Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 3
Keheningan di dalam mobil Arvin malam itu terasa berbeda dari biasanya. Suara deru mesin berpadu halus dengan rintik hujan yang membasahi kaca depan, menciptakan suasana yang anehnya cukup menenangkan. Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi, menatap deretan lampu jalanan Jakarta yang membias samar.
“Rumahmu masih di tempat yang sama?” tanya Arvin tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa menoleh. Tangannya mencengkeram lingkar kemudi dengan santai.
Aku mengerdipkan mata, sedikit terkejut. “Kamu tahu rumahku di mana?”
“Aku pernah membaca berkas biodatamu saat proses seleksi *Co-Lead*,” sahut Arvin datar. “Area Tebet, kan?”
“Iya,” jawabku pelan. “Masuk gang sedikit di belakang stasiun.”
“Bagus. Berarti jalurnya searah dengan apartemenku.”
Aku menoleh menatap profil samping wajahnya. Garis rahangnya tegas, dan pendar lampu dari *dashboard* menimpa wajahnya, memberikan kesan yang jauh berbeda dari Arvin yang kulihat di ruang rapat tadi siang. Pria ini biasanya tampak seperti mesin tanpa emosi yang hanya memikirkan target kerja. Namun duduk di sampingnya dalam suasana seperti ini, aku harus mengakui sesuatu yang agak berbahaya: Arvin Satria adalah pria yang sangat tampan.
*Gelengkan kepalamu, Keira! Ingat aturan nomor empat: tidak boleh jadi teman, apalagi jatuh cinta!* bisik batinku memperingatkan.
“Kenapa menatapku begitu?” tanya Arvin tenang, matanya tetap tertuju pada jalanan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis. “Ada yang aneh di wajahku?”
“Nggak ada,” jawabku cepat, membuang muka kembali ke jendela. “Aku cuma heran aja. Ternyata kamu bisa menyetir tanpa bikin emosi orang naik.”
Arvin terkekeh pelan. Tawa kecil yang rasanya baru pertama kali kudengar tanpa ada nada nada meremehkan di dalamnya. “Aku hanya menaikkan emosi orang yang berhak menerimanya.”
“Maksudmu aku?” semburku sambil menoleh lagi.
“Siapa lagi?” balasnya singkat, menoleh sekilas lalu tersenyum tipis. “Kamu itu unik, Keira. Reaksimu selalu eksplosif. Seperti kembang api.”
“Dan kamu seperti es batu di dalam kulkas mati. Kaku dan bikin dingin,” balasku tak mau kalah.
“Tapi es batu dibutuhkan buat bikin minuman terasa segar, kan?” sahut Arvin santai, menyalakan lampu sein kiri saat mobil mulai memasuki kawasan Tebet.
Aku tertegun sebentar, tidak menemukan kata-kata untuk membalas kalimat itu. Arvin menang kali ini.
—
Seminggu berlalu sejak malam hujan itu, dan rutinitas kami di kantor perlahan berubah tanpa pernah kami rencanakan secara tertulis.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi saat aku berjalan menuju kubikelku. Di atas mejaku, sudah berdiri satu cangkir kertas berisi *Americano* panas tanpa gula dari kedai kopi favoritku di lantai dasar. Di sampingnya ada secarik kertas kecil bertuliskan huruf cetak yang sangat rapi: *’Biar otakmu tidak macet saat menyusun revisi proposal.’*
Aku menatap tulisan itu, lalu menoleh ke arah kubikel Arvin. Pria itu sedang sibuk mengetik di komputernya dengan gagang telepon menjepit di antara telinga dan bahunya, sama sekali tidak menoleh padaku. Aku tersenyum tipis tanpa sadar, menarik cangkir kopi itu dan menyesapnya pelan. Suhu panas yang pas dan rasa pahit yang menenangkan langsung menjalar di tenggorokanku. Arvin bahkan hafal takaran kopiku tanpa pernah kuberi tahu.
“Ciee… ada yang dapat kiriman kopi misterius tapi yang ngirim duduknya cuma berjarak lima meter,” panggil sebuah suara yang menyebalkan dari balik dinding kubikel.
Selma menyembulkan kepalanya dengan cangkir teh di tangan, memamerkan senyuman jahil yang sangat lebar.
“Bisa diam nggak, Sel?” bisikku tajam sambil menyembunyikan kertas catatan kecil tadi ke dalam laci. “Ini cuma kopi biasa. Dia beli karena tadi pagi antrenya barengan mungkin.”
“Oya?” goda Selma sambil menyandarkan dagu di tangannya. “Terus kenapa mukamu merah gitu? Lagian kemarin malam aku lihat dia beliin kamu makan siang juga pas kamu lupa makan gara-gara ngejar *deadline* maket. Kalian ini sebenarnya rival apa orang pacaran yang malu-malu kucing sih?”
“Kami partner kerja profesional, Selma Putri!” tegasku penuh penekanan.
“Iya, profesional banget,” gumam Selma sarkastik. “Sampai-sampai kalau ada anak divisi lain yang mau ngajak kamu ngobrol, si Arvin langsung melotot dari kubikelnya. Sadar nggak kamu?”
“Ah, ngaco!” tepasku, meski dadaku mendadak berdesir aneh mendengar ucapan Selma.
Memang harus kuakui, pertengkaran kami belakangan ini terasa berbeda. Tidak ada lagi kalimat menusuk yang berniat menjatuhkan. Yang ada hanyalah perdebatan ide yang dinamis, diselingi sindiran ringan yang justru membuat hari-hari kerja yang berat terasa lebih cepat berlalu. Bahkan, aku mulai menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil Arvin. Pria itu selalu mengetukkan penanya tiga kali ke meja saat sedang berpikir keras, dan dia akan melepas kacamata bacanya lalu mengusap batang hidungnya setiap kali dia merasa stres atau lelah.
Malam harinya, kantor sudah sangat sepi. Hanya kubikel kami berdua yang lampu utamanya masih menyala terang. Pukul sembilan malam, dan kami baru saja menyelesaikan penyesuaian anggaran akhir untuk presentasi tahap kedua besok.
Arvin menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Dia melepas kacamatanya dan mengusap batang hidungnya—kebiasaan yang sudah sangat kuhafal.
Aku berdiri dari kursiku, membawa satu cangkir teh camomile panas yang baru saja kubuat di *pantry*, lalu meletakkannya perlahan di meja Arvin.
Arvin membuka matanya perlahan, menatap cangkir teh itu lalu mendongak menatapku. “Apa ini?”
“Teh camomile,” jawabku pelan sambil bersedekap. “Kamu sudah minum tiga cangkir kopi hitam hari ini. Kalau minum kopi lagi, jantungmu bisa melompat keluar besok pagi.”
Arvin menatap cangkir itu sejenak, lalu menatapku dengan mata yang meredup hangat. Sebuah senyuman yang benar-benar tulus terukir di bibirnya.
“Terima kasih, Keira,” ucapnya lembut. Suaranya bariton dan amat pelan, sangat berbeda dari nada bicaranya yang tegas saat rapat.
“Sama-sama,” jawabku singkat, mendadak merasa canggung dengan suasana intim yang mendadak terbentuk di antara kami. “Jangan lembur sampai larut. Drafnya sudah selesai semua. Aku mau pulang duluan.”
“Tunggu,” panggil Arvin saat aku berbalik merapikan tas. Pria itu berdiri dari kursinya. “Aku antar.”
“Nggak usah, Arvin. Ini belum hujan kok,” tolakku pelan.
“Ini sudah malam, Keira,” potong Arvin tenang namun tidak menerima penolakan. Dia menyambar kunci mobil dan jasnya dari sandaran kursi. “Aku tidak menerima bantahan untuk hal yang berhubungan dengan keselamatan partner kerjaku.”
Aku menarik napas panjang, pura-pura mendengus kesal padahal ada rasa hangat yang membuncah di dadaku. “Kamu ini memang diktator ya.”
“Hanya untuk hal-hal yang penting,” sahutnya santai sambil berjalan melewatiku menuju pintu keluar.
—
Kami melangkah keluar dari area lift menuju lobi utama gedung kantor yang luas dan megah. Suasana lobi sudah cukup lengang, hanya ada beberapa petugas keamanan yang berjaga di balik meja resepsionis.
Aku sedang merapikan tali tas laptopku ketika mataku menangkap sosok seorang pria yang berdiri di dekat pintu kaca utama. Pria itu mengenakan kemeja kasual yang rapi, memegang sebuket bunga lili putih di tangannya, dan sedang menelepon seseorang.
Seketika langkahku terhenti.
Pria itu mematikan sambungan teleponnya, memutar badan, dan matanya langsung beradu denganku. Senyuman hangat langsung terbit di wajahnya yang tampan.
“Keira!” panggil pria itu dengan suara ramah, melangkah lebar-lebar menghampiriku.
“Raka?” gumamku terkejut. “Kamu… kok ada di sini?”
Raka Pradana—*Senior Business Consultant* baru yang minggu lalu baru ditransfer dari kantor cabang Bandung—berdiri tepat di hadapanku dengan senyuman manisnya.
“Aku telepon kamu dari tadi tapi nggak diangkat,” kata Raka lembut, menyodorkan buket bunga lili di tangannya padaku. “Selamat ya buat keberhasilan presentasi pertama *Nusantara Land* kemarin. Aku dengar dari timmu kamu kerja keras banget.”
Aku menerima bunga itu dengan agak canggung. “Aduh, Raka… terima kasih banyak ya. Tapi harusnya kamu nggak perlu repot-repot begini.”
“Nggak repot sama sekali buat kamu, Kei,” sahut Raka hangat. “Sesuai janjiku minggu lalu, gimana kalau malam ini kita makan malam bareng? Aku tahu tempat makan pasta yang enak banget dekat sini.”
Aku sempat terpaku. Sebelum aku sempat menjawab tawaran Raka, sebuah langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari belakangku.
Arvin berjalan maju, berdiri tepat di sampingku. Postur tubuhnya yang tinggi membentang tegak, menciptakan jarak yang protektif di depanku. Pria itu menatap Raka dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, kaku, dan penuh selidik—seperti tembok es yang kembali membeku seketika.
Suasana riang di lobi itu mendadak tersedot habis, digantikan oleh ketegangan samar yang langsung terasa membakar udara di antara mereka berdua.
-BERSAMBUNG-