Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 6
Layar monitor di hadapanku mendadak kabur oleh genangan air mata yang tak sanggup lagi kutahan. Tulisan *’Memberikan rekomendasi penuh kepada Keira Maharani’* seperti mencambuk kesadaranku tanpa ampun.
Aku mencengkeram tepi meja kerja, membiarkan dadaku terombang-ambing oleh penyesalan yang membakar. Kalimat-kalimat tajam yang kulontarkan pada Arvin tadi siang bergema keras di kepalaku. Aku menuduhnya licik, mengatainya penipu, dan membuang semua niat baiknya tanpa mau mendengarkan satu patah kata pun penjelasan darinya.
Tanpa membuang waktu lagi, aku menyambar tas kerjaku, mematikan monitor, dan berlari menuju lift.
—
Setengah jam kemudian, aku berdiri di lorong apartemen kelas atas kawasan Jakarta Selatan. Napasku terengah-engah, jantungku berdegup gila-gilaan saat melangkah mendekati pintu bernomor 1204. Ini pertama kalinya aku mendatangi tempat tinggal Arvin.
Aku menekan bel pintu dengan jemari bergetar.
*Ting tong.*
Tidak ada jawaban. Aku menekannya sekali lagi, lebih lama. “Arvin! Buka pintunya, Arvin!” seruku dari luar dengan suara serak.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi klik mekanis dari kunci elektronik. Pintu tebal bernuansa kayu itu perlahan terbuka.
Arvin berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja kerjanya, melainkan kaus hitam kasual dan celana kain santai. Wajahnya tampak lelah, matanya yang biasa tajam kini meredup redup. Di ruang tamunya yang minimalis, aku bisa melihat sebuah koper besar berwarna hitam tergeletak di samping sofa.
Arvin menatapku terkejut, namun dengan cepat menetralkan ekspresinya menjadi dingin kembali. “Keira? Ada apa malam-malam begini kemari?”
“Aku… aku perlu bicara sama kamu,” ucapku terbata-bata, menatap koper besar di ruang tamunya. “Penting, Arvin.”
Arvin menghela napas pendek, menggeser tubuhnya sedikit dari ambang pintu. “Masuklah.”
Aku melangkah pelan memasuki apartemennya yang rapi dan beraroma kayu manis. Suasana ruangan itu begitu tenang, amat kontras dengan badai emosi di dalam dadaku.
Begitu pintu tertutup, aku membalikkan badan menghadapi Arvin sepenuhnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan hubungan permusuhan kami, aku tidak datang untuk berdebat atau memicu pertengkaran. Aku datang dengan seluruh pertahananku yang runtuh.
“Aku sudah lihat daftar kandidat promosi di sistem HR,” bisikku pelan, menatap matanya lurus.
Arvin memalingkan wajahnya sejenak, mengusap leher belakangnya. “Oh… soal itu.”
“Kenapa kamu coret namamu sendiri, Arvin?!” tanyaku dengan suara bergetar parau. “Kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau kamu yang minta nama kamu dihapus dari bursa manajer?!”
Arvin menatapku kembali, menyandarkan punggungnya pada lemari di dekat lorong pintu. “Karena kamu tidak perlu tahu, Keira. Itu keputusan pribadiku.”
“Keputusan pribadi apanya?!” jeritku pelan, air mata kembali menetas jatuh membasahi pipiku. “Aku sudah tuduh kamu yang enggak-enggak tadi siang! Aku bilang kamu licik, aku bilang kamu memanfaatkan aku! Kenapa kamu cuma diam aja dan nggak membela diri, hah?!”
“Karena kalau aku membela diri, kamu bakal merasa berutang padaku!” tegak Arvin dengan suara baritonnya yang mantap namun lembut.
Aku terpaku, membeku di tempatku berdiri.
Arvin melangkah satu pijakan lebih dekat padaku. “Aku tahu seberapa besar arti promosi itu buat kamu, Keira. Kamu bekerja dua kali lebih keras dari siapa pun di kantor. Kamu ingin membuktikan bahwa kamu berhasil karena kemampuanmu sendiri, bukan karena belas kasihan atau bantuan orang lain. Kalau aku bilang aku mengundurkan diri demi kamu, kamu tidak akan pernah menerima promosi itu dengan tenang.”
Tenggorokanku terasa begitu kering dan menyengat. “Arvin…”
“Soal tawaran dari Singapura itu…” sambung Arvin pelan, menatapku dengan kejujuran yang murni. “Aku memang mendapatkan penawaran itu dari bulan lalu. Tapi aku belum mengambil keputusan karena aku tidak mau meninggalkan proyek *Nusantara Land* setengah jalan. Aku mau menyelesaikan proyek itu bersamamu.”
“Terus kenapa kamu daftar posisi manajer dari awal?” tanyaku dengan isakan yang tertahan.
“Aku tidak pernah mendaftar,” jawab Arvin jujur. “Pak Kusuma dan direksi yang memasukkan namaku secara otomatis ke dalam daftar calon kandidat karena performaku. Tapi minggu lalu, begitu aku tahu namamu juga masuk di sana… aku langsung mendatangi HR untuk menarik namaku secara tertulis.”
Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadaku hingga rasanya aku sulit bernapas. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, menangis sesenggukan di hadapannya.
“Maafkan aku…” bisikku parau di balik telapak tanganku. “Aku marah karena… karena aku takut, Arvin. Aku takut kamu cuma pura-pura peduli sama aku. Aku marah karena kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk memahami kamu.”
Sebuah tangan yang hangat dan kokoh perlahan menyentuh jemariku, menarik tanganku turun dari wajahku secara lembut. Arvin berdiri begitu dekat denganku sekarang. Jemari tangannya terulur mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya.
“Aku diam karena takut kamu salah paham, Keira,” panggil Arvin pelan, tatapannya begitu hangat menyapu seluruh wajahku. “Aku takut kalau aku cerita soal Singapura, kamu akan makin menjauh dan menganggap aku tidak serius menyukai proyek… dan menyukaimu.”
Aku mendongak, menatap matanya yang dalam melalui pandangan yang basah. “Dan ternyata diam justru membuatku semakin salah paham…”
Arvin tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kehangatan yang meluluhkan seluruh sisa kesombongannya. “Maafkan aku juga. Aku terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri.”
“Jadi…” aku melirik ke arah koper hitam di dekat sofa, dadaku mendadak terasa sesak oleh ketakutan baru. “Kamu… benar-benar akan pergi ke Singapura?”
Arvin menatap koper itu sejenak, lalu kembali menatapku. “Kontrak kerja baruku dimulai bulan depan. Besok adalah hari terakhirku secara resmi di kantor.”
Dunia di sekitarku seolah runtuh sekali lagi. Tiga bulan yang penuh dengan pertengkaran, tawa, sindiran, dan perasaan rahasia yang baru saja mekarnya kini dihadapkan pada kenyataan yang pahit.
“Kenapa cepat sekali?” bisikku lirih, menatapnya dengan pandangan terluka.
“Aku harus membereskan beberapa hal di sana sebelum proyek baru dimulai,” jawab Arvin pelan. Pria itu mengulurkan tangannya, menggenggam jemariku erat-erat. “Aku tidak mau pergi dengan meninggalkan rasa benci di antara kita, Keira.”
“Aku tidak pernah membencimu, Arvin,” kataku jujur, membiarkan pertahanan terakhirku hilang sepenuhnya. “Mungkin di minggu pertama aku benci. Tapi setelah itu… aku tidak pernah membencimu.”
Arvin menatapku lama sekali dalam keheningan yang menyesakkan dada. Pria itu membawa jemariku yang ada di genggamannya ke bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan hangat di punggung tanganku.
“Aku tahu,” bisik Arvin lembut.
Rasa hangat dan nyeri bercampur menjadi satu di dadaku. Arvin berjalan menghampiri kopernya, menarik gagang koper itu lalu membawanya berjalan mendekati pintu keluar apartemen bersama tas bahunya.
Aku berdiri mematung di dekat pintu, menatap pria yang selama tiga bulan ini mengisi seluruh pikiran dan hariku.
Arvin memegang gagang pintu, lalu berbalik menatapku untuk terakhir kalinya malam itu.
“Jadi… ini selamat tinggal?” tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.
Arvin menatap mataku lekat-lekat, menyunggingkan senyuman tipis yang amat tampan.
“Aku tidak tahu, Keira,” jawab Arvin pelan. “Tapi aku harap tidak.”
Pintu apartemen itu tertutup perlahan, meninggalkan diriku sendirian di dalam keheningan ruangan yang terasa amat hampa.
-BERSAMBUNG-