Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 1
- Home
- Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci
- Bab 1 - Aku Terpaksa Bekerja dengan Orang yang Paling Kubenci
“Nggak! Saya nggak bisa, Pak. Mending saya mengundurkan diri dari proyek ini daripada harus satu tim sama Arvin!”
Suaraku menggema nyaring di dalam ruang rapat berpendingin udara dingin itu. Tanganku menepuk meja kayu jati di hadapan Pak Kusuma, *Head of Marketing* kami. Di seberang meja, Arvin Satria—pria dengan kemeja biru tua tergulung hingga siku dan tatapan mata sekeras batu karang—hanya menyandarkan punggungnya santai ke kursi ergonomisnya.
Arvin mengamati kuku jari tangannya sejenak sebelum menatapku dengan sudut bibir terangkat tipis. Tatapan meremehkan yang selalu berhasil membuat darahku mendidih dalam hitungan detik.
“Tenang, Keira,” sahut Arvin datar, suaranya tenang namun menusuk. “Perasaannya sama. Saya juga tidak terlalu sudi mengorbankan profesionalitas saya demi menoleransi emosi kamu yang meledak-ledak setiap hari.”
“Apa kamu bilang?!” napasku memburu, mataku mendelik menatapnya. “Emosional? Siapa yang kemarin hampir bikin klien *Sinar Mandiri* kabur cuma gara-gara kamu ngotot pakai angka analisis yang kaku itu, hah?”
“Angka itu fakta,” potong Arvin santai, mengetukkan jarinya ke meja. “Bukan imajinasi liar dan ide-ide tanpa dasar yang biasa kamu jual.”
“Ide tanpa dasar?” desisku tajam, melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah meja. “Ide yang kamu sebut ‘tanpa dasar’ itu yang berhasil menaikkan *brand awareness* produk bulan lalu sebesar empat puluh persen! Kamu cuma iri karena data angka kaku milikmu tidak pernah bisa menyentuh emosi konsumen!”
“Emosi konsumen tidak ada artinya kalau arus kas perusahaan tekor karena margin keuntungan salah dihitung,” balas Arvin dingin, menyilangkan tangan di dada. “Kamu selalu bekerja pakai perasaan, Keira. Ini bisnis, bukan tempat latihan menulis puisi.”
“Sudah! Cukup! Kalian berdua mau bikin kepala saya pecah di jam sembilan pagi?!” Pak Kusuma memotong sebelum aku sempat melemparkan map di tanganku ke wajah tampan Arvin yang sangat ingin kutampar itu. Pak Kusuma mengurut pelipisnya, menghela napas panjang melihat kami berdua.
“Pak Kusuma, tolong pertimbangkan lagi,” selakku cepat, memutar tubuh menatap atasan kami. “Bapak tahu sendiri rekam jejak saya dan Arvin. Kami tidak pernah berada di satu pemikiran. Menatuh kami di satu proyek yang sama itu sama saja memasukkan dua ekor singa ke dalam satu kandang kecil!”
“Atau sama saja membiarkan satu orang profesional bekerja dengan satu anak kecil yang suka tantrum,” cemooh Arvin pelan namun masih cukup keras untuk kudengar.
Aku menoleh cepat, menunjuk wajahnya dengan penaku. “Jaga mulutmu ya, Satria! Siapa yang kamu sebut anak kecil?!”
“Siapa pun yang baru saja menepuk meja Pak Kusuma sambil berteriak,” jawab Arvin tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
“Kalian berdua ini dua *Senior Executive* terbaik di divisi ini!” bentak Pak Kusuma keras, membuat kami berdua refleks tertutup mulut. Beliau berdiri dari kursinya, menatap kami bergantian dengan pandangan menekan. “Proyek *Nusantara Land* ini adalah proyek terbesar perusahaan kita tahun ini. *Board of Directors* minta satu konsep yang matang, gabungan antara ide kreatif yang segar dan analisis risiko yang tajam.”
Pak Kusuma menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. “Keira punya kreativitas dan intuisi pasar yang tidak ada tandingannya. Arvin punya eksekusi, manajemen risiko, dan perhitungan data yang sempurna. Keputusan saya sudah final. Kalian berdua akan menjadi *Co-Lead* untuk proyek ini selama tiga bulan ke depan. Tidak ada pengganti. Tidak ada penolakan.”
“Pak Kusuma, tapi—” aku mencoba memprotes lagi dengan suara memohon.
“Tidak ada tapi-tapi, Keira!” potong Pak Kusuma tegas. Beliau kemudian merapikan berkas di mejanya dan tersenyum tipis, tatapannya menyapu kami berdua. “Lagipula, saya lihat kalian sebenarnya punya banyak kesamaan.”
Aku mengernyitkan alis, meremehkan ucapan itu. “Kesamaan apa, Pak? Kami berbeda seratus delapan puluh derajat!”
“Kalian berdua sama-sama tidak mau kalah,” jawab Pak Kusuma santai sambil mengangkat tas kerjanya. “Rapat selesai. Saya tunggu draf awal konsep gabungan kalian di meja saya hari Jumat jam sembilan pagi. Kalau sampai tidak ada, bonus akhir tahun kalian berdua saya potong lima puluh persen.”
Pak Kusuma melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan aku dan Arvin dalam keheningan yang sangat canggung, tegang, dan sarat akan permusuhan.
Aku segera merapikan berkas-berkasku dengan kasar, memasukkannya ke dalam tas laptop dengan gerakan cepat hingga menimbulkan suara gedebuk yang lumayan keras. Aku tidak betah berada di ruangan yang sama dengan pria ini bahkan untuk satu detik tambahan.
Namun, saat aku memutar badan dan melangkah melewatinya menuju pintu keluar, Arvin mendadak berdiri dan melangkah menghalangi jalanku. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang memaksa kepalaku mendongak untuk menatap matanya.
“Singkir dari jalanku, Arvin,” desisku tajam dengan rahang terkunci.
Arvin tidak bergeming. Dia merogoh saku celananya, menatapku lurus dengan pandangan dingin yang sulit diartikan. Ada jeda beberapa detik di mana kami hanya saling memandang—saling melemparkan sinyal permusuhan yang sudah terbangun sejak hari pertama kami bekerja di kantor ini.
“Aku cuma mau memastikan satu hal sebelum kita mulai kerja gila ini,” kata Arvin pelan, suaranya rendah namun menggema di ruangan sepi itu.
“Apa?” balasku ketus sambil melipat tangan di dada, menunjukkan gestur defensif penuh.
Arvin mencondongkan sedikit tubuhnya ke arahku, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum *sandalwood* dan kopi yang sangat khas darinya.
“Jangan jatuh cinta padaku selama proyek ini,” ucap Arvin tenang.
Mataku membelalak mendengarnya. Rasa tidak percaya langsung menjalar ke seluruh saraf otakku. Aku tertawa sumbang, merasa kalimat itu adalah hal paling konyol, paling tidak masuk akal, dan paling percaya diri yang pernah kudengar sepanjang dua puluh enam tahun hidupku.
“Kamu gila, ya?” bentakku tak percaya sambil menatapnya tajam. “Lupakan! Aku bahkan tidak suka melihat wajahmu! Menatap matamu saja bikin aku mual!”
Arvin menyunggingkan senyum tipis—senyuman misterius dan penuh percaya diri yang selalu membuatku kesal setengah mati. Dia mundur satu langkah, memberikan ruang yang cukup bagiku untuk lewat menuju pintu.
“Semoga tetap begitu, Keira,” bisik Arvin pelan namun penuh penekanan. “Karena aku tidak punya waktu untuk mengurusi partner kerja yang patah hati di tengah-tengah proyek.”
“Dalam mimpimu, Satria!” semburku sambil menabrakkan bahuku ke bahunya saat melangkah lebar-lebar meninggalkannya di ruang rapat yang hampa.
—
Begitu keluar dari ruang rapat, aku melangkah cepat menuju area kerja divisi *marketing*. Kakiku mengecap lantai dengan ketukan nyaring dari sepatu *high heels*-ku, memamerkan kekesalan yang masih membakar dada. Selma, sahabat sekaligus *HR Specialist* yang duduk di dekat kubikelku, langsung mendongak dari layar komputernya.
“Aduh, mukanya lipat seribu begitu,” goda Selma sambil menyodorkan segelas teh dingin ke mejakubikelku. “Gimana rapat sama Pak Kusuma? Jadi pegang proyek *Nusantara Land*?”
“Jadi,” balasku singkat, menghempaskan tubuh ke kursi kerjaku sampai berdecit. Aku langsung menyedot teh dingin itu hingga tersisa separuh.
“Lho, bagus dong! Itu kan proyek emas tahun ini!” seru Selma heran. “Terus kenapa mukamu kayak habis disengat tawon?”
“Gimana nggak kayak disengat tawon kalau Pak Kusuma numbalin aku sama si manusia es batu itu?!” raungku pelan, memegang pelipis. “Aku disuruh jadi *Co-Lead* bareng Arvin, Sel! Tiga bulan! Tiga bulan penuh!”
Selma membelalakkan matanya, lalu mendadak tertawa geli tanpa dosa. “Serius?! Kamu sama Arvin? Demi apa?!”
“Nggak usah tertawa, Selma! Ini musibah!” bentakku gemas, menunjuknya dengan sedotan. “Kamu tahu sendiri kita itu kayak minyak sama air. Tadi aja di dalam rapat kita baru berdebat sepuluh menit, Pak Kusuma udah mau pingsan.”
“Tapi justru itu menarik, Kei,” sahut Selma sambil menyandarkan sikunya di pembatas kubikel. “Kalian itu dua orang paling ambisius di kantor ini. Kalau kalian digabungin, proyeknya bisa meledak hebat… atau kantor ini yang meledak terbakar.”
“Yang kedua lebih mungkin terjadi,” gumamku pasrah, menatap layar monitor yang masih padam.
Selma menatapku dengan binar mata jahil. “Tapi Kei… kamu sadar nggak sih?”
“Sadar soal apa?” tanyaku penuh curiga.
“Setiap kali kamu cerita soal Arvin, napasmu selalu menggebu-gebu,” goda Selma sambil terkikik. “Kalau kalian benar-benar saling benci, kenapa kamu selalu hafal detail kecil tentang dia? Sampai tahu jam berapa dia minum kopi, jam berapa dia analisis data…”
“Selma!” potongku dengan wajah memerah. “Aku memperhatikan dia cuma buat nyari kelemahannya! Supaya aku bisa mengalahkan dia di rapat evaluasi!”
“Iya deh, iya… yang mau mengalahkan rivalnya,” ujar Selma manggut-manggut dengan nada menyebalkan. “Awas lho, garis antara benci setengah mati sama suka setengah mati itu tipis banget.”
“Nggak akan pernah terjadi,” tegasku mantap, menyalakan komputer dengan sekali tekan. “Aku lebih memilih resign dan jualan gado-gado daripada harus punya perasaan sama pria sombong seperti Arvin Satria.”
Dari kejauhan di ujung lorong, aku melihat Arvin berjalan santai menuju kubikelnya sendiri di area *Business Development*. Pria itu sempat menoleh sekilas ke arahku, menyunggingkan senyum tipis yang sangat menjengkelkan, lalu kembali fokus pada dokumen di tangannya.
Aku mengepalkan tanganku di bawah meja. Tiga bulan ini akan menjadi neraka. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan biarkan Arvin memenangkan persaingan ini, apalagi membiarkan diriku kalah oleh gertakan konyolnya.
-BERSAMBUNG-