Aku Dituduh Merebut Suami Orang - Bab 2
Dunia Sera runtuh seketika saat kata-kata itu keluar dari mulut Damar. Rasanya seolah seluruh pijakan tempatnya berdiri runtuh seketika, menelannya bulat-bulat ke dalam jurang kegelapan yang tak bertepi. Ia memandang pria di hadapannya—pria yang selama sepuluh bulan ini memberinya kasih sayang penuh, yang setiap pagi menyeduh teh hangat dan meletakkannya di meja kerjanya, yang selalu berjanji akan menjaganya dari segala badai—seperti memandang seorang asing yang mengerikan.
“Secara hukum… masih istriku?” Sera mengulang kalimat itu dengan suara berbisik. Suaranya datar, nyaris tanpa nada, tetapi getaran di ujung kalimatnya menunjukkan betapa hancur dadanya saat ini.
Di sekeliling mereka, halaman kantor distributor tempat Sera bekerja mendadak hening sejenak sebelum akhirnya riuh kembali oleh bisik-bisik rekan kerjanya. Beberapa orang memegang ponsel dengan kamera yang terarah tepat ke wajah Sera. Tatapan yang biasanya penuh kehangatan dari kawan-kawan sekantornya kini berganti menjadi tatapan sinis, jijik, dan penuh penghinaan.
Alisha menyunggingkan senyum puas. Ia melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegak dengan tumit sepatu hak tingginya yang menancap angkuh di atas aspal.
“Dengar sendiri, ‘kan?” ujar Alisha, suaranya tenang namun bergema dingin menyapu halaman kantor. “Kamu dengar sendiri dari mulut pria yang kamu bangga-banggakan itu? Kamu cuma selingkuhan, Sera. Nikah siri di bawah tangan, tanpa izin, tanpa persetujuan dari aku sebagai istri sahnya secara hukum negara. Jangan pernah berpura-pura jadi korban di sini. Kamu itu pelaku! Kamu wanita yang merusak rumah tangga orang lain!”
Damar berpaling dari Sera, matanya menyala menatap Alisha. Pria itu mengambil satu langkah lebar untuk berada di antara Alisha dan Sera.
“Alisha, cukup! Pergi dari sini sekarang!” bentak Damar dengan suara baritonnya yang menggelegar hingga membuat beberapa pegawai di halaman terperanjat. “Jangan berani-berani kamu menyentuh atau menghina Sera lagi! Masalah kita adalah masalah kita, jangan bawa-bawa dia!”
“Jangan bawa-bawa dia?” Alisha tertawa renyah, sebuah tawa sumbang yang penuh kepahitan. “Kamu yang membawa dia ke dalam hidup kita, Damar! Kamu yang membawa wanita ini tidur di tempat tidur yang seharusnya menjadi milik hubungan kita yang belum selesai! Takut borokmu makin kelihatan di depan orang banyak? Aku tidak akan pergi sebelum semua orang di kota ini tahu siapa kalian sebenarnya. Wanita ini sudah menghancurkan pernikahan yang kubangun!”
“CUKUP!”
Sera berteriak dengan sisa tenaga yang meluap dari dalam dadanya. Suaranya pecah, menghentikan perdebatan sengit antara Damar dan Alisha. Sera melangkah maju, melepaskan diri dari bayang-bayang punggung Damar. Ia mengusap air mata di pipinya secara kasar dengan punggung tangan, lalu mendongak menatap Alisha lurus-lurus.
“Saya tidak pernah tahu,” kata Sera. Suaranya gemetar hebat, namun setiap kata yang keluar ditata dengan ketegasan yang tersisa dari harga dirinya. “Demi Allah, Mbak Alisha… saya tidak pernah tahu kalau Mas Damar masih punya istri sah. Kalau saya tahu dari awal bahwa dia masih terikat pernikahan dengan wanita lain, saya tidak akan pernah mau menyerahkan hidup saya untuk menikah dengan dia!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Sera berbalik tanpa memedulikan siapa pun lagi. Ia memutar tubuhnya, melangkah cepat menyusuri trotoar menuju jalan raya.
“Sera! Sera, tunggu!” teriakan Damar memanggil namanya berulang kali terdengar di belakang, diikuti suara langkah kaki yang mengejar.
Namun Sera tidak peduli. Ia menghentikan angkutan umum yang melintas, melompat masuk, dan membiarkan kendaraan itu membawanya pergi dari tempat yang telah menghancurkan seluruh kehormatannya dalam hitungan jam.
Suasana di dalam rumah kontrakan mereka terasa begitu mencekam ketika sore menjelang. Angin dingin merembes lewat celah jendela yang terbuka separuh. Sera duduk kaku di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai keramik yang dingin. Di sebelahnya, dua buah koper besar dari kain tergelar terbuka. Pakaian-pakaian yang biasa ia susun rapi di lemari kini berserakan di atas kasur, siap dimasukkan satu per satu.
Pintu kamar terbuka pelan. Damar masuk dengan langkah gulai. Pria itu melepas jasnya, melangkah mendekat, lalu perlahan menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai tepat di hadapan Sera. Ia mencoba meraih kedua tangan Sera yang berada di atas pangkuan.
“Jangan sentuh aku, Mas,” bisik Sera dingin seraya menarik tangannya menjauh.
Damar menelan ludah yang terasa bagai duri di tenggorokannya. “Sera, tolong… tolong dengarkan aku dulu. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan.”
“Menjelaskan apa lagi, Mas?” Sera menatapnya dengan mata yang sembap dan merah. “Menjelaskan kalau kertas dari KUA yang dibawa Alisha tadi pagi cuma ilusi? Atau mau menjelaskan kalau aku ini sebenarnya bukan istri kamu, tapi cuma simpanan yang kamu sembunyikan dari dunia?”
“Aku dan Alisha sudah berpisah rumah sejak dua tahun lalu, Sera!” puji Damar dengan raut wajah yang hancur oleh penyesalan. Suaranya bergetar menahan emosi. “Sejak sebelum aku pertama kali bertemu kamu di seminar itu! Kami sudah tidak tinggal bersama, tidak pernah bicara sebagai suami istri, dan secara emosional… pernikahan itu sudah mati total! Aku tidak pernah menganggap dia istriku lagi sejak hari aku keluar dari rumah itu!”
“Tapi secara hukum kamu masih suaminya, Mas Damar!” potong Sera dengan suara melengking. Air mata kembali menetes membasahi pipinya. “Kenapa kamu bohong sama aku?! Kenapa waktu kita mau menikah kamu bilang semua dokumen perceraian kamu sudah selesai?! Kamu bilang kamu sudah duda! Kamu bilang masa lalu kamu sudah bersih!”
Damar menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas celananya sendiri di atas lantai. “Prosesnya tertunda, Sera. Waktu itu ada masalah keluarga yang sangat rumit dari pihak Alisha, dan pengacara kami mengalami kendala besar dalam pengurusan berkas di pengadilan. Aku… aku takut kehilangan kamu kalau aku jujur waktu itu. Aku tahu kamu wanita baik-baik dari keluarga terpandang di desa. Kamu tidak akan pernah mau menikah dengan pria yang status hukumnya masih menggantung!”
Sera tertawa sumbang. Tawa yang terdengar penuh ratapan dan keputusasaan.
“Kamu takut kehilangan aku?” Sera menggelengkan kepala seolah tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. “Jadi solusi kamu adalah menipu aku? Kamu membiarkan aku berjalan memasuki pernikahan ini tanpa tahu kalau ada bom waktu yang siap meledak? Kamu jadikan aku wanita simpanan tanpa aku sadari, Mas! Kamu tahu bagaimana rasanya berdiri di halaman kantor tadi pagi? Dituduh sebagai perebut suami orang di depan puluhan teman kerjaku?! Kamu tahu bagaimana hancurnya perasaan ibuku sekarang?!”
Ponsel Sera yang tergeletak di atas kasur terus-menerus berdenting dan bergetar. Pesan-pesan makian di akun media sosialnya tidak berhenti mengalir. Bahkan ibunya di kampung halaman sudah menelepon belasan kali sambil menangis histeris, menanyakan kebenaran berita skandal yang kini merambah ke grup-grup WhatsApp keluarga besar mereka. Sera dipandang sebagai anak yang tidak tahu diri, wanita yang tidak berpendidikan karena dianggap merusak rumah tangga orang kaya.
“Sera, aku mohon… tolong beri aku waktu,” Damar kembali berusaha memegang jemari Sera, kali ini mencengkeramnya lembut namun kuat, menolak untuk dilepaskan. Air mata mulai menggenang di sudut mata pria yang biasanya selalu terlihat tenang dan tangguh itu. “Aku akan urus perceraian dengan Alisha sekarang juga. Hari ini juga aku minta pengacaraku memprosesnya. Aku akan selesaikan semuanya di pengadilan. Tolong, jangan pergi dari hidupku.”
“Masalahnya bukan cuma status hukum kamu yang belum selesai, Mas,” kata Sera pelan. Tatapannya menusuk tajam ke dalam iris mata Damar. “Masalah utamanya adalah kamu memilih untuk membohongi aku sejak hari pertama kita kenal. Kamu membiarkan aku hidup dalam kepalsuan selama ini. Bagaimana aku bisa percaya lagi sama kamu kalau dasar dari rumah tangga kita ini adalah kebohongan?”
Damar membisu. Kata-kata Sera menghantam dada kirinya begitu telak hingga ia tak mampu merangkai satu kalimat pembelaan pun.
Sera menarik tangannya perlahan dari genggaman Damar. Ia berdiri, melangkah mendekati kasur, lalu mulai melipat baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper tanpa memedulikan Damar yang masih berlutut kaku di lantai.
“Aku mau pulang ke rumah ibuku,” kata Sera datar.
“Sera, jangan sekarang,” cegah Damar seraya bangkit berdiri. Tangannya menahan tepi koper Sera. “Keluarga kamu sedang emosi, media sosial lagi panas-panasnya. Di luar sana banyak orang dan media kecil yang mencari keberadaan kamu. Kalau kamu pulang ke kampung sekarang, kamu cuma akan jadi sasaran empuk mereka. Tetaplah di sini. Biar aku yang keluar. Aku akan tinggal di apartemen Raka sampai situasi ini sedikit mereda. Tapi tolong… jangan tinggalkan rumah ini.”
Sera menghentikan jemarinya pada ritsleting koper. Ia memandang sekeliling kamar tidur mereka. Kamar yang selama sepuluh bulan ini menjadi saksi bisu kebahagiaan semunya. Setiap sudut ruangan ini menyimpan kenangan tentang janji-janji manis Damar saat mereka terbangun di pagi hari. Janji yang kini terasa bagai racun yang perlahan membunuh hatinya.
“Terserah kamu mau tinggal di mana, Mas,” kata Sera tanpa memandang wajah suaminya. “Tapi aku butuh waktu. Jangan cari aku dulu, dan jangan temui aku sampai kepalaku benar-benar dingin.”
Malam harinya, rumah kontrakan itu terasa begitu sepi dan asing. Damar benar-benar pergi membawa satu tas ransel menuju apartemen Raka, memberikan ruang yang diminta Sera. Namun, ruangan yang sepi dan hening itu justru membuat kepala Sera semakin bising oleh dentuman pertanyaan dan rasa sakit.
Sera tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Alisha yang melontarkan kata-kata menyakitkan di depan umum selalu terbayang jelas.
Untuk mengalihkan pikirannya yang nyaris gila, Sera bangkit dari tempat tidur sekitar pukul dua pagi. Ia melangkah ke ruang tamu, mendekati meja kerja kayu milik Damar yang berada di sudut ruangan. Pria itu pergi dengan terburu-buru tadi sore dan meninggalkan tumpukan berkas dalam keadaan berantakan.
Sera mulai merapikan lembaran kertas kerja dan laporan keuangan yang berserakan. Namun, saat ia menarik laci paling bawah dari meja tersebut untuk menyimpan map, matanya menangkap sebuah amplop cokelat tebal berkunci tali yang terselip jauh di balik tumpukan dokumen perpajakan.
Amplop itu tampak agak kusam di bagian sudutnya, dengan tulisan tangan Damar yang tegas di bagian depan: Pribadi / Rahasia.
Jantung Sera berdegup kencang secara mendadak. Ada dorongan kuat dan intuisi wanita yang mendesaknya untuk membuka dokumen tersebut. Dengan jemari yang dingin dan gemetar, Sera menguraikan tali cokelat yang melilit kancing amplop, lalu menarik keluar berkas tebal di dalamnya.
Di balik sampul pertama, tertera sekumpulan berkas hukum resmi. Surat pengajuan perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, tertanggal satu setengah tahun yang lalu—jauh sebelum Damar pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Sera.
Sera menarik napas lega secara refleks. Paling tidak, ada satu kebenaran kecil di sini: Damar memang tidak sepenuhnya berbohong bahwa ia pernah mencoba menceraikan Alisha secara resmi.
Namun, saat Sera membalik halaman demi halaman dari berkas pengadilan tersebut, keningnya berkerut tajam. Matanya tertuju pada sebuah lembaran berkop Pengadilan Agama dengan stempel merah besar di bagian tengahnya.
Stempel itu bertuliskan: Pencabutan Permohonan Perceraian.
Sera menahan napas. Ia membaca baris demi baris dokumen tersebut dengan ketelitian yang luar biasa. Surat pencabutan gugatan itu diajukan hanya dua bulan setelah pendaftaran pertama dilakukan. Dan yang membuat darah Sera mendadak berdesir dingin adalah alasan pencabutan serta pihak yang mengajukannya.
Pencabutan itu bukan dilakukan karena penolakan dari Alisha. Dokumen itu diajukan sendiri secara resmi oleh Damar Ardhana, dengan alasan tertulis: Kesepakatan Damai dan Penataan Ulang Aset Keluarga.
Tanggal resmi pencabutan dokumen tersebut tercatat hanya tiga minggu sebelum Damar pertama kali berkenalan dengan Sera di acara seminar bisnis di Jakarta.
Sera memegang lembaran kertas itu dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Matanya liar memindai tanda tangan Damar yang tertera jelas di atas meterai.
“Pencabutan?” bisik Sera pada keheningan malam. “Mas Damar sendiri yang mencabut gugatan cerai itu? Tapi… kenapa dia bilang sama aku kalau prosesnya tertunda karena Alisha yang mempersulit?”
Sera menyandarkan punggungnya pada tepi meja kerja. Ada sesuatu yang sangat tidak masuk akal dalam penanggalan dokumen ini. Damar membatalkan perceraiannya secara damai dengan Alisha, dan tiga minggu kemudian, pria itu masuk ke dalam kehidupan Sera, mendekatinya, memikat hatinya, lalu mengajaknya menikah secara rahasia.