Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya - Bab 1
Pintu kaca tebal yang menjulang tinggi di lobi Maheswari Tower bergeser terbuka secara otomatis, mengembuskan aroma pendingin udara berpadu wangi bunga lili yang mewah. Sinar matahari pagi menembus lanskap kaca gedung pertokoan dan perkantoran di kawasan bisnis terpadu itu, memantulkan bayangan ratusan pekerja berbusana rapi yang berlalu-lalang dengan langkah terburu-buru.
Alena Maheswari berdiri sejenak di tepi lantai marmer mengilap, membetulkan letak tali tas bahu bahan sintetis berwarna krem yang terikat melintang di badannya. Blazer hitam sederhana yang melekat di tubuhnya dibeli dari sebuah merek fast fashion lokal seharga beberapa ratus ribu, dipadukan dengan kemeja putih polos serta celana kain warna senada. Tidak ada jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, tidak ada tas kulit keluaran desainer ternama, dan tidak ada pengawalan ketat atau pengemudi pribadi yang membukakan pintu mobil untuknya.
Ia sengaja menumpang bus transportasi umum dan berjalan kaki sejauh tiga ratus meter dari pemberhentian bus menuju gedung megah ini.
“Permisi, Mba. Mau ambil kartu akses pengunjung atau sudah punya kartu karyawan?” tanya seorang petugas keamanan bertubuh tegap di dekat pintu gerbang elektronik.
“Pagi, Pak. Saya karyawan baru di divisi pemasaran. Nama saya Alena,” jawab Alena ramah, menyunggingkan senyum tipis tanpa riasan berlebih di wajahnya.
Petugas keamanan itu meneliti lembaran kertas daftar nama di papan dadanya sejenak. “Oh, Mba Alena Maheswari? Silakan masuk dari sebelah kiri. Nanti langsung ke lantai empat untuk melapor ke bagian sumber daya manusia ya, Mba.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak,” sahut Alena sopan sebelum melangkah melewati pembatas besi.
Saat melangkah menuju deretan lift yang sibuk, Alena bisa merasakan beberapa pasang mata memperhatikannya dari atas sampai bawah. Di lingkungan kantor pusat holdings besar ini, penampilan adalah penanda status yang tak tertulis. Sebagian besar karyawan wanita mengenakan sepatu hak tinggi dari merek ternama dan membawa tas desainer impor, sementara gaya busana Alena sangat terkesan minimalis dan terjangkau.
“Eh, liat tuh,” bisik sebuah suara pria yang cukup kencang dari arah barisan antrean lift sebelah kanan. “Anak baru, ya?”
Alena melirik sekilas dari sudut matanya. Seorang pria berusia akhir puluhan tahun dengan kemeja bergaris dan rambut klimis bergel ke belakang sedang berdiri bersedekah tangan bersama dua rekan kerjanya. Pria itu memakai papan nama bertuliskan Dito Wirawan – Pemasaran Senior.
“Mungkin,” jawab rekan kerja di sebelah Dito sambil menyesap kopi dalam cangkir kertas. “Anak magang kali?”
“Anak magang gaya pakaiannya masih mendingan dari itu,” seloroh Dito dengan kekeh pelan yang diusahakan terdengar setengah berbisik, tetapi masih sangat jelas tertangkap oleh indra pendengaran Alena. “Anak baru? Kayaknya belum pernah kerja di perusahaan sebesar ini. Lihat deh bahan blazernya, kelihatan lecek gitu. Paling bertahan tiga bulan di divisi kita sebelum keteteran.”
Alena mendengar seluruh kalimat meremehkan itu dengan sangat jelas. Namun, alih-alih membalikkan badan dan memperlihatkan kartu identitas resminya yang sesungguhnya, ia memilih diam. Bibirnya mengukir senyum kecil yang tersembunyi, lalu matanya kembali menatap lurus ke arah pintu lift yang baru saja terbuka.
Biarlah, batin Alena pelan. Justru ini yang ingin kuketahui.
Lantai empat divisi pemasaran terasa sangat bising sejak pagi. Suara jemari menari di atas papan ketik, dering telepon interaktif yang sahut-menyahut, serta tumpukan berkas proyek di atas meja-meja penyekat menciptakan suasana kerja yang cepat dan penuh tekanan.
Setelah melapor ke bagian personalia dan mendapatkan kartu pengenal sementara, Alena berjalan menyusuri lorong antarpenyekat meja sambil membawa sebuah map lipat tebal berisi dokumen orientasi kerja. Langkahnya terhenti di sebuah persimpangan lorong. Koridor di lantai ini ternyata sangat luas dan memiliki penunjuk arah yang cukup membingungkan bagi orang baru.
“Ruang rapat Utama Empat… sebelah mana, ya?” gumam Alena pelan pada dirinya sendiri sambil memiringkan kepala menatap plang petunjuk di langit-langit.
“Cari ruang rapat, Mba?”
Alena berbalik. Seorang pria muda bertubuh tinggi dengan kemeja biru muda tergulung hingga ke siku berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kemejanya rapi meski tampak sederhana, dan papan namanya mencantumkan nama Raka Pradipta. Tidak ada riasan wajah sombong atau pandangan menilai dari matanya. Tatapan pria itu sangat hangat dan bersahabat.
“Iya,” sahut Alena sedikit canggung. “Saya cari Ruang Rapat Utama Empat untuk sesi pengenalan karyawan baru.”
Pria itu tersenyum kecil, lalu menunjuk ke arah koridor di sebelah kanan yang agak tersembunyi di balik pilar besar. “Ruangannya ada di ujung lorong itu, sebelah kiri dekat pantry. Penunjuk arah di atas situ memang agak membingungkan kalau baru pertama kali ke sini.”
Pria itu kemudian memperhatikan papan nama sementara yang tersemat di dada Alena.
“Kamu Alena, kan?” tanyanya memastikan.
“Iya, saya Alena,” jawabnya sambil mengangguk pelan.
“Aku Raka,” ujar pria itu ramah seraya mengulurkan tangannya. Alena membalas uluran tangan itu dengan genggaman singkat yang hangat. “Aku di tim pemasaran digital. Meja kerjaku tepat di sebelah meja kosong tempat kamu bakal duduk nanti.”
“Oh, jadi kita satu tim?” tanya Alena dengan binar mata yang tampak lebih ceria.
“Yup, satu tim,” balas Raka jujur. “Kalau bingung soal sistem kantor, tanya aku saja. Jangan sungkan. Hari pertama di gedung ini memang biasanya bikin pusing kalau belum terbiasa dengan alur kerjanya.”
Alena tersenyum tulus. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke dalam Maheswari Tower pagi ini, seseorang menatap matanya secara langsung dan menyambutnya dengan tulus, tanpa sibuk menilai harga pakaian, merk sepatu, atau mencoba mencari tahu siapa latar belakang keluarganya.
“Terima kasih banyak, Mas Raka. Saya bakal banyak tanya nanti,” tutur Alena.
“Sama-sama. Panggil Raka saja, tidak usah pakai ‘Mas’. Kita kan setara di sini,” jawab Raka santai sembari memberi jalan. “Ayo, tak antar sebentar ke depan pintu ruang rapatnya sebelum rapat tim dimulai sepuluh menit lagi.”
Tepat pukul sebelas siang, suasana di meja kerja area pemasaran kembali memanas. Sebuah masalah mendadak muncul pada draf kampanye peluncuran produk kosmetik terbaru yang dijadwalkan meluncur bulan depan.
Dito Wirawan tampak memukul permukaan meja kerjanya dengan berkas tercetak. “Ini data demografi dari mana, sih?! Mana bisa kita pakai pendekatan media sosial konvensional buat target pasar usia belasan tahun sekarang?! Anggarannya bakalan terbuang cuma-cuma kalau polanya kaku seperti ini!”
Beberapa rekan kerja junior di sekitar Dito tampak menunduk, takut kena semprot. Raka yang duduk di sebelah Alena sedang sibuk memeriksa lembaran analisis data di layar komputernya.
“Raka, kamu sudah cek ulang pengajuan promosi dari agensi luar?” tanya Dito dengan suara tinggi dari mejanya.
“Sudah, Dit,” jawab Raka tenang tanpa terbawa emosi. “Memang ada kekosongan strategi di segmen keterikatan pengguna harian. Kalau kita cuma mengandalkan influencer papan atas, konversinya tidak sebanding dengan biaya yang harus kita keluarkan.”
Dito mengusap wajahnya gusar. “Lalu solusinya apa? Rapat direksi teknis tinggal tiga hari lagi, dan kita belum punya draf proposal perbaikan yang matang!”
Alena, yang sejak tadi menyimak alur pembicaraan sambil mempelajari dokumen proyek yang dibagikan kepadanya, secara perlahan menegakkan tubuhnya. Ia menarik selembar kertas catatan kosong dan menyodorkannya sedikit ke tengah meja.
“Permisi…” potong Alena dengan suara tenang namun berbobot.
Dito menoleh dengan kening berkerut dalam. “Kenapa, Alena? Kamu mau tanya lokasi toilet lagi?”
Alena mengabaikan nada sindiran Dito. “Soal masalah konversi anggaran iklan untuk segmen muda… kenapa kita tidak mengalihkan empat puluh persen anggaran dari macro-influencer ke program kolaborasi konten mikro berbasis komunitas di kampus dan platform video pendek?”
Ruangan kecil di sekitar penyekat meja itu mendadak hening sejenak.
Alena melanjutkan penjelasannya dengan lugas dan terstruktur. “Data tren konsumsi tiga bulan terakhir menunjukkan kalau generasi muda sekarang sepuluh kali lebih percaya pada rekomendasi sesama pengguna mikro dibanding promosi berbayar dari selebriti internet. Jika kita membuat tantangan interaktif berhadiah produk sampel dan fokus pada lima kota besar, biaya operasional bisa dipangkas hingga tiga puluh persen, tapi jangkauan organik kita justru naik dua kali lipat.”
Raka menatap Alena dengan mata berbinar terkejut. Ia dengan cepat mengklik beberapa folder data di komputernya. “Tunggu… perhitungan alokasi anggaran itu masuk akal sekali. Kalau kita pakai pola interaksi bertingkat, angka konversi penjualan langsungnya bisa diukur secara real-time.”
Dito menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai tipis. Ia menatap Alena dengan pandangan meremehkan yang sama seperti di depan lift tadi pagi.
“Alena, Alena…” Dito tertawa kecil bernada hambar. “Kamu ini baru masuk beberapa jam, ya. Teori dari buku atau artikel internet yang kamu baca itu memang kelihatan bagus di atas kertas. Tapi dunia nyata di perusahaan sebesar Maheswari Group ini beda sama tugas kuliah atau kantor skala kecil.”
“Saya menyampaikan ini berdasarkan analisis data tren pasar terbaru, Mas Dito,” jawab Alena tetap tenang, tatapan matanya lurus tanpa rasa takut. “Bukan sekadar teori.”
“Sudahlah,” potong Dito cepat, mengibaskan tangannya di udara. “Tugas kamu di sini sekarang itu pelajari sistem administrasi dasar dulu. Soal pemetaan strategi anggaran dan konsep ide besar, biar saya dan senior lain yang urus. Jangan sok tahu di hari pertama.”
Alena hendak membalas, tetapi Raka memegang tepi siku meja Alena secara halus, memberinya isyarat menggeleng pelan agar tidak memperpanjang perdebatan yang sia-sia dengan Dito.
“Nanti kita bahas lagi poin ide kamu pas jam istirahat ya, Alena,” bisik Raka pelan ketika Dito sudah memalingkan wajahnya kembali ke layar monitor. “Ide kamu tadi sejujurnya bagus banget. Unik dan solutif.”
Alena menoleh ke arah Raka, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tulus. “Terima kasih, Raka.”
Waktu menunjukkan pukul lima sore lewat lima belas menit. Jam kerja resmi telah berakhir, dan deretan meja di divisi pemasaran mulai ditinggalkan oleh sebagian pegawai yang bergegas pulang.
Alena membereskan isi mejanya dengan rapi. Ia memasukkan buku catatan kecil dan pena ke dalam tas bahunya. Saat ia melangkah keluar dari pintu kaca gedung Maheswari Tower dan menyusuri trotoar jalan utama, angin sore yang agak dingin berembus menyapu helai rambut mewahnya yang terurai.
Ponsel pintar di dalam tasnya bergetar nyaring. Layar ponsel menampilkan nama pemanggil yang sangat familier: Ayah.
Alena menggeser ikon hijau di layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. “Halo, Ayah.”
Dari seberang sambungan telepon, suara pria paruh baya yang terdengar berwibawa namun hangat menyapa kekehan lembut. “Halo, Alena. Bagaimana hari pertamamu di kantor pusat?”
Alena menghentikan langkahnya di dekat halte bus yang mulai ramai oleh calon penumpang, menatap ke arah puncak gedung Maheswari Tower yang menjulang megah menembus awan sore.
“Lancar, Yah,” jawab Alena dengan senyuman yang terukir manis di bibirnya. “Semua sesuai dugaan.”
“Tidak ada yang curiga kalau kamu itu putri kandung Ayah? Atau pemegang saham utama yang bakal memegang kendali perusahaan ini?” tanya ayahnya terkekeh pelan.
“Sama sekali tidak,” tutur Alena santai. “Di mata mereka, aku cuma karyawan biasa yang busananya lecek dan tidak punya pengalaman apa-apa.”
Ayahnya tertawa renyah di ujung telepon. “Memang itu kan yang kamu inginkan waktu menolak ditempatkan langsung di jajaran direksi? Kamu yakin mau meneruskan penyamaran ini sampai beberapa bulan ke depan?”
Alena terdiam sejenak. Bayangan raut muka Dito yang meremehkannya teringat kembali di benaknya. Namun, sesaat kemudian, bayangan wajah Raka yang tersenyum tulus dan mengulurkan tangan tanpa memandang statusnya langsung menggantikan rasa kesal itu.
“Iya, Ayah. Aku sangat yakin,” tegas Alena dengan nada mantap. “Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana lingkungan kerja di perusahaan kita saat tidak ada orang yang tahu siapa diriku. Aku ingin tahu… siapa yang benar-benar menghargai orang lain sebagai manusia, dan siapa yang cuma manis di depan jabatan.”
“Baiklah kalau begitu, Anakku. Hati-hati di jalan pulang. Jangan sampai terlambat makan malam.”
“Iya, Ayah. Sampai ketemu di rumah.”
Alena mematikan sambungan telepon. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu melangkah masuk ke dalam bus kota yang baru saja berhenti di hadapannya, siap menyongsong hari-hari berikutnya sebagai seorang karyawan biasa.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Menurut kalian, berapa lama Alena bisa menyembunyikan identitas sebenarnya?
Komen “LANJUT” kalau penasaran! 👇