Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 5

  1. Home
  2. Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci
  3. Bab 5 - Rahasia di Balik Promosi
Prev
Next

Pagi itu, atmosfer di area kubikel divisi *marketing* terasa mencekam. Suara ketukan tombol *keyboard* yang monoton gagal menutupi keheningan canggung yang membentang di antara kubikelku dan kubikel Arvin.

Aku menatap layar monitor tanpa benar-benar membacanya. Bayangan percakapan telepon Arvin semalam di area parkir terus berputar di otakku seperti kaset rusak. *Headhunter Singapura? Tawaran baru?*

“Kei, kamu udah dengar gosip terbaru belum?” Selma mendadak memundurkan kursi kerjanya hingga berada tepat di samping kubikelku. Wajahnya dipenuhi raut tegang.

Aku menoleh, berusaha bersikap biasa saja. “Gosip apa lagi, Sel? Soal anggaran proyek *Nusantara Land*?”

“Bukan!” bisik Selma pelan sambil melirik ke arah kubikel Arvin yang sedang kosong karena pemiliknya sedang ada di ruang *pantry*. “Soal posisi *Marketing Manager* yang bakal kosong bulan depan. Kan Pak Kusuma mau naik jabatan jadi *Director*.”

Dada rasanya berdesir. Ini adalah posisi yang sudah kuimpikan sejak dua tahun lalu. Posisi yang menjadi alasan utamaku mengorbankan waktu tidur demi membuktikan kemampuanku di perusahaan ini.

“Kenapa memangnya?” tanyaku pelan, menahan debar jantung yang kian berpacu.

Selma mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Aku tadi pagi nggak sengaja lihat berkas rekomendasi di ruang HR. Nama kamu masuk kandidat kuat, Kei. Tapi…”

“Tapi apa, Sel?”

“Nama Arvin juga ada di daftar itu,” kata Selma dengan tatapan prihatin. “Dan yang lebih parah… anak-anak *Business Development* bilang, Arvin itu sebenarnya sudah dapat tawaran posisi *General Manager* di perusahaan Singapura dari minggu lalu. Tapi dia sengaja belum ambil keputusannya.”

Tanganku yang memegang cangkir kopi membeku di udara. “Maksudmu… Arvin bersaing buat promosi *Manager* di sini, padahal dia sudah punya tawaran yang jauh lebih tinggi di luar?”

“Tepat,” jawab Selma ragu. “Banyak yang bilang dia cuma mau mengunci posisi *Manager* di sini dulu buat bikin nilainya makin tinggi sebelum cabut ke Singapura. Atau… dia sengaja nggak mau kamu yang dapat promosi itu.”

Seketika darah di dalam tubuhku seperti berhenti mengalir. Rasa hangat yang membuncah semalam—tatapan matanya yang intens, usapan lembut di pergelangan tanganku, dan kalimat ‘Jangan pergi sama Raka’—mendadak terasa seperti lelucon yang sangat murah.

*Semua perhatian itu… semua perlakuannya selama ini… cuma taktik buat bikin aku lengah?*

“Keira.”

Suara bariton yang amat kukenal terdengar dari arah belakang. Aku memutar tubuh perlahan. Arvin berdiri di sana membawa berkas proyek dan cangkir kopinya. Matanya menatapku tenang, tanpa beban sedikit pun.

Selma langsung berdehem canggung, memutar kursinya kembali ke kubikelnya sendiri tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Bisa kita bicara sebentar di ruang rapat kecil?” tanya Arvin datar, menunjuk ruangan beratap kaca di ujung lorong. “Ada hal penting terkait proposal final yang harus kita selaraskan.”

Aku berdiri dari kursi, menatapnya dengan tatapan paling dingin yang pernah kuberikan padanya sejak hari pertama kami bertemu. “Boleh. Aku juga punya hal ‘penting’ yang mau kubicarakan.”

—

Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat, Arvin meletakkan berkasnya di atas meja. Dia memutar badan menghadapku, menyandarkan pinggulnya di tepi meja sambil melipat tangan di dada.

“Soal kejadian semalam di parkiran—” Arvin membuka suara dengan nada yang sedikit lebih lembut.

“Nggak usah dibahas,” potongku cepat, suaraku terdengar kaku dan bergetar menahan amarah. “Kita bahas pekerjaan saja, Pak Satria.”

Arvin mengernyitkan alisnya, menangkap perubahan drastis pada sikapku. “Kamu kenapa, Keira? Ada yang salah?”

“Harusnya aku yang tanya sama kamu,” balasku terkekeh sinis, melangkah mendekatinya. “Sejak kapan kamu jago main sandiwara begini, Arvin?”

“Maksud kamu apa?” tanya Arvin, raut wajahnya berubah serius dan bingung.

“Tawaran *Headhunter* Singapura itu,” desisku tajam, menunjuk dadanya dengan telunjukku. “Dan posisi *Marketing Manager* yang kamu incar di saat yang sama. Kamu memanfaatkan proyek ini dan memanipulasi perasaanku cuma buat memastikan kamu memenangkan persaingan promosi itu, kan?!”

Arvin terpaku. Sorot matanya berganti dari terkejut menjadi sangat terpukul. Garis rahangnya menegang keras.

“Siapa yang bilang begitu sama kamu?” tanya Arvin pelan, suaranya terdengar amat dalam.

“Nggak penting siapa yang bilang!” semburku, air mata kekecewaan mulai mendesak di sudut mataku. “Yang penting itu kenyataannya! Selama tiga bulan ini aku pikir kita benar-benar belajar buat saling percaya. Aku pikir kamu beda, Arvin! Tapi ternyata kamu cuma rival licik yang rela melakukan apa saja demi ambisimu!”

“Keira, dengarkan aku dulu,” kata Arvin mencoba melangkah mendekat, mengulurkan tangannya hendak meraih bahuku. “Itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Masalah tawaran Singapura itu—”

“Jangan sentuh aku!” bentakku keras, melangkah mundur menghindarinya. “Kamu tahu apa yang paling bikin aku benci sama diri sendiri, Arvin? Aku sempat percaya sama kata-katamu semalam. Aku sempat mikir kalau kamu benar-benar peduli sama aku!”

“Aku memang peduli sama kamu!” tegas Arvin, suaranya naik satu nada. Matanya menatapku lurus, memancarkan emosi yang jujur dan tertahan. “Soal perasaan itu… aku tidak pernah berpura-pura, Keira!”

“Bohong!” seruku dengan tawa sumbang, mengusap setetes air mata yang lolos di pipiku. “Kalau kamu memang peduli dan jujur, kenapa kamu menyembunyikan tawaran kerja itu dari aku? Kenapa kamu masih daftar promosi yang kamu tahu itu impian terbesarku?!”

Arvin terdiam seribu bahasa. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapt, menatapku dengan pandangan penuh rasa bersalah yang amat dalam. Dia tidak membantah tuduhanku.

“Kamu diam kan?” bisikku lirih, menatapnya dengan kekecewaan yang tak terbendung. “Selama ini aku pikir setidaknya kamu orang yang jujur, walaupun kamu menyebalkan.”

Arvin menarik napas panjang yang berat. “Itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan, Keira.”

“Tidak pernah sesederhana itu kalau kamu yang menjelaskannya,” balasku dingin, memutar badan meraup tas dan dokumenku dari atas meja. “Aturan nomor empat kita kembali berlaku, Arvin. Jangan pernah lagi ikut campur urusan pribadiku, dan jangan pernah berharap kita bisa jadi teman.”

Aku melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang rapat tanpa berpaling lagi. Arvin hanya berdiri mematung di sana, menatap punggungku yang menjauh tanpa berusaha mengejarku lagi.

—

Malam harinya, pukul sembilan malam, kantor sudah sepenuhnya sepi. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan lampu temaram di lorong. Aku duduk sendirian di meja kerjaku, menatap layar monitor yang menampilkan sistem internal *Human Resources*.

Hati kecilku masih terasa sesak dan perih. Aku membuka sistem informasi karyawan yang secara transparan menampilkan nama-nama kandidat yang direkomendasikan untuk posisi *Marketing Manager* periode mendatang.

Jemari tangan yang memegang *mouse* terasa bergetar pelan saat aku membuka halaman dokumen resmi keputusan panel direksi.

Mataku menyapu daftar nama itu dari atas ke bawah.

*1. Keira Maharani — Senior Marketing Executive*
*2. Raka Pradana — Senior Business Consultant*
*3. Dedi Kurniawan — Senior Marketing Executive*

Langkah napasku terhenti seketika.

Aku mengedipkan mata berulang kali, membaca ulang daftar pendek tiga nama kandidat terbaik itu.

Nama Arvin Satria sama sekali tidak ada di sana.

Aku segera membuka lampiran berita acara rapat HR yang diunggah dua hari lalu. Di bagian bawah dokumen, terdapat sebuah catatan resmi dengan cetak tebal dan tandatangan khusus:

*’Kandidat Arvin Satria secara resmi mengajukan pengunduran diri dari bursa pencalonan posisi Marketing Manager atas permintaan pribadinya pada tanggal 1 September 2026. Alasan: Memberikan rekomendasi penuh kepada Keira Maharani untuk memimpin divisi.’*

Mataku membelalak lebar. Tanganku membeku di atas meja, dada rasanya dihantam oleh kenyataan yang sangat menghancurkan.

Arvin tidak pernah bersaing denganku. Dia justru yang mencoret namanya sendiri demi aku.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Cinta Perlahan, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita