Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 2

  1. Home
  2. Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci
  3. Bab 2 - Partner Kerja Paling Menyebalkan
Prev
Next

Pagi harinya, suasana divisi *marketing* terasa berbeda. Di atas mejaku sudah tertumpuk tiga map tebal berisikan data riset pasar dan berkas profil proyek *Nusantara Land*. Namun, yang paling mengganggu pemandanganku bukan tumpukan berkas itu, melainkan kehadiran Arvin yang sudah duduk di kubikel tepat di seberangku dengan cangkir kopi hitam di tangannya.

Pria itu mengenakan kemeja putih bersih yang digulung rapi hingga siku. Dia menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut halus, tampak sangat serius.

“Pagi, Partner,” sapa Arvin tanpa memalingkan wajahnya dari monitor saat mendengar ketukan sepatu *high heels*-ku.

Aku menghempaskan tas kerjaku ke meja dengan sengaja. “Jangan panggil aku ‘Partner’. Kedengarannya menjijikkan.”

Arvin terkekeh pelan, menarik napas panjang lalu mengalihkan pandangannya padaku. “Oke, Keira. Mari kita buat kesepakatan dasar sebelum kita mulai menyentuh berkas ini. Aku tidak mau waktu tiga bulanku terbuang sia-sia hanya untuk mengurusi perdebatan kusir.”

Aku melipat kedua tangan di dada, menyandarkan tubuh ke tepi meja. “Bagus. Aku juga mau buat aturan.”

“Silakan. Kamu duluan,” kata Arvin sambil menyandarkan punggungnya santai, menatapku lurus.

“Pertama,” kataku tegas, menunjuk wajahnya. “Tidak membawa masalah pribadi atau rasa tidak sukamu padaku ke dalam pekerjaan. Kedua, tidak boleh membantah atau menjatuhkan keputusan di depan klien. Ketiga, tidak ikut campur kehidupan pribadi masing-masing. Dan keempat, kita tidak usah berpura-pura mencoba menjadi teman.”

Arvin menyimak setiap poin yang kusebutkan dengan mengangguk-angguk kecil. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat khas.

“Bagus. Aturan yang sangat rasional,” puji Arvin datar. “Tapi aku mau menambahkan satu aturan lagi.”

“Apa?” tanyaku curiga.

Arvin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mataku tanpa berkedip. “Jangan jatuh cinta sama aku.”

Aku memutar mataku malas, tertawa sinis. “Kamu terlalu percaya diri, Satria! Kamu pikir kamu siapa, hah?”

Arvin tersenyum tipis, menatapku penuh arti. “Itu yang selalu dikatakan orang sebelum mereka akhirnya menyesal, Keira.”

“Dalam mimpimu!” semburku sambil melempar salah satu map tebal ke arah mejanya. “Sekarang diam dan mulai bekerja!”

—

Empat jam berikutnya berubah menjadi medan perang kecil. Kami duduk berhadapan di ruang rapat kecil divisi. Aku sudah menyiapkan draf konsep *branding* yang berfokus pada pendekatan emosional dan gaya hidup modern untuk perumahan *Nusantara Land*. Namun, baru lima menit aku mempresentasikannya, Arvin sudah memotong dengan coretan spidol merah di papan tulis.

“Konsepmu terlalu mengawang-awang, Keira,” kritik Arvin tajam, mengetuk papan tulis dengan spidol. “Kamu menjual ‘kehangatan keluarga’ dan ‘estetika minimalis’, tapi kamu lupa menyantumkan simulasi *return on investment* buat pembeli kelas atas. Target pasar kita itu investor dan eksekutif muda yang rasional!”

“Ini proyek hunian, Arvin, bukan skema investasi saham!” balasku tidak mau kalah, berdiri dari kursiku. “Orang beli rumah pakai perasaan! Mereka membayangkan masa depan mereka di sana! Kalau jualanmu cuma angka dan statistik kaku, brosur kita cuma bakal jadi ganjalan meja!”

“Tapi angka yang bikin mereka yakin buat mengeluarkan uang miliaran rupiah!” tegas Arvin, suaranya naik setengah nada. “Aku sudah menghapus tiga slide awal ide kamu yang terlalu puitis itu dan menggantinya dengan tabel proyeksi kenaikan harga tanah lima tahun ke depan.”

“Apa?! Kamu menghapus ideku?!” pekikku histeris, menyambar laptopnya. “Kurang ajar kamu, Satria! Kamu nggak berhak merubah drafku tanpa izin!”

“Aku merubahnya karena drafmu tidak efisien!” Arvin ikut berdiri, menatapku tajam dari seberang meja.

Selma yang kebetulan lewat di depan ruang rapat beratap kaca itu menggeleng-gelengkan kepala. Dia menempelkan kertas bertuliskan *’Gemas tapi kasihan Pak Kusuma’* di kaca luar, membuatku makin ingin melempar spidol ke arah Arvin.

Namun, kekacauan kami terhenti ketika ponsel Arvin berdering keras di atas meja. Arvin mengangkatnya, dan seketika raut wajahnya berubah sangat serius.

“Selamat siang, Pak Hendra…” Arvin memberi isyarat padaku untuk diam. “Apa? Pembatalan pertemuan sore ini?”

Aku tersentak. Pak Hendra adalah direktur utama dari *Nusantara Land*—klien utama kami.

“Maaf Pak Hendra, kalau boleh tahu ada kendala apa?” tanya Arvin tenang, meski urat di lehernya tampak menegang. Pria itu mendengarkan penjelasan di seberang telepon selama beberapa detik sebelum menatapku penuh arti.

“Baik, Pak. Saya paham kekhawatiran Bapak soal konsep yang terlalu generik,” potong Arvin cepat. “Tapi bagaimana kalau saya dan Keira membawakan contoh maket interaktif dan simulasi proyeksi finansial langsung ke kantor Bapak dalam waktu satu jam dari sekarang?”

Arvin melirikku, memberi isyarat mata yang sangat cepat. Tanpa sadar, intuisiku sebagai orang *marketing* langsung bekerja. Aku menyambar spidol merah di tangan Arvin dan menuliskan kata *’Experience Center + Digital Simulation’* di papan tulis.

“Betul, Pak Hendra,” sambungku cepat, mendekat ke ponsel Arvin yang dispeaker. “Kami tidak cuma jualan rumah, tapi pengalaman hidup modern terintegrasi yang belum pernah ada di proyek lain. Kami beri Bapak gambaran utuhnya sore ini.”

Keheningan menyelimuti seberang telepon selama tiga detik yang terasa seperti tiga tahun.

*”…Baik. Saya beri kalian waktu tiga puluh menit sore ini jam empat tepat. Jangan terlambat,”* jawab Pak Hendra sebelum mematikan telepon.

Aku dan Arvin saling menatap. Tanpa menguapkan sepatah kata pun, kami bergerak bagaikan sebuah tim yang sudah berlatih bertahun-tahun. Dalam kurun waktu empat puluh lima menit, Arvin merapikan data keuangan dan grafik pertumbuhan pasar, sementara aku menyusun alur presentasi naratif yang memikat dan menyiapkan visual maket digital.

Di depan Pak Hendra dan jajaran direksi *Nusantara Land* sore itu, kami tampil tanpa cela. Aku membuka presentasi dengan cerita dan emosi yang memikat hati mereka, lalu Arvin menyambungnya dengan angka-angka presisi yang mengunci keyakinan mereka. Kami saling melengkapi seolah-olah kami bukan dua orang yang satu jam lalu hampir saling cakar.

Pertemuan itu berakhir dengan tepuk tangan puas dari Pak Hendra.

—

Pukul delapan malam, hujan deras mengguyur Jakarta tanpa ampun. Petir menyambar selang-seling di langit malam. Aku berdiri di area lobi kantor yang mulai sepi, menatap genangan air di pelataran dengan helaan napas pasrah. Semua aplikasi transportasi *online* di ponselku menunjukkan status *full demand* dan tidak ada pengemudi yang mau mengambil pesananku.

“Konyol banget… mana nggak bawa payung lagi,” gumamku pada diri sendiri, mengusap lenganku yang dingin.

*Bip! Bip!*

Sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan tangga lobi. Jendela kaca bagian kemudi perlahan turun, memperlihatkan sosok Arvin yang sudah melepas dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.

“Masuk,” panggil Arvin singkat dari dalam mobil.

Aku mengernyitkan alis, merapatkan tas ke dadaku. “Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri. Lagi nunggu taksi.”

“Aplikasi taksimu bakal *error* sampai sejam ke depan,” balas Arvin datar, menatap lurus ke depan. “Jangan keras kepala, Keira. Hujan makin deras.”

“Aku bilang bisa sendiri, Arvin,” tegasku, gengsiku membumbung tinggi. “Lagipula buat apa kamu peduli?”

Arvin menghentikan mesin mobilnya sejenak, lalu memutar kepala menatapku langsung melalui jendela yang terbuka. Tatapan matanya yang dingin mendadak terasa sedikit lebih dalam di bawah pendar lampu lobi yang temaram.

“Aku tahu kamu bisa pulang sendiri,” ucap Arvin pelan.

“Lalu?” tantangku.

Arvin menatap rintik hujan yang menghantam kaca depannya sebelum kembali menatapku. “Tapi aku tidak mau besok partner kerjaku sakit gara-gara kehujanan dan bikin presentasi kita tertunda.”

Aku menyunggingkan senyum sinis, melangkah satu pijakan mendekati mobilnya. “Oh… peduli juga ternyata?”

“Jangan salah paham,” potong Arvin dingin. “Ini murni demi profesionalitas proyek.”

Aku memutar mata, tetapi dinginnya angin malam akhirnya mengalahkan gengsiku. Aku berjalan mutar dan membuka pintu samping kemudi, lalu duduk di dalam kabin mobilnya yang hangat dan beraroma kayu manis yang menenangkan.

Namun, baru saja aku hendak menarik sabuk pengaman, suara Arvin terdengar pelan di tengah suara gemuruh hujan di luar.

“Aku cuma belum siap kehilangan partner proyek,” kata Arvin tanpa menoleh padaku.

Gerakan tanganku menarik sabuk pengaman membeku seketika. Jantungku melonjak aneh, melakukan lompatan kecil yang seharusnya tidak boleh terjadi. Aku menoleh menatap profil samping wajah Arvin yang tegas, tetapi pria itu sudah kembali fokus menatap jalanan yang basah di hadapannya.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Cinta Perlahan, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita