Aku dan Rekan Kerjaku Saling Membenci - Bab 7
Dua bulan telah berlalu sejak malam di apartemen itu. Ruang kantor divisi *marketing* kini terasa berbeda. Di atas pintu kaca ruangan utama di ujung koridor, kini terpasang papan nama kuningan baru bertuliskan: *Keira Maharani — Marketing Manager*.
Aku duduk di balik meja kerja kayu mahoni yang luas, menatap dokumen persetujuan ekspansi *Nusantara Land* Tahap Tiga. Pencapaian divisi kami melonjak drastis, tetapi ada satu sudut di hatiku yang tetap terasa lengang. Setiap kali melintasi kubikel kosong di seberang mejaku yang dulu dihuni Arvin, rasa hangat sekaligus rindu itu selalu muncul tanpa diundang.
Suara ketukan pintu memecah lamunanku.
“Bu Keira?” panggil Selma sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kaca. Wajahnya dipenuhi senyuman jahil yang sangat familiar.
Aku terkekeh pelan, menyandarkan punggung ke kursi. “Berapa kali harus kukatakan, Sel? Kalau cuma kita berdua, panggil Keira saja.”
“Nanti tidak sopan di depan anak-anak baru, Bu Manager,” goda Selma sambil berjalan mendekat. Dia meletakkan sebuah amplop cokelat tebal dan satu cangkir kopi *Americano* panas di atas mejaku. “Ada paket dari kurir ekspres internasional buat kamu. Dari Singapura.”
Jantungku melonjak hebat, menghantam dadaku begitu keras. Aku menatap amplop cokelat di atas meja dengan pandangan tak percaya.
“Dari… Singapura?” ulangku lirih.
Selma mengedipkan sebelah matanya. “Aku meninggalkanmu sendiri ya, Bu Manager. Selamat menikmati kopinya!”
Setelah Selma keluar dan menutup pintu ruangan, aku mengambil amplop itu dengan jemari yang bergetar pelan. Di bagian pojok kanan atas, tertera nama pengirim dengan tulisan tangan yang sangat kukenal: *Arvin Satria*.
Aku membuka amplop itu dengan perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah buku laporan evaluasi performa pasar Asia Tenggara, satu lembar tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Singapura untuk akhir pekan ini, dan secarik kertas catatan kecil.
Aku membuka lipatan kertas kecil itu dan membaca tulisan cetaknya yang rapi:
*’Aturan Nomor Empat kita secara resmi batal. Aku menunggumu di Marina Bay Sabtu ini, Keira. Kali ini, tidak ada lagi alasan profesionalisme proyek.’*
Sebuah senyuman lebar terbit di bibirku. Air mata haru mendesak di sudut mataku. Pria kaku itu benar-benar tidak pernah berubah dalam cara menyampaikan perasaannya.
—
Sabtu sore, angin laut bertiup lembut di sepanjang pelataran *Marina Bay Waterfront*. Cahaya matahari terbenam menyiram langit Singapura dengan warna keemasan yang memukau.
Aku berdiri di dekat pagar pembatas, mengenakan gaun kasual berwarna krem, membiarkan rambutku terurai dimainkan angin sore. Jemariku menggenggam erat tas kecilku, jantungku berdebar tak karuan menantikan sosok yang sudah dua bulan ini hanya kusapa lewat pesan singkat dan panggilan suara singkat di sela-sela kesibukan kami.
“Kamu terlambat lima menit, Keira.”
Suara bariton yang amat kurindukan itu terdengar persis dari balik punggungku.
Aku memutar tubuh dengan cepat.
Arvin berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja biru muda yang digulung hingga siku dan celana kain santai. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan senyuman hangat yang jarang diperlihatkannya kini terukir jelas di wajahnya yang tampan.
Aku memutar mata, pura-pura bersikap galak meski hatiku membuncah bahagia. “Pesawatku sempat *delay* lima belas menit di Soekarno-Hatta, Satria! Harusnya kamu bersyukur aku masih mau datang!”
Arvin terkekeh pelan—suara tawa yang paling indah yang pernah kudengar. Pria itu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma khas kayu manis dari tubuhnya.
“Aku selalu bersyukur setiap kali kamu datang,” ucap Arvin lembut, matanya menatapku dengan binar intensitas yang jujur dan hangat.
Wajahku memerah seketika. “Kamu makin puitis ya sejak pindah ke Singapura?”
“Hanya saat bicara denganmu,” balas Arvin santai, menyodorkan satu cangkir kopi panas dari kedai terdekat yang sudah disiapkannya. “Kopi tanpa gula, takaran yang pas.”
Aku menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sembari menatapnya. “Terima kasih, Arvin.”
“Untuk kopinya?” tanya Arvin, mengangkat sebelah alisnya.
“Untuk semuanya,” jawabku tulus, menatap matanya lurus. “Untuk rekomendasimu di kantor, untuk kopi setiap pagi, untuk semua pertengkaran konyol kita… dan untuk undangan ini.”
Arvin menatapku lama sekali. Angin sore bertiup membelai wajah kami. Dia mengulurkan tangannya, mengambil cangkir kopi dari genggamanku dan meletakkannya di atas meja pembatas di samping kami.
Arvin meraih kedua telapak tanganku, menggenggamnya erat dalam kehangatan jemarinya.
“Waktu di Jakarta, kita membuat empat aturan kaku,” kata Arvin dengan suara rendah yang menenangkan. “Pertama, tidak membawa masalah pribadi ke pekerjaan. Kedua, tidak membantah di depan klien. Ketiga, tidak ikut campur kehidupan pribadi. Dan keempat… tidak boleh jatuh cinta.”
“Aku ingat semuanya,” bisikku pelan, menatap jariku yang bertaut rapat dengan jarinya.
“Aturan satu sampai tiga sangat membantu pekerjaan kita,” sambung Arvin, menyunggingkan senyuman tipis. “Tapi aturan nomor empat adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat.”
Aku terkekeh kecil, air mata kebahagiaan mulai menggenang di mataku. “Oh ya? Kenapa bodoh?”
Arvin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mataku dengan seluruh kesungguhan hati yang selama ini disembunyikannya di balik tembok esnya.
“Karena sejak hari pertama kita berdebat di ruang rapat itu, aku sudah melanggar aturan itu, Keira,” akui Arvin jujur. tangannya terulur mengusap pipiku lembut. “Aku jatuh cinta pada partner kerjaku yang paling menyebalkan, paling keras kepala, dan paling berbakat ini.”
Dada rasanya berdesir hebat. Senyuman lebar terukir di wajahku. “Kamu tahu apa, Arvin?”
“Apa?” tanya Arvin pelan.
Aku menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu cepat—sama cepatnya dengan detak jantungku sendiri. “Aku juga melanggar aturan itu sejak malam pertama kamu mengantarku pulang di tengah hujan.”
Arvin tertawa pelan, memeluk bahuku erat, melingkarkan lengannya di tubuhku dengan protektif. Dia mendaratkan kecupan hangat di puncak kepalaku, membiarkan kami larut dalam kehangatan dekapan di bawah pendar cahaya matahari terbenam Singapura.
“Jadi…” bisik Arvin di telingaku, suaranya dipenuhi rasa lega dan kebahagiaan yang murni. “Bagaimana kalau kita buat draf aturan baru?”
Aku mendongak, menatap wajahnya dengan senyuman jahil. “Aturan baru apa, Pak Manager?”
Arvin menyunggingkan senyuman amat tampan, menatap bibirku lalu kembali menatap mataku. “Aturan baru: Tidak ada lagi sandiwara, tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi batasan waktu dua bulan atau tiga bulan.”
“Dan syarat utamanya?” tanyaku berbisik.
“Syarat utamanya…” balas Arvin pelan sebelum menundukkan kepala mengikis sisa jarak di antara kami. “Kita harus terus bersama untuk waktu yang sangat lama.”
Bibir kami bertemu dalam sebuah kecupan hangat dan lembut di tepi pantai Marina Bay, menyegel kesepakatan baru yang tidak lagi ditulis di atas kertas proposal atau draf kontrak, melainkan terukir abadi di dalam hati kami berdua.
Tidak ada lagi persaingan, tidak ada lagi kepura-puraan. Yang tersisa hanyalah dua orang yang akhirnya berani mengakui bahwa cinta tidak pernah membutuhkan draf aturan.
-TAMAT-