Aku Dituduh Merebut Suami Orang - Bab 3

  1. Home
  2. Aku Dituduh Merebut Suami Orang
  3. Bab 3 - Rahasia Lima Belas Tahun Lalu
Prev
Next

Pagi harinya, kabut tipis masih membungkus kota ketika Sera memutuskan untuk tidak lagi menjadi wanita pasif yang hanya menangisi nasibnya. Rasa sakit akibat dikhianati dan dihujat publik perlahan berubah menjadi keberanian dingin yang menuntut kebenaran utuh. Ia tidak bisa terus-menerus menjadi korban yang pasrah menerima lemparan tuduhan tanpa mengetahui peta permainan apa yang sedang dimainkan di balik kehidupannya.

Tujuannya pagi ini adalah menemui Raka Mahendra.

Raka bukan sekadar sahabat karib Damar sejak masa kuliah di Fakultas Hukum, melainkan juga pria yang menjadi tempat berkonsultasi Damar untuk banyak hal. Jika ada satu orang di dunia ini yang mengetahui kronologi sebenarnya dari pernikahan Damar dan Alisha tanpa ditutupi oleh rasa cinta atau rasa benci, orang itu adalah Raka.

Sera mengatur pertemuan melalui pesan singkat. Mereka sepakat bertemu di sebuah kafe sepi di kawasan Jakarta Selatan, jauh dari keramaian dan jangkauan orang-orang yang mungkin mengenali wajah Sera dari berita viral.

Saat Sera melangkah masuk ke kafe, Raka sudah duduk di meja sudut paling belakang. Pria bertubuh tinggi dengan kacamata berbingkai hitam itu tampak cemas. Begitu melihat Sera berjalan mendekat, Raka langsung berdiri.

“Sera,” sapa Raka dengan suara rendah. Matanya menyapu wajah Sera yang pucat dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata. “Kamu kelihatan sangat lelah. Kamu sudah makan sesuatu pagi ini?”

“Saya tidak butuh makan, Mas Raka,” jawab Sera datar. Ia menolak perhatian kecil itu dan langsung duduk di kursi kayu di hadapan Raka. Tanpa membuang waktu, Sera mengeluarkan lembaran fotokopi surat pencabutan perceraian dari dalam tasnya dan menghempaskannya ke atas meja. “Saya cuma butuh kejujuran.”

Raka melirik kertas berkop pengadilan itu. Ia mendesah panjang, meremas jemarinya sendiri, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

“Damar benar-benar ceroboh,” gumam Raka pelan. “Dia meninggalkan berkas ini di rumah?”

“Kenapa Mas Damar mencabut gugatan cerai itu tiga minggu sebelum dia pertama kali menemui saya di acara seminar?” tanya Sera, suaranya terdengar seperti tuntutan yang dingin. “Selama ini dia bilang ke saya kalau Alisha yang menolak diceraikan dan mempersulit proses di pengadilan. Tapi di surat ini, Mas Damar sendiri yang membatalkannya atas alasan kesepakatan damai. Apa maksud dari semua ini, Mas Raka?”

Raka menatap Sera dalam-dalam. Ada rasa iba dan penyesalan yang mendalam di raut wajah pengacara muda itu.

“Sera, pertama-tama aku mau menegaskan satu hal,” ujar Raka dengan suara tenang dan rasional. “Apa yang dilakukan Damar kepadamu—menyembunyikan status hukumnya dan menikahi kamu secara siri tanpa penyelesaian pernikahan lamanya—adalah sebuah kesalahan fatal. Sebagai teman dan sebagai orang hukum, aku tidak pernah membenarkan tindakannya. Tapi kalau kamu mau tahu alasan di balik surat pencabutan itu, kamu harus tahu bahwa pernikahan Damar dan Alisha bukan cuma soal dua orang yang saling mencintai.”

“Lalu soal apa?” desak Sera.

“Soal dua keluarga besar dan gurita bisnis yang saling mencengkeram,” jawab Raka lambat-lambat. “Pernikahan Damar dan Alisha sepuluh tahun lalu dirancang oleh keluarga mereka. Ayah Alisha adalah pemegang saham terbesar di perusahaan manufaktur milik keluarga Ardhana—keluarga Damar. Ketika Damar mengajukan gugatan cerai secara sepihak satu setengah tahun lalu, keluarga Alisha melakukan manuver balasan yang sangat kejam.”

Sera mendengarkan dengan saksama, dadanya terasa kian sesak saat mendengar fakta-fakta baru ini.

“Ayah Alisha mengancam akan menarik seluruh suntikan modal dan mencabut jaminan bank untuk perusahaan Ardhana,” lanjut Raka. “Kalau itu terjadi waktu itu, perusahaan keluarga Damar akan gulung tikar dalam hitungan minggu, dan lebih dari lima ratus karyawan akan kena PHK massal tanpa pesangon. Ayah Damar mengalami serangan jantung parah karena tekanan itu dan harus masuk ICU selama seminggu.”

Sera tertegun. tangannya yang berada di atas meja mengepal rapat. “Jadi… Mas Damar membatalkan perceraian itu demi menyelamatkan perusahaan ayahnya?”

“Ya,” mengangguk Raka. “Damar ditekan dari segala arah oleh keluarganya sendiri. Ibunya memohon-mohon sambil menangis di depan ICU agar Damar menyelamatkan ayahnya. Akhirnya, Damar terpaksa menandatangani surat pencabutan perceraian itu sebagai kompromi sementara. Itu adalah syarat dari keluarga Alisha agar menyuntikkan dana darurat.”

Sera bergeming sejenak, mencoba mencerna setiap detail informasi tersebut. Namun, kepalanya tetap terasa panas oleh rasa sakit hati yang belum terobati.

“Kalau memang begitu keadaannya… lalu kenapa dia mendekati saya?” suara Sera terdengar bergetar menahan amarah yang meluap. “Kalau dia tahu dia masih terikat perjanjian bisnis dan pernikahan dengan Alisha, kenapa dia berani membawa saya masuk ke dalam lingkaran setan ini?! Kenapa dia menikahi saya?!”

“Karena dia jatuh cinta sama kamu, Sera,” jawab Raka lirih, menatap lurus mata Sera. “Dan itu menjadi masalah baru. Damar merasa hubungannya dengan Alisha sudah mati total secara emosional. Mereka sudah tidak tinggal serumah, tidak pernah berkomunikasi kecuali lewat pengacara. Damar berpikir egois. Dia pikir, kalau dia menikahi kamu secara siri dulu, dia bisa menyembunyikan kamu dari jangkauan media dan keluarga besarnya, sementara dia secara diam-diam mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah saham itu dari dalam.”

Sera tertawa sinis. Air mata kemarahan yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes membasahi pipi.

“Dia pikir dia sedang melindungiku?” Sera menggelengkan kepala dengan tajam. “Dia bukan melindungiku, Mas Raka! Dia sedang menjadikan aku tawanan dari rasa egoisnya! Sekarang Alisha tahu soal aku, ibunya tahu soal aku, dan nama baikku hancur di depan seluruh masyarakat! Aku dicap sebagai wanita pebinor di mana-mana!”

“Alisha tidak sepenuhnya salah dalam hal rasa sakit hatinya, Sera,” ujar Raka dengan nada netral. “Alisha juga merasa dimanfaatkan. Dia merasa keluarganya dipakai untuk menyelamatkan perusahaan Ardhana, tetapi setelah perusahaan itu stabil, Damar justru mencari kebahagiaan sendiri di luar bersama wanita lain. Tapi aku setuju, cara Alisha menyerang kamu di media sosial dan mendatangi tempat kerjamu kemarin memang sudah sangat melampaui batas.”

“Lalu saya harus bagaimana sekarang?” Sera menatap Raka dengan mata merah berisi keputusasaan. “Karir saya di kantor hancur, saya dipecat. Keluarga saya malu di kampung. Apa yang harus saya lakukan?”

“Pulanglah ke rumah kontrakan dan ajak Damar bicara secara jujur,” puji Raka menasihati. “Damar sedang mengupayakan segala cara sekarang. Dia sedang bernegosiasi ulang dengan pihak Alisha untuk melepaskan seluruh aset pribadinya asal perceraian ini bisa diselesaikan secara hukum.”

Malam harinya, Sera kembali berada di dalam rumah kontrakannya yang sepi. Kata-kata Raka terus berputar di dalam kepalanya, memberi sedikit gambaran terang tentang rumitnya posisi Damar. Ada sebagian kecil dari hatinya yang merasa iba pada beban berat yang dipikul suaminya.

Namun, kejutan untuk hari itu ternyata belum berakhir.

Sekitar pukul sembilan malam, ketika Sera sedang menyeduh air panas di dapur, ponselnya yang tergeletak di meja makan bergetar pendek. Sebuah pesan dari nomor asing tanpa nama masuk ke dalam aplikasi perpesanannya.

Sera menyerapkan pandangannya pada layar. Pesan itu tidak berisi teks satu kata pun, melainkan hanya sebuah lampiran foto beresolusi tinggi.

Dengan ibu jari yang ragu-ragu, Sera menekan gambar tersebut untuk memperbesarnya.

Itu adalah foto Damar bersama Alisha.

Mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah meja restoran mewah bernuansa remang-remang. Dalam foto tersebut, Damar mengenakan kemeja hitam yang sangat familiar bagi Sera, sementara Alisha mengenakan gaun malam yang anggun. Pria itu tampak sedang memegang cangkir kopi, sementara Alisha menatap wajah Damar dengan raut wajah yang sangat serius dari jarak dekat.

Sera mengamati detail foto tersebut dengan napas tertahan. Di sudut meja tempat mereka duduk, terdapat sebuah kalender meja promosi milik restoran yang memperlihatkan angka tanggal dan bulan dengan sangat jelas.

Tanggal yang tertera di kalender meja itu jatuh pada pertengahan bulan lalu—hanya tiga minggu sebelum foto pernikahan Sera dan Damar bocor dan menyebar ke media sosial.

Ponsel di tangan Sera mendadak terasa begitu berat hingga nyaris terlepas dari genggamannya.

Damar selalu menegaskan berulang kali bahwa ia dan Alisha sudah tidak pernah bertemu, tidak pernah berhubungan, dan tidak pernah bertegur sapa selama bertahun-tahun sejak pisah rumah.

Lalu apa arti dari foto pertemuan mereka berdua di restoran mewah ini hanya beberapa minggu yang lalu? Apakah Damar benar-benar sedang berjuang untuk bercerai, atau pria itu sebenarnya menikmati hidup dalam dua dunia yang berbeda?

Sera memegang dadanya yang mendadak terasa kosong dan hampa. Kebohongan Damar ternyata seperti lapisan bawang; setiap kali satu lapisan terkelupas, lapisan kebohongan lain yang lebih menyakitkan siap menyambutnya.

Prev
Next
Tags:
Free Novel, Orang Ketiga, Pernikahan, Perselingkuhan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita