Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya - Bab 2

  1. Home
  2. Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya
  3. Bab 2 - Jangan Remehkan Orang Baru
Prev
Next

[AKU HANYA KARYAWAN BIASA, KATANYA]

BAB 2 — Jangan Remehkan Orang Baru

Seminggu berlalu sejak hari pertama Alena Maheswari melangkah ke divisi pemasaran Maheswari Tower. Jam dinding bulat di atas kubikel menunjukkan pukul sepuluh pagi. Suara gemeretak papan ketik dan dengung penyejuk udara mengisi ruang kerja yang penuh tumpukan berkas cetak.

Alena duduk di kursinya, tekun menatap layar monitor sambil merapikan lembar kerja data riset pasar harian. Di sebelah kirinya, Raka Pradipta baru saja meletakkan segelas kopi hitam panas yang aromanya menyeruak lembut.

“Alena, kamu sudah selesai memilah data tren konsumen mingguan?” tanya Raka pelan, menyandarkan sikunya di atas penyekat meja mereka.

Alena mendongak, menyunggingkan senyum tipis. “Sudah, Raka. Aku bagikan ke empat segmen usia sesuai petunjukmu kemarin. Data mentahnya sudah aku rapikan di folder bersama.”

Raka membuka dokumen tersebut di komputernya, jemarinya menggeser tetikus dengan cepat. Matanya berbinar kecil. “Wah, rapi sekali perinciannya. Kamu sampai memisahkan indikator keterikatan media sosial dari tiap wilayah? Padahal aku tidak minta sedetail ini.”

“Aku pikir bakal lebih mudah dibaca kalau ada pembanding wilayahnya,” sahut Alena santai. “Semoga bantu mempercepat draf laporannya.”

“Bantu banget, Alena,” jawab Raka tulus. “Terima kasih banyak, ya.”

Tiba-tiba, sebuah cetakan kertas tebal melayang dan mendarat keras di atas meja Alena, menimbulkan bunyi *prak* yang cukup kencang. Dito Wirawan berdiri di samping kubikel mereka dengan tangan bersedekah di dada.

“Alena, fotokopi ini sepuluh rangkap. Sekarang,” perintah Dito dengan nada dingin tanpa beban.

Raka mengerutkan keningnya, menatap Dito heran. “Dit, bukannya itu berkas inventaris barang tim lain? Tugas administrasi dasar Alena kan sudah selesai dari tadi pagi. Dia lagi bantu aku olah data riset.”

Dito menyeringai tipis, melirik Alena dari atas ke bawah. “Ya elah, Raka. Cuma fotokopi sepuluh rangkap doang, paling lima menit selesai. Dia kan anak baru, tugas utamanya ya bantu-bantu pekerjaan fisik senior. Jangan dimanja terus, lah. Lagian olah data begitu kan cuma pekerjaan penunjang.”

Alena tidak menunjukkan raut wajah kesal. Ia mengambil tumpukan kertas itu dengan tenang lalu berdiri dari kursinya. “Tidak apa-apa, Raka. Aku kerjakan sekarang. Mesin fotokopi di lorong tengah masih kosong, kan?”

“Iya, kosong,” jawab Dito mendahului, mengibaskan tangannya seraya berbalik. “Ingat ya, staples yang rapi. Jangan sampai ada lembaran yang terbalik seperti minggu lalu.”

Raka menatap punggung Dito yang menjauh dengan gelengan kepala, lalu menatap Alena prihatin. “Maaf ya, Alena. Dito memang suka seenaknya melemparkan tugas kecil ke orang baru.”

“Santai saja, Raka,” senyum Alena terkembang tulus. “Fotokopi bukan hal yang berat, kok.”

“Nanti pas jam makan siang, aku bayar rasa lelahmu,” seloroh Raka terkekeh pelan. “Aku traktir makan mie ayam di kantin basement. Mau?”

Mata Alena berbinar. “Mie ayam kantin bawah? Yang sering diceritakan anak-anak itu?”

“Iya, yang kuahnya gurih dan baksonya mantap,” tawa Raka pecah. “Di sana tempat favoritku. Tidak mewah, tapi dijamin bikin ketagihan.”

“Deal! Aku selesaikan ini dulu ya,” sahut Alena ceria sebelum melangkah menuju ruangan mesin fotokopi.

—

Pukul satu siang, sudut kantin bawah tanah Maheswari Tower tampak riuh oleh hiruk-pikuk karyawan dari berbagai divisi. Asap tipis membumbung dari mangkuk-mangkuk mie ayam hangat di atas meja kayu panjang.

Alena menyendok kuah mie ayamnya dengan lahap. “Wah, ini enak banget, Raka! Daging ayamnya manis gurih, kenyalnya pas!”

Raka yang sedang menusuk bakso dengan garpu tertawa melihat ekspresi Alena. “Kan sudah kubilang. Kuliner paling mantap di gedung ini ya di sini, bukan di kafe lantai atas yang harganya ratusan ribu cuma buat segelas kopi.”

“Aku setuju seratus persen,” balas Alena terkekeh. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling kantin yang padat. “Aku suka suasana di sini. Ramai, jujur, dan semua orang kelihatan menikmati makanan mereka.”

Raka menatap Alena sejenak, mengamati kesederhanaan wanita di hadapannya. “Jujur ya, Alena… waktu pertama kali kamu masuk minggu lalu, aku pikir kamu tipe cewek perkotaan yang gampang mengeluh kalau diajak ke tempat seperti ini.”

Alena menaikkan sebelah alisnya, tersenyum geli. “Masa, sih? Kenapa berpikir begitu?”

“Ya… biasanya karyawan baru yang masuk ke perusahaan sebesar ini suka gengsi,” jelas Raka jujur sambil memutar garpunya. “Tapi kamu beda. Kamu tidak pernah mengeluh walau disuruh-suruh Dito, tetap senyum, dan tidak pernah memandang orang lain dari baju atau jabatannya.”

Alena terdiam sejenak. Kalimat Raka menyentuh bagian terdalam di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang menilainya murni dari sikap dan kepribadiannya, bukan karena embel-embel nama besar Maheswari atau deretan angka di rekening bank keluarganya.

“Aku cuma ingin jadi diri sendiri, Raka,” tutur Alena pelan, menatap mata Raka hangat. “Tanpa perlu orang lain menilai aku berdasarkan hal-hal luar yang sebenarnya tidak abadi.”

“Dan itu hal yang sangat langka di gedung ini, Alena,” puji Raka tulus, membalas tatapan Alena dengan senyuman hangat yang membuat jantung Alena berdesir halus.

—

Pukul dua siang, suasana santai berganti menjadi kepanikan luar biasa. Seluruh anggota divisi pemasaran dipanggil berkumpul di ruang rapat utama.

Dito Wirawan berdiri di depan layar proyektor besar dengan wajah tegang. Di sekeliling meja oval, delapan staf senior dan supervisor duduk dengan dokumen di tangan masing-masing.

“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Dito, suaranya meninggi menutupi kegugupannya. “Ini soal Proyek Peluncuran Produk Utama Kuartal Tiga. Pihak investor dan calon mitra bisnis utama minta kejelasan alokasi ekspansi digital paling lambat sore ini.”

Seorang supervisor senior, Pak Hendra, mengetuk pimpinannya di meja. “Dito, rencana yang kamu serahkan kemarin ditolak oleh manajemen puncak. Alokasi dana untuk media cetak dan baliho dianggap terlalu berisiko dan boros. Mereka minta beralih penuh ke ekosistem digital, tapi strategi dari timmu dianggap kurang tajam.”

Dito mengusap tengkuknya yang berkeringat. “Pak Hendra, kita sudah susun itu dua minggu. Kalau harus ubah total ke strategi digital interaktif dalam waktu beberapa jam, risikonya besar sekali. Kita belum punya model konversi data yang pas!”

“Tapi kalau proyek ini tidak disetujui hari ini, anggaran divisi kita semester depan dipotong tiga puluh persen!” tegas Pak Hendra panik. “Ada yang punya usulan konkret?”

Ruang rapat mendadak hening mencengkeram. Semua orang saling pandang, menundukkan kepala menghindari tatapan supervisor.

Alena, yang duduk di barisan belakang bersama Raka, membolak-balik berkas proposal di tangannya. Ia tahu betul duduk perkaranya. Sebagai calon penerus perusahaan yang dipersiapkan bertahun-tahun, ia sangat paham arah kebijakan strategis yang diinginkan jajaran direksi Maheswari Group.

Alena mengangkat tangannya perlahan. “Permisi, Pak Hendra. Boleh saya menyampaikan pendapat?”

Sontak seluruh mata di ruangan itu tertuju ke sudut belakang.

Dito langsung membelalakkan matanya, mengibaskan tangan dengan raut wajah jengkel. “Alena! Kamu duduk dan catat notulen rapat saja! Kita sedang membicarakan keputusan besar direksi dan arah anggaran perusahaan, bukan tugas praktik anak baru!”

“Dito, pelankan suaramu,” sela Raka tegas, berdiri dari kursinya mendampingi Alena. “Alena punya ide bagus soal ini. Kenapa tidak didengarkan dulu?”

“Raka, jangan membela yang tidak-tidak!” semprot Dito gusar. “Dia baru seminggu di sini! Tahu apa dia soal negosiasi nilai investasi miliaran rupiah?!”

“Kalau pendapatnya masuk akal dan bisa menyelamatkan anggaran divisi, kenapa tidak didengarkan?” balas Raka tak mau kalah, menatap Dito lurus tanpa gentar.

Pak Hendra mengangkat tangannya, menenangkan perdebatan. “Sudah, jangan bertengkar. Alena, coba sampaikan singkat ide kamu.”

Alena berdiri dengan tenang, merapikan blazernya. “Terima kasih, Pak Hendra. Masalah utama penolakan direksi sebenarnya bukan pada pengalihan media, melainkan pada ketidakpastian pengembalian investasi. Jika kita mengubah skema anggaran dari iklan luar ruang menjadi sistem *omnichannel* berbasis aliansi strategis dengan platform *e-commerce* utama, kita bisa menawarkan bagi hasil berdasarkan konversi langsung. Risiko biaya tetap turun lima puluh persen, dan proyeksi nilai penjualan justru meningkat dua kali lipat.”

Alena menjelaskan poin-poin tersebut secara runtut, tajam, dan sangat presisi—sebuah pemikiran tingkat tinggi yang biasanya hanya dimiliki oleh konsultan berpengalaman atau jajaran eksekutif senior.

Beberapa staf senior tampak melongo, saling berbisik heran dengan ketajaman analisis karyawan baru itu.

Dito terkekeh paksa, mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan ejekan. “Haha! Teori hebat, Alena! Tapi kamu lupa satu hal penting: siapa yang mau menandatangani kesepakatan aliansi cepat seperti itu dalam hitungan jam? Manajemen puncak Maheswari Group tidak akan mau membuang waktu melihat draf dari staf biasa!”

*Brak!*

Pintu tebal ruang rapat mendadak terdorong terbuka luas.

Suasana ruangan serta-merta menjadi hening seketika. Seluruh staf dan supervisor langsung berdiri tegak dengan wajah tegang dan penuh rasa hormat.

Sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan setelan jas mahal berwarna abu-abu gelap melangkah masuk. Wajahnya yang bergaris tegas memancarkan wibawa yang luar biasa kuat. Di belakangnya, dua sekretaris pribadi mengekor dengan membawa laptop dan map kulit hitam.

Dialah Surya Mahendra—Direktur Utama Maheswari Group sekaligus orang paling berpengaruh di gedung pencakar langit ini.

“Pak Surya…” bisik Pak Hendra terbata-bata, membungkukkan badannya dalam-dalam. “Selamat siang, Pak. Maaf, kami sedang mengadakan rapat darurat mengenai proposal kuartal tiga.”

Dito dengan cepat maju mendekat, tersenyum lebar penuh keformalan. “Selamat siang, Pak Surya! Suatu kehormatan Bapak berkenan meninjau divisi kami langsung. Kami sedang menyelesaikan draf terbaik untuk diajukan ke meja Bapak.”

Surya Mahendra tidak menghentikan langkahnya. Ia mengabaikan uluran tangan Dito dan sama sekali tidak melirik Pak Hendra. Matanya yang tajam menyapu seisi ruangan, hingga akhirnya pandangannya terkunci lurus pada sosok wanita muda berblazer hitam yang berdiri di barisan paling belakang.

Surya menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Ia menghela napas panjang, lalu membungkukkan badannya sedikit dengan sikap penuh hormat yang sangat resmi—sebuah pemandangan yang tak pernah sekalipun disaksikan oleh staf mana pun di gedung itu.

“Maaf mengganggu rapatnya,” suara berat Surya menggelegar tenang di tengah keheningan yang mencekat.

Surya menatap Alena dengan raut wajah penuh keseriusan.

“Maaf, Bu Alena. Laporan evaluasi pemegang saham dan dokumen keputusan investasi ekspansi perusahaan sudah selesai diperiksa. Semua keputusan akhir perusahaan ada di tangan Anda.”

*Deg.*

Ruangan rapat mendadak sunyi senyap bagaikan ruang hampa udara.

Seluruh pasang mata di ruangan itu membeku.

Dito Wirawan berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka, matanya melotot lebar seolah bola matanya hendak melompat keluar. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam oleh kombinasi rasa syok dan tidak percaya yang amat sangat.

Di sebelah Alena, Raka Pradipta membeku penuh kekakuan. Pandangannya beralih dari Direktur Utama Surya ke arah Alena yang berdiri tepat di sampingnya. Dadanya bergemuruh hebat, pikirannya berputar keras mencoba mencerna apa yang baru saja telinganya dengar.

*Bu Alena? Keputusan perusahaan ada di tangan… Alena?*

Alena menghela napas pelan. Ia menatap Surya dengan pandangan campur aduk—antara kepasrahan karena masa penyamarannya harus berakhir lebih cepat, dan ketegasan yang selama ini ia sembunyikan.

Surya memecah keheningan yang membakar itu dengan kalimat penutup yang menghantam seluruh isi ruangan:

“Kami menunggu keputusan dan tanda tangan Anda sejak tadi pagi, Bu Alena Maheswari.”

Semua mata tertuju pasrah kepada Alena.

BERSAMBUNG

—

Ternyata Alena bukan sekadar karyawan baru… 😳

Siapa sebenarnya dia dan kenapa selama ini menyembunyikan identitasnya?
Lanjutan ceritanya ada di RuanganCerita.com. ❤️

Jangan lupa komen “LANJUT” dan bagikan kalau kalian penasaran!

 

Prev
Next
Tags:
Cinta di Kantor, Free Novel, Identitas Rahasia, Wanita Kaya & Pria Sederhana
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita