Aku Dituduh Merebut Suami Orang - Bab 4
Rasa sakit yang membakar dada Sera kini tidak lagi berwujud air mata, melainkan menjadi keberanian yang menuntut konfrontasi terbuka. Ia tidak sudi lagi menjadi pihak yang menebak-nebak di dalam kegelapan.
Dengan memegang bukti foto dari nomor asing tersebut, Sera menekan nomor ponsel Damar. Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum suara Damar yang terdengar serak membalas panggilannya.
“Sera? Kamu mau bicara sama aku?” suara Damar terdengar penuh harapan di seberang telepon.
“Datang ke rumah kontrakan sekarang, Mas,” kata Sera pendek. Suaranya datar tanpa emosi. “Aku tunggu dalam lima belas menit. Jangan cari alasan.”
Tanpa menunggu jawaban Damar, Sera langsung mematikan panggilan.
Tepat empat belas menit kemudian, suara deru mobil Damar terdengar berhenti di depan pagar kontrakan. Pintu depan terbuka, dan Damar melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Wajah pria itu tampak sangat lelah, lingkaran hitam tebal mengitari matanya, kemeja kerjanya kusut, dan rambutnya tidak teratur.
“Sera, kamu tidak apa-apa? Raka bilang kamu ketemu dia pagi tadi—”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sera melempar ponselnya ke atas meja tamu, tepat di hadapan Damar. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan foto pertemuan Damar dan Alisha di restoran mewah bulan lalu.
Damar menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada layar ponsel tersebut, dan seketika raut wajahnya berubah menjadi sangat tegang.
“Bisa kamu jelaskan foto ini, Mas?” kata Sera. Suaranya begitu dingin, begitu pelan, namun mampu memotong keheningan ruangan dengan tajam. “Kamu bilang sama aku kalau kamu dan Alisha sudah tidak pernah berhubungan lagi selama dua tahun. Kamu bilang kalian sudah asing satu sama lain. Lalu apa artinya pertemuan di restoran mewah ini pada pertengahan bulan lalu?!”
Damar menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri, lalu memijat pelipisnya yang tampak berdenyut. “Sera… tolong, ini tidak seperti yang kamu bayangkan—”
“STOP mengulang kalimat itu, Mas Damar!” bentak Sera, emosinya yang ditahan sejak pagi akhirnya meledak. Ia berdiri dari kursinya, menunjuk wajah Damar dengan jari yang bergetar. “Setiap kali kamu ketahuan menyembunyikan sesuatu, kalimat itu yang selalu keluar dari mulut kamu! Kamu menemui dia secara diam-diam di restoran mahal, duduk berdua dari hati ke hati, sementara kamu menyembunyikan aku di rumah kontrakan ini seperti barang haram yang memalukan!”
“Aku menemui dia untuk menyerahkan surat kesepakatan cerai yang baru, Sera!” teriak Damar balik, mencoba membela diri. Suaranya terdengar frustrasi dan penuh tekanan. “Aku tidak sedang berselingkuh atau bernostalgia dengan Alisha di sana!”
Sera tertegun sejenak. “Apa?”
Damar melangkah mendekati Sera, matanya memancarkan rasa sakit dan keputusasaan yang teramat sangat.
“Bulan lalu, aku merasa tidak bisa terus-menerus menyembunyikan kamu dan status pernikahan kita,” ujar Damar dengan suara yang bergetar menahan tangis. “Aku tahu aku salah karena menunda-nunda. Jadi aku mengambil keputusan besar. Aku menemui Alisha secara langsung di restoran itu untuk menyerahkan draft perceraian baru yang kubuat bersama Raka. Aku menawarkan kesepakatan damai: aku rela melepaskan seluruh hak saham pribadi milikku di perusahaan keluarga Ardhana dan menyerahkannya ke pihak keluarga Alisha, asal dia mau menandatangani surat cerai itu secara kooperatif!”
Sera terpaku di tempatnya berdiri. “Kamu… melepaskan seluruh saham kamu?”
“Ya!” tegas Damar, matanya menatap lurus ke dalam mata Sera. “Aku rela keluar dari perusahaan ayahku tanpa membawa harta warisan, aku rela kehilangan posisi direkturku di sana, asal Alisha mau melepaskan aku secara hukum dan kita bisa menikah secara resmi di KUA! Aku ingin meresmikan kamu di mata hukum negara, Sera!”
Sera memandang Damar, mencari kebohongan di raut wajah pria itu. Namun yang ia lihat kali ini bukanlah kepura-puraan, melainkan rasa lelah luar biasa dari seorang pria yang tersudut di antara tanggung jawab keluarga dan cintanya.
“Tapi… kalau kamu sudah menawarkan sahammu,” tanya Sera pelan, suaranya melunak oleh kebingungan, “kenapa Alisha menolaknya? Kenapa dia justru menyebarkan foto pernikahan kita ke media sosial kalau dia cuma mau harta?”
“Karena bukan Alisha yang membocorkan foto pernikahan kalian ke media sosial,” ujar sebuah suara wanita yang tiba-tiba menginterupsi dari arah pintu depan yang terbuka.
Sera dan Damar serentak menoleh ke sumber suara.
Alisha Prameswari berdiri di ambang pintu. Kali ini ia datang seorang diri, tanpa pengawal, tanpa wartawan, dan tanpa kemewahan yang mencolok. Ia mengenakan blus hitam simpel dan celana kain. Wajahnya yang kemarin tampak angkuh kini terlihat sangat lelah, menyimpan bayangan ketegangan yang sama besarnya.
“Alisha? Mau apa kamu ke sini lagi?!” bentak Damar bariton, mendadak berdiri pasang badan di depan Sera.
Alisha tidak membalas bentakan Damar dengan amarah seperti kemarin. Ia melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan itu, menatap sekeliling ruangan yang sederhana dengan tatapan yang sangat rumit.
“Aku datang ke sini bukan untuk bertengkar atau membuat keributan lagi,” kata Alisha pelan, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke arah Sera. “Aku datang untuk memberi tahu wanita ini hal yang sebenarnya. Biar dia tidak mati konyol menjadi korban di antara permainan keluarga kalian, Damar.”
Sera melangkah keluar dari belakang punggung Damar. “Maksud Mbak Alisha apa?”
Alisha menghela napas panjang, lalu bersandar pada tepi meja tamu. “Siapa yang mengirimi kamu foto pertemuan kami di restoran bulan lalu?”
Sera mengernyitkan alis. “Dari nomor tidak dikenal.”
“Nomor itu milik orang suruhan Ibu Mertuaku—ibumu sendiri, Damar,” kata Alisha dengan nada tegas dan dingin.
Damar terbelalak, wajahnya mendadak pucat pasi. “Ibu? Jangan sebar fitnah tentang Ibuku, Alisha!”
“Aku tidak menyebar fitnah, Damar!” pekik Alisha, matanya mulai berkaca-kaca oleh amarah yang tertahan. “Ibumu yang menyewa orang untuk membuntuti kamu! Ibumu yang mendapatkan foto pernikahan siri kalian dari grup keluarga, lalu ibumu sendiri yang mengirimkan foto itu kepadaku dua minggu lalu lewat kurir anonim!”
Ruangan itu mendadak hening seketika. Kata-kata Alisha bergaung bagai dentuman meriam yang menghancurkan dinding pertahanan Damar.
“Nggak mungkin…” bisik Damar, suaranya nyaris hilang. “Ibu tidak mungkin melakukan hal sekejam itu…”
“Ibumu tidak pernah suka padaku karena keluargaku dianggap terlalu mendominasi bisnis Ardhana,” lanjut Alisha, suaranya gemetar oleh kepahitan masa lalu. “Tapi ibumu juga tidak akan pernah sudi menerima wanita biasa seperti Sera menjadi menantunya! Sera tidak punya latar belakang keluarga kaya atau koneksi bisnis yang bisa dimanfaatkan. Ibumu sengaja memanfaatkan emosi dan rasa dikhianatiku untuk menyebarkan skandal ini ke media sosial! Dia mau menghancurkan mental Sera agar Sera pergi meninggalkan kamu, sekaligus memanfaatkan situasi ini agar kamu ketakutan dan kembali tunduk pada kendali keluarga!”
Alisha kemudian berjalan mendekati Sera. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Tatapan benci dan penghinaan dari Alisha yang terpancar kemarin kini berganti dengan tatapan kasihan.
“Aku memang sangat marah pada suamimu karena dia meninggalkanku begitu saja setelah keluargaku menyelamatkan bisnisnya,” bisik Alisha kepada Sera dengan kejujuran yang jujur. “Tapi kalau kamu benar-benar ingin tahu siapa yang menyusun skenario agar kamu terlihat seperti wanita jahat dan pelakor di depan publik… jangan cuma melihat Damar. Lihatlah wanita yang paling disembah oleh suamimu itu.”
Alisha berbalik arah, melangkah keluar melewati pintu kontrakan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, meninggalkan Sera dan Damar dalam kehampaan yang mencekam.