Aku Diusir dari Rumah yang Kubayar Sendiri - Bab 3

  1. Home
  2. Aku Diusir dari Rumah yang Kubayar Sendiri
  3. Bab 3 - RUMAH INI BUKAN MILIK ANAK YANG PALING TUA
Prev
Novel Info

Rania berdiri dari lantai kamar, meremas surat itu di dadanya. Ia melangkah keluar kamar dengan tatapan mata yang tak lagi sama. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi raut wajah anak perempuan yang selalu mengalah.

Di ruang tamu, suasana tegang masih melingkupi semua orang. Pria berjas pembeli rumah itu tampak makin ragu, sementara Dimas terus berjalan bolak-balik dengan cemas.

“Mas Dimas,” suara Rania terdengar dingin memotong perdebatan.

Semua orang menoleh. Rania meletakkan lampiran dokumen resmi dari notaris ke atas meja di depan pria pembeli rumah, lalu membacakan isi surat Ayahnya dengan suara lantang dan jelas.

“‘Untuk anakku Rania… Ayah tahu Mas-mu Dimas bertahun-tahun memanfaatkan kebaikanmu. Ayah tahu utang-utang bisnisnya yang menumpuk dan bagaimana dia berniat menjadikan rumah ini sebagai korban kekalahannya. Karena itu, Ayah pastikan di mata hukum dan di mata Tuhan, rumah ini sepenuhnya milikmu.'”

Rania menatap kakaknya yang kini terpaku seperti patung.

“‘Rumah ini bukan hadiah untuk anak yang paling tua. Rumah ini adalah hasil perjuangan anak yang tidak pernah meminta apa-apa.'”

Suara Rania bergetar saat membaca kalimat terakhir itu, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Dimas.

“Dan satu hal lagi yang belum pernah Ayah ceritakan…” Rania melanjutkan membacakan isi surat tersebut, matanya beralih menatap ibunya. “…dulu, waktu Ayah jatuh sakit lima tahun lalu dan butuh operasi besar, uang yang dipakai bukan uang tabungan Mas Dimas seperti yang Mas Dimas klaim selama ini. Ayah tahu kamu, Rania, yang diam-diam menjual perhiasanmu dan mengambil pinjaman pribadi demi menyelamatkan nyawa Ayah. Dan rumah ini, dibeli atas nama Ayah hanya karena syarat administratif saat itu, namun seutuhnya dibayar oleh darah dan keringat Rania.”

Sari memegang dadanya, matanya melebar menatap Dimas dengan rasa terkejut yang amat sangat. “Dimas… jadi selama ini… uang operasi Ayah lima tahun lalu… bukan dari kamu?”

Dimas menunduk dalam-dalam. Wajahnya pucat pasi, tak mampu lagi bersuara. Kebohongan yang ia rangkai bertahun-tahun untuk membangun citra sebagai ‘anak laki-laki yang sukses dan berjasa’ runtuh seketika di depan ibunya sendiri.

Pria berjas yang duduk di sofa langsung berdiri, mengambil tasnya. “Maaf, Pak Dimas. Berdasarkan dokumen notaris dan sengketa internal ini, transaksi batal secara hukum. Saya permisi.”

Pria itu melangkah pergi meninggalkan rumah.

Hening seketika menguasai ruang tamu. Dimas terduduk lelah di sofa, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Rahasia utang-utangnya, kegagalannya, dan pengkhianatannya terhadap kepercayaan Ayah kini terbuka lebar tanpa sisa.

Sari melangkah mendekati Rania dengan tubuh gemetaran. Air mata menetes deras di pipinya yang mulai keriput. Tangannya yang gemetar terulur, mencoba menyentuh lengan Rania.

“Ran… Maafin Ibu, Ran…” bisik Sari dengan suara hancur. “Ibu nggak tahu… Ibu pikir Mas-mu yang selama ini menopang keluarga… Ibu cuma takut Mas-mu pergi kalau Ibu nggak turuti kemauannya… Maafin Ibu, Nak…”

Rania menatap ibunya. Ada rasa sakit yang luar biasa melihat ibunya menangis, tetapi rasa terluka atas pengusiran semalam masih berbekas jelas.

“Aku memaafkan Ibu,” kata Rania pelan namun tegas. “Tapi aku nggak mau lagi hidup dengan harus selalu mengalah supaya semua orang merasa nyaman. Aku bukan tempat penampungan beban keluarga yang cuma dicari saat butuh uang, lalu dibuang waktu menuntut hak.”

Sari menangis semakin keras, mengangguk pelan menandakan penyesalannya yang mendalam. Ia kini menyadari betapa ketidakadilannya selama ini telah melukai anak perempuan yang paling mencintainya.

Rania lalu beralih menatap Dimas.

“Mas Dimas. Rumah ini milikku secara hukum dan moral. Mas nggak punya hak sepeser pun untuk menjual, menjaminkan, atau mengusir siapa pun dari sini. Soal utang-utang Mas, selesaikan sendiri sebagai pria dewasa. Aku nggak akan lagi melunasi satu rupiah pun kesalahan yang Mas buat.”

Dimas mengangkat wajahnya, menatap Rania dengan mata merah berisi penyesalan dan rasa malu. “Ran… Mas…”

“Tapi aku bukan Mas Dimas,” potong Rania sebelum kakaknya sempat memohon. “Aku nggak akan usir Mas Dimas hari ini. Mas boleh tinggal di sini sampai Mas dapat pekerjaan dan tempat tinggal baru. Tapi ingat, status Mas di rumah ini hanya menumpang di rumah adiknya.”

Dimas menunduk pasrah, mengangguk pelan tanpa berani membantah lagi.

Tiga bulan kemudian.

Matahari sore memancarkan sinar keemasan menerobos jendela kaca ruang tamu. Bau harum masakan tumis kangkung beraroma gurih memenuhi udara rumah.

Rania pulang kerja, melangkah masuk ke dalam rumah. Tak ada lagi koper di pintu depan, tak ada lagi tatapan merendahkan.

“Sudah pulang, Ran?” Sari keluar dari dapur membawa mangkuk sayur. Wajah ibunya tampak lebih tenang, meski garis-garis penyesalan itu masih terlihat. Sari meletakkan mangkuk di meja makan, lalu menatap Rania dengan lembut. “Ibu tadi masak makanan kesukaanmu. Mau makan sekarang?”

“Nanti dulu, Bu. Mau bersih-bersih sebentar,” jawab Rania ramah.

Sari tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat. “Oh ya, Ran… ini tadi ada tagihan listrik dan air. Ibu simpan di meja kamu. Sekarang Ibu nggak mau ambil keputusan apa-apa soal rumah sebelum tanya sama kamu dulu.”

Rania menatap ibunya, lalu tersenyum tipis. “Iya, Bu. Nanti Rania yang bayar.”

Di sudut ruang tamu, Dimas baru saja selesai merapikan barang-barang dagangan lamanya. Ia kini bekerja sebagai staf di sebuah toko retail lokal untuk mencicil utangnya secara mandiri. Ketika melihat Rania, Dimas menganggukkan kepala pelan—sebuah gestur rasa hormat yang tak pernah ia tunjukkan selama puluhan tahun.

Sari berjalan mendampingi Rania ke arah teras depan, melihat tanaman bunga yang baru saja disiram.

“Ayahmu…” gumam Sari pelan, matanya menerawang menatap langit sore. “…Ayahmu pasti bangga sekali sama kamu sekarang, Ran.”

Rania menghentikan langkahnya, menoleh menatap ibunya. “Aku cuma melakukan apa yang dulu Ayah ajarkan, Bu.”

“Apa yang Ayah ajarkan?” tanya Sari lembut.

Rania memandang sekeliling rumah itu—dinding kremnya, atapnya yang kokoh, dan tawa hangat yang perlahan mulai kembali terasa di dalamnya.

“Rumah bukan tentang siapa yang paling berhak memiliki karena status atau gelar,” jawab Rania pelan, namun sarat akan makna. “Rumah itu tentang siapa yang mau berkorban dan menjaganya.”

Dan sore itu, Rania kembali menghirup napas panjang dan merasa… ia benar-benar ada di rumahnya sendiri.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Konflik Keluarga, Pengkhianatan, Perbedaan Status
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita