Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya - Bab 3

  1. Home
  2. Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya
  3. Bab 3 - Kamu Sebenarnya Siapa?
Prev
Next

Keheningan yang mencekat di dalam ruang rapat utama lantai empat terasa kian menghimpit. Keheningan yang begitu pekat hingga detak jarum jam dinding dan suara helaan napas tergesa dari belasan staf senior terdengar membentur dinding kaca.

Surya Mahendra masih berdiri tegap di tengah ruangan. Tatapannya yang penuh penghormatan tertuju lurus pada Alena Maheswari, sama sekali tidak memedulikan tatapan tak percaya dari puluhan pasang mata di sekeliling mereka.

“Pak Surya…” bisik Pak Hendra, suaranya gemetar hebat bagai daun kering tertiup angin. “Maaf… Bapak tadi memanggil Alena dengan sebutan… Bu Alena?”

Surya menoleh sekilas, menatap Pak Hendra dengan dingin. “Ya. Pemegang saham mayoritas sekaligus calon penerus tunggal Maheswari Holdings. Apakah ada yang salah dengan pendengaran Anda, Pak Hendra?”

Kata-kata itu menghantam ruangan bagaikan petir di siang bolong.

Dito Wirawan mundur setengah langkah hingga punggungnya membentur papan tulis putih. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak lemas. Lidahnya kufur kata, rahangnya terkunci rapat. Wajah klimis yang beberapa menit lalu dipenuhi kesombongan kini pucat pasi bagai mayat. Bayangan setiap ejekan, setiap perintah bernada meremehkan, dan perlakuan kasar yang ia lontarkan kepada Alena selama seminggu terakhir mendadak berputar kencang di kepala Dito, mencekik lehernya hingga sulit bernapas.

“Bu… Bu Alena Maheswari?” cicit Dito dengan suara pecah yang hampir tak terdengar.

Alena memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Rencana penyamaran yang ia susun rapi bersama ayahnya harus runtuh lebih cepat dari perkiraan. Namun, nasi telah menjadi bubur. Ia menatap Surya dengan raut wajah tegas yang tak lagi disembunyikan.

“Pak Surya,” panggil Alena, suaranya tenang, dalam, dan penuh kendali—suara khas seorang pimpinan yang sesungguhnya. “Bisa tolong minta sekretaris membawa dokumen keputusan investasi itu ke ruangan Anda? Saya akan meninjaunya sepuluh menit lagi.”

“Baik, Bu Alena,” jawab Surya penuh kepatuhan. “Dokumennya sudah siap di meja kerja Anda.”

Alena lalu memalingkan wajahnya ke arah seluruh staf divisi pemasaran yang masih mematung bagai patung garam. Pandangannya berhenti sejenak pada Dito.

“Mas Dito,” panggil Alena pelan.

Dito gemetaran hebat, buru-buru membungkukkan badannya hampir sembilan puluh derajat. “I… Iya, Bu Alena! Maafkan saya! Demi Tuhan, saya tidak tahu kalau Ibu—”

“Soal skema omnichannel berbasis aliansi strategis yang saya bicarakan tadi,” potong Alena dingin tanpa mau mendengar ratapan ketakutan Dito. “Tolong rapikan drafnya bersama Pak Hendra. Masukkan perincian alokasi biaya konversi langsung yang saya jelaskan. Saya ingin draf finalnya ada di meja saya jam empat sore ini. Paham?”

“Pa… Paham, Bu! Sangat paham! Segera saya kerjakan sekarang juga, Bu!” seru Dito panik, menyapu keringat dingin yang mengucur deras di dahinya.

Alena tidak membalas lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke samping kanan, menatap sosok pria yang sejak tadi berdiri membisu tanpa suara.

Raka Pradipta.

Pria itu masih berdiri kaku di samping kubikel rapat. Matanya yang biasa memancarkan kehangatan kini tampak begitu redup, dipenuhi selapis keterkejutan, rasa asing, dan kekecewaan yang teramat mendalam. Tatapan mata Raka yang menghujat secara diam-diam itu membuat dada Alena terasa bagai dihantam batu besar.

“Raka…” panggil Alena lembut, melangkah mendekatinya. “Bisa kita bicara sebentar?”

Raka menatap Alena—atau lebih tepatnya, menatap wanita asing yang mengenakan nama Alena Maheswari. Pria itu menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu, lalu menundukkan kepalanya secara formal.

“Bisa, Bu Alena,” jawab Raka dingin. Suaranya datar, tanpa ada lagi kehangatan “Mas Raka” atau candaan santai yang biasa mewarnai hari-hari mereka.

“Ikut aku ke taman atap lantai lima,” tutur Alena pelan sebelum memutar tubuhnya dan melangkah keluar ruangan, diikuti oleh Surya dan para sekretarisnya.

Rintik angin sore berembus pelan di taman atap lantai lima Maheswari Tower. Tanaman hijau yang tertata rapi dan gemericik air mancur buatan tak sanggup mencairkan kekakuan yang terbentang di antara dua insan yang berdiri berseberangan di dekat pagar pembatas.

Alena menyandarkan telapak tangannya di besi pembatas, menatap lanskap gedung-gedung tinggi di bawah sana. Di sampingnya, Raka berdiri dengan jarak dua langkah, bersedekah tangan sambil menatap lurus ke depan.

“Kamu mau menjelaskan apa, Bu Alena?” buka Raka memulai percakapan. Suaranya terdengar sangat resmi, membentangkan benteng tinggi yang begitu tebal.

Alena menoleh, menatap wajah Raka dari samping. “Jangan panggil aku ‘Bu Alena’, Raka. Panggil aku Alena seperti biasa. Tolong.”

Raka tersenyum tipis—sebuah senyuman asing yang hambar dan penuh kepahitan. “Bagaimana bisa saya memanggil nama seperti itu kepada pemilik gedung ini? Saya cuma karyawan biasa di divisi pemasaran, Bu. Gaji saya sebulan bahkan mungkin tidak cukup untuk membeli tas yang biasa dipakai keluarga Ibu.”

“Raka, stop!” cegat Alena dengan nada memohon. “Kenapa kamu harus bicara seperti itu? Aku tetap Alena yang sama dengan Alena yang duduk di sebelahmu selama seminggu ini!”

“Alena yang duduk di sebelah saya seminggu ini adalah seorang karyawan baru yang polos, yang bingung cari ruang rapat, dan suka makan mie ayam di kantin basement!” sentak Raka, suaranya naik satu oktav meski ia berusaha menahannya. Ia menoleh menatap mata Alena lurus-lurus. “Bukan pemilik saham terbesar yang bisa memecat atau mengubah nasib orang cuma dengan satu kali jepretan jari!”

“Aku tidak pernah memecat orang sembarangan!” balas Alena membela diri.

“Tapi kamu berbohong!” tembak Raka tepat di sasaran.

Kata-kata itu terlempar kencang di udara. Alena tertegun membeku.

“Aku… aku tidak berbohong, Raka,” bisik Alena dengan suara yang mulai bergetar. “Aku tidak pernah sekalipun mengarang cerita palsu padamu.”

“Kamu tidak berbohong?” Raka tertawa sinis, menggelengkan kepalanya tak percaya. “Selama seminggu ini, aku mengajari kamu cara pakai sistem kantor. Aku membagikan tips kerja. Aku menraktir kamu makan siang karena aku pikir kamu karyawan baru yang gajinya pas-pasan dan butuh bantuan untuk beradaptasi di kota ini! Dan ternyata? Kamu cuma sedang menonton pertunjukan komedi, kan?”

“Raka, demi Tuhan, bukan begitu!” pekik Alena, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia melangkah satu tapak mendekati Raka. “Aku tidak pernah tertawa di atas kebaikanmu! Setiap kata, setiap bantuan, dan setiap momen yang kita lewati di kantin itu… semuanya tulus buat aku!”

“Tulus dari sudut pandang siapa, Alena?” desak Raka dengan raut wajah terluka. “Dari sudut pandang putri konglomerat yang sedang menyamar jadi rakyat jelata buat tes kejujuran orang-orang? Kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku sekarang? Aku merasa seperti orang bodoh!”

“Aku sengaja menyembunyikan identitasku karena aku punya alasan!” seru Alena, berusaha menjelaskan. “Sejak kecil, orang-orang mendekatiku cuma karena nama keluargaku. Mereka tersenyum padaku karena uang ayahku. Aku cuma ingin tahu… bagaimana rasanya diperlakukan sebagai manusia biasa tanpa ada embel-embel Maheswari di belakang namaku!”

“Dan kamu menjadikan aku sebagai kelinci percobaannya?” potong Raka tajam.

“Tidak! Kamu beda, Raka!” pangkas Alena cepat. Tangannya terulur ingin menyentuh lengan kemeja Raka, namun pria itu dengan cepat melangkah mundur, menolak sentuhannya.

Jarak fisik yang diciptakan Raka terasa lebih menyakitkan daripada bentakan Dito di ruang rapat tadi.

“Raka… tolong dengarkan aku dulu,” cicit Alena, air matanya akhirnya menetes menembus pipinya. “Aku mengakui aku salah karena tidak jujur padamu lebih cepat. Aku salah karena membiarkan penyamaran ini berjalan terlalu jauh. Tapi perasaan nyamanku saat bersamamu… ketulusan yang kurasakan saat bicara denganmu… itu bukan bohong, Raka.”

Raka memejamkan matanya erat-erat. Ada gejolak emosi yang sangat hebat membakar dadanya. Di satu sisi, ia menyukai Alena—wanita yang rendah hati, cerdas, dan hangat yang mencuri hatinya dalam hitungan hari. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa wanita itu berada di strata sosial yang tak tersentuh membuat ego dan harga dirinya sebagai pria sederhana merasa hancur berkeping-keping.

“Kamu tidak salah kalau ingin menguji lingkungan kerjamu, Bu Alena,” kata Raka pelan, kini suaranya kembali datar dan dingin. “Tapi cara kamu melakukannya sudah membuat batas yang sangat jelas di antara kita.”

“Batas apa maksudmu?” tanya Alena terisak.

“Batas antara atasan dan bawahan,” jawab Raka mantap. “Antara pemilik perusahaan dan buruh harian.”

“Raka, aku tidak pernah memandangmu sebagai buruh!” seru Alena frustrasi.

“Tapi itulah kenyataannya!” pangkas Raka tegas. Pria itu merapikan kerah kemeja birunya, lalu menatap Alena dengan pandangan penuh jarak. “Mulai hari ini, mari kita profesional. Ibu adalah pimpinan saya, dan saya adalah karyawan Ibu di divisi pemasaran. Tidak ada lagi obrolan mie ayam kantin, tidak ada lagi cerita personal.”

“Raka, jangan seperti ini…” mohon Alena.

“Permisi, Bu Alena. Saya harus kembali ke kubikel untuk menyelesaikan tugas draf proyek,” pamit Raka tanpa menunggu balasan.

Pria itu memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan taman atap dengan langkah kaki yang kaku dan berat.

Alena berdiri mematung sendirian di bawah naungan angin sore yang kian dingin. Ia mencengkeram besi pembatas taman rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Kemenangan atas Dito dan pengakuan posisinya di perusahaan terasa begitu hampa, tak sebanding dengan rasa kehilangan yang kini meremukkan dadanya.

Keesokan harinya, perubahan besar terjadi di Maheswari Tower.

Ruang kerja mewah di lantai tertinggi yang tadinya kosong kini resmi ditempati oleh Alena Maheswari. Plang nama bernuansa emas bertuliskan Alena Maheswari – Wakil Direktur Utama & Komisaris Utama terpasang anggun di depan pintu kaca tebal.

Surya Mahendra berdiri di depan meja kerja Alena, meletakkan berkas penyesuaian struktur organisasi.

“Bu Alena,” buka Surya penuh keseriusan. “Sesuai kesepakatan dengan Ayah Anda, pelantikan resmi Anda di hadapan para pemegang saham akan digelar akhir bulan ini. Untuk saat ini, Anda sudah punya kewenangan penuh mengambil alih seluruh fungsi manajemen.”

Alena menatap lembaran dokumen di atas mejanya tanpa minat. Pandangannya kosong, pikirannya masih tertinggal di kubikel kecil lantai empat.

“Pak Surya,” panggil Alena pelan.

“Iya, Bu?”

“Apakah saya harus pindah penuh ke ruangan ini?” tanya Alena.

Surya mengerutkan dahi heran. “Tentu saja, Bu. Ini ruangan kerja resmi Anda. Jabatan Anda menuntut fasilitas dan kerahasiaan tingkat tinggi.”

Alena menggelengkan kepalanya perlahan. “Saya tidak ingin dinilai hanya karena jabatan ini, Pak Surya. Saya bersedia memegang tanggung jawab manajemen, tapi saya tidak mau langsung menduduki kursi ini tanpa membuktikan kemampuan saya yang sebenarnya di lapangan.”

“Maksud Bu Alena bagaimana?” desak Surya bingung.

“Saya ingin tetap mengawasi dan mengerjakan proyek ekspansi pemasaran kuartal tiga ini secara langsung bersama tim lantai empat,” tegas Alena, matanya memancarkan ketetapan hati yang tak bisa dibantah. “Saya ingin membuktikan kepada seluruh pimpinan divisi dan diri saya sendiri… bahwa saya pantas berada di posisi ini bukan sekadar karena nama keluarga Maheswari.”

Surya menatap Alena selama beberapa detik, lalu bibirnya mengukir senyuman bangga. “Keputusan yang sangat bijaksana, Bu. Ayah Anda pasti sangat bangga mendengar ini.”

“Dan satu lagi, Pak Surya,” lanjut Alena.

“Apa itu, Bu?”

“Tolong pastikan tidak ada perlakuan khusus atau intimidasi apa pun terhadap anggota tim divisi pemasaran. Terutama…” Alena menggantungkan kalimatnya sejenak, membayangkan wajah Raka. “…terutama terhadap staf yang bekerja jujur.”

“Baik, Bu Alena. Saya mengerti,” angguk Surya paham.

Setelah Surya keluar dari ruangan, Alena berdiri dan berjalan mendekati jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Dari ketinggian lantai atas ini, segalanya tampak begitu kecil. Namun di dalam hatinya, sebuah tekad baru telah terbangun.

Ia telah mengungkapkan identitasnya. Ia telah menempati jabatannya. Namun perjuangan terbesarnya baru saja dimulai: membuktikan kapasitas dirinya sebagai seorang pimpinan sejati, sekaligus meruntuhkan tembok dingin yang kini membentang rapat di antara dirinya dan Raka Pradipta.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Apakah Raka akan pernah bisa memaafkan Alena dan menerima kenyataan ini?
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka di kantor?

Tulis pendapat kalian di kolom komentar dan jangan lupa ketik “LANJUT” untuk bab berikutnya!

Prev
Next
Tags:
Cinta di Kantor, Free Novel, Identitas Rahasia, Wanita Kaya & Pria Sederhana
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita