Aku Dituduh Merebut Suami Orang - Bab 1
Ponsel di atas meja rias berdenting tanpa henti sejak lima belas menit yang lalu. Sera Anindya, yang baru saja selesai memoles lipstik tipis di bibirnya, memiringkan kepala. Dahi mulusnya berkerut. Biasanya, jam delapan pagi seperti ini, notifications di ponselnya hanya berisi pesanan barang dari toko daring tempat ia bekerja sebagai admin, atau pengingat jadwal dari aplikasi kalender.
Namun pagi ini, layar ponselnya menyala terus-menerus, memunculkan deretan nama yang sangat ia kenal: Mbak Maya, Kak Rian, Tante Erna, hingga beberapa teman kuliah yang sudah bertahun-tahun tidak bertukar kabar.
“Aneh,” gumam Sera pelan.
Ia meraih benda persegi itu. Ibu jarinya mengusap layar, membuka salah satu pesan dari Mbak Maya, sepupunya yang paling vokal di grup keluarga. Sebuah tautan unggahan dari platform media sosial populer tertera di sana, diikuti rentetan pesan singkat berisi tanda tanya besar.
Sera, ini beneran kamu? Kamu nikah sama suami orang?!
Sera, tolong jawab! Ibu kamu sampai nangis-nangis di grup!
Kamu sadar enggak sih apa yang kamu lakuin?!
Jantung Sera berdegup kencang secara mendadak. Jemarinya yang bergetar hebat menekan tautan tersebut. Halaman media sosial itu terbuka, menampilkan sebuah unggahan yang sudah dibagikan lebih dari lima ribu kali hanya dalam waktu beberapa jam.
Foto yang terpajang di sana membuat napas Sera tertahan.
Itu adalah foto pernikahannya dengan Damar Ardhana sepuluh bulan lalu. Sebuah acara akad nikah sederhana di rumah makan bernuansa Jawa, hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa sahabat dekat. Sera mengenakan kebaya putih simpel, sementara Damar tampil gagah dengan jas gelapnya. Tersenyum hangat, menatap kamera dengan penuh keyakinan.
Namun, narasi di atas foto tersebut menghantam kesadaran Sera bagai godam berat:
Perempuan ini berpura-pura polos, tapi ternyata tega merebut suami orang! Menikah diam-diam tanpa rasa malu, padahal pernikahan kami secara hukum belum pernah berakhir. Kamu pikir kamu bisa bahagia di atas penderitaan istri sah, Sera Anindya?
“Enggak… ini enggak mungkin,” bisik Sera. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Banjir komentar di bawah unggahan itu mengerikan. Ratusan warganet melontarkan makian, menyebut nama lengkapnya, bahkan menandai akun toko online tempatnya bekerja. Nama Sera seketika hancur dalam hitungan jam.
Pintu kamar tidur terbuka. Damar masuk sembari merapikan dasi abu-abu yang melingkar di lehernya. Pria itu tersenyum tenang, ekspresi yang selalu berhasil menentramkan Sera selama hampir satu tahun mereka membina rumah tangga.
“Sayang, kamu sudah siap? Biar aku antar sekalian berangkat ke—”
“Mas.” Sera memotong ucapan suaminya. Suaranya gemetar, matanya menatap Damar dengan tatapan yang belum pernah pria itu lihat sebelumnya. Ada ketakutan, amarah, dan kebingungan yang bercampur aduk.
Damar menghentikan jemarinya pada simpul dasi. “Ada apa, Sera? Wajah kamu pucat sekali.”
Sera tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengacungkan ponselnya, memperlihatkan layar yang masih menampilkan foto pernikahan mereka dengan judul yang menghancurkan kehormatannya.
Raut wajah Damar mendadak berubah keras. Senyum tenang yang tadinya menghiasi wajah pria itu hilang seketika, digantikan oleh bayangan kecemasan yang teramat sangat. Pria itu melangkah maju, mengambil ponsel Sera, dan membaca baris demi baris tulisan di sana.
“Ini… dari mana kamu dapat foto ini?” suara Damar terdengar berat.
“Semua orang udah lihat, Mas! Keluarga aku, teman-teman aku, bahkan warganet!” Sera berdiri, kakinya lemas tetapi emosinya membumbung tinggi. “Siapa yang mengunggah ini? Kenapa ada yang bilang kalau kamu… kalau kamu masih punya istri sah?!”
Sebelum Damar sempat menjawab, ponsel di saku celana pria itu berdering nyaring. Damar melirik layarnya. Nama yang tertera di sana membuat rahangnya mengeras. Pria itu mematikan panggilan secara sepihak, namun beberapa detik kemudian panggilan masuk kembali.
“Angkat, Mas,” kata Sera dingin. “Angkat di depan aku.”
Damar menarik napas panjang. Pria itu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. Ia belum sempat mengucapkan sepatah kata pun ketika suara nyaring seorang wanita terdengar dari seberang telepon, cukup keras hingga bisa didengar oleh Sera yang berdiri dua langkah di depannya.
“Kamu pikir kamu bisa sembunyi, Damar? Aku tahu tempat tinggal kalian. Dan aku tahu di mana wanita itu bekerja. Tunggu aku.”
Panggilan terputus secara sepihak. Damar mengepalkan tangannya rapat-rapat.
“Mas, siapa wanita itu?” Sera melangkah mendekat, mencengkeram lengan kemeja Damar. “Jawab aku! Siapa dia?!”
“Sera, dengarkan aku dulu,” Damar memegang kedua bahu Sera, menatap lurus ke dalam mata istrinya. tangannya terasa dingin. “Itu Alisha. Tapi hubungan aku dan dia sudah selesai. Sudah lama sekali selesai, Sera. Kamu harus percaya sama aku.”
“Selesai?” suara Sera meninggi, menahan tangis yang mulai mendesak di balik matanya. “Kalau sudah selesai, kenapa dia bisa bilang kalau kalian masih terikat pernikahan? Kenapa dia bicara seolah-olah aku ini perebut suami orang?!”
“Ada hal yang belum sempat aku selesaikan soal dokumen, tapi emosional kami sudah tidak ada apa-apa lagi! Aku cuma mencintai kamu, Sera. Cuma kamu!”
Kata-kata itu tidak lagi terasa seperti penawar bagi Sera. Rasanya seperti racun yang perlahan membakar dadanya. Sebelum Sera sempat menuntut penjelasan lebih lanjut, ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Pak Hendra, pemilik tempat usaha tempat Sera bekerja.
Dengan tangan bergetar, Sera mengangkatnya.
“Sera! Kamu ada di mana sekarang?!” suara Pak Hendra terdengar panik dan marah. “Ada wanita ngamuk di depan kantor! Dia bawa wartawan kecil dan bikin keributan! Dia nyari kamu!”
Sera membatu. Tatapannya tertuju pada Damar yang menatapnya dengan raut khawatir. “Pak Hendra… saya…”
“Datang ke sini sekarang dan selesaikan masalah pribadi kamu! Kalau tidak, saya tidak punya pilihan selain memecat kamu hari ini juga!”
Panggilan terputus. Sera melepaskan pegangan Damar dari bahunya. Ia melangkah mundur, menatap pria yang selama sepuluh bulan ini ia anggap sebagai pelindung dan tempatnya pulang.
“Sera, kamu jangan ke sana. Biar aku yang menemui dia,” cegah Damar, mencoba meraih tangan Sera.
“Enggak,” kata Sera mantap. Suaranya pecah oleh histeria yang tertahan. “Aku harus ke sana. Aku harus lihat dengan mata kepalaku sendiri siapa orang yang sudah menghancurkan hidup aku dalam semalam!”
Kantor tempat Sera bekerja—sebuah distributor perlengkapan rumah tangga menengah—sudah dipenuhi belasan pegawai yang berkerumun di halaman depan. Beberapa tetangga ruko di sekitar lokasi bahkan ikut menyaksikan keributan yang terjadi.
Di tengah halaman, seorang wanita berdiri anggun namun memancarkan aura permusuhan yang sangat pekat. Ia mengenakan blazer merah marun yang pas di badan, rambut hitamnya terurai rapi, dan matanya memancarkan amarah yang tajam. Di sampingnya, seorang pria membawa kamera ponsel yang terus menyala, merekam situasi sekitar.
Saat mobil Damar berhenti di tepi jalan dan Sera keluar dari pintu penumpang, suasana mendadak riuh.
“Itu dia orangnya!” teriak wanita itu.
Ia melangkah lebar menghampiri Sera. Langkahnya mantap, tanpa ragu sedikit pun. Damar yang baru keluar dari pintu pengemudi langsung berlari menghadang di depan Sera.
“Alisha! Cukup! Jangan bikin keributan di sini!” bentak Damar dengan suara yang menggelegar.
Wanita yang dipanggil Alisha itu menghentikan langkahnya. Ia menatap Damar dengan senyum sinis yang sarat akan kepahitan. “Bikin keributan? Kamu bilang aku bikin keributan, Damar? Setelah apa yang kamu lakukan di belakangku?”
Alisha lalu mengalihkan pandangannya, menatap Sera yang berdiri kaku di belakang punggung Damar. Mata Alisha meneliti Sera dari atas sampai bawah, seolah menilai barang murah yang tak bernilai.
“Jadi ini perempuan yang bikin kamu lupa jalan pulang?” ujar Alisha, suaranya tenang namun menusuk hingga ke tulang. “Ternyata cuma begini bentuknya. Sederhana, polos… atau pura-pura polos?”
“Alisha, hentikan!” tegur Damar keras. “Masalah kita tidak ada hubungannya dengan Sera!”
“Tidak ada hubungannya?” Alisha tertawa renyah, tawa yang sama sekali tidak menampakkan kebahagiaan. Dari tas kulit mewahnya, ia mengeluarkan sebuah map plastik tebal bernuansa merah. “Kamu bilang dia tidak ada hubungannya, sementara dia tidur di samping suami sah orang lain selama hampir setahun?!”
Alisha menarik beberapa lembar kertas dari dalam map tersebut dan mengacungkannya tinggi-tinggi ke udara, agar bisa dilihat oleh semua orang yang menyaksikan.
“Ini buku nikah kami yang sah secara hukum negara dan agama! Tidak pernah ada putusan perceraian dari pengadilan agama mana pun!” Alisha berteriak tegas, matanya menatap tajam ke arah kerumunan sebelum kembali tertuju pada Sera. “Dan kamu, Sera Anindya… kamu tidak lebih dari seorang wanita simpanan yang merebut suami saya!”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sera. Suara bisik-bisik dari orang-orang di sekitarnya terasa menyerbu telinganya seperti dengungan lebah. Wajah-wajah rekan kerjanya kini menatapnya dengan rasa jijik dan penghinaan.
Sera maju satu langkah, melewati perlindungan punggung Damar. Ia menatap Alisha dengan bibir gemetar. “Bohong… Mas Damar bilang… dia sudah bercerai.”
“Tanya pada suamimu itu!” bentak Alisha seraya melemparkan salinan surat nikah itu tepat ke dada Sera. Kertas-kertas itu jatuh berserakan di atas aspal. “Tanya padanya, kapan dia pernah membawaku ke pengadilan untuk mengurus surat cerai? Kapan, Damar?!”
Sera perlahan berlutut. Tangannya yang dingin dan gemetar mengambil salah satu lembar kertas di atas aspal. Di sana tertera nama Damar Ardhana dan Alisha Prameswari, lengkap dengan stempel resmi dari Kantor Urusan Agama yang menunjukkan bahwa pernikahan itu masih aktif dan terdaftar secara sah.
Sera mendongak. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipinya yang pucat. Ia menatap Damar dengan tatapan hampa, menuntut satu hal yang paling ia takuti saat ini: kebenaran.
“Mas…” suara Sera nyaris tak terdengar. “Katakan kalau surat ini palsu. Katakan kalau dia bohong…”
Damar mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia berlutut di samping Sera, mencoba memegang jemari istrinya, namun Sera menarik tangannya dengan cepat.
Damar memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam yang terasa begitu berat. Ketika ia membuka matanya kembali, kejujuran yang terpancar di sana terasa seperti pisau yang menusuk jantung Sera hingga tak berbekas.
“Sera… maafkan aku,” bisik Damar dengan suara serak. “Secara hukum… Alisha memang masih istriku.”