. Kalau cuma di antara kita di meja ini, panggil aku Alena saja.”

“Maaf, Bu Alena,” pangkas Raka tegas, matanya menatap lurus ke arah pembatas meja tanpa berani menatap mata Alena. “Aturan perusahaan harus tetap ditegakkan. Tidak etis bagi seorang staf biasa seperti saya memanggil nama depan pimpinan tertinggi.”

“Raka, tolong jangan seperti ini…” mohon Alena setengah berbisik agar tidak terdengar karyawan lain. “Kita kan satu tim dalam proyek ini.”

“Bener sekali, Bu. Sebagai bawahan dalam tim ini, saya siap menjalankan semua perintah dan arahan strategis dari Ibu,” potong Raka dingin, lalu kembali duduk dan menatap layar komputernya. “Ini berkas pemetaan segmen pengguna mikro yang Ibu minta kemarin. Sudah saya sesuaikan dengan indikator kuantitatif.”

Raka menyodorkan sebuah folder tebal tanpa menyentuh jemari Alena sedikit pun. Gerakan refleks Raka yang menarik tangannya dengan cepat saat kulit mereka hampir bersentuhan membuat Alena merasa makin terlempar jauh.

Alena menerima folder itu dengan tenggorokan yang terasa tersekat. “Terima kasih, Raka…”

Pukul sebelas siang, rapat teknis persiapan peluncuran kampanye digital dimulai di ruang rapat kecil divisi pemasaran. Hanya ada lima orang di dalam ruangan: Alena, Raka, Dito, Pak Hendra, dan seorang staf kreatif bernama Siska.

Dito dengan semangat membara menyajikan presentasi di depan layar. “Jadi, Bu Alena, sesuai dengan ide jenius dari Ibu kemarin, kita sudah mengontak lima komunitas kreator mikro di lima kota besar. Respon mereka sangat positif! Kita bisa menghemat anggaran promosi hingga tiga puluh lima persen!”

Alena mengangguk-angguk kecil menyimak penjelasan Dito. “Bagus, Mas Dito. Perhitungannya sudah presisi. Tapi bagaimana dengan alur distribusi sampel produknya? Apakah bagian logistik sanggup mengirimkan sepuluh ribu sampel dalam waktu tiga hari?”

Dito mendadak tertagap. “Er… soal logistik… kami belum konfirmasi ulang dengan pihak pergudangan pusat, Bu.”

“Izin menyampaikan pendapat, Bu Alena,” potong Raka, mengangkat tangannya secara sopan.

Alena langsung menoleh ke arah Raka dengan binar mata mengharap. “Silakan, Raka.”

“Untuk alur distribusi sampel, kita tidak bisa mengandalkan kurir reguler pergudangan pusat karena ada hambatan prosedur administrasi minimum dua hari,” jelas Raka dengan tenang dan lugas. “Saya sudah membuat draf kerja sama dengan jaringan hub logistik lokal di tiap kota target. Jika kita memanfaatkan titik distribusi darurat mereka, sampel akan sampai ke tangan para kreator mikro dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.”

Alena tersenyum tipis. Analisis Raka selalu tajam, praktis, dan menyasar pada solusi lapangan yang nyata. “Ide yang sangat solutif, Raka. Tolong langsung eksekusi rencana itu dan koordinasikan dengan tim logistik lokal.”

“Baik, Bu Alena. Segera saya selesaikan draf kesepakatannya sore ini,” jawab Raka singkat, lalu kembali menunduk mencatat di bukunya.

“Kerja bagus, Raka,” puji Alena tulus.

Namun, Raka tidak membalas pujian itu dengan senyuman hangat seperti yang biasanya ia lakukan. Pria itu hanya mengangguk kaku. “Sudah menjadi kewajiban saya sebagai staf, Bu.”

Jawaban kaku Raka membuat suasana di dalam ruang rapat kembali mendingin. Dito dan Pak Hendra saling bertukar pandang penuh tanya, merasakan atmosfer aneh yang membentang di antara Raka dan sang pimpinan baru.

Jam menunjukkan pukul satu siang. Suasana lantai empat mulai sepi karena sebagian besar karyawan turun ke basement atau keluar gedung untuk makan siang.

Alena melihat Raka membereskan dompet dan ponselnya dari atas meja.

“Raka,” panggil Alena cepat sebelum pria itu sempat melangkah pergi.

Raka menghentikan gerakannya. “Iya, Bu Alena? Ada tugas tambahan yang harus saya selesaikan sebelum jam makan siang?”

Alena berdiri dari kursinya, menatap Raka dengan pandangan penuh rasa bersalah yang tak tertahankan. “Kamu mau makan siang di mana?”

“Saya mau ke kantin basement, Bu,” jawab Raka datar.

“Boleh aku ikut?” tanya Alena pelan, matanya menatap Raka memohon. “Satu kali ini saja, Raka. Kita makan mie ayam seperti kemarin.”

Raka diam sejenak. Tatapan matanya berguncang halus, namun dengan cepat ia melapisi kembali raut wajahnya dengan kebekuan yang dingin.

“Maaf, Bu Alena,” tolak Raka pelan namun menohok. “Tempat makan di basement itu sangat kotor, berisik, dan tidak pantas untuk posisi Ibu sekarang. Kalau Ibu mau makan siang, di lantai paling atas ada restoran eksekutif yang disiapkan khusus untuk jajaran direksi.”

“Aku tidak peduli dengan restoran eksekutif itu, Raka!” seru Alena, tak sanggup lagi menahan gejolak emosinya. “Aku cuma mau makan mie ayam sama kamu! Seperti teman!”

“Tapi kita bukan teman, Bu Alena,” potong Raka lurus, tatapan matanya menusuk tepat di dada Alena. “Teman tidak saling menyembunyikan identitas besar selama seminggu. Teman tidak bersandiwara seolah-olah hidup mereka sama-sama sulit. Kita ini cuma pimpinan dan staf.”

Air mata Alena kembali menggenang di pelupuk matanya. “Raka… berapa kali aku harus minta maaf? Aku sungguh-sungguh penyesal karena tidak jujur dari awal. Tapi apakah penyamaranku itu menutup semua kebersamaan kita kemarin? Apakah kamu sama sekali tidak bisa melihatku sebagai Alena yang biasa?”

Raka mengepalkan tangannya di balik saku celana. Ada rasa sakit yang teramat sangat melihat wanita di hadapannya meneteskan air mata. Jemarinya dorong untuk merengkuh dan mengusap air mata itu, namun benteng harga dirinya membentak keras.

“Masalahnya bukan cuma soal kejujuran, Bu Alena,” kata Raka dengan suara bergetar menahan gejolak di dadanya. “Masalah utamanya adalah kenyataan. Dunia Ibu dan dunia saya itu sangat jauh berbeda. Di dunia Ibu, keputusan miliaran rupiah diambil dalam hitungan menit di atas meja rapat yang megah. Di dunia saya, keterlambatan bonus bulanan bisa bikin pusing untuk bayar sewa kontrakan.”

“Aku tidak pernah peduli soal perbedaan itu, Raka!” tegask Alena, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

“Tapi saya peduli, Bu!” balas Raka dengan napas tersengal pelan. “Saya punya harga diri sebagai seorang pria. Saya tidak mau orang-orang di kantor ini berpikir kalau saya mendekati Ibu cuma karena tahu Ibu itu anak pemilik Maheswari Group. Saya tidak mau jadi bahan gunjingan sebagai pria pemanfaat yang cari muka di depan pimpinan!”

Alena tertegun. Ia tidak pernah memikirkan sudut pandang itu. Dalam keinginannya untuk dicintai dan dihargai secara tulus tanpa embel-embel harta, ia lupa bahwa kejujurannya yang tertunda telah menghantam harga diri seorang pria jujur dan mandiri seperti Raka.

“Raka… aku tidak pernah berpikir seperti itu tentangmu…” bisik Alena lirih.

“Saya tahu Ibu tidak berpikir begitu,” sahut Raka pelan, suaranya melunak sedikit meski jarak di antara mereka tetap terasa begitu lebar. “Tapi dunia di luar sana kejam, Bu. Orang-orang seperti Mas Dito dan yang lainnya akan selalu menilai segala sesuatunya dari sudut pandang negatif. Saya cuma ingin bekerja dengan tenang dan profesional di tempat ini.”

Raka membungkukkan badannya sedikit. “Permisi, Bu Alena. Saya mau makan siang dulu.”

Tanpa menunggu jawaban Alena lagi, Raka berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor, meninggalkan Alena yang berdiri lemas di tengah keheningan kubikel yang hampa.

Sore harinya, hujan deras mengguyur kawasan bisnis terpadu. Gemuruh petir sesekali bersahutan di balik awan hitam yang menyelimuti puncak Maheswari Tower.

Pukul lima lewat tiga puluh menit, jam kerja telah usai. Sebagian besar staf divisi pemasaran telah merapikan meja dan bersiap untuk pulang.

Alena duduk sendirian di mejanya, memandangi berkas laporan yang tak satu pun kalimatnya berhasil ia cerna sejak siang tadi. Pikirannya benar-benar kacau. Di sebelah kirinya, meja Raka sudah bersih dan rapi. Pria itu telah pulang sepuluh menit yang lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun darinya.

Ponsel di atas meja Alena bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari ayahnya:

[Alena, Ayah sudah di basement. Sopir sudah menyiapkan mobil untuk menjemputmu. Kita makan malam bersama keluarga besar malam ini ya.]

Alena memandangi layar ponselnya dengan tatapan hampa, lalu mengetik balasan singkat:

[Iya, Ayah. Alena turun sekarang.]

Alena merapikan tasnya, memakai blazernya, dan berjalan menuju lift khusus eksekutif yang berada di ujung koridor. Saat pintu lift emas terbuka, ia melangkah masuk dan menatap bayangan dirinya di cermin kaca lift yang mengilap.

Riasan tipis di wajahnya tak mampu menutupi lingkaran hitam dan guratan kesedihan di matanya. Pakaian mahal yang kini melekat di tubuhnya terasa begitu berat, seolah menjadi beban yang memisahkan dirinya dari kebahagiaan sederhana yang sempat ia rasakan selama seminggu terakhir.

Apakah ini harga yang harus kubayar untuk sebuah posisi? batin Alena pahit.

Saat lift bergerak turun menuju lantai dasar, Alena memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tahu, tugas dasarnya di perusahaan kini telah dimulai. Ia harus memimpin ribuan karyawan dan membawa Maheswari Group menuju masa depan yang lebih besar. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah ruang kosong yang kini hampa—ruang yang tadinya diisi oleh hangatnya senyuman seorang pria bernama Raka Pradipta.

Dan Alena bertekad, dengan cara apa pun, ia tidak akan membiarkan dinding pemisah itu mengunci hatinya selamanya.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Apakah Alena sanggup meruntuhkan tembok harga diri Raka?
Ataukah hubungan mereka akan berakhir sebatas pimpinan dan bawahan?

Prev
Next
Tags:
Cinta di Kantor, Free Novel, Identitas Rahasia, Wanita Kaya & Pria Sederhana
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita