Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 4

  1. Home
  2. Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci
  3. Bab 4 - Aku Tidak Cemburu
Prev
Next

Keheningan yang tebal mendadak menyergap lobi gedung kantor yang megah itu. Pendar lampu pualam memantul tajam pada lantai marmer, memperjelas batas tak kasat mata yang tiba-tiba membentang di antara Arvin dan Raka.

Raka memindahkan pandangannya dari bunga lili di tanganku ke arah Arvin. Senyuman ramah di wajahnya tidak pudar, tetapi ada kilat kewaspadaan yang muncul di matanya.

“Arvin, kan?” sapa Raka tenang, mengulurkan tangannya ke udara. “Raka Pradana dari divisi *Business Consultant*.”

Arvin menatap tangan Raka yang terulur sejenak. Pria itu tidak langsung menyambutnya. Dia merogoh saku celananya, berdiri dengan gestur tubuh kaku dan protektif di sampingku sebelum akhirnya menjabat tangan Raka dengan cengkeraman singkat yang sangat dingin.

“Arvin Satria,” sahut Arvin datar, suaranya terdengar amat kaku. “Ada keperluan apa malam-malam begini di area *marketing*, Raka?”

“Cuma mau ngajak Keira makan malam,” jawab Raka santai, menarik kembali tangannya. Tangannya lalu menunjuk buket bunga yang kupegang. “Sekaligus merayakan pencapaian tim kalian kemarin.”

Arvin menoleh sekilas padaku, menatap bunga lili putih di tanganku dengan kilat mata yang sangat sulit diartikan. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis lurus yang dingin.

“Sayangnya Keira masih punya revisi berkas yang harus diselesaikan besok pagi,” potong Arvin tanpa ragu, matanya kembali menatap Raka lurus. “Sebagai *Co-Lead* proyek, aku bertanggung jawab atas jadwal kerja tim.”

Aku membelalakkan mata, refleks menoleh menatap Arvin. “Tunggu… revisi apa lagi, Arvin? Bukannya drafnya sudah selesai semua sepuluh menit yang lalu?”

Arvin sama sekali tidak menoleh padaku. Matanya tetap terkunci pada Raka. “Ada beberapa tabel finansial yang perlu kamu periksa lagi, Keira. Lebih baik diselesaikan malam ini daripada mengganggu jadwal besok.”

Raka terkekeh pelan, menyandarkan berat tubuhnya ke satu kaki dengan gaya santai. “Bukannya batas serah terima draf itu masih Jumat pagi, Vin? Ini baru Rabu malam. Kasihan Keira kalau harus lembur terus.”

“Ini standar kerja divisi kami,” balas Arvin dingin, nada bicaranya tidak mengundang perdebatan. “Dan aku tidak ingat pernah meminta masukan dari divisi konsultan untuk manajemen internal timku.”

Udara di lobi terasa makin membeku. Aku bisa merasakan percikan permusuhan yang mendadak meletup kuat di antara dua pria tinggi ini.

“Raka, maaf banget ya,” sela ku cepat, melangkah satu pijakan ke depan untuk memecah ketegangan konyol ini. Aku menatap Raka dengan perasaan bersalah. “Makasih banyak buat bunganya. Tapi sepertinya malam ini aku belum bisa makan malam bareng kamu. Mungkin lain kali ya?”

Raka menatapku, lalu tersenyum hangat—senyuman yang terasa sangat kontras dengan aura dingin Arvin di sampingku. “Nggak apa-apa, Kei. Aku paham kok. Kerja sama Arvin memang menuntut dedikasi tinggi ya.”

Raka melirik Arvin sekilas sebelum kembali menatapku. “Kalau gitu aku duluan ya. Nanti aku WhatsApp kamu.”

“Iya, Raka. Sekali lagi terima kasih,” balasku pelan.

Setelah Raka melangkah pergi dan menghilang di balik pintu kaca utama, aku memutar tubuh menghadapi Arvin sepenuhnya. Tanganku mengepal di samping paha, dadaku kembang kempis menahan kejengkelan yang mendadak membumbung tinggi.

“Maksudmu apa tadi, Arvin?!” semburku dengan suara tertahan. “Tabel finansial apa yang harus diperiksa?! Kamu sengaja, kan?”

Arvin merapikan kerah kemejanya dengan tenang, sama sekali tidak terlihat bersalah. “Aku tidak sengaja. Tabel proyeksi inflasi di halaman dua belas memang perlu dikaji ulang.”

“Bohong!” seratku tajam, menunjuk dadanya dengan buket bunga di tanganku. “Tabel itu sudah kamu verifikasi dua kali sore tadi! Kamu cuma mencari alasan buat mengacaukan rencana makan malamku!”

“Aku hanya menyelamatkan waktu dan fokusmu buat proyek,” sahut Arvin datar, berjalan melewatiku menuju pintu keluar. “Jangan campur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan asmara yang tidak jelas.”

Aku menyusul langkah lebarnya di pelataran parkir, menyamai ritme kakinya. “Asmara tidak jelas apa? Raka cuma teman kantor yang mau ngajak makan!”

Arvin menghentikan langkahnya mendadak di samping mobil SUV hitamnya. Dia memutar badan, membuatku refleks berhenti agar tidak menabrak dadanya.

“Dia bukan cuma mau ngajak makan, Keira,” desis Arvin, menatap mataku tajam. “Laki-laki tidak akan membawakan buket bunga lili mahal ke kantor jam delapan malam kalau cuma mau berteman.”

Aku terkekeh sinis, menyilangkan tangan di dada sambil memegang bunga itu. “Oh ya? Terus kenapa kalau dia suka sama aku? Apa urusannya sama kamu?”

Arvin terdiam sejenak. Garis rahangnya menegang keras di bawah pendar lampu temaram area parkir.

“Kamu cemburu, ya?” godaku pelan, mencondongkan wajahku sedikit ke arahnya dengan sudut bibir terangkat.

“Tidak,” jawab Arvin instan tanpa berkedip.

“Terlalu cepat jawabnya, Satria,” balasku terkekeh, menggelengkan kepala.

“Aku tidak punya alasan untuk cemburu,” tegas Arvin dingin, suaranya sangat datar dan kaku. “Kamu bebas berhubungan dengan siapa saja. Itu kehidupan pribadimu.”

“Bagus kalau gitu,” sahutku penuh kemenangan. Aku berbalik pura-pura hendak berjalan menuju area jalan raya. “Berarti besok malam aku bebas pergi makan malam sama Raka. Toh pekerjaan kita sudah selesai semua.”

Baru dua langkah aku berjalan, sebuah cengkeraman hangat dan kuat mendadak mendarat di pergelangan tanganku.

Langkahku terhenti seketika.

Aku menoleh. Arvin berdiri di sana, menggenggam tanganku erat namun lembut. Matanya yang biasa dingin dan terkontrol kini memancarkan sesuatu yang sangat intens—sesuatu yang bergejolak hebat di balik ketenangannya yang palsu.

“Jangan,” bisik Arvin pelan. Suaranya serak dan rendah, bergetar samar.

Jantungku melonjak hebat, menghantam dadaku begitu keras sampai rasanya aku lupa caranya bernapas. Aku membeku, menatap matanya yang terpaut lurus pada mataku.

“Kenapa?” tanyaku berbisik, suaraku ikut bergetar. “Kenapa aku nggak boleh pergi sama Raka?”

Arvin menatapku lama sekali. Jarinya di pergelangan tanganku bergerak sangat pelan, usapan ibu jarinya di atas kulitku mengirimkan sengatan hangat yang menjalar langsung ke seluruh tubuhku. Dinding pertahanan yang kami bangun berbulan-bulan rasanya runtuh sepenuhnya dalam beberapa detik keheningan itu.

Arvin menarik napas panjang, bibirnya terbuka seolah hendak mengutarakan kejujuran yang selama ini disembunyikannya di balik sikap dinginnya.

Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya…

*Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!*

Ponsel di dalam saku jas Arvin bergetar hebat, memecahkan pesona sihir yang baru saja tercipta di antara kami.

Arvin tersentak pelan. Dia menarik tangannya dari pergelangan tanganku, merogoh ponselnya dengan gerakan yang mendadak canggung. Pria itu menatap layar ponselnya, dan seketika seluruh kehangatan di matanya menguap habis—digantikan oleh raut terkejut dan ketegangan yang amat sangat.

Layar ponsel itu menampilkan sebuah nama panggilan yang asing bagiku, diikuti ucapan singkat Arvin saat mengangkatnya.

“Halo… ya, ini Arvin,” panggil Arvin dengan suara berbisik tegang. “Tawaran dari *Headhunter* Singapura itu? Bisa kita bicarakan besok pagi?”

Aku terpaku di tempatku berdiri. Mataku membelalak pelan menatap Arvin yang membalikkan badan membelakangiku untuk melanjutkan percakapan rahasia itu.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Cinta Perlahan, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita