Aku Cuma Teman, Kan? - Bab 2
Sejak hari di mall itu, Keira memutuskan untuk mengambil langkah mundur.
Dia tidak lagi menjadi orang pertama yang mengirim pesan di pagi hari. Dia tidak lagi membagikan cerita konyol tentang bosnya di kantor. Bahkan ketika Arsen menelepon untuk menawarkan tumpangan pulang di Jumat sore yang hujan deras, Keira menolaknya dengan cepat.
“Nggak usah, Sen. Aku bisa naik taksi online.”
“Kei, ini hujan deras banget. Taksi susah. Aku udah di parkiran gedung kantor kamu.”
“Aku udah pesan dari tadi. Bentar lagi sampai. Kamu pulang aja duluan.”
“Kei—”
Keira mematikan telepon sebelum Arsen sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia menghela napas panjang, bersandar pada pilar gedung kantornya yang dingin. Ini keputusan terbaik. Jika Arsen mulai memiliki kehidupan sendiri bersama orang lain, Keira juga harus belajar mengembalikan batasan persahabatan mereka ke jalur yang benar.
Namun, Arsen bukan tipe pria yang bisa dihindari begitu saja.
Senin sore, saat Keira baru saja keluar dari lift lantai dasar gedungnya, dia menemukan sosok tinggi yang sangat dia kenali sedang berdiri di dekat pintu keluar. Arsen. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya yang lengannya digulung hingga siku. Matanya langsung menemukan Keira di antara kerumunan karyawan lain.
Arsen berjalan mendekat tanpa mengalihkan pandangan.
“Kita perlu bicara,” kata Arsen tanpa basa-basi.
Keira menghentikan langkahnya, memeluk tas kerjanya di depan dada. “Aku mau pulang, Sen. Capai.”
“Kamu menghindariku?”
“Nggak.”
“Terus kenapa pesan aku dari kemarin cuma dibalas pendek-pendek? Ditelepon nggak diangkat. Diajak makan selalu alibi sibuk.” Arsen menatapnya lurus. Ada garis tegas di dahinya yang menandakan dia tidak sedang bercanda. “Setiap hari kamu sibuk?”
Keira mengalihkan pandangannya ke samping, menolak bertatapan langsung dengan mata cokelat gelap milik pria itu. “Ya emang lagi banyak pekerjaan.”
“Kei, aku kenal kamu bukan baru kemarin. Kalau ada masalah, bilang.” Arsen melangkah semaju lebih dekat. “Aku buat salah apa?”
Pertanyaan itu memicu sesuatu di dalam diri Keira. Rasa sesak yang dia tahan selama seminggu terakhir mendadak ingin meledak. Dia menatap Arsen kembali.
“Kamu sama Rena dekat?” tanya Keira akhirnya. Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum dia sempat menahannya.
Arsen tampak terkejut. Alisnya terangkat sebelah. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma tanya.”
“Kamu cemburu?”
Keira merasa darahnya mendadak naik ke kepala. Dia menyilangkan tangan, berusaha keras mempertahankan gaya cueknya. “Ngapain aku cemburu? Lucu banget. Kamu mau dekat sama siapa aja ya hak kamu-lah.”
Arsen tidak langsung membalas. Dia menatap Keira lama, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di bibirnya. “Nah, itu yang aku juga ingin tahu. Kenapa kamu ketus banget kalau dengar nama Rena?”
“Arsen!” Keira mendelik kesal. “Nggak usah keadaannya dibalik-balik ya!”
“Aku nggak balik-balikin keadaan, Keira.”
“Terserah!” Keira memutar tubuhnya, berniat berjalan menuju pangkalan taksi. Tapi suara Arsen menahannya.
“Rena itu cuma rekan tim proyek baru, Kei. Kemarin makan siang berdua karena selesai rapat sama klien di tempat itu.”
Keira menghentikan langkahnya, tapi tidak berbalik. “Aku nggak minta penjelasan kamu.”
“Tapi kamu butuh dengar,” balas Arsen tenang.
Keira menelan ludah yang terasa pahit. Dia memilih melangkah pergi meninggalkan Arsen yang masih berdiri di sana.
Takdir tampaknya senang bermain-main. Dua hari kemudian, Keira terpaksa mendatangi kantor Arsen untuk mengantarkan dokumen penting milik perusahaannya yang bekerja sama dengan kantor pria itu.
Di ruang tunggu, dia berpapasan langsung dengan Rena. Wanita berambut sebahu itu tersenyum ramah saat melihat Keira.
“Halo, Keira ya? Temannya Arsen?” sapa Rena ramah.
Keira membalas senyuman itu sebisanya. “Iya, Mbak Rena. Mau mengantar berkas untuk Pak Bagas.”
“Oh, biar aku bantu sampaikan ke meja beliau,” offered Rena. Saat menerima berkas itu, Rena tertawa kecil. “Akhirnya ketemu langsung. Arsen sering banget cerita tentang kamu.”
Keira tertegun. “Dia… cerita apa?”
“Banyak,” jawab Rena santai. “Katanya kamu itu orangnya keras kepala, tapi gampang sakit kalau kecapekan. Dia juga bilang kalau kamu paling suka dibelikan boba kalau lagi stres kerjaan. Katanya kamu satu-satunya orang yang paling dia khawatirkan kalau nggak ada kabar.”
Keira membeku di tempatnya. Kata-kata Rena berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
“Jujur ya, Keira,” lanjut Rena sambil tersenyum hangat, “awal aku masuk tim, aku pikir kamu itu pacarnya. Tapi Arsen bilang kalian cuma sahabat. Meski ya… dari cara dia ngomongin kamu, aku ragu kalian cuma sebatas itu.”
Keira tidak tahu harus menjawab apa. Bibirnya terasa kelu. Rena pamit membawa berkas tersebut, meninggalkan Keira yang berdiri terpaku dengan jantung yang berdegup kencang.
Malam harinya, tubuh Keira akhirnya menyerah. Stres pekerjaan ditamabah beban pikiran yang menumpuk membuat daya tahan tubuhnya drop. Dia berbaring di tempat tidur dengan demam tinggi dan kepala yang terasa seperti dihantam palu.
Ponselnya di atas meja terus bergetar. Nama Arsen terpampang di layar. Tapi Keira terlalu lemas bahkan hanya untuk menggeser tombol hijau.
Tiga puluh menit kemudian, bel pintunya berbunyi bertubi-tubi, disusul suara ketukan kencang.
“Kei! Keira! Buka pintunya!”
Keira menyeret langkahnya dengan susah payah, membuka kuncian pintu. Begitu pintu terbuka, sosok Arsen berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Wajah pria itu penuh rasa cemas.
“Kamu kenapa nggak balas pesan aku dari tadi?” cecar Arsen. Tapi begitu memegang lengan Keira, mata Arsen melebar. “Badan kamu panas banget.”
“Aku nggak apa-apa…” gumam Keira pelan, pandangannya mulai kabur.
Sebelum dia kehilangan keseimbangan, Arsen sudah lebih dulu menahan tubuhnya. Dengan sigap, Arsen mengangkat Keira dan membawanya kembali ke tempat tidur.
Selama dua jam berikutnya, Arsen mengambil alih segalanya. Pria itu mengompres dahi Keira, menyeduh bubur instan yang ada di dapur, dan memastikan Keira meminum obatnya. Arsen duduk di kursi samping tempat tidur, mengusap pelan rambut Keira yang lepek karena keringat dingin.
Keira memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu dari balik selimutnya. Perhatian ini… kehangatan ini… selama enam tahun dia selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sesuatu yang wajar diberikan oleh seorang sahabat.
Tapi malam ini, saat jemari hangat Arsen merapikan poni di dahinya, dada Keira berdesir hebat. Dia tidak lagi melihat pria di depannya sebagai sekadar “teman tempat cerita”. Arsen adalah pria yang telah mengambil seluruh ruang di hatinya tanpa dia sadari.
“Kenapa nggak bilang kalau sakit?” tanya Arsen pelan. Suaranya penuh nada omelan, tapi tatapannya sangat lembut.
“Aku bisa sendiri,” bisik Keira lemah.
“Kamu selalu bilang begitu,” balas Arsen seraya mendesah pelan. Dia mengusap pipi Keira yang terasa hangat. “Coba sesekali bergantung sama aku, nggak bakal dosa, Kei.”
Keira memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Arsen di pipinya. Keheningan malam menyelimuti kamar itu.
Setelah demam Keira mulai turun dan jam menunjukkan pukul sebelas malam, Arsen beranjak dari kursinya. “Obatnya udah bekerja. Kamu tidur ya. Aku pulang dulu.”
Saat Arsen berbalik dan melangkah menuju pintu kamar, Keira memanggilnya.
“Arsen.”
Arsen menghentikan langkahnya dan menoleh. “Hm?”
Keira mencengkeram pinggiran selimutnya. Pertanyaan yang mengendap di kepalanya sejak lama akhirnya terlepas begitu saja. “Kalau suatu hari aku punya pacar… kamu bakal tetap seperti ini?”
Arsen terdiam. Keheningan mendadak terasa begitu pekat di antara mereka.
“Seperti apa?” tanya Arsen pelan.
“Selalu datang kalau aku butuh. Selalu merawat aku kayak gini.”
Arsen berdiri di dekat ambang pintu, menatap Keira cukup lama. Tatapannya tidak lagi tajam atau menggodanya seperti biasa. Ada rasa lelah dan kerapuhan yang dalam di mata pria itu.
Arsen menjawab, “Mungkin nggak.”
Jantung Keira seolah berhenti berdetak. “Kenapa?”
Arsen tersenyum—sebuah senyuman pahit yang belum pernah Keira lihat sebelumnya.
“Karena aku nggak yakin aku bisa terus melihat kamu bersama pria lain.”
Keira membeku di tempat tidur. Kalimat itu menghantamnya begitu keras hingga dadanya terasa sesak.
Sebelum Keira sempat mencerna sepenuhnya apa yang baru saja dia dengar, Arsen sudah berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu rumah Keira rapat-rapat.
Malam itu, Keira tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Kalimat Arsen terus bergema di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Keira sadar bahwa mungkin bukan hanya perasaannya yang telah berubah.
-TBC-