Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya - Bab 6

  1. Home
  2. Aku Hanya Karyawan Biasa, Katanya
  3. Bab 6 - Pengakuan di Hadapan Malam
Prev
Novel Info

Seminggu pasca-keberhasilan peluncuran kampanye digital Kuartal Tiga, ritme kerja di lantai empat divisi pemasaran berangsur membaik. Atmosfer mencekam yang sempat menyelimuti ruangan kini mencair, digantikan oleh semangat baru. Dito Wirawan, yang sebelumnya pongah, kini jauh lebih sopan dan segan—baik kepada Alena maupun kepada Raka.

Pukul tujuh malam, sebagian besar lampu di lantai empat sudah dipadamkan. Hanya tersisa pendar cahaya kuning dari kubikel tempat Alena dan Raka duduk bersebelahan. Suara denting jemari di atas papan ketik menembus keheningan malam yang tenang.

Alena menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas panjang seraya meregangkan jemarinya. “Akhirnya… data laporan evaluasi lima kota selesai juga.”

Raka menoleh dari layar komputernya, mengukir senyum tipis yang hangat. “Sudah selesai semua, Alena? Jangan terlalu diforsir. Ini sudah lewat jam pulang.”

Alena memutar kursinya menghadap Raka, menatap pria itu dengan binar mata yang jenaka. “Kamu sendiri kenapa belum pulang? Bukannya tugasmu sudah selesai dari jam lima tadi?”

Raka terkekeh pelan, mengusap tengkuknya dengan canggung. “Masa aku tega meninggalkan pimpinan tertinggi lembur sendirian di ruangan sepi begini? Kalau ada apa-apa, bisa-bisa aku dipecat Pak Surya.”

“Tuh, kan! Mulai lagi bawa-bawa jabatan,” gerutu Alena pura-pura cemberut, meski sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan rasa senang. “Aku kan sudah bilang, kalau cuma ada kita berdua, hilangkan embel-embel itu.”

“Iya, maaf, Alena,” sahut Raka lembut. Ia mematikan komputernya, lalu merapikan berkas di atas meja. “Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita makan malam? Tapi… kali ini bukan mie ayam kantin basement.”

Mata Alena berbinar mendengarnya. “Wah, serius? Mau makan di mana?”

“Ada warung tenda nasi goreng gila di seberang gedung ini,” terang Raka seraya berdiri. “Tempatnya sederhana, tapi rasanya tidak kalah sama restoran bintang lima. Mau coba?”

Alena langsung berdiri dengan antusias, merapikan tasnya. “Mau banget! Ayo, aku sudah lapar dari tadi sore.”

Udara malam kota Jakarta menyapa hangat saat mereka melangkah keluar dari lobi utama Maheswari Tower. Bunyi klakson kendaraan yang merayap di jalan raya dan kerlip lampu jalanan memberikan nuansa hidup yang sangat kontras dengan kesunyian kantor tadi.

Warung tenda nasi goreng yang dituju Raka berada di sudut jalan kecil, hanya berjarak lima puluh meter dari gedung pencakar langit tersebut. Aroma bumbu tumis yang gurih dan asap tipis dari wajan besar membumbung tinggi, menggugah selera.

Raka memimpin jalan, memilih meja kayu panjang di sudut yang agak teduh. “Pak Mamat! Nasi goreng gila dua porsi, ya! Yang satu pedas sedang, yang satu lagi tidak pakai cabai!”

Pak Mamat, sang penjual, mengacungkan spatula dari balik wajan. “Siap, Mas Raka! Biasa, minumnya es teh manis dua, kan?”

“Iya, Pak! Terima kasih!” seru Raka ramah.

Alena duduk di bangku plastik merah di hadapan Raka, memandangi sekelilingnya dengan tatapan kagum. “Kamu langganan di sini, ya?”

“Iya,” angguk Raka, meletakkan tempat sendok di tengah meja. “Waktu awal-awal kerja di Maheswari Group dan gajiku masih pas-pasan, warung ini yang menyelamatkan perutku setiap malam. Dulu aku sering lembur sampai malam cuma buat kejar bonus.”

“Tapi sekarang kamu sudah jadi salah satu staf terbaik di divisi,” puji Alena tulus, menopang dagunya dengan kedua tangan. “Analisis data dan kejelianmu di lapangan itu mahal sekali harganya, Raka. Pak Surya bahkan sempat puji idemu waktu rapat direksi minggu lalu.”

Raka tersenyum canggung. “Pak Surya puji ideku? Kamu tidak bercanda, kan?”

“Untuk apa aku bercanda?” balas Alena terkekeh. “Dia bilang, skema aliansi logistik lokal yang kamu susun itu sangat efisien. Direksi setuju buat menerapkan sistem itu di seluruh cabang kita di Indonesia.”

Raka menatap Alena dalam-dalam. Ada rasa bangga yang menyeruak di dadanya, namun lebih dari itu, ia melihat kejujuran dan ketulusan yang sama dari wanita yang duduk di hadapannya—wanita yang beberapa hari lalu terasa sangat jauh di awan.

Tak lama kemudian, dua piring nasi goreng gila yang asapnya masih mengepul beserta dua gelas es teh manis mendarat di meja mereka.

“Silakan dinikmati, Alena,” tutur Raka manis. “Awas panas.”

Alena menyendok nasi gorengnya, meniupnya pelan lalu mengunyahnya. Matanya membundar sempurna. “Hmm! Ini enak banget, Raka! Dagingnya empuk, bumbunya meresap sampai ke dalam!”

Raka tertawa melihat ekspresi Alena yang begitu lepas tanpa kepura-puraan. “Kan sudah kubilang. Makanan enak itu tidak harus mahal.”

“Aku setuju seratus persen!” sahut Alena gembira, melanjutkan suapannya dengan penuh selera.

Di tengah riuhnya suasana warung tenda dan lalu lintas malam, kebersamaan mereka terasa begitu cair dan hangat. Tak ada lagi kekakuan, tak ada lagi benteng formalitas yang menahan diri mereka.

Setelah menghabiskan makan malam, Raka mengajak Alena berjalan santai menuju taman kota kecil yang terletak tak jauh dari sana. Lampu-lampu taman bernuansa kuning hangat menerangi jalan setapak bertembok batu.

Mereka berjalan berdampingan dalam ritme yang lambat, menikmati angin malam yang berembus sepoi-sepoi.

“Alena,” panggil Raka pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.

“Iya, Raka?” Alena menoleh, menatap wajah samping Raka yang tersiram pendar lampu taman.

Raka menghentikan langkahnya di dekat sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang. Ia memutar tubuhnya, menatap Alena lurus-lurus dengan raut wajah yang sangat serius namun lembut.

“Ada yang mau aku sampaikan padamu,” tutur Raka, suaranya terdengar begitu tulus dan dalam.

Alena ikut menghentikan langkahnya, dadanya mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. “Bicara saja, Raka. Aku mendengarkan.”

Raka menghela napas panjang, mencoba menata setiap kata yang terpikir di kepalanya. “Beberapa hari lalu, waktu aku tahu siapa kamu sebenarnya… jujur, aku sangat terkejut dan merasa hancur. Ego dan harga diriku sebagai pria merasa seperti diinjak-injak.”

Alena menundukkan kepalanya pelan. “Aku tahu… dan aku sangat menyesal soal itu, Raka.”

“Tapi,” potong Raka cepat, tangannya terulur secara spontan menangkup jemari Alena yang dingin. “Setelah melewati krisis data kemarin dan melihat bagaimana kamu memperlakukanku dengan penuh rasa hormat… aku sadar satu hal.”

Alena mendongak, matanya menatap jemari mereka yang bersatu, lalu beralih menatap mata Raka yang hangat. “Sadar soal apa, Raka?”

“Sadar bahwa aku salah kalau harus menjauhinya cuma karena status sosialmu,” kata Raka tegas namun lembut. “Kamu tidak pernah memilih untuk lahir sebagai anak pemilik Maheswari Group, sama seperti aku yang tidak bisa memilih untuk lahir di keluarga biasa. Yang membuatku kagum padamu sejak hari pertama bukan nama besarmu, Alena… tapi kebaikan hatimu, kerendahan hatimu, dan caramu menghargai orang lain.”

Air mata haru mulai menggenang di pelupuk mata Alena. Sentuhan tangan Raka terasa begitu hangat, mengalirkan rasa aman yang luar biasa ke dalam hatinya.

“Raka…” bisik Alena dengan suara bergetar.

“Aku tahu perjalanan di depan tidak akan mudah,” lanjut Raka, matanya memancarkan ketetapan hati yang tak tergoyahkan. “Akan ada banyak orang yang memandangku sebelah mata. Akan ada banyak prasangka buruk dari luar sana. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku akan bekerja lebih keras, aku akan buktikan kapasitas diriku sampai tidak ada satu orang pun yang bisa meremehkanku saat aku berdiri di sampingmu.”

“Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa pada orang lain, Raka!” seru Alena, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. Ia menggenggam erat jemari Raka dengan kedua tangannya. “Bagi aku, kamu sudah lebih dari cukup. Kamu adalah pria paling jujur dan paling berarti yang pernah masuk dalam hidupku.”

Raka tersenyum sangat manis. Tangannya yang sebelah lagi terulur perlahan, dengan sangat lembut mengusap setetes air mata yang mengalir di pipi Alena.

“Jangan menangis, Alena,” bisik Raka lembut. “Mulai malam ini… maukah kamu mengizinkanku berjalan di sampingmu? Bukan cuma sebagai rekan kerja di lantai empat, tapi sebagai pria yang ingin menjaga hatimu?”

Dada Alena bergemuruh oleh rasa bahagia yang tak membendung. Senyuman terpancar indah dari wajahnya yang memerah.

“Iya, Raka… aku mau,” jawab Alena mantap tanpa ragu sedikit pun. “Aku sangat mau.”

Di bawah naungan pohon rindang dan temaram lampu taman kota malam itu, dua insan dari dunia yang berbeda akhirnya menyatukan langkah mereka. Batas-batas yang tadinya menjulang tinggi runtuh oleh ketulusan dan keberanian untuk saling menerima.

Keesokan harinya, suasana di Maheswari Tower kembali riuh oleh sebuah pengumuman resmi dari jajaran direksi.

Pukul sepuluh pagi, seluruh pimpinan divisi dan staf dipanggil berkumpul di aula utama lantai dua. Dekorasi megah bernuansa emas dan putih menghiasi ruangan besar tersebut. Bunga-bunga segar tertata rapi di sepanjang panggung utama.

Hari itu adalah hari pelantikan resmi Alena Maheswari sebagai Wakil Direktur Utama & Komisaris Utama Maheswari Holdings.

Pak Hendra, Dito, Siska, dan seluruh anggota divisi pemasaran berdiri di barisan depan penonton. Di sebelah mereka, Raka berdiri dengan kemeja hitam yang sangat rapi, matanya menatap lurus ke arah panggung dengan binar bangga yang tak tertutup.

Surya Mahendra naik ke atas podium, memegang mikrofon. “Selamat pagi kepada seluruh jajaran manajemen dan karyawan Maheswari Group. Hari ini adalah momentum bersejarah bagi perusahaan kita. Dengan bangga, saya persembahkan pimpinan baru yang akan membawa perusahaan ini menuju era transformasi digital yang lebih besar…”

Surya menoleh ke samping panggung. “Mari kita sambut, Ibu Alena Maheswari!”

Tepuk tangan riuh bergema memenuhi aula besar tersebut.

Alena melangkah anggun menuju panggung. Ia mengenakan gaun formal berwarna biru gelap yang sangat elegan dengan rambut terurai rapi. Aura wibawa dan pesonanya memikat seluruh orang di ruangan itu.

Alena berdiri di depan podium, menyapu pandangannya ke seluruh hadirin. Pandangannya berhenti sejenak pada sosok Raka yang berdiri tegap di barisan depan. Raka memberikan anggukan kecil penuh dukungan dan senyuman paling hangat yang pernah ada.

Alena tersenyum balik secara halus, lalu mulai berbicara di depan mikrofon.

“Selamat pagi semuanya,” buka Alena, suaranya tenang, dalam, dan berwibawa. “Berdiri di sini bukan berarti saya lebih hebat dari Bapak dan Ibu sekalian. Saya percaya, kekuatan terbesar Maheswari Group tidak terletak pada megahnya gedung ini atau besarnya angka investasi kita… melainkan pada kerja keras, kejujuran, dan dedikasi dari setiap karyawan biasa yang bekerja tanpa lelah di setiap lantai gedung ini.”

Alena melirik Raka sekali lagi dengan tatapan penuh makna sebelum melanjutkan:

“Karena dari merekalah… saya belajar apa artinya integritas yang sesungguhnya.”

Tepuk tangan kembali membahana jauh lebih gemuruh dari sebelumnya. Pak Hendra bertepuk tangan semangat, sementara Dito menyikut lengan Raka seraya berbisik.

“Wah, Raka… PIDATO Bu Alena keren banget ya!” puji Dito jujur. “Kamu beruntung banget sempat kerja bareng beliau!”

Raka hanya tersenyum tipis, matanya tak lepas memandangi wanita di atas panggung. Bukan cuma kerja bareng, Dit… batin Raka penuh kehangatan.

Alena Maheswari telah resmi menduduki kursinya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan. Namun di balik keanggunan dan kekuasaannya, ia tetaplah Alena—wanita yang menemukan cinta dan kebahagiaan sejati di antara riuhnya kisah karyawan biasa.

TAMAT

Terima kasih banyak sudah mengikuti perjalanan cerita Alena dan Raka sampai Bab Terakhir ini! ❤️

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta di Kantor, Free Novel, Identitas Rahasia, Wanita Kaya & Pria Sederhana
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita