Aku Cuma Teman, Kan? - Bab 1
“Itu punya aku,” kata Keira. Matanya melotot menatap potongan ayam goreng terakhir yang baru saja berpindah tempat.
Arsen santai mengunyah. Senyum tipis mengembang di bibirnya. “Kamu nggak habis, Kei.”
“Aku belum selesai makan!” Keira mendengkus, meletakkan sendoknya dengan agak keras ke piring.
Arsen menyodorkan sendoknya sendiri yang berisi separuh daging. “Ya sudah. Galak amat. Nih, ambil lagi kalau mau.”
“Bekas kamu!”
“Biasanya juga kamu main makan aja kalau aku beli martabak,” balas Arsen. Dia tidak mengambil pusing protes Keira dan malah meraih gelas es teh milik gadis itu untuk diminum.
Keira hanya bisa memutar bola mata, tapi kekesalannya menguap begitu saja. Kebiasaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Sejak masa kuliah enam tahun lalu, Arsen adalah orang yang selalu ada di jangkauan tangannya. Pria 27 tahun dengan pembawaan tenang itu tahu persis kapan Keira butuh kopi tanpa gula, tahu lagu apa yang diputar saat Keira sedang tertekan, dan tahu kapan harus diam saat Keira sedang tidak ingin diganggu.
“Jadi,” suara Tania memecah interaksi mereka dari seberang meja. Sahabat Keira itu bertopang dagu, menatap Keira dan Arsen secara bergantian dengan tatapan selidik. “Kalian berdua ini sebenarnya pacaran atau bukan, sih?”
Keira hampir tersedak ludahnya sendiri. “Bukanlah!”
“Kenapa?” Tania menaikkan sebelah alisnya. “Kalian ke mana-mana berdua. Arsen tahu jadwal kamu lebih hafal daripada aku. Tadi aja dia ngambil makanan dari piring kamu tanpa rasa dosa.”
“Karena kami sahabatan, Tan,” jawab Keira mantap. “Aku sama Arsen itu udah kayak saudara.”
Tania tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Yakin? Nggak ada yang mendadak baper di antara kalian?”
“Nggak ada,” sela Arsen tenang. Pria itu menatap Keira sejenak, lalu tersenyum tipis. “Keira itu merepotkan. Kalau jadi pacar, bisa pusing aku tiap hari.”
“Heh! Siapa yang merepotkan?” Keira menendang pelan kaki Arsen di bawah meja.
Arsen hanya tertawa, menghindar dengan mudah.
Bagi Keira, pertanyaan seperti yang dilemparkan Tania bukanlah hal baru. Orang-orang di sekitar mereka selalu menanyakan hal yang sama. Namun jawaban Keira dan Arsen tidak pernah berubah selama enam tahun ini: mereka cuma teman. Dan Keira sangat percaya pada jawaban itu. Persahabatan mereka aman, nyaman, dan tidak memiliki risiko patah hati.
Tiga hari kemudian, suasana nyaman itu mulai terasa sedikit bergeser.
“Nanti malam makan ramen yang di dekat kantor kamu, yuk?” ajak Keira lewat telepon sore itu. Dia sedang merapikan berkas di mejanya, siap untuk pulang.
Hening sejenak di ujung telepon.
“Maaf, Kei. Aku nggak bisa makan malam ini,” kata Arsen.
Keira menghentikan gerakan tangannya. Selama ini, Arsen jarang sekali menolak ajakan makan malam, kecuali pria itu memang sedang berada di luar kota. “Kenapa? Ada lemburan?”
“Iya, ada kerjaan yang harus diselesaikan sama Rena.”
Keira memegang ponselnya sedikit lebih erat. Nama itu lagi. Sudah seminggu terakhir Arsen sering menyebut nama Rena, rekan kerja barunya di divisi pemasaran. Awalnya Keira tidak terlalu memikirkannya. Bagaimanapun, Arsen punya kehidupan pekerjaan sendiri. Tapi belakangan ini, nama itu muncul hampir di setiap obrolan mereka.
“Oh,” respon Keira pendek.
“Kamu marah?” tanya Arsen. Suaranya terdengar hati-hati.
“Nggak. Ngapain marah?”
“Serius? Suara kamu beda.”
Keira menghembuskan napas pelan melalui hidung. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak merayapi dadanya, sebuah perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. “Serius, Arsen. Lagian kita cuma teman, kan? Masa aku harus marah kamu lembur sama teman kantor.”
Di ujung telepon, Arsen terdiam. Hening bergulir cukup lama sampai suara ketikan papan ketik di latar belakang Arsen terdengar begitu jelas.
“Iya,” kata Arsen akhirnya. Suaranya terdengar datar. “Kita cuma teman.”
“Ya udah. Aku pulang dulu.”
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan.”
“Hmm.”
Keira mematikan sambungan telepon. Dia menatap layar ponselnya yang perlahan menghitam. Rasanya aneh. Kalimat “kita cuma teman” adalah kalimat yang biasa dia ucapkan dengan ringan. Tapi kenapa malam ini kalimat itu terasa begitu mengganjal di tenggorokannya?
Keesokan harinya, Keira menemani Tania membeli hadiah untuk ibunya di sebuah pusat perbelanjaan di dekat kawasan perkantoran Arsen. Saat mereka melintasi salah satu restoran kasual di lantai dasar, langkah Keira mendadak terhenti.
Matanya tertuju pada meja di sudut ruangan dekat jendela glass.
Di sana, Arsen sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut sebahu yang tampak rapi dengan pakaian kerja. Rena. Wanita itu tertawa lepas mendengar sesuatu yang dikatakan Arsen. Yang membuat dada Keira mendadak sesak adalah respon Arsen. Pria itu tersenyum lebar, jenis senyuman hangat yang biasanya hanya diperlihatkan kepada Keira. Arsen bahkan menggeser piring pencuci mulut ke arah Rena dengan gerakan yang sangat perhatian.
Keira berdiri membeku. Kakinya terasa berat untuk melangkah.
“Kei?” Tania memanggilnya, bingung karena Keira mendadak berhenti. Tania mengikuti arah pandang sahabatnya. “Loh, itu Arsen, kan? Sama siapa?”
“Rekan kerjanya,” kata Keira. Suaranya terdengar pelan dan kering.
“Oh… Rena itu?” Tania menatap Arsen dan Rena sejenak, lalu berpaling memperhatikan wajah Keira yang mendadak pucat.
Arsen dan Rena di dalam restoran masih berbincang seru. Arsen tertawa lagi, tawa yang terasa begitu asing bagi Keira karena kini tawa itu tidak lagi ditujukan untuknya. Ada ruang kedap udara yang tiba-tiba menghimpit dada Keira, membuatnya kesulitan bernapas dengan benar.
“Kamu cemburu?” tanya Tania langsung.
“Nggak,” jawab Keira cepat. Terlalu cepat. “Ngapain cemburu? Kan aku bilang kami cuma teman.”
Tania tidak menyahut dengan kata-kata. Dia hanya menurunkan pandangannya ke bawah, melihat tangan kanan Keira.
“Kalau nggak cemburu,” gumam Tania pelan, “kenapa tangan kamu sampai mengepal sekencang itu?”
Keira menunduk. Dia melihat jemarinya sendiri. Tangan kakunya terkepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keira tidak menyadarinya sama sekali.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Keira merasa sangat takut. Bukan karena Arsen sedang bersama wanita lain, melainkan karena dia takut pada jawaban atas perasaannya sendiri.
-TBC-