Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses - Bab 1

  1. Home
  2. Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses
  3. Bab 1 - Adikku Datang Saat Aku Sudah Sukses
Next

Suara ketukan sepatu kets di atas lantai granit ruang kerjaku menghentikan gerakan jemariku di atas keyboard laptop. Aku mendongak, mendapati sekretarisku berdiri ragu di ambang pintu yang sedikit terbuka.

“Maaf mengganggu, Mbak Maya. Ada yang mencari Mbak di ruang tamu,” ucapnya seraya meremas lembaran kertas catatan di tangannya.

“Siapa, Siska? Saya kan nggak ada jadwal janji temu dengan klien sore ini,” balasku sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Usaha katering dan event organizer yang kubangun dari nol selama lima tahun terakhir ini sedang padat-padatnya, dan aku tak punya waktu untuk tamu tanpa janji.

Siska ragu sejenak sebelum menjawab, “Namanya Raka, Mbak. Dia mengaku… adik kandung Mbak Maya.”

Jemariku mendadak membeku. Nama itu sudah hampir empat tahun tidak pernah terdengar di telingaku, apalagi diucapkan di dalam kantor milikku sendiri. Senyum tipis yang penuh kepahitan terukir di bibirku.

“Raka?” gumamku pelan. “Minta dia masuk.”

Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerjaku terbuka kembali. Sosok pria muda bertubuh jangkung dengan kemeja yang sedikit kusut melangkah masuk. Raka. Wajahnya tidak banyak berubah, hanya terlihat sedikit lebih dewasa dan lelah. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling kantor saya yang luas, mengamati deretan piala penghargaan, papan jadwal acara yang padat, serta interior elegan yang kurancang sendiri.

“Kak Maya…” panggilnya, suaranya terdengar canggung dan agak ragu.

Aku tidak berdiri dari kursi kebesaranku. Aku hanya menyandarkan punggung, melipat kedua tangan di dada, dan menatapnya lurus tanpa ekspresi.

“Ada apa, Raka?” tanyaku dingin, langsung pada inti persoalan.

Raka meringis pelan, mengusap leher belakangnya. Sikap percaya dirinya yang biasa dibangga-banggakan keluarga seolah menguap begitu saja di ruangan ini.

“Luar biasa ya kantor Kakak sekarang,” ujarnya mencoba mencairkan suasana. “Raka bangga banget pas dengar dari Ibu kalau bisnis katering Kakak udah punya puluhan karyawan.”

“Raka,” potongku tegas. “Langsung bicara aja. Kamu tahu sendiri aku sibuk.”

Ia menelan ludah, lalu melangkah mendekati mejaku dan menarik satu kursi. “Aku mau nikah dua bulan lagi, Kak.”

Aku menaikkan sebelah alisku. “Bagus kalau begitu. Selamat. Nanti kirim aja undangannya ke rumah.”

Raka menunduk, meremas jemarinya sendiri sebelum kembali mendongak menatapku. “Masalahnya bukan cuma undangan, Kak. Aku… aku butuh bantuan.”

“Bantuan apa?”

“Biaya gedung sama katering,” sahutnya pelan, hampir berupa bisikan. “Tabunganku sama calon istriku nggak cukup. Harga sewa gedung naik dua kali lipat, dan Ibu mau acaranya dibuat agak besar karena ini pernikahan anak laki-laki satu-satunya. Aku butuh sekitar delapan puluh juta lagi, Kak.”

Aku terdiam. Tatapanku terkunci pada wajah adiknya yang tampak berharap penuh padaku. Tak ada tanyanya mengenai kabarku. Tak ada pertanyaan bagaimana aku bisa bertahan hidup sendirian di kota ini selama bertahun-tahun setelah angkat kaki dari rumah tanpa membawa apa-apa.

“Delapan puluh juta?” tanyaku pelan, memastikan aku tidak salah mendengar.

“Iya, Kak. Bagi Kakak yang sekarang, uang segitu kan nggak seberapa,” ucapnya ringan, seolah nominal itu hanyalah uang saku harian.

Sebuah tawa sinis lolos dari tenggorokanku. Aku menegakkan posisi dudukku, menatap Raka dengan mata berbinar oleh amarah yang selama ini tertimbun rapi.

“Raka, kamu datang ke sini setelah empat tahun kita nggak saling sapa… cuma buat minta uang?”

Raka terkejut mendengar nadaku yang tajam. Wajahnya merona merah. “Kok Kakak ngomongnya gitu? Aku kan adik Kakak! Masa sama adik sendiri hitung-hitungan? Kakak kan sekarang udah sukses, uangnya banyak!”

“Uang ini hasil keringatku sendiri, Raka!” gertakku, menepuk meja hingga pulpen di atasnya bergetar. “Bukan uang jatuh dari langit! Kamu ingat nggak, waktu aku gagal di bisnis pertamaku dulu? Waktu semua tabunganku habis dan aku bingung mau makan apa esok hari?”

Raka membisu, mengalihkan pandangannya.

“Waktu itu,” lanjutku dengan suara bergetar menahan emosi, “kamu bilang apa sama aku? Kamu bilang, ‘Kak, mungkin memang bukan dunia Kakak. Mending Kakak cari kerja biasa aja, jangan aneh-aneh.’ Nggak ada satu pun dari kalian yang membela atau menanyakan kabarku sewaktu aku jatuh!”

“Itu kan udah lama, Kak!” potong Raka defensif. “Kenapa hal sepele masa lalu masih dibahas sih?”

“Hal sepele buatmu, tapi neraka buat aku!” batukku getir. “Aku nggak bisa bantu kamu. Cari jalan keluar sendiri.”

“Kak Maya!” Raka berdiri, menatapku tak percaya. “Kakak tega banget ya? Sejak jadi orang kaya, Kakak berubah jadi sombong dan pelit!”

“Keluar dari kantorku, Raka. Sebelum aku minta sekuriti yang seret kamu,” ancamku pelan namun tak terbantahkan.

Raka mengepalkan tangannya, menatapku penuh kejengkelan sebelum akhirnya berbalik dan memukul pintu kantor saat melangkah keluar.

Malam harinya, aku duduk di balkon apartemenku, memandangi gemerlap lampu kota dengan segelas teh hangat yang mulai mendingin. Dadaku masih terasa sesak. Pertengkaran siang tadi membuka kembali keran memori pahit yang berusaha kututup rapat.

Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Nama ‘Ibu’ tertera di layarnya. Aku helas napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.

“Halo, Bu.”

“Maya! Kamu ini kenapa sih?!” suara Ibu langsung melengking di seberang telepon tanpa basa-basi. “Raka pulang ke rumah sambil marah-marah! Dia bilang kamu nggak mau bantu biaya nikahannya?”

“Maya nggak punya kewajiban buat membiayai pernikahan Raka, Bu,” jawabku tenang meski dadaku bergemuruh.

“Kamu kan kakaknya, Maya!” tegas Ibu dengan kalimat keramatnya yang selalu kudengar sejak kecil. “Kamu kan tahu adikmu itu susah cari uang segitu dalam waktu singkat. Kamu kan sudah sukses, punya bisnis besar. Masa bantu adik sendiri ndak mau? Nanti apa kata keluarga besar kalau tahu kamu pelit sama adik sendiri?”

“Kenapa selalu aku yang harus mengalah dan menanggung semuanya, Bu?” tanyaku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. “Kenapa selalu Raka yang diutamakan?”

“Maya, jangan mulai lagi deh—”

“Bu!” potongku keras, menghentikan ucapan Ibu. “Waktu aku nggak punya apa-apa, waktu aku terlunta-lunta di luar sana setelah pergi dari rumah, nggak ada satu pun yang datang mencariku atau sekadar nanya apa aku udah makan hari ini! Kenapa sekarang waktu aku udah berhasil, Ibu sama Raka baru ingat kalau aku ini keluarga?”

Hening menyelimuti saluran telepon untuk beberapa saat. Aku bisa mendengar helaan napas Ibu yang terasa berat di seberang sana.

“Kamu pikir kami nggak cari kamu?” suara Ibu mendadak merendah, tidak lagi melengking, melainkan terdengar bergetar aneh. “Kamu pikir kamu pergi itu cuma karena usaha kamu gagal?”

Aku membeku di tempatku berdiri. Dahi berkerut bingung. “Maksud Ibu apa?”

“Kamu nggak pernah tahu alasan sebenarnya kenapa hari itu kamu diusir secara tidak langsung, kan?” bisik Ibu pelan. “Karena waktu itu, kami semua tahu kamu pergi bukan cuma karena usaha kamu gagal, Maya. Ada hal lain yang Raka sembunyikan dari kamu.”

“Maksud Ibu… apa? Raka sembunyikan apa?!” cecarku panik.

Namun, alih-alih menjawab, suara tut-tut-tut panjang terdengar. Ibu mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Aku menggenggam ponselku erat-erat. Jantungku berdegup kencang di dalam dada. Pertanyaan besar kini menggantung di kepalaku: Apa yang sebenarnya terjadi pada hari aku meninggalkan rumah empat tahun lalu?

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Drama Keluarga, Free Novel, Konflik Keluarga, Perbedaan Status, Saudara Kandung
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita