Aku Diusir dari Rumah yang Kubayar Sendiri - Bab 2

  1. Home
  2. Aku Diusir dari Rumah yang Kubayar Sendiri
  3. Bab 2 - TERNYATA AYAH SUDAH MENGETAHUI SEMUANYA
Prev
Next

Kedai kopi kecil di sudut jalan itu sudah hampir tutup ketika Rania duduk di hadapan Ardi. Di atas meja kayu, sebuah map berukuran folio berwarna cokelat diletakkan Ardi di antara dua cangkir kopi yang sudah mendingin.

“Kamu serius, Di?” suara Rania masih serak. Matanya sembap dan merah.

Ardi menatap Rania dengan pandangan prihatin. “Aku nggak pernah seserius ini, Ran. Waktu Ayahmu mengurus berkas pinjaman tujuh tahun lalu, beliau datang ke kantorku. Beliau tahu persis kalau gajinya saat itu sudah tidak memenuhi syarat bank untuk ambil KPR. Makanya, cicilan itu dialihkan penuh ke rekeningmu, walaupun atas nama sertifikat tetap menggunakan nama Ayahmu demi kelancaran administrasi.”

Ardi membuka map tersebut, memperlihatkan sebuah salinan dokumen bersetempel dan bertanda tangan.

“Tapi ada satu hal lagi,” lanjut Ardi, menatap Rania tajam. “Dua bulan sebelum Ayah meninggal, beliau datang lagi sendirian. Beliau bikin surat pernyataan khusus yang disaksikan notaris. Ayahmu tahu kalau Dimas punya utang bisnis hampir empat ratus juta dan berniat menjadikan rumah itu sebagai jaminan.”

Rania tertegun. “Utang empat ratus juta? Mas Dimas?”

“Iya. Dan Ayahmu secara tegas menulis bahwa rumah itu tidak boleh diagunkan, dijual, atau dibaliknama tanpa persetujuan penuh dari orang yang membiayai cicilannya sampai selesai. Yaitu kamu, Ran.”

Kemarahan yang sempat padam oleh rasa sedih kini kembali menyala di dada Rania. Jadi, ini alasan Mas Dimas begitu tergesa-gesa mengusirnya? Bukan hanya soal hak anak laki-laki tertua, tetapi karena kakaknya itu butuh menjual atau menjaminkan rumah tersebut demi menutup utang-utangnya sendiri. Dan ibunya, dengan ketakutan yang buta akan kehilangan anak laki-lakinya, memilih mengorbankan Rania.

“Aku mau pulang sekarang,” kata Rania tegas, berdiri memegang map itu.

“Aku ikut,” Ardi ikut berdiri. “Kamu butuh saksi hukum kalau Dimas mencoba melakukan pengancaman.”

Keesokan harinya, matahari baru saja muncul ketika Rania kembali berdiri di depan rumahnya. Pintu pagar tidak dikunci. Dari dalam rumah, terdengar suara seorang pria asing sedang berbicara dengan Dimas di ruang tamu.

Rania melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Ardi berjalan di belakangnya.

Di ruang tamu, Dimas sedang duduk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa beberapa lembar formulir penjualan properti. Sari duduk di sudut sofa dengan wajah cemas.

“Lho, Rania? Mau apa kamu ke sini lagi?” tegur Dimas seketika, berdiri dengan wajah merengut. “Mas kan sudah bilang, kamu sudah tidak tinggal di sini lagi!”

“Membatalkan apa pun yang sedang Mas rencanakan,” jawab Rania dingin. Ia menatap pria berjas itu. “Pak, saya sarankan Bapak jangan memproses dokumen apa pun untuk rumah ini. Rumah ini sedang dalam sengketa.”

Pria berjas itu mengerutkan dahi, menatap Dimas dengan curiga.

“Rania! Jangan sembarangan bicara!” bentak Dimas, wajahnya memerah karena malu dan marah. “Kamu sudah pergi dari rumah ini, kenapa masih mau mengacau dan mengatur-atur? Ini rumah orang tua kita!”

“Karena rumah itu kubayar selama tujuh tahun, Mas!” potong Rania, suaranya menggelegar di ruang tamu. “Setiap bulan! Sepeser pun Mas Dimas nggak pernah ikut bayar! Dan sekarang Mas mau jual rumah ini cuma buat bayar utang-utang bisnis Mas yang gagal itu, kan?!”

Sari terbelalak, menatap Dimas tak percaya. “Utang? Dimas, kamu punya utang apa?”

“Nggak ada, Bu! Rania cuma bohong dan ngarang cerita supaya bisa menguasai rumah ini!” kilih Dimas panik. Ia lalu memelototi Rania. “Keluarga itu nggak seharusnya hitung-hitungan uang, Ran! Kamu anak perempuan, tugasmu itu berbakti!”

“Keluarga juga seharusnya nggak mengusir anak yang sudah berdarah-darah mempertahankan rumah ini!” balas Rania tanpa rasa takut sedikit pun.

Sari mulai menangis, memegang dadanya yang sesak. “Sudah… tolong berhenti. Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini setelah Ayah nggak ada…”

“Maaf mengganggu,” Ardi melangkah maju dan melipat kedua tangannya di depan tubuh. “Saya Ardi, notaris almarhum Pak Hendra. Pak Dimas, Anda tidak bisa menjual rumah ini. Saya membawa salinan berkas legalitas peninggalan Ayah Anda.”

Ardi mengeluarkan dokumen dari map cokelatnya. Dimas seketika membisu, wajahnya berubah pucat pasi melihat stempel resmi di kertas tersebut.

“Ayah Anda sudah mendaftarkan klausul kepemilikan mengikat,” jelas Ardi tenang. “Hak guna dan hak kepemilikan penuh secara hukum ada di tangan Rania Sekar sebagai pembayar utama cicilan. Tapi…” Ardi mengerutkan dahi saat membalik lembaran kertas di tangannya. “…halaman lampiran keabsahan tertulisnya hilang dari salinan ini.”

Dimas berdeham keras, mencoba menguasai rasa paniknya. “Lihat! Dokumennya saja nggak lengkap! Itu artinya nggak sah! Mas tetap punya hak sebagai anak laki-laki!”

“Halaman itu tidak hilang karena disengaja oleh notaris, Pak Dimas,” kata Ardi menatap Dimas lurus. “Tetapi karena lampiran aslinya disimpan sendiri oleh Almarhum di rumah ini.”

Rania menyipitkan mata. Ia mengingat sesuatu. Sebelum Ayahnya meninggal di rumah sakit, Ayahnya sempat membisikkan sesuatu kepadanya tentang lemari kayu tua di kamar utama, di bawah tumpukan kain sarung kesayangannya.

Tanpa mempedulikan teriakan Dimas, Rania berjalan cepat menuju kamar almarhum Ayahnya.

“Rania! Mau apa kamu?! Jangan berani-berani masuk ke kamar Ayah!” jerit Dimas mengejar dari belakang, namun Ardi dengan cepat menghadang tubuh Dimas di ambang pintu.

Rania berlutut di depan lemari kayu tua itu. Jemarinya yang bergetar menyingkirkan tumpukan kain sarung Ayah yang masih berbau minyak kayu putih. Di sudut paling dalam, terdapat sebuah kotak besi kecil. Rania membukanya.

Di dalam kotak itu, selain terdapat lampiran dokumen resmi notaris yang dicari Ardi, ada sebuah amplop cokelat kusam yang terlipat rapi.

Di bagian depan amplop itu, tertulis goresan tangan Ayah yang sangat Rania kenali:

Untuk Rania. Buka kalau suatu hari kamu merasa keluargamu tidak lagi membutuhkanmu.

Dengan dada berdebar kencang, Rania merobek pinggiran amplop tersebut dan mengeluarkan selembar surat bertuliskan tangan. Tulisan Ayah gemetar di beberapa bagian, tanda surat itu ditulis di sisa-sisa kekuatannya sebelum berpulang.

Rania membaca baris demi baris. Air matanya menetes satu per satu membasahi kertas kusam itu.

Ayahnya menuliskan seluruh penyesalannya karena selama ini membiarkan Dimas bersikap arogan, dan bagaimana Ayah tahu Rania selalu mengalah demi menjaga kedamaian rumah. Namun di paragraf terakhir, mata Rania terpaku pada sebuah kalimat yang mengejutkan.

Rania, anakku yang paling sabar… Ada satu hal lagi yang belum pernah Ayah ceritakan kepadamu tentang asal-usul rumah ini dan alasan sebenarnya mengapa Ayah memintamu menyimpan semua bukti pembayaran itu sejak hari pertama.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Konflik Keluarga, Pengkhianatan, Perbedaan Status
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita