Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses - Bab 3

  1. Home
  2. Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses
  3. Bab 3 - Aku Tidak Harus Melupakan untuk Bisa Memaafkan
Prev
Novel Info

Ibu berdiri di ambang pintu dengan kantong belanjaan di tangannya. Begitu matanya menangkap keberadaanku dan kotak kayu yang terbuka di atas meja, kantong plastik di tangannya terlepas begitu saja. Sayuran dan buah-buahan berserakan di lantai keramik.

“Maya…” bisik Ibu, matanya seketika berkaca-kaca.

Selama satu jam berikutnya, ruang tamu yang biasanya dingin itu menjadi saksi bisu dari pengakuan yang tertunda bertahun-tahun. Ibu duduk di hadapanku dengan kepala tertunduk dalam, menumpahkan seluruh rasa bersalahnya.

“Ibu yang paling bersalah di sini, Maya,” tangis Ibu pecah, tangannya yang mulai keriput berusaha menggapai jemariku di atas meja. “Ibu selalu mikir kamu itu anak yang kuat. Sejak kecil kamu mandiri, jarang mengeluh. Sementara Raka… Raka selalu lemah dan ceroboh. Ibu pikir, kalau Ibu minta kamu mengalah, kamu bakal baik-baik aja karena kamu kuat.”

Aku menarik tanganku pelan dari genggaman Ibu, menatap wanita yang telah melahirkanku itu dengan tatapan getir.

“Hanya karena aku kuat, bukan berarti aku nggak bisa merasa sakit, Bu,” ucapku, suaraku bergetar hebat. “Ibu selalu bilang ‘Kamu kan kakaknya’, seolah-olah tugas seorang kakak di rumah ini cuma buat dikorbankan demi adiknya. Ibu tahu nggak rasanya hidup bertahun-tahun dengan pikiran kalau orang tua sendiri lebih sayang sama anak lain?”

“Maafkan Ibu, Maya… Maafkan Ibu…” Ibu menangis tergugu, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Ibu sadar Ibu salah besar. Waktu kamu pergi dari rumah dulu, rumah ini rasanya seperti kuburan. Ibu menyesal setengah mati…”

Raka melangkah mendekati kami, lalu berlutut di samping kursi Ibu. Ia menatapku dengan mata sembap.

“Kak Maya,” ucap Raka tulus. “Uang pernikahan itu… aku nggak bakal minta lagi dari Kakak. Aku sama calon istriku udah sepakat buat ubah konsep acara jadi nikah di KUA aja yang sederhana. Aku nggak mau nambah beban Kakak lagi.”

Ia menunduk dalam-dalam di hadapanku. “Aku cuma mohon satu hal… datanglah ke pernikahan kami, Kak. Bimbing aku sekali lagi sebagai adik Kakak. Aku kangen punya Kakak…”

Melihat adiknya yang dulu selalu bersikap jumawa kini berlutut memohon di hadapannya, batu tebal yang menyumbat dadaku perlahan-lahan mencair. Air mataku menetes deras. Luka masa lalu itu tidak langsung sembuh seketika, bekas lukanya masih ada dan terasa nyeri.

Namun, melihat ketulusan penyesalan di wajah Ibu dan Raka, aku menyadari satu hal: memendam dendam terus-menerus hanya akan memenjarakan diriku sendiri dalam bayang-bayang masa lalu.

Aku berdiri dari kursiku, mengusap air mata di pipi. Aku mengambil kotak kayu berisi kalung Nenek dan uang tabungan Raka.

“Uang lima belas juta ini aku terima,” kataku tegas pada Raka. “Ini bukti kalau kamu serius mau bertanggung jawab atas kesalahanmu dulu.”

Raka mendongak, matanya membelalak kaget.

Aku menatap Raka dan Ibu bergantian. “Soal biaya pernikahan… aku nggak akan bayar seluruhnya. Tapi aku bakal tanggung biaya kateringnya dari perusahaan kateringku sendiri. Anggap saja itu hadiah pernikahan dari seorang kakak untuk adiknya.”

Mendengar hal itu, Ibu dan Raka terperanjat. Air mata haru menyembur dari mata Ibu.

“Maya… kamu… kamu serius, Nak?” tanya Ibu tak percaya.

Aku mengangguk pelan. “Tapi ingat satu hal. Aku melakukan ini bukan karena aku merasa bersalah atau dipaksa. Aku melakukan ini karena aku memilih untuk memaafkan kalian. Tapi jangan pernah anggap aku bisa dimanfaatkan lagi seperti dulu.”

“Terima kasih, Kak! Terima kasih banyak!” Raka berdiri dan langsung memelukku erat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku menepuk punggung adiku itu, membiarkan kehangatan persaudaraan yang sempat hilang kembali merasuk ke dalam dada.

Tiga bulan kemudian…

Suasana ruang kerjaku di kantor tampak tenang sore itu. Aku baru saja menyelesaikan rapat dengan salah satu klien besar ketika pintu kantorku diketuk pelan.

Pintu terbuka, memperlihatkan Raka yang tampil rapi dengan kemeja kasual. Di tangannya, ia membawa dua kotak bekal makanan yang aromanya sangat menggugah selera.

Aku menaikkan sebelah alisku, tersenyum tipis. “Ada apa lagi ini? Mau minta bantuan biaya apa lagi?” tanyaku bercanda.

Raka tertawa renyah, melangkah masuk lalu meletakkan kotak bekal itu di atas mejaku.

“Enak aja! Sekarang aku udah jadi suami orang ya, udah mandiri,” candanya seraya membuka tutup kotak bekal. “Ini masakan istriku. Dia bikin nasi liwet enak banget, terus bilang ‘Coba antar ke kantor Kak Maya, sekalian traktir Kakak makan siang’.”

Aku tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepala. “Tumben banget datang ke sini cuma buat bawa makanan.”

Raka tersenyum hangat, menatapku dengan tatapan penuh rasa hormat. “Mulai sekarang, aku bakal sering datang ke sini kalau nggak butuh apa-apa, Kak. Cuma mau memastikan kalau Kakakku yang hebat ini baik-baik saja.”

Aku menatap adiku itu dengan perasaan lega yang tak terbayangkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terpisah oleh dinding emosi yang tebal, hubungan kami akhirnya kembali terasa seperti hubungan kakak dan adik yang sesungguhnya.

Sambil menyantap nasi liwet bersama Raka di ruang kerjaku, aku membatin pelan dalam hati. Aku memang pernah merasa bahwa keluargaku hanya menyadari keberadaanku saat aku sudah berhasil. Namun pada akhirnya aku sadar, kesuksesan terbesarku bukanlah tentang berapa banyak uang di rekeningku atau seberapa besar perusahaan yang kupunya.

Kesuksesan terbesarku adalah ketika aku mampu berdamai dengan masa lalu, tidak lagi membiarkan luka lama menentukan masa depanku, dan memilih untuk membuka pintu maaf tanpa harus kehilangan ketegasan diriku.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Drama Keluarga, Free Novel, Konflik Keluarga, Perbedaan Status, Saudara Kandung
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita