Aku Cuma Teman, Kan? - Bab 3

  1. Home
  2. Aku Cuma Teman, Kan?
  3. Bab 3 - Kalau Kita Bukan Cuma Teman, Lalu Apa?
Prev
Novel Info

Kedai kopi langganan mereka di sudut jalan tidak terlalu ramai sore itu. Keira duduk di kursi dekat sudut, menatap cangkir kopi yang uapnya sudah menghilang. Di hadapannya, Arsen duduk dengan tenang, menyesap kopinya sendiri seolah kalimat yang dia ucapkan dua malam lalu di kamar Keira tidak pernah terjadi.

Ketenangan Arsen justru membuat Keira semakin panik.

“Kamu nggak mau ngomongin yang kemarin?” tanya Keira akhirnya. Dia tidak bisa menahannya lagi.

Arsen meletakkan cangkirnya perlahan. “Kamu mau ngomongin?”

“Iya!” Keira memajukan tubuhnya. “Arsen, aku nggak bisa pura-pura nggak dengar apa yang kamu bilang sebelum kamu keluar dari rumah aku.”

Arsen menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Keira lurus-lurus. Tidak ada lagi candaan di matanya. “Oke. Bagian mana yang mau kamu bahas?”

Keira menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang liar. “Kamu serius waktu bilang… kamu nggak bisa melihat aku bersama pria lain?”

“Serius,” jawab Arsen cepat, tanpa ragu sedikit pun.

“Sejak kapan?”

Arsen tersenyum kecil, pandangannya menerawang sejenak sebelum kembali menatap mata Keira. “Aku juga nggak tahu pastinya, Kei. Mungkin sejak tahun kedua kita sahabatan. Atau mungkin lebih cepat dari itu.”

Keira menahan napas. “Tahun kedua? Berarti udah bertahun-tahun?”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu diam aja?” suara Keira terdengar agak meninggi karena terkejut dan bingung. “Kenapa selama bertahun-tahun ini kamu selalu bilang kita cuma teman?”

Arsen menatap jemari Keira yang saling bertaut di atas meja. “Karena aku takut, Kei. Aku lihat bagaimana kamu nyaman sama posisi kita sebagai sahabat. Aku takut kalau aku jujur, kamu bakal merasa canggung dan menjauh.” Arsen menghela napas pelan. “Aku lebih takut kehilangan kamu daripada tidak pernah mendapatkan kamu.”

Kata-kata itu menghantam Keira tepat di dada. Rasa bersalah dan haru bercampur menjadi satu. Selama ini dia berpikir dialah yang paling takut kehilangan persahabatan ini, padahal Arsen sudah menanggung beban perasaan yang jauh lebih besar dan lebih lama darinya.

Keira menunduk, menatap jarinya sendiri. “Kamu jahat,” bisiknya.

“Kenapa?”

“Karena kamu buat aku merasa bersalah,” Keira mengangkat wajahnya, menatap Arsen dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dan karena kamu buat aku sadar… kalau selama ini aku juga nggak pernah benar-benar rela kamu sama cewek lain.”

Arsen terpaku. Matanya melebar sedikit. “Maksud kamu?”

“Waktu aku lihat kamu sama Rena di restoran malam itu… dadaku rasanya sakit banget,” aku Keira jujur. Kalimat itu keluar dengan gemetar, tapi Keira tidak mau lagi bersembunyi. “Aku benci waktu kamu batalkan janji cuma demi kerja sama dia. Aku nggak suka kamu senyum ke dia kayak kamu senyum ke aku. Makanya aku cemburu!”

Arsen memiringkan kepalanya, bibirnya perlahan menarik senyum yang sangat familiar. “Jadi… kamu cemburu?”

Keira langsung menunjuk wajah Arsen dengan telunjuknya. “Jangan senang dulu!”

“Kenapa?”

“Karena aku masih takut!” Keira mendengkus, mencoba menutupi rona merah yang membakar pipinya.

Arsen menggeser duduknya mendekat, menopang siku di atas meja. “Takut apa?”

Keira menatap Arsen dengan pandangan jujur dan rapuh. “Kalau kita coba berubah jadi pacar… dan ternyata gagal, aku kehilangan kamu sepenuhnya, Sen. Kita nggak bakal bisa balik jadi sahabat lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu.”

Arsen mendengarkan setiap kata itu dengan seksama. Dia mengangguk pelan, memahami ketakutan Keira karena dia pun pernah berada di posisi yang sama selama bertahun-tahun.

“Kalau kita nggak mencoba,” kata Arsen pelan, suaranya sangat lembut, “kita mungkin tetap jadi sahabat.”

Keira menatapnya. “Tapi?”

“Tapi aku akan selalu bertanya-tanya bagaimana kalau kita berani,” lanjut Arsen. Tangannya terulur di atas meja, telapak tangannya terbuka menanti genggaman Keira. “Aku nggak mau seumur hidup cuma menebak-nebak apa yang bisa terjadi di antara kita, Kei.”

Keira melihat tangan Arsen yang terulur. Tangan yang selalu merawatnya, yang selalu menariknya saat dia hampir tersandung, dan yang selalu ada untuknya selama enam tahun terakhir.

Perlahan, Keira meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Arsen. Arsen langsung menggenggamnya hangat, mengunci jemari mereka bersamaan.

“Jadi…” Arsen menatapnya dengan binar mata yang hangat. “Sekarang kita apa?”

Keira menahan senyumnya, berpura-pura berpikir keras. “Aku juga nggak tahu.”

“Pacaran?” tanya Arsen langsung.

“Mungkin.”

Arsen menaikkan alisnya. “Mungkin?”

“Kita mulai dari kencan dulu,” kata Keira mantap. “Nggak mau langsung main cap pacaran. Kita harus coba jalan sebagai orang yang lagi PDKT.”

Arsen tertawa lepas, tawa renyah yang paling Keira sukai di dunia ini. “Setelah enam tahun sahabatan? Kita mau PDKT lagi?”

“Iya,” Keira mengangguk tegas. “Kenapa? Nggak mau?”

“Nggak gitu,” Arsen menggeleng dengan senyum yang tidak jua pudar. “Aku harus gugup, nih?”

Keira mengangguk manis. “Harus. Kamu harus usahain buat menarik perhatian aku lagi.”

Arsen tertawa pelan, menggenggam tangan Keira sedikit lebih erat. “Baiklah. Aku bakal usahain seratus persen.”

Keira menyandarkan punggungnya ke kursi, memiringkan kepala menatap Arsen. “Tapi kalau nanti aku berubah pikiran gimana? Kalau ternyata kamu membosankan sebagai gebetan?”

Arsen menatapnya, tidak ada lagi kecemasan di matanya, hanya ada keyakinan yang tenang.

“Kalau kamu berubah pikiran,” kata Arsen lembut, “aku tetap jadi sahabat kamu. Aku nggak bakal ke mana-mana, Kei.”

Senyuman Keira mengembang sempurna. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ketika orang-orang melihat mereka duduk berdua sambil bergandengan tangan di sudut kedai kopi itu, tak ada lagi jawaban: “Kami cuma teman.”

Karena sore itu, mereka akhirnya berani melangkah keluar dari zona aman persahabatan, untuk mencari tahu seberapa jauh hati mereka bisa saling memiliki.

-SELESAI-

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Perlahan, Free Novel, Sahabat Jadi Cinta
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita