Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses - Bab 2

  1. Home
  2. Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses
  3. Bab 2 - Ternyata Adikku Menyimpan Rahasia Bertahun-Tahun
Prev
Next

Keesokan harinya, aku mengambil libur mendadak. Aku tidak bisa fokus bekerja dengan pikiran yang terus berkecamuk. Mengendarai mobilku membelah kemacetan kota, aku menuju ke rumah lama orang tuaku di kawasan pinggiran—rumah yang sudah empat tahun tidak pernah kupijaki.

Begitu melangkah melewati pagar besi yang mulai berkarat, nostalgia pahit menyergapku. Rumah ini masih sama, hanya saja cat temboknya makin mengelupas.

Aku membuka pintu depan yang tidak terkunci. Di ruang tamu, Raka sedang duduk di sofa sambil melipat baju. Ia terkejut setengah mati saat melihatku berdiri di ambang pintu.

“Kak Maya?” gumamnya, refleks berdiri.

Aku melangkah masuk dengan tegas, menyilangkan tangan di dada. “Di mana Ibu?”

“Ibu lagi ke pasar,” jawab Raka pelan. Ia tampak sangat canggung dan tak berani menatap mataku.

“Bagus kalau gitu,” ucapku dingin. “Biar kita bisa bicara berdua. Semalam Ibu telepon aku. Ibu bilang ada hal yang nggak aku tahu soal kejadian empat tahun lalu. Soal kegagalan usaha pertamaku.”

Raka mendadak pucat. Tubuhnya membeku di tempat.

“Jelasin ke aku sekarang, Raka,” desakku sambil maju satu langkah. “Apa yang sebenarnya terjadi waktu usahaku gagal? Kenapa tabungan lima puluh juta milikku di rekening bersama keluarga tiba-tiba ludes dan kalian cuma bilang uang itu habis buat biaya operasional rumah yang menunggak?”

Raka menelan ludah kasar. Jemarinya meremas kain baju yang dipegangnya.

“Kak… nggak usah dibahas lagi lah. Itu kan udah berlalu—”

“Jelasin, Raka!” teriakku, tak sabar lagi. “Atau aku nggak bakal pernah mau kenal kamu dan Ibu lagi selamanya!”

Ancaman itu berhasil membuat pertahanan Raka runtuh. Bahunya meluruh, wajahnya tertunduk dalam-dalam.

“Waktu itu…” suara Raka bergetar hebat. “Waktu itu aku terbelit utang pinjaman online, Kak. Aku tergiur investasi bodong sama temen-temen kampus. Aku diancam mau disebar dataku kalau nggak bayar hari itu juga.”

Mataku membelalak. Dadaku serasa dihantam batu besar. “Apa?”

“Aku panik banget, Kak,” piker Raka, air mata mulai menetes di pipinya. “Aku nangis-nangis ke Ibu. Ibu kasihan sama aku. Jadi… Ibu setuju buat ambil uang tabungan usaha Kakak di rekening itu buat nutupin utangku.”

“Jadi…” suaraku tercekat, kepalaku mendadak pusing luar biasa. “Modal usahaku yang hilang itu… bukan karena ditipu klien seperti yang kalian bilang ke aku? Tapi dipakai buat bayar utang kamu?!”

Raka mengangguk pelan. “Aku yang minta Ibu buat bohong sama Kakak. Aku takut Kakak benci sama aku. Tapi aku nggak menyangka kalau efeknya bikin usaha Kakak langsung bangkrut total dan Kakak malah dituduh nggak becus mengelola uang sama keluarga besar…”

Aku tertawa pahit. Tawa yang keluar bersamaan dengan lelehan air mata yang tak bisa kubendung lagi. Rasanya sangat menyakitkan. Selama bertahun-tahun aku menyalahkan diriku sendiri, menganggap diriku bodoh dan tidak berbakat dalam berbisnis, sampai-sampai aku memilih pergi dari rumah karena malu pada diriku sendiri.

Ternyata, keluargaku sendiri yang menumbalkanku demi menyelamatkan Raka.

“Jadi selama ini kamu tahu kalau aku hancur gara-gara kamu?” tanyaku dengan suara serak. “Dan kamu cuma diam aja nonton aku diusir secara halus dari rumah ini?”

“Aku takut, Kak! Aku pengecut!” jerit Raka emosional. “Aku benci diriku sendiri! Setiap hari aku merasa bersalah sama Kakak!”

“Bohong!” teriakku murka. “Kalau kamu merasa bersalah, kamu nggak akan diam bertahun-tahun dan tiba-tiba datang ke kantorku cuma buat minta uang lagi!”

Raka menggelengkan kepalanya keras-keras. “Nggak, Kak! Bukan gitu!”

Ia berbalik dengan tergesa-gesa, berlari ke arah kamarnya, lalu kembali beberapa saat kemudian membawa sebuah kotak kayu kecil yang sudah berdebu. Dengan tangan bergetar, ia menyerahkan kotak itu padaku.

Aku memandangi kotak itu ragu, lalu membukanya. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah kalung emas berlapis liontin giok kecil—perhiasan peninggalan almarhum Nenek yang dulu sangat kukagumi, tetapi hilang secara misterius saat aku masih tinggal di sini. Di samping kalung itu, ada tumpukan lembaran uang ratusan ribu rupiah yang diikat karet, berjumlah sekitar lima belas juta.

“Ini… apa?” tanyaku bingung.

“Waktu Kakak pergi dari rumah,” bisik Raka dengan mata sembap, “aku sadar betapa jahatnya aku. Aku cari kerja paruh waktu apa saja saat kuliah. Aku berhasil nebus kembali kalung Nenek yang dulu sempat diagunkan Ibu buat nambahin utangku. Dan uang lima belas juta itu… aku kumpulin sedikit demi sedikit dari gajiku selama dua tahun terakhir buat nyicil ganti uang Kakak.”

Aku menatap tumpukan uang dan kalung itu bergantian. Dadaku bergemuruh oleh campur adur emosi.

“Tapi jumlahnya nggak pernah cukup,” lanjut Raka lirik. “Setiap mau aku serahkan ke Kakak, aku selalu takut Kakak bakal nampar aku dan nggak mau maafin aku. Makanya aku simpan terus…”

Aku menyapu air mataku secara kasar, mencoba menetralkan sesak di dadaku. Fakta bahwa Raka berusaha mengganti uang itu tidak serta-merta menghapus luka pengkhianatan yang kurasakan selama bertahun-tahun.

“Ini nggak mengubah kenyataan kalau kamu udah menghancurkan usahaku dulu, Raka,” kataku dingin, meski nadaku tidak setajam tadi.

Raka mengangguk pasrah. “Aku tahu, Kak. Aku tahu dosa aku besar banget sama Kakak.”

Ia menarik napas panjang, menatapku lurus dengan pandangan penuh penyesalan.

“Aku datang ke kantor Kakak kemarin… aku memang butuh bantuan uang karena aku kepepet,” aku Raka jujur. “Tapi alasan utamaku bukan cuma itu, Kak. Aku… aku cuma mau Kakak datang ke pernikahanku. Aku mau Kakak ada di sana sebagai kakakku.”

Aku terdiam, tak sanggup membalas perkataannya.

Raka menyapu air matanya, lalu melanjutkan, “Tapi sebelum Kakak ambil keputusan apa pun… ada satu orang lagi yang harus bicara sama Kakak.”

Sebelum aku sempat bertanya, terdengar langkah kaki mendatangi pintu depan. Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok yang membuat napasku tertahan seketika.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Drama Keluarga, Free Novel, Konflik Keluarga, Perbedaan Status, Saudara Kandung
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita