Aku Diusir dari Rumah yang Kubayar Sendiri - Bab 1

  1. Home
  2. Aku Diusir dari Rumah yang Kubayar Sendiri
  3. Bab 1 - AKU DIUSIR DARI RUMAH YANG KUBAYAR SENDIRI
Next

Koper hitam di ujung ruangan itu meluncur kasar, menghantam daun pintu kamar yang terbuka lebar. Suara benturannya bergema di sepanjang koridor rumah yang sepi.

Rania mematung di ambang pintu depan. Tas kerjanya masih menggantung lemas di bahu kanan, sementara kunci rumah yang baru saja ia pakai untuk membuka pintu masih menancap di gagang. Tangannya bergetar perlahan.

“Mas Dimas… ini maksudnya apa?” suara Rania bergetar, hampir tak terdengar jika bukan karena keheningan rumah yang mencekam.

Dimas, kakak laki-lakinya yang berdiri di dalam kamar Rania, tidak langsung menjawab. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu sibuk menumpuk beberapa kardus berisi pakaian dan barang-barang milik Rania ke atas lantai. Di sebelahnya, seorang kerabat keluarga—Paman Hari—tampak salah tingkah sembari memegang bantal guling Rania.

“Mas baru saja selesai membereskan barang-barangmu, Ran,” kata Dimas santai, mengusap keringat di dahinya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. “Kamar ini mau dipake buat ruang kerja Mas. Lagipula, kamu kan bisa cari kontrakan atau kos yang dekat sama kantormu.”

Napas Rania tercekat. Ia melangkah masuk, mengabaikan fakta bahwa sepatu kerjanya masih memijak lantai ruang tamu yang bersih.

“Cari kos?” Rania mengulang kalimat itu, matanya melebar tak percaya. “Mas, ini rumahku! Aku baru pulang kerja jam tujuh malam, dan pas sampai rumah, barang-barangku malah dipacking begini?”

“Rumahmu?” Dimas tertawa sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada. “Ran, tolong sadar diri. Ini rumah keluarga. Ayah baru saja meninggal bulan lalu. Sebagai anak laki-laki tertua, Mas yang punya hak atas rumah ini. Kamu itu perempuan, besok-besok kalau nikah juga ikut suamimu.”

“Hak?” Dada Rania naik turun, emosi yang selama ini tertahan di dasar hatinya tiba-tiba mencuat naik. “Hak dari mana, Mas? Selama tujuh tahun ini, siapa yang bayar cicilannya tiap bulan? Siapa yang potong gaji tiap tanggal satu demi memastikan rumah ini nggak disita bank? Mas Dimas atau aku?!”

“Suaramu jangan tinggi-tinggi sama kakakmu, Ran!”

Sari muncul dari arah dapur. Ibunya yang berusia lima puluh enam tahun itu melangkah mendekat dengan wajah tegang. Namun, alih-alih merangkul Rania yang sedang gemetaran, Sari justru berdiri tepat di samping Dimas.

“Bu…” Rania menatap ibunya dengan tatapan penuh keputusasaan. “Ibu tahu, kan? Dari awal rumah ini dibeli, gaji Rania yang kepotong lima juta setiap bulan. Tujuh tahun, Bu. Rania nggak pernah beli baju mahal, nggak pernah liburan, tabungan Rania habis cuma buat rumah ini. Kenapa Mas Dimas tiba-tiba usir Rania?”

Sari mengalihkan pandangannya sebentar, menghindari tatapan mata anak perempuannya. “Rania, dengarkan Ibu dulu. Mas-mu ini sedang mencoba menata bisnisnya lagi. Dia butuh tempat dan butuh kejelasan status di rumah ini supaya bisa fokus. Kamu kan anak perempuan, kerjaanmu mapan, belum ada tanggungan. Kamu masih bisa cari rumah lain atau sewa kamar…”

“Bu!” Rania hampir berteriak, suaranya melengking menahan tangis yang mendesak keluar dari matanya. “Ibu minta aku mengalah lagi? Kenapa selalu aku yang harus mengalah? Dulu waktu Mas Dimas butuh modal bisnis dan gagal, siapa yang lunasi utangnya? Ayah dan aku! Sekarang, rumah yang kubayar pakai keringatku sendiri mau diambil begitu saja?”

“Kamu jangan perhitungan sama keluarga sendiri!” potong Dimas tajam, langkahnya maju menyudutkan Rania. “Uang yang kamu keluarkan selama tujuh tahun itu dianggap saja bentuk bakti kamu sama Ayah dan Ibu! Lagipula, nama di sertifikat itu nama Ayah, bukan namamu. Secara hukum dan adat, anak laki-laki yang berhak meneruskan rumah orang tuanya!”

“Uang bakti?” Rania tertawa sumbang, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. Rasa panas membakar dadanya. “Tujuh ratus juta lebih yang aku keluarkan cuma dianggap ‘uang bakti’ sementara Mas Dimas yang nggak pernah nyumbang sepeser pun langsung merasa jadi pemilik?”

“Rania, sudah!” bentak Sari, wajahnya memerah karena merasa tertekan oleh kerabat yang melihat pertengkaran mereka. “Jangan bikin malu keluarga di depan Pamanmu! Jangan bikin suasana makin keruh setelah Ayahmu meninggal! Kalau Ibu bilang kamu mengalah dulu, ya mengalah! Kamu kan bisa tinggal di kosan dekat kantor!”

Kata-kata itu menghantam Rania lebih keras daripada benturan koper di lantai tadi.

Kamu kan perempuan. Kamu masih bisa cari rumah lain.

Kalimat ibunya terasa seperti sembilu yang mengiris hatinya hingga berkeping-keping. Selama bertahun-tahun, Rania menahan diri dari segala keinginan pribadi. Ia membiarkan tabungannya ludes demi memastikan orang tuanya memiliki tempat tinggal yang layak dan kakaknya memiliki tempat berlindung. Namun malam ini, di rumah yang pondasinya dibangun dari setiap tetes keringatnya, ia diperlakukan tak ubahnya seorang asing yang menumpang gratis.

Dimas mengisyaratkan Paman Hari untuk mendorong koper-koper Rania keluar dari pintu depan.

“Mas kasih waktu sampai malam ini untuk ambil sisa barangmu,” ujar Dimas tanpa nada penyesalan. “Kunci rumah taruh di meja.”

Rania menatap ibunya. Memohon, walau hanya lewat pandangan mata, agar sang ibu menahan tangannya dan membela haknya. Namun, Sari hanya menunduk, meremas jarinya sendiri, memilih diam dan membiarkan anak laki-laki kesayangannya menguasai keadaan.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Rania membalikkan badan. Langkah kakinya terasa sangat berat saat ia menyusuri teras. Ia menarik kopernya melewati pintu pagar besi yang berdecit kusam.

Di luar pagar, di bawah temaram lampu jalanan komplek, Rania berhenti. Ia menoleh ke belakang, menatap bangunan lantai dua berbalut cat krem yang tampak hangat di luar, namun begitu dingin dan busuk di dalam. Tujuh tahun pengorbanannya dibuang hanya dalam waktu kurang dari satu jam.

Ponsel di dalam tasnya bergetar beruntun. Rania meraba tasnya dengan tangan yang masih gemetaran, mengeluarkan layar yang menyala.

Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ardi, teman lamanya yang bekerja sebagai notaris.

Ran, kamu di mana? Jangan tanda tangan dokumen apa pun kalau Dimas minta. Aku baru menemukan sesuatu yang aneh waktu merapikan berkas-berkas lamanya Ayahmu.

Rania mengusap air matanya kasar, berusaha membaca tulisan di layar yang kabur. Sebelum ia sempat mengetik balasan, pesan berikutnya dari Ardi langsung muncul di layar.

Ayahmu meninggalkan satu dokumen tertulis bersama berkas sertifikat lama. Dokumen ini bisa mengubah semuanya, Ran. Rumah itu bukan milik Dimas.

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Konflik Keluarga, Pengkhianatan, Perbedaan Status
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita